Studi di Rusia Ungkap Usia dan Kondisi Ekonomi Pengaruhi Keinginan Netizen Cek Hoaks

Ilustrasi hoaks(Thinkstock)

PILARadio.com – Sebuah studi terbaru dari HSE University di Moskow, Rusia, mengungkap fakta menarik mengenai perilaku pengguna internet dalam menghadapi informasi palsu atau hoaks. Penelitian tersebut menemukan bahwa kebiasaan netizen dalam memeriksa kebenaran informasi ternyata dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari usia, lokasi tempat tinggal, hingga kondisi ekonomi.

Temuan ini menjadi sorotan karena penyebaran informasi palsu semakin meningkat di tengah perkembangan teknologi digital. Jumlah informasi yang beredar di internet terus bertambah setiap hari, sementara kemunculan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat pembuatan konten palsu semakin mudah dilakukan.

Para peneliti menyebut, tantangan dalam membedakan informasi asli dan palsu menjadi semakin besar karena masyarakat kini hidup dalam arus informasi yang sangat cepat. Tidak semua pengguna internet memiliki kemampuan atau kebiasaan yang sama dalam melakukan pengecekan fakta sebelum mempercayai sebuah informasi.

Penelitian Analisis Perilaku Netizen dalam Memeriksa Hoaks

Studi berjudul “Tactics for Countering Fake Information and Factors for Fact-Checking in Russia” dilakukan oleh peneliti dari HSE University dengan menganalisis data survei nasional terhadap lebih dari 10.000 responden.

Responden dalam penelitian tersebut berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari 14 tahun ke atas. Pengumpulan data dilakukan dalam rentang waktu 2022 hingga 2024 untuk melihat bagaimana masyarakat Rusia menghadapi penyebaran informasi palsu di internet.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti fokus menganalisis kelompok pengguna yang pernah menemukan informasi palsu secara online. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar separuh pengguna internet mengaku pernah berhadapan dengan konten yang diragukan kebenarannya.

Dari kelompok tersebut, lebih dari setengahnya mengaku melakukan upaya verifikasi sebelum mempercayai atau membagikan informasi tersebut kepada orang lain.

Namun, penelitian ini juga menemukan adanya perbedaan besar dalam kebiasaan melakukan pengecekan fakta antar kelompok masyarakat.

Anak Muda dan Kelompok Berpenghasilan Tinggi Lebih Sering Cek Fakta

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengguna internet berusia muda, masyarakat dengan tingkat pendapatan menengah ke atas, serta warga yang tinggal di kota metropolitan memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk melakukan verifikasi informasi.

Kota besar seperti Moskow dan St. Petersburg menjadi wilayah dengan tingkat kesadaran pengecekan informasi yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya.

Meski demikian, penelitian tidak menemukan perbedaan signifikan antara masyarakat yang tinggal di kota besar lainnya dengan mereka yang berada di wilayah kecil.

Menurut peneliti, kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan digital dalam kemampuan masyarakat menghadapi informasi palsu.

Liliya Kuzina, peneliti junior di HSE ISSEK, menjelaskan bahwa kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi menjadi korban manipulasi informasi di dunia maya.

“Hasil penelitian ini menunjukkan adanya ketimpangan digital: orang tua, warga kota kecil atau pedesaan, serta pengguna berpenghasilan rendah lebih rentan terhadap manipulasi online,” ujar Kuzina.

Cara Netizen Memastikan Kebenaran Informasi

Penelitian tersebut juga mengungkap berbagai cara yang dilakukan pengguna internet ketika ingin memastikan apakah sebuah informasi benar atau hanya hoaks.

Metode paling umum yang digunakan adalah mencari dan melacak sumber asli informasi. Cara ini dilakukan oleh sekitar sepertiga pengguna yang berusaha memeriksa kebenaran sebuah berita.

Selain itu, sebagian pengguna memilih melihat kredibilitas akun atau pihak yang membagikan informasi tersebut. Langkah ini dilakukan oleh sekitar seperempat responden.

Menariknya, hanya sebagian kecil pengguna yang menggunakan situs pemeriksa fakta independen untuk memastikan kebenaran informasi.

