PILARadio.com – Dokumenter Oasis terbaru, Oasis: Don’t Look Back in Anger, mengungkap cerita di balik kembalinya Liam Gallagher dan Noel Gallagher setelah lebih dari 15 tahun berselisih. Film tersebut memperlihatkan bagaimana dua bersaudara itu akhirnya kembali bekerja sama dan menjalani reuni Oasis dalam tur besar bertajuk Live ’25 pada 2025.
Hubungan Liam dan Noel Gallagher selama bertahun-tahun dikenal penuh konflik. Perselisihan keduanya bahkan menjadi salah satu cerita paling terkenal dalam perjalanan Oasis. Pertengkaran antara dua bersaudara tersebut akhirnya berujung pada bubarnya Oasis pada 2009.
Setelah perpisahan tersebut, Liam dan Noel menjalani karier masing-masing. Keduanya juga beberapa kali saling melontarkan pernyataan yang memperlihatkan bahwa hubungan mereka belum sepenuhnya membaik.
Namun, perjalanan waktu akhirnya membawa perubahan.
Reuni Oasis pada 2025 menjadi salah satu momen yang paling ditunggu penggemar musik Inggris. Band yang dikenal melalui lagu-lagu seperti Wonderwall, Don’t Look Back in Anger, Champagne Supernova, dan Live Forever itu akhirnya kembali berada di atas panggung dalam satu rangkaian tur.
Cerita di balik proses tersebut kemudian diangkat ke layar melalui dokumenter Oasis: Don’t Look Back in Anger.
Film yang disutradarai sekaligus digarap oleh Steven Knight tersebut tidak hanya memperlihatkan kemeriahan konser Oasis. Dokumenter itu juga mencoba membawa penonton melihat sisi personal Liam dan Noel ketika keduanya harus kembali berhadapan setelah bertahun-tahun tidak bekerja sama.
Pertemuan Liam dan Noel Setelah 15 Tahun
Salah satu bagian yang paling menarik dalam dokumenter tersebut adalah momen ketika Liam dan Noel untuk pertama kalinya kembali bertemu dalam rangka persiapan reuni Oasis.
Keduanya diketahui menjalani pertemuan tersebut setelah sekitar 15 tahun tidak bekerja bersama.
Bagi penggemar Oasis, pertemuan tersebut tentu bukan sekadar latihan musik biasa. Ada sejarah panjang yang ikut terbawa ketika Liam dan Noel kembali berada di ruangan yang sama.
Perselisihan keduanya telah berlangsung selama bertahun-tahun. Hubungan tersebut bahkan menjadi salah satu alasan utama Oasis akhirnya berpisah pada 2009.
Steven Knight kemudian menceritakan bagaimana suasana pertemuan pertama Liam dan Noel saat persiapan tur.
Menurut Knight, Liam dan Noel bukan tipe orang yang mudah memperlihatkan emosi secara terbuka.
“Mereka adalah pria dari kalangan kelas pekerja,” kata Knight.
“Mereka tidak akan menunjukkan emosi, bahkan tidak akan berjabat tangan.”
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana hubungan dua bersaudara itu pada awalnya masih terasa kaku.
Mereka kembali dipertemukan bukan karena hubungan pribadi mereka sudah sepenuhnya pulih, melainkan karena ada sebuah proyek besar yang harus dijalankan bersama.
Proyek tersebut adalah reuni Oasis melalui tur Live ’25.
Liam Langsung Mengeluhkan Peralatan Drum
Dalam dokumenter tersebut, Steven Knight juga mengungkap suasana ketika Liam tiba dalam pertemuan pertama untuk persiapan tur.
Alih-alih langsung memperlihatkan suasana haru karena akhirnya bertemu Noel setelah belasan tahun, Liam justru menunjukkan sikap yang sangat khas dirinya.
Knight mengatakan Liam sempat menggerutu mengenai pelindung akustik yang berada di sekitar drum.
“Benda-benda itu membuatku kesal,” demikian keluhