PILARadio.com – Berenang sejak usia dini ternyata tidak hanya berkaitan dengan kemampuan anak untuk beradaptasi di dalam air. Aktivitas yang selama ini dikenal sebagai salah satu olahraga untuk menjaga kebugaran tubuh tersebut juga dikaitkan dengan perkembangan kemampuan kognitif anak.
Sebuah studi yang dilakukan peneliti dari Griffith University, Australia, menemukan adanya hubungan antara kebiasaan berenang sejak usia dini dengan sejumlah kemampuan kognitif anak. Dalam penelitian tersebut, anak-anak yang mengikuti aktivitas berenang sebelum berusia 5 tahun menunjukkan kemampuan tertentu yang lebih baik dibandingkan anak seusianya yang tidak mengikuti aktivitas tersebut.
Temuan ini menarik perhatian karena perkembangan kognitif pada masa kanak-kanak merupakan salah satu bagian penting dalam proses tumbuh kembang. Pada usia dini, otak anak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Berbagai aktivitas yang dilakukan sehari-hari, mulai dari bermain, berbicara, bergerak, hingga mengikuti kegiatan terstruktur, dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Berenang menjadi salah satu aktivitas yang menarik untuk dikaji karena olahraga ini melibatkan banyak kemampuan sekaligus. Anak tidak hanya diminta menggerakkan tangan dan kaki, tetapi juga mendengarkan instruksi, mengingat urutan gerakan, menjaga keseimbangan tubuh, mengatur pernapasan, serta merespons situasi di sekitarnya.
Studi dari Griffith University tersebut melibatkan lebih dari 7.000 anak berusia di bawah 5 tahun yang berasal dari Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat. Dari keseluruhan peserta, sebanyak 180 anak kemudian menjalani pengujian yang lebih mendalam menggunakan metode tes yang diakui secara internasional.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kemampuan pada sejumlah aspek perkembangan antara anak yang mengikuti aktivitas berenang dan kelompok pembanding.
Anak yang berenang menunjukkan keunggulan rata-rata sekitar enam bulan dalam kemampuan matematika. Pada kemampuan oral expression, perbedaannya mencapai sekitar 11 bulan. Sementara itu, kemampuan mengingat cerita menunjukkan selisih sekitar 17 bulan dan kemampuan memahami instruksi mencapai sekitar 20 bulan.
Angka tersebut tentu menarik perhatian, terutama bagi orang tua yang sedang mencari aktivitas untuk mendukung perkembangan anak. Namun, hasil penelitian tersebut perlu dipahami secara utuh. Temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas berenang dan kemampuan kognitif, bukan berarti berenang menjadi satu-satunya penyebab seorang anak memiliki kemampuan matematika atau bahasa yang lebih baik.
Berenang Sejak Dini dan Perkembangan Kognitif Anak
Masa balita merupakan periode penting dalam perkembangan kemampuan berpikir anak. Pada usia ini, anak mulai mengenal berbagai konsep dasar yang nantinya menjadi bekal ketika memasuki pendidikan formal.
Anak mulai memahami angka, mengenali bentuk, mengingat nama benda, mengikuti perintah sederhana, memahami percakapan, hingga belajar menyelesaikan masalah melalui permainan.
Kemampuan tersebut berkembang melalui berbagai pengalaman yang mereka dapatkan setiap hari.
Karena itu, aktivitas fisik yang melibatkan lebih dari sekadar gerakan tubuh juga menjadi perhatian dalam berbagai penelitian perkembangan anak. Berenang merupakan salah satu aktivitas yang memiliki karakteristik tersebut.
Ketika mengikuti kelas renang, misalnya, anak biasanya tidak hanya diminta masuk ke dalam kolam dan bergerak sesuka hati. Ada instruktur yang memberikan arahan mengenai gerakan yang harus dilakukan.
Anak mungkin diminta menendang kaki, menggerakkan tangan, menarik napas, mengembuskan napas, menghitung gerakan, atau berpindah dari satu titik ke titik lainnya.
Instruksi tersebut harus didengar, dipahami, kemudian dilakukan.
Rangkaian sederhana seperti itu sebenarnya melibatkan beberapa proses kognitif sekaligus.
Anak harus memperhatikan suara instruktur, mengingat apa yang baru saja dikatakan, memahami maksud perintah, lalu mengubah informasi tersebut menjadi gerakan tubuh.
