Nadin Amizah Rilis “Laika, Yang Ditinggalkan” Album tentang Duka Kehilangan Ayah

Nadin Amizah dalam pemotretan album ‘Laika, yang Ditinggalkan’. (dok Secret Signals)

PILARadio.com – Nadin Amizah resmi memasuki fase baru dalam perjalanan bermusiknya melalui album studio ketiga berjudul Laika, Yang Ditinggalkan. Dirilis lewat label independen miliknya, Sorai, album berisi 11 lagu ini menjadi salah satu karya paling personal Nadin karena mengangkat tema kehilangan, ketiadaan sosok ayah, kerinduan, kemarahan, hingga pencarian makna tentang rumah.

Nadin Amizah kembali menyapa pendengar melalui karya terbaru yang cukup berbeda dari album-album sebelumnya. Penyanyi sekaligus penulis lagu tersebut merilis album studio ketiganya, Laika, Yang Ditinggalkan, melalui label independen yang ia dirikan, Sorai.

Album tersebut menghadirkan 11 lagu yang kini tersedia di berbagai platform streaming digital secara global. Kehadiran album baru ini sekaligus menandai babak berikutnya dalam perjalanan musik Nadin setelah sebelumnya memperkenalkan karya melalui Selamat Ulang Tahun dan Untuk Dunia, Cinta, & Kotornya.

Bagi Nadin, Laika, Yang Ditinggalkan bukan sekadar kumpulan lagu yang disusun menjadi sebuah album. Setiap lagu membawa cerita, emosi, dan pengalaman yang berkaitan dengan kehilangan serta hubungan manusia dengan rasa sakit.

Tema tersebut kemudian dirangkum melalui sosok Laika, anjing yang dikirim Uni Soviet ke luar angkasa pada 1957 dalam sebuah misi yang tidak dirancang untuk membawanya kembali ke Bumi.

Kisah Laika menjadi metafora yang kuat bagi Nadin untuk menggambarkan perasaan ditinggalkan, kehilangan, dan kerinduan yang tidak pernah menemukan tempat untuk kembali.

Kisah Laika Menjadi Inspirasi Album Nadin Amizah

Nama Laika, Yang Ditinggalkan memiliki cerita tersendiri. Laika merupakan anjing yang dikirim ke luar angkasa oleh Uni Soviet dalam misi Sputnik 2 pada 1957.

Misi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah eksplorasi luar angkasa. Namun, di balik pencapaian tersebut terdapat kisah tragis karena Laika tidak memiliki kesempatan untuk kembali ke Bumi.

Bagi Nadin Amizah, kisah tersebut memiliki kedekatan emosional dengan tema besar yang ingin ia sampaikan melalui album terbarunya.

Laika menjadi gambaran tentang seseorang yang dikirim pergi dan pada akhirnya harus menghadapi kesendirian tanpa kesempatan untuk kembali ke tempat asal.

Melalui metafora tersebut, Nadin membicarakan pengalaman mengenai duka, ketiadaan sosok ayah, serta kerinduan yang tidak tersalurkan.

Perasaan tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk kesedihan. Dalam album ini, kerinduan juga dapat berkembang menjadi kemarahan.

Hal tersebut membuat Laika, Yang Ditinggalkan memiliki warna emosional yang lebih beragam dibandingkan sekadar album yang berbicara tentang kehilangan.

Ada kesedihan, rasa kecewa, kemarahan, keinginan untuk memahami keadaan, hingga usaha menerima sesuatu yang mungkin tidak bisa diubah.

Bagi pendengar yang mengikuti perjalanan musik Nadin sejak awal, pendekatan tersebut menjadi salah satu perkembangan menarik dari penyanyi kelahiran Bandung tersebut.

Nadin selama ini dikenal melalui lagu-lagu dengan lirik yang kuat dan personal. Dalam album ketiganya, sisi personal itu semakin terlihat melalui tema yang lebih dalam dan pilihan kata yang terkadang lebih berani.

Membicarakan Ketiadaan Sosok Ayah

Salah satu tema utama dalam Laika, Yang Ditinggalkan adalah pengalaman hidup tanpa kehadiran figur ayah.

Nadin tidak hanya membicarakan kehilangan dalam pengertian sederhana. Ia juga menelusuri bagaimana ketiadaan sosok tertentu dapat membentuk pengalaman seseorang sejak masa kanak-kanak hingga dewasa.

Ketika sosok ayah tidak hadir, ruang kosong tersebut dapat memunculkan berbagai pertanyaan.

