CIREBON, PILARadio – Petugas gabungan mengevakuasi seorang ibu dan bayi yang baru dilahirkan di Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin siang. Dalam kondisi air merendam hingga delapan puluh sentimeter di dalam rumah, proses evakuasi berlangsung dramatis lantaran petugas harus membujuk sang ibu yang masih kesakitan pascaoperasi sesar.
Sejumlah petugas gabungan dari TNI-Polri, BPBD, dan Tagana mendatangi sebuah rumah terdampak banjir di Desa Panguragan Kulon, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, Senin siang. Petugas berupaya mengevakuasi ibu dan bayi yang masih bertahan di dalam rumah yang tergenang air setinggi delapan puluh sentimeter. Proses evakuasi pun berlangsung dramatis lantaran petugas harus membujuk sang ibu agar mau dipindahkan ke tempat yang lebih aman.
Sang ibu mengaku memilih bertahan di rumah lantaran kondisi fisiknya yang belum memungkinkan untuk bergerak pascaoperasi sesar. Meski kondisi rumahnya dingin dan lembap akibat terendam banjir, ia tidak mengetahui bahwa kondisi tersebut berpotensi mengganggu kesehatan bayinya. Namun, setelah petugas memberikan penjelasan, ia akhirnya luluh dan bersedia dipindahkan ke rumah tetangganya yang tidak terdampak banjir.
“Dikira saya pagi pasti surut tapi taunya belum, bukan ga mau dievakuasi tapi memang kondisi saya yang sehabis melahirkan jadi untuk jalan itu masih sakit.” Ujar Ibu Bayi, Megawati
Sementara itu, upaya evakuasi terhadap ibu dan bayi ini dilakukan agar kondisi keduanya tetap dalam keadaan baik dan sehat. Meski sempat menolak, petugas terus berupaya memastikan setiap warga terdampak, khususnya lansia, ibu hamil, maupun bayi, dapat berada di tempat yang aman dan nyaman.
“Kami mendapat laporan dari warga bahwa ada ibu dan bayi yang belum di evakuasi segera kami ke lokasi meski awalnya sempat menolak petugas terus berupaya memastikan setiap warga terdampak, khususnya lansia, ibu hamil, maupun bayi, dapat berada di tempat yang aman dan nyaman.” Ujar Petugas BPBD Kabupaten Cirebon, Faozan.
Hingga menjelang sore, air masih merendam dua desa di Kecamatan Panguragan. Lokasi yang berada di titik rendah membuat genangan banjir tidak mengalir dan belum surut. Selain itu, buruknya sistem drainase menyebabkan air bertahan hingga dua hari di dua desa tersebut.





















