PILARadio.com – Bintang pop Sabrina Carpenter memicu kontroversi setelah secara terbuka mengecam penggunaan salah satu lagunya oleh ICE (Imigrasi dan Bea Cukai AS) dalam video resmi pemerintah. Video tersebut menampilkan aksi penangkapan warga sipil dengan latar lagu Juno, yang menampilkan lirik viral “Pernahkah Anda mencoba yang ini?” disertai adegan agen ICE mengejar dan memborgol warga.
Menanggapi kritik Carpenter, seorang perwakilan resmi Gedung Putih mengeluarkan pernyataan bernada agresif yang bahkan mengutip lirik lagu penyanyi berusia 25 tahun itu. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah tidak akan meminta maaf atas deportasi pelaku kejahatan berat, termasuk pembunuh dan pemerkosa. Gedung Putih menambahkan bahwa siapa pun yang membela “monster-monster berbahaya” dianggap bodoh atau lambat memahami situasi.
Carpenter tidak tinggal diam. Pemenang Grammy dua kali ini mengecam penggunaan lagu Juno sebagai bentuk penyalahgunaan karya kreatifnya dan menegaskan bahwa ia tidak pernah memberikan izin untuk digunakan dalam konteks politik atau penegakan hukum. Di akun media sosialnya, Carpenter menulis:
“Video ini jahat dan menjijikkan. Jangan pernah melibatkan saya atau musik saya untuk menguntungkan agenda Anda yang tidak manusiawi.”
Kasus Sabrina Carpenter menyoroti masalah yang semakin luas bagi para musisi. Dalam beberapa minggu terakhir, artis lain seperti Olivia Rodrigo dan Taylor Swift juga mendapati lagu-lagu mereka dipakai Gedung Putih atau lembaga pemerintah lain untuk konten politik tanpa izin. Rodrigo mengecam penggunaan lagu all-american bitch dalam video yang mendorong imigran ilegal meninggalkan AS, sedangkan Swift pernah melihat lagunya, The Fate of Ophelia, dipakai dalam TikTok patriotik yang mempromosikan agenda pemerintah.
Para musisi menilai tindakan ini sebagai bentuk penyalahgunaan karya, karena lagu mereka digunakan untuk tujuan yang bertentangan dengan nilai-nilai dan pesan asli musik tersebut. Bagi Carpenter, keberatan ini lebih dari sekadar hak cipta; ini juga merupakan sikap moral terhadap penggunaan musik secara etis dan bertanggung jawab.
Situasi ini terjadi di tengah puncak karier Sabrina Carpenter. Setelah sukses dengan album Short n’ Sweet, sejumlah nominasi Grammy, dan tur dunia yang sangat sukses, penyanyi muda ini menjadi salah satu suara paling dikenal di Hollywood. Penolakannya untuk diam menghadapi penggunaan karya tanpa izin menunjukkan pengaruhnya yang semakin besar di industri musik.
Kontroversi ini juga memunculkan diskusi lebih luas mengenai hak musisi dan batas penggunaan karya kreatif dalam konteks politik. Musik, yang memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi opini publik, dapat dipelintir jika digunakan tanpa izin atau konteks yang tepat. Bagi banyak penggemar dan artis, keberatan Sabrina Carpenter bukan hanya soal hukum atau hak cipta, tetapi juga soal integritas dan moral, memastikan karya seni tidak disalahgunakan untuk agenda yang tidak manusiawi.
Dengan isu ini, Sabrina Carpenter kembali menegaskan posisinya sebagai artis yang vokal dan berani menentang penyalahgunaan musik untuk kepentingan politik, sambil melindungi nilai-nilai kreatif dan etika dalam industri hiburan.
Sumber : www.cnnindonesia.com




