Proses mendengar dan kemudian melakukan instruksi inilah yang menjadi salah satu kemungkinan penjelasan mengenai hubungan antara kelas renang dan perkembangan kemampuan kognitif.
Mengapa Anak yang Berenang Bisa Lebih Baik dalam Matematika?
Salah satu hasil yang cukup menarik dari penelitian tersebut adalah kemampuan matematika.
Matematika pada anak usia dini sebenarnya tidak selalu berbentuk soal penjumlahan atau pengurangan seperti yang ditemukan di sekolah. Pada tahap awal, kemampuan matematika dapat berkembang melalui pemahaman terhadap angka, jumlah, urutan, pola, ukuran, posisi, dan hubungan antara satu hal dengan hal lainnya.
Aktivitas berenang memiliki sejumlah unsur yang secara tidak langsung dapat memperkenalkan konsep tersebut.
Dalam latihan renang, instruktur dapat menggunakan hitungan untuk membantu anak melakukan gerakan. Misalnya, anak diminta menendang kaki sebanyak tiga kali atau menahan gerakan dalam hitungan tertentu.
Anak mungkin tidak merasa sedang belajar matematika karena kegiatan tersebut berlangsung sebagai bagian dari permainan atau latihan.
Namun, secara tidak langsung anak mendengar angka, mengingat urutannya, lalu menghubungkannya dengan gerakan tubuh.
Pengulangan semacam ini dapat membantu anak semakin terbiasa dengan konsep angka.
Selain hitungan, aktivitas berenang juga memiliki unsur pola. Gerakan tangan dan kaki dilakukan dengan urutan tertentu. Anak perlu memahami kapan harus menggerakkan kaki, kapan menggerakkan tangan, serta kapan mengambil dan mengatur napas.
Semakin sering dilakukan, anak mulai mengenali pola tersebut.
Kemampuan mengenali pola merupakan salah satu bagian penting dalam perkembangan matematika.
Tentu saja, hal ini bukan berarti anak yang berenang pasti akan menjadi lebih pintar matematika. Kemampuan matematika dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk lingkungan belajar, stimulasi di rumah, kualitas pendidikan, kebiasaan membaca, perkembangan bahasa, serta kondisi individual setiap anak.
Namun, aktivitas seperti berenang dapat menjadi salah satu bentuk stimulasi yang menarik karena menggabungkan gerakan fisik dengan instruksi dan pengulangan.
Mendengar Instruksi Melatih Kemampuan Anak
Selain kemampuan matematika, penelitian tersebut juga menemukan perbedaan pada kemampuan memahami instruksi.
Hal ini cukup masuk akal jika melihat bagaimana kelas renang biasanya berlangsung.
Seorang anak yang mengikuti latihan harus memperhatikan instruktur. Ia tidak bisa hanya mengandalkan gerakan sendiri karena setiap latihan memiliki aturan dan tahapan.
Instruktur dapat memberikan perintah sederhana seperti meminta anak menendang kaki, menggerakkan tangan, memegang pelampung, menghadap ke arah tertentu, atau menghitung sebelum melakukan gerakan.
Anak harus mendengarkan informasi tersebut.
Setelah itu, ia perlu mengingatnya dan menerapkannya.
Kemampuan tersebut berkaitan dengan listening comprehension atau pemahaman terhadap informasi yang didengar.
Kemampuan mendengarkan sangat penting bagi anak karena hampir seluruh kegiatan belajar di sekolah juga melibatkan instruksi verbal.
Guru memberikan penjelasan, anak mendengarkan, kemudian melakukan tugas sesuai dengan arahan.
Dengan demikian, kebiasaan mengikuti instruksi dalam aktivitas seperti kelas renang berpotensi memberikan pengalaman yang relevan dengan situasi belajar di lingkungan pendidikan.
Berenang Juga Melibatkan Working Memory
Kemampuan lain yang tidak kalah penting adalah working memory atau memori kerja.
Secara sederhana, memori kerja merupakan kemampuan untuk menyimpan informasi dalam waktu singkat sekaligus menggunakannya untuk melakukan suatu tugas.
Contohnya, ketika instruktur mengatakan kepada anak untuk melakukan beberapa gerakan secara berurutan, anak harus mengingat perintah tersebut sebelum melaksanakannya.