Ada kerinduan yang tidak tersampaikan. Ada kebutuhan akan rasa aman. Ada keinginan untuk memiliki tempat pulang. Ada pula kemarahan yang muncul karena keadaan yang tidak sesuai dengan harapan.

Semua perasaan tersebut kemudian menjadi bagian dari cerita yang dibawa Nadin melalui album ini.

Laika, Yang Ditinggalkan juga membawa komentar sosial mengenai pengalaman seseorang yang tumbuh tanpa figur ayah atau rumah yang mampu memberikan rasa aman.

Dengan demikian, cerita dalam album tidak berhenti pada pengalaman personal Nadin.

Tema yang diangkat dapat menjadi cermin bagi pendengar yang memiliki pengalaman berbeda tetapi pernah merasakan kehilangan, kesepian, atau tidak memiliki tempat yang benar-benar terasa seperti rumah.

Album tersebut menjadi ruang untuk membicarakan bagaimana sebuah kehilangan dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya.

Nadin Amizah Tampilkan Sisi Lebih Rentan

Sisi kerentanan Nadin terdengar dalam sejumlah lagu di Laika, Yang Ditinggalkan. Salah satunya adalah “Reservasi Untuk Dua”.

Dalam lagu tersebut, Nadin menggunakan pilihan kata yang lebih keras dan terus terang dibandingkan beberapa karya sebelumnya.

Penggunaan kata-kata tersebut menjadi bagian dari cara Nadin menggambarkan emosi yang sedang ia bawa.

Nadin menjelaskan bahwa kata-kata pahit seperti “hell” dan “defiance” yang terdengar dalam beberapa lagu tidak semata-mata menunjukkan kebencian.

Justru, di balik kata-kata tersebut terdapat gambaran tentang seorang anak yang sedang terluka.

“Ketika orang mendengar kata-kata pahit seperti ‘hell’ atau ‘defiance’ dalam lagu-lagu ini, yang sebenarnya mereka lihat adalah seorang anak yang terluka di baliknya,” ujar Nadin.

Menurut Nadin, emosi yang muncul dalam karya tersebut merupakan rasa sakit yang begitu murni.

“Ini bukan kebencian, melainkan rasa sakit yang murni dan tanpa campuran,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut memberikan gambaran mengenai pendekatan Nadin dalam menulis lagu.

Ia tidak berusaha menyembunyikan sisi emosional yang sulit diterima. Sebaliknya, perasaan tersebut dibiarkan hadir dan menjadi bagian dari cerita.

Cara tersebut membuat album terasa lebih terbuka.

Nadin seolah memberikan kesempatan kepada pendengar untuk melihat sisi lain dari dirinya, termasuk emosi yang mungkin selama ini tidak banyak ditampilkan melalui karya-karya sebelumnya.

“Ditemukan Sebuah Bangkai” Terinspirasi Pemberitaan Banjir Jakarta

Selain membicarakan pengalaman personal, Laika, Yang Ditinggalkan juga membawa cerita yang lebih luas.

Salah satunya hadir melalui lagu “Ditemukan Sebuah Bangkai”.

Lagu tersebut terinspirasi dari sebuah pemberitaan yang dibaca Nadin ketika banjir Jakarta terjadi pada 2020.

Dalam pemberitaan tersebut, jenazah seseorang tanpa identitas ditemukan hanyut di Kanal Banjir Timur.

Berita tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Nadin.

Ia kemudian membayangkan bagaimana nasib seseorang yang meninggal tanpa diketahui identitasnya.

Tidak ada keluarga yang datang. Tidak ada kerabat yang mencari. Tidak ada orang yang menunggu kepulangannya.

“Bayangkan, tidak ada kerabat, tidak ada keluarga, tidak ada seorang pun yang mencarinya. Gila, bukan?” kata Nadin.

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu dasar emosional yang kemudian dituangkan ke dalam lagu.

Namun, Nadin tidak menempatkan dirinya sebagai penyelamat dalam cerita tersebut.

Ia justru memilih posisi sebagai seseorang yang menyaksikan berbagai bentuk kerusakan dan penderitaan yang terjadi di sekitarnya.

“Saya hanya menyaksikan kehancuran yang ada di sekitar saya. Sederhananya, saya merasakan rasa sakit yang kamu rasakan,” ujarnya.

Sikap tersebut memperlihatkan bagaimana Nadin memandang perannya sebagai musisi.

Ia tidak selalu harus memberikan jawaban terhadap persoalan yang diangkat. Terkadang, sebuah lagu cukup menjadi ruang untuk mengakui bahwa rasa sakit itu memang ada.