Sekitar 3 persen responden mengaku mengandalkan layanan verifikasi fakta seperti Snopes. Sementara pengguna lainnya lebih memilih membandingkan informasi dari beberapa media berbeda atau mendiskusikannya dengan keluarga dan orang terdekat.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih menggunakan metode sederhana dalam melakukan pengecekan fakta.

Sering Menggunakan Internet Tidak Selalu Membuat Pengguna Lebih Kritis

Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah kebiasaan menggunakan internet dalam waktu lama ternyata tidak otomatis membuat seseorang lebih kritis terhadap informasi.

Para peneliti menemukan bahwa frekuensi seseorang berselancar di internet tidak memiliki hubungan langsung dengan keinginan melakukan verifikasi fakta.

Artinya, seseorang yang menghabiskan banyak waktu online belum tentu memiliki kemampuan lebih baik dalam membedakan informasi benar dan palsu.

Bahkan, kebiasaan menghabiskan waktu hanya untuk melakukan scrolling tanpa tujuan dapat membuat seseorang lebih mudah menerima informasi tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.

Evgenii Popov, peneliti dari HSE ISSEK, mengatakan bahwa kemampuan mengecek fakta bukanlah sesuatu yang muncul secara otomatis hanya karena seseorang sering menggunakan internet.

“Pemeriksaan fakta bukanlah konsekuensi otomatis dari aktivitas online, melainkan tindakan yang disengaja. Passive scrolling tidak akan menumbuhkan pemikiran kritis,” kata Popov.

AI Jadi Tantangan Sekaligus Solusi Melawan Hoaks

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI juga menjadi salah satu perhatian dalam penelitian tersebut.

Di satu sisi, AI memberikan kemudahan bagi seseorang untuk membuat konten palsu yang terlihat semakin meyakinkan. Foto, video, hingga tulisan dapat dibuat dengan teknologi AI sehingga masyarakat semakin sulit membedakan mana informasi asli dan mana yang direkayasa.

Namun, di sisi lain, AI juga dapat menjadi alat yang membantu pengguna melakukan verifikasi informasi.

Teknologi AI dapat digunakan untuk mencari sumber informasi, membandingkan data, hingga membantu menemukan indikasi adanya konten palsu.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis dari penggunanya.

Tanpa kemampuan memahami informasi secara bijak, masyarakat tetap berisiko menjadi korban penyebaran hoaks.

Pendidikan dan Gender Tidak Menjadi Faktor Utama

Penelitian HSE University juga menemukan bahwa faktor gender dan tingkat pendidikan tidak menunjukkan pengaruh besar terhadap keinginan seseorang dalam melakukan verifikasi informasi.

Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan melawan hoaks bukan hanya dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan formal, tetapi juga oleh kebiasaan menggunakan teknologi dan kesadaran individu.

Literasi digital menjadi salah satu faktor penting agar masyarakat mampu menghadapi derasnya arus informasi di internet.

Dengan semakin banyaknya konten yang beredar setiap hari, pengguna internet dituntut untuk lebih berhati-hati sebelum mempercayai maupun membagikan sebuah informasi.

Pentingnya Kesadaran Digital di Era Informasi

Studi dari HSE University tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan melakukan pengecekan fakta merupakan keterampilan penting di era digital.

Perkembangan teknologi membuat informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, tetapi tidak semua informasi yang beredar memiliki kebenaran yang dapat dipastikan.

Masyarakat perlu membangun kebiasaan sederhana, seperti memeriksa sumber berita, membandingkan informasi dari berbagai media, serta tidak langsung membagikan konten yang belum terbukti kebenarannya.

Dengan meningkatnya kesadaran digital, pengguna internet dapat lebih terlindungi dari penyebaran hoaks dan manipulasi informasi.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Kemampuan berpikir kritis dan kebiasaan memeriksa fakta tetap menjadi kunci utama agar masyarakat dapat menghadapi tantangan informasi di dunia digital.

Sumber : www.kumparan.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
Your Favorite Channel
--:--
STREAM
Scroll to Top