Anak mungkin harus mengingat untuk menendang kaki terlebih dahulu, kemudian menggerakkan tangan, lalu mengatur napas.
Meskipun terlihat sederhana bagi orang dewasa, rangkaian tersebut membutuhkan kemampuan mengingat dan memproses informasi bagi anak kecil.
Semakin sering anak mendapatkan pengalaman semacam ini, semakin banyak kesempatan bagi mereka untuk berlatih mempertahankan informasi dan menggunakannya dalam suatu aktivitas.
Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa para peneliti melihat kemungkinan adanya kaitan antara aktivitas renang dan perkembangan kognitif.
Gerakan Kiri dan Kanan Membutuhkan Koordinasi
Berenang juga merupakan aktivitas yang membutuhkan koordinasi tubuh.
Tangan dan kaki harus bekerja secara teratur. Gerakan sisi kiri dan kanan tubuh perlu dilakukan secara terkoordinasi agar anak dapat bergerak dengan baik di dalam air.
Koordinasi semacam ini termasuk bagian dari kemampuan motorik yang berkembang selama masa kanak-kanak.
Ketika anak melakukan gerakan secara berulang, otak harus menerima informasi dari tubuh, memprosesnya, lalu mengirimkan perintah kepada otot untuk menghasilkan gerakan tertentu.
Proses tersebut berlangsung berulang kali selama latihan.
Berenang juga termasuk aktivitas yang membuat anak harus memperhatikan posisi tubuh di dalam air. Anak perlu mengetahui arah gerakannya, menjaga keseimbangan, serta menyesuaikan gerakan dengan kondisi di sekitarnya.
Karena itu, aktivitas berenang tidak hanya membutuhkan kekuatan otot. Ada proses koordinasi antara otak, mata, tangan, kaki, dan sistem keseimbangan tubuh.
Hubungan Antara Gerakan dan Perkembangan Otak
Dalam konteks perkembangan anak, aktivitas fisik sering kali tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kemampuan berpikir.
Anak belajar melalui tubuhnya. Mereka mengenali lingkungan dengan bergerak, menyentuh, melihat, mendengar, dan mencoba berbagai hal.
Berenang memberikan pengalaman sensorik yang cukup berbeda dibandingkan aktivitas di darat.
Anak harus menyesuaikan diri dengan air, mengontrol gerakan tubuh, serta memahami bagaimana tubuhnya bergerak dalam lingkungan tersebut.
Semua pengalaman itu membutuhkan koordinasi.
Gerakan tubuh yang dilakukan secara teratur juga melibatkan komunikasi antara berbagai bagian sistem saraf.
Salah satu struktur yang sering dikaitkan dengan komunikasi antara belahan otak kiri dan kanan adalah corpus callosum.
Belahan otak kiri banyak dikaitkan dengan fungsi bahasa dan pemrosesan logis, sedangkan belahan otak kanan memiliki peran dalam sejumlah fungsi seperti pengenalan pola dan pemrosesan informasi tertentu.
Keduanya tidak bekerja secara terpisah. Otak manusia bekerja sebagai jaringan yang saling berhubungan.
Karena itu, sejumlah peneliti menduga bahwa aktivitas yang membutuhkan koordinasi kedua sisi tubuh dapat memberikan stimulasi terhadap jaringan komunikasi di dalam otak.
Namun, dugaan tersebut tetap perlu dilihat secara hati-hati. Hasil penelitian tidak serta-merta membuktikan bahwa gerakan berenang secara langsung memperkuat kemampuan otak tertentu.
Masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui mekanisme yang sebenarnya.
Anak yang Berenang Tidak Otomatis Lebih Pintar
Temuan mengenai anak yang berenang dan kemampuan matematika tentu menarik, tetapi orang tua sebaiknya tidak langsung menarik kesimpulan bahwa berenang merupakan cara instan untuk membuat anak lebih pintar.
Ada banyak faktor lain yang ikut berperan dalam perkembangan anak.
Anak yang mengikuti kelas renang mungkin berasal dari keluarga yang memiliki kebiasaan memberikan lebih banyak stimulasi. Mereka mungkin juga memiliki akses terhadap berbagai aktivitas lain, seperti membaca buku, bermain permainan edukatif, mengikuti kelas musik, atau melakukan kegiatan bersama orang tua.