Album dengan Eksplorasi Bahasa yang Lebih Luas

Selain tema yang lebih personal, Laika, Yang Ditinggalkan juga memperlihatkan perkembangan Nadin dalam eksplorasi musikal dan penulisan lagu.

Untuk pertama kalinya, Nadin menghadirkan dua lagu yang sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris.

Kedua lagu tersebut adalah “Moonlight” yang menjadi single utama dan “Take Him To The Moon For Me”.

Keputusan menggunakan bahasa Inggris menjadi salah satu hal yang menarik dari album ini.

Nadin sebelumnya lebih banyak dikenal melalui karya-karya berbahasa Indonesia. Kini, ia memberikan ruang lebih luas bagi bahasa lain untuk menjadi bagian dari cerita yang ingin disampaikan.

Eksplorasi bahasa juga terlihat dalam lagu “Laika, Kau Mudah Dicinta”.

Dalam lagu tersebut, Nadin bermain dengan perpindahan bahasa sehingga menciptakan pendekatan yang berbeda dalam penulisan lirik.

Perubahan tersebut tidak hanya menjadi eksperimen teknis.

Penggunaan bahasa dapat memengaruhi cara sebuah emosi disampaikan. Kata-kata tertentu terkadang memiliki nuansa yang berbeda ketika ditulis atau dinyanyikan dalam bahasa tertentu.

Melalui album ini, Nadin tampaknya ingin mengeksplorasi kemungkinan tersebut.

Melibatkan 10 Produser untuk 11 Lagu

Dari sisi produksi, Laika, Yang Ditinggalkan menjadi salah satu proyek paling ambisius Nadin sejauh ini.

Album ini terdiri dari 11 lagu dengan keterlibatan 10 produser.

Beberapa nama yang terlibat di antaranya Lafa Pratomo, Baskara Putra, Enrico Octaviano, Otta Tarega, dan Feby Putri.

Keterlibatan banyak produser tentu memberikan tantangan tersendiri. Setiap produser memiliki karakter dan pendekatan produksi yang berbeda.

Namun, Nadin mengaku keputusan tersebut sudah dipikirkan sejak proses awal pembuatan lagu.

Ia tidak sekadar mencari produser setelah lagu selesai ditulis.

Sejak awal, Nadin telah memiliki gambaran mengenai bentuk suara yang ingin dibangun untuk album ketiganya.

“Bahkan sejak proses penulisan lagu, saya sudah memiliki visi mengenai tata suara album ini, termasuk orang-orang yang saya rasa dapat mengeluarkan sisi terbaik darinya,” kata Nadin.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa proses kreatif album sudah dirancang sejak awal.

Nadin tidak hanya berfokus pada lirik dan melodi, tetapi juga memikirkan bagaimana setiap lagu dapat memiliki karakter suara yang sesuai dengan cerita di dalamnya.

Kelanjutan dari Dua Album Sebelumnya

Laika, Yang Ditinggalkan menjadi album studio ketiga dalam perjalanan karier Nadin Amizah.

Sebelumnya, Nadin merilis album Selamat Ulang Tahun pada 2020.

Album tersebut menjadi salah satu karya penting dalam perjalanan musiknya dan memperkuat posisi Nadin sebagai salah satu penyanyi-penulis lagu yang memiliki karakter kuat dalam musik Indonesia.

Tiga tahun kemudian, Nadin melanjutkan perjalanan tersebut melalui album Untuk Dunia, Cinta, & Kotornya yang dirilis pada 2023.

Kini, Laika, Yang Ditinggalkan menjadi babak berikutnya.

Ketiga album tersebut memperlihatkan perjalanan Nadin dalam mengembangkan cerita dan musikalitasnya.

Jika karya-karya sebelumnya banyak memperkenalkan sisi personal Nadin melalui lirik yang intim, album terbaru ini membawa pendekatan yang lebih luas.

Ada cerita tentang hubungan personal, kehilangan, keluarga, lingkungan sosial, hingga pertanyaan tentang tempat untuk pulang.

Nadin Tetap Konsisten sebagai Musisi Independen

Salah satu hal yang juga menjadi bagian penting dari perjalanan karier Nadin adalah pilihannya untuk bergerak melalui jalur independen.

Nadin merilis Laika, Yang Ditinggalkan melalui Sorai, label yang ia dirikan sendiri.

Sebelumnya, Sorai telah menjadi rumah bagi sejumlah karya Nadin.

Beberapa lagu yang dikenal luas dari perjalanan musiknya antara lain “Rumpang”, “Sorai”, dan “Bertaut”. Nadin juga pernah memperkenalkan EP “(kalah bertaruh)”.

Keberadaan label sendiri memberikan ruang bagi Nadin untuk memiliki kendali lebih besar terhadap karya yang dibuat.

Pilihan tersebut sekaligus menjadi bagian dari perjalanan Nadin dalam membangun identitas musikalnya.

Melalui Sorai, ia dapat menentukan arah karya dan menghadirkan musik berdasarkan visi yang ingin disampaikan.

Hal tersebut menjadi semakin menarik ketika melihat bagaimana Nadin berkembang dari satu karya ke karya berikutnya.

Ia tidak hanya mempertahankan karakter yang sudah dikenal pendengar, tetapi juga berani mencoba pendekatan baru.

Pernah Menggarap Berbagai Kolaborasi

Perjalanan musikal Nadin juga tidak hanya berlangsung melalui karya solo.

Ia beberapa kali terlibat dalam proyek kolaborasi dan interpretasi ulang karya musisi lain.

Salah satu yang cukup dikenal adalah ketika Nadin menginterpretasikan ulang lagu karya Guruh Sukarnoputra, “Kala Sang Surya Tenggelam”.

Lagu tersebut digunakan sebagai soundtrack serial “Gadis Kretek”.

Nadin juga pernah berkolaborasi dengan Dipha Barus melalui lagu “All Good”.

Selain itu, ia berkolaborasi dengan Sal Priadi dalam lagu “Amin Paling Serius”.

Berbagai kolaborasi tersebut memperlihatkan kemampuan Nadin untuk menyesuaikan karakter vokal dan penulisannya dengan karya serta musisi lain.

Pengalaman tersebut turut memperkaya perjalanan musikalnya.

Prestasi Nadin Amizah di Industri Musik Indonesia

Perjalanan Nadin di industri musik juga diikuti oleh sejumlah penghargaan.

Sepanjang karier solonya, Nadin telah meraih empat penghargaan AMI Awards.

Penghargaan tersebut termasuk kategori Produksi Folk, Country, Balada Terbaik pada 2019, 2020, dan 2024.

Nadin juga meraih penghargaan Pendatang Baru Terbaik pada 2019.

Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa karya Nadin tidak hanya mendapatkan perhatian dari pendengar, tetapi juga memperoleh apresiasi dari industri musik Indonesia.

Popularitas Nadin juga terlihat dari performa musiknya di platform streaming.

Pada 2025, ia tercatat sebagai artis perempuan lokal dengan jumlah streaming tertinggi di Spotify Indonesia.

Pencapaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa musik Nadin memiliki basis pendengar yang kuat.

Karakter lirik yang personal, perpaduan musik yang khas, serta kemampuan menyampaikan cerita melalui lagu membuat karya-karyanya memiliki tempat tersendiri di kalangan pendengar musik Indonesia.

“Laika, Yang Ditinggalkan” Jadi Karya Paling Personal

Kehadiran album ketiga ini menjadi penting karena Nadin tidak hanya menawarkan karya baru.

Ia membuka bagian dari cerita yang lebih dalam mengenai kehilangan dan rasa sakit.

Laika, Yang Ditinggalkan berbicara tentang seseorang yang ditinggalkan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjalani hidup setelah kehilangan tersebut.

Ada kerinduan yang tidak menemukan tujuan.

Ada kemarahan yang muncul dari luka.

Ada pertanyaan tentang keluarga dan rumah.

Ada pula kebutuhan untuk memahami diri sendiri setelah melewati berbagai pengalaman yang tidak mudah.

Tema tersebut membuat album ini memiliki lapisan cerita yang cukup luas.

Pendengar dapat menikmati lagu-lagunya sebagai karya musik, tetapi juga dapat menemukan makna berbeda sesuai dengan pengalaman masing-masing.

Hal tersebut menjadi salah satu kekuatan dari karya Nadin.

Ia tidak memberikan satu jawaban yang mutlak kepada pendengar.

Sebaliknya, lagu-lagunya dapat ditafsirkan melalui pengalaman pribadi orang yang mendengarkannya.

Bukan Sekadar Album tentang Kehilangan

Meski kehilangan menjadi tema besar, Laika, Yang Ditinggalkan sebenarnya berbicara lebih jauh.

Album ini membahas bagaimana kehilangan dapat membentuk seseorang.

Ketiadaan sosok ayah, misalnya, tidak hanya menghadirkan rasa rindu. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara seseorang memahami hubungan, rasa aman, keluarga, bahkan arti rumah.

Begitu pula dengan kisah dalam “Ditemukan Sebuah Bangkai”.

Kisah tersebut memperlihatkan bentuk kehilangan yang jauh lebih luas.