Faktor ekonomi dan lingkungan juga dapat memengaruhi akses anak terhadap aktivitas tersebut.
Karena itu, hubungan antara berenang dan kemampuan kognitif tidak dapat dilihat hanya dari aktivitas di kolam renang.
Para peneliti juga mempertimbangkan kemungkinan bahwa manfaat yang terlihat berasal dari kombinasi berbagai faktor.
Dengan kata lain, bukan hanya berenangnya yang berpengaruh.
Peran Orang Tua Tidak Bisa Diabaikan
Salah satu hal penting dalam perkembangan anak adalah keterlibatan orang tua.
Anak yang mengikuti kelas renang biasanya membutuhkan orang dewasa untuk mengantar, mendampingi, menyiapkan perlengkapan, dan memberikan dukungan selama proses latihan.
Interaksi tersebut juga dapat menjadi bagian dari stimulasi perkembangan anak.
Sebelum mengikuti kelas, orang tua mungkin berbicara mengenai kegiatan yang akan dilakukan. Setelah latihan, orang tua dapat bertanya mengenai pengalaman anak di kolam renang.
Percakapan sederhana seperti itu dapat membantu perkembangan bahasa.
Orang tua juga dapat mengajak anak menghitung jumlah latihan, mengenali warna benda di sekitar kolam, atau mengingat instruksi yang diberikan oleh pelatih.
Artinya, pengalaman berenang dapat diperluas menjadi kegiatan belajar yang menyenangkan jika orang tua ikut terlibat.
Rutinitas Terstruktur Juga Bisa Memberikan Manfaat
Kelas renang biasanya memiliki jadwal yang teratur.
Anak mengetahui kapan waktunya latihan, apa yang harus dibawa, serta kegiatan apa yang akan dilakukan.
Rutinitas seperti ini dapat membantu anak memahami konsep urutan dan kebiasaan.
Anak belajar bahwa ada waktu untuk bermain, berlatih, beristirahat, dan melakukan aktivitas lainnya.
Rutinitas yang konsisten juga dapat memberikan rasa aman karena anak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
Hal semacam ini mungkin terlihat sederhana, tetapi penting dalam kehidupan anak usia dini.
Dengan demikian, manfaat yang terlihat pada anak yang mengikuti kelas renang bisa saja merupakan hasil dari kombinasi aktivitas fisik, instruksi, rutinitas, interaksi sosial, serta keterlibatan orang tua.
Bukan Hanya Renang yang Bisa Memberikan Stimulasi
Jika orang tua tidak memiliki akses ke kelas renang, tidak berarti anak kehilangan kesempatan untuk mendapatkan stimulasi serupa.
Ada banyak aktivitas lain yang juga melibatkan gerakan, instruksi, koordinasi, dan interaksi.
Kelas musik, misalnya, mengharuskan anak mendengarkan suara, mengingat pola, mengikuti irama, dan melakukan gerakan tertentu.
Senam juga membutuhkan koordinasi tubuh serta kemampuan mengikuti arahan.
Permainan tradisional dapat mengajarkan anak mengenai aturan, giliran, hitungan, dan kerja sama.
Bermain bola juga membutuhkan koordinasi mata dan tangan atau kaki, pemahaman terhadap arah, serta kemampuan mengikuti aturan permainan.
Bahkan kegiatan sederhana di rumah dapat menjadi sarana stimulasi.
Orang tua dapat mengajak anak menghitung mainan, menyusun benda berdasarkan ukuran, mengenali pola warna, membaca buku cerita, atau mengikuti instruksi sederhana dalam permainan.
Jadi, perkembangan kognitif tidak bergantung pada satu jenis aktivitas saja.
Berenang Tetap Memiliki Banyak Manfaat untuk Anak
Terlepas dari kaitannya dengan kemampuan kognitif, berenang tetap memiliki manfaat penting bagi anak.
Kemampuan berenang dapat menjadi salah satu keterampilan keselamatan yang berguna. Anak yang terbiasa berada di air dapat belajar mengenali lingkungan air dan memahami aturan dasar keselamatan.
Dari sisi fisik, berenang juga membantu anak bergerak aktif.
Aktivitas tersebut melibatkan berbagai kelompok otot dan membutuhkan koordinasi tubuh.
Berenang juga dapat menjadi kegiatan rekreasi yang menyenangkan apabila dilakukan dalam suasana aman dan sesuai dengan kemampuan anak.
Namun, keselamatan harus tetap menjadi prioritas.
Anak kecil tidak boleh dibiarkan berada di sekitar kolam atau lingkungan air tanpa pengawasan orang dewasa, meskipun sudah mengikuti kelas berenang.
Kemampuan berenang juga tidak berarti seorang anak sepenuhnya bebas dari risiko tenggelam.
Karena itu, pengawasan orang dewasa tetap diperlukan setiap kali anak berada di dekat air.
Memilih Kelas Renang yang Sesuai untuk Anak
Bagi orang tua yang tertarik mengenalkan berenang sejak dini, pemilihan kelas juga perlu diperhatikan.
Kelas sebaiknya disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Instruktur harus mampu berkomunikasi dengan anak menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
Suasana latihan juga sebaiknya tidak membuat anak merasa takut.
Tujuan utama mengenalkan berenang pada usia dini bukan semata-mata mengejar prestasi. Anak perlu terlebih dahulu merasa nyaman dengan air dan memahami bahwa berenang merupakan aktivitas yang menyenangkan.
Jika anak merasa tertekan atau terlalu dipaksa, pengalaman tersebut justru dapat membuat mereka enggan mengikuti latihan.
Orang tua dapat melihat bagaimana instruktur berinteraksi dengan anak sebelum memutuskan mengikuti suatu kelas.
Kebersihan kolam, keamanan fasilitas, jumlah peserta dalam satu kelas, serta rasio antara instruktur dan anak juga layak menjadi pertimbangan.
Jangan Jadikan Kemampuan Matematika sebagai Target Utama
Hasil penelitian mengenai berenang dan kemampuan matematika memang menarik. Namun, orang tua tidak perlu menjadikan kemampuan matematika sebagai satu-satunya alasan mengajak anak berenang.
Anak usia dini membutuhkan pengalaman yang beragam.
Mereka perlu bermain, bergerak, berinteraksi, berbicara, mencoba hal baru, dan mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan.
Berenang dapat menjadi salah satu bagian dari pengalaman tersebut.
Jika anak menikmati kegiatan di air, orang tua dapat menjadikannya sebagai aktivitas rutin dengan tetap memperhatikan keamanan dan kondisi anak.
Sementara itu, stimulasi kemampuan matematika dapat dilakukan melalui banyak kegiatan lain.
Menghitung mainan, menyusun balok, bermain puzzle, memasak bersama, atau mengelompokkan benda berdasarkan ukuran merupakan contoh kegiatan sederhana yang dapat memperkenalkan konsep matematika kepada anak.
Dengan cara tersebut, belajar tidak terasa seperti kegiatan yang membebani.
Apa yang Bisa Dipelajari Orang Tua dari Hasil Riset Ini?
Temuan Griffith University memberikan gambaran menarik bahwa aktivitas fisik dan perkembangan kognitif anak mungkin memiliki hubungan yang lebih dekat daripada yang selama ini diperkirakan.
Anak tidak hanya belajar ketika duduk di depan buku.
Mereka juga belajar ketika bergerak, bermain, berbicara, mengikuti aturan, dan mencoba sesuatu yang baru.
Berenang menjadi salah satu contoh aktivitas yang menggabungkan berbagai unsur tersebut.
Anak bergerak menggunakan seluruh tubuh, mendengarkan instruksi, mengingat urutan gerakan, mengenal angka, berinteraksi dengan instruktur, dan beradaptasi dengan lingkungan air.
Seluruh pengalaman itu memberikan rangsangan yang berbeda.
Namun, hasil penelitian tetap perlu dipandang sebagai bagian dari pemahaman yang lebih luas mengenai perkembangan anak.
Berenang bukan formula untuk membuat anak lebih cerdas. Tidak ada satu aktivitas yang dapat menjamin seorang anak akan unggul dalam matematika, bahasa, atau kemampuan lainnya.
Perkembangan anak merupakan hasil dari banyak faktor yang saling berkaitan.
Berenang Bisa Menjadi Aktivitas Belajar yang Menyenangkan
Bagi sebagian anak, belajar matematika mungkin identik dengan angka dan lembar latihan.
Padahal, konsep matematika dapat diperkenalkan melalui kegiatan yang jauh lebih menyenangkan.