Ada manusia yang bahkan pergi tanpa diketahui siapa dirinya.

Tidak ada keluarga yang datang untuk mengenali.

Tidak ada orang yang memastikan bahwa dirinya tidak dilupakan.

Cerita tersebut kemudian menjadi refleksi mengenai keberadaan manusia dan hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.

Nadin membawa berbagai cerita tersebut ke dalam musik dengan caranya sendiri.

Ia memilih untuk menghadirkan emosi tanpa harus memberikan penjelasan panjang kepada pendengar.

Lirik menjadi pintu masuk, sedangkan musik memberikan ruang bagi emosi tersebut untuk berkembang.

Perjalanan Nadin Belum Berhenti

Rilis Laika, Yang Ditinggalkan menambah satu bab penting dalam perjalanan musik Nadin Amizah.

Dari album pertama hingga album ketiga, Nadin terus menunjukkan perkembangan sebagai penyanyi dan penulis lagu.

Ia semakin berani mengeksplorasi tema, bahasa, dan bentuk musik.

Album terbaru ini sekaligus memperlihatkan bahwa perjalanan seorang musisi tidak selalu bergerak dalam satu arah.

Ada saatnya seseorang kembali melihat pengalaman lama, membuka luka yang pernah disimpan, kemudian mengubahnya menjadi karya.

Nadin melakukan hal tersebut melalui Laika, Yang Ditinggalkan.

Sebelas lagu dalam album tersebut menjadi ruang untuk membicarakan kehilangan dari berbagai sudut pandang.

Mulai dari hubungan dengan keluarga, ketiadaan sosok ayah, rasa rindu, kemarahan, hingga pengalaman menyaksikan penderitaan orang lain.

Semua tema tersebut dirangkai menjadi sebuah album yang personal sekaligus memiliki ruang untuk dibaca secara lebih luas.

Bagi Nadin, mungkin album ini merupakan cara untuk berdamai dengan berbagai perasaan yang selama ini sulit diterjemahkan.

Bagi pendengar, album tersebut bisa menjadi teman untuk melewati pengalaman masing-masing.

Laika, Yang Ditinggalkan dan Cerita tentang Tempat Pulang

Pada akhirnya, Laika, Yang Ditinggalkan bukan hanya tentang seseorang yang kehilangan.

Album ini juga berbicara mengenai kebutuhan manusia untuk memiliki tempat pulang.

Rumah tidak selalu berarti bangunan. Rumah bisa berarti seseorang, keluarga, hubungan, atau tempat yang membuat seseorang merasa aman.

Ketika tempat tersebut tidak ada, seseorang bisa merasakan kekosongan yang sulit dijelaskan.

Melalui album ketiganya, Nadin mencoba menelusuri kekosongan tersebut.

Ia membicarakan bagaimana luka dapat tumbuh, bagaimana kerinduan bisa berubah menjadi kemarahan, dan bagaimana seseorang tetap menjalani kehidupan meskipun ada bagian yang hilang.

Di situlah kisah Laika menjadi metafora yang kuat.

Laika pergi dalam sebuah perjalanan yang tidak memiliki jalan pulang. Kisah tersebut kemudian menjadi simbol bagi perasaan ditinggalkan yang ingin dibicarakan Nadin.

Dengan 11 lagu, eksplorasi bahasa yang lebih luas, serta keterlibatan 10 produser, Laika, Yang Ditinggalkan menjadi salah satu karya paling ambisius dalam karier Nadin Amizah.

Album ini sekaligus menunjukkan bahwa Nadin terus berkembang tanpa meninggalkan kekuatan utama yang selama ini melekat pada musiknya, yakni cerita yang personal dan lirik yang mampu membawa pendengar masuk ke dalam suasana.

Kini, Laika, Yang Ditinggalkan telah tersedia di berbagai platform streaming digital global melalui Sorai.

Bagi pendengar yang mengikuti perjalanan Nadin sejak Selamat Ulang Tahun hingga Untuk Dunia, Cinta, & Kotornya, album ketiga ini menjadi kesempatan untuk melihat sisi lain sang musisi.

Bukan hanya Nadin yang dikenal melalui lagu-lagu penuh kelembutan, tetapi juga Nadin yang berani berbicara tentang luka, kemarahan, kehilangan, dan ketiadaan.

Melalui album ini, Nadin Amizah menunjukkan bahwa sebuah luka tidak selalu harus disembunyikan. Terkadang, luka justru dapat menjadi cerita yang paling jujur ketika dituangkan melalui musik.

Sumber : www.medcom.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
Your Favorite Channel
--:--
STREAM
Scroll to Top