Saat berada di kolam, misalnya, anak dapat belajar menghitung jumlah tendangan kaki, mengenali urutan gerakan, memperkirakan jarak, atau memahami konsep lebih banyak dan lebih sedikit.
Orang tua tidak perlu membuat kegiatan tersebut terasa seperti pelajaran.
Cukup dengan mengajak anak berbicara dan bermain, berbagai konsep dasar dapat diperkenalkan secara alami.
Inilah yang membuat aktivitas seperti berenang menarik.
Anak dapat memperoleh manfaat fisik sekaligus mendapatkan pengalaman yang melibatkan kemampuan berpikir.
Pada akhirnya, kegiatan yang dilakukan secara konsisten dan menyenangkan dapat menjadi bagian dari proses tumbuh kembang anak.
Kesimpulan
Studi dari Griffith University, Australia, menunjukkan adanya hubungan menarik antara aktivitas berenang sejak usia dini dan kemampuan kognitif anak.
Penelitian yang melibatkan lebih dari 7.000 anak di bawah usia 5 tahun dari Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat tersebut menemukan bahwa anak yang rutin berenang menunjukkan kemampuan tertentu yang lebih unggul dibandingkan kelompok pembanding.
Perbedaannya terlihat pada sejumlah aspek, termasuk kemampuan matematika, oral expression, kemampuan mengingat cerita, dan memahami instruksi.
Anak yang berenang menunjukkan keunggulan rata-rata sekitar enam bulan dalam kemampuan matematika, 11 bulan dalam oral expression, 17 bulan dalam mengingat cerita, dan 20 bulan dalam memahami instruksi.
Salah satu kemungkinan penjelasannya adalah karakteristik kelas renang yang melibatkan instruksi verbal, pengulangan, hitungan, koordinasi gerakan, serta kemampuan mendengarkan dan mengingat.
Berenang juga menuntut anak menggunakan berbagai bagian tubuh secara terkoordinasi. Aktivitas tersebut memberikan pengalaman fisik sekaligus kognitif yang cukup kompleks untuk anak usia dini.
Meski demikian, orang tua perlu memahami bahwa hasil penelitian tersebut tidak berarti berenang secara langsung membuat anak menjadi lebih pintar matematika.
Perkembangan kognitif dipengaruhi oleh banyak hal. Lingkungan keluarga, pendidikan, stimulasi, pola interaksi dengan orang tua, rutinitas, kondisi sosial, serta berbagai aktivitas yang dilakukan anak semuanya dapat berperan.
Karena itu, berenang sebaiknya dilihat sebagai salah satu pilihan aktivitas yang dapat mendukung tumbuh kembang anak, bukan sebagai jalan pintas untuk meningkatkan kecerdasan.
Jika anak menikmati berenang, kegiatan tersebut dapat menjadi pilihan yang baik. Selain membantu anak aktif bergerak, kelas renang juga memberikan kesempatan untuk belajar mengikuti instruksi, mengenal angka, memahami pola, melatih koordinasi, serta berinteraksi dengan orang lain.
Yang paling penting, aktivitas tersebut dilakukan dalam suasana aman dan menyenangkan.
Orang tua juga tetap memiliki peran besar. Mendampingi anak, mengajak berbicara, membaca bersama, bermain, serta memberikan berbagai pengalaman baru tetap menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang.
Dengan begitu, manfaat berenang tidak berdiri sendiri.
Ada gerakan, ada instruksi, ada interaksi, ada rutinitas, dan ada dukungan dari orang dewasa. Keseluruhan pengalaman itulah yang kemungkinan menjadi bagian penting dari perkembangan anak.
Jadi, jika selama ini berenang hanya dianggap sebagai kegiatan untuk membuat anak lebih aktif atau mengajarkan kemampuan bertahan di air, hasil penelitian tersebut memberikan sudut pandang tambahan.
Berenang sejak dini mungkin juga memberikan stimulasi yang berkaitan dengan kemampuan kognitif.
Namun, yang tidak kalah penting adalah memastikan anak mendapatkan kesempatan untuk belajar melalui berbagai aktivitas. Sebab, pada usia dini, hampir setiap pengalaman dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Dan bagi anak, proses tersebut akan jauh lebih berarti ketika dilakukan sambil bermain dan merasa senang.
Sumber : www.kumparan.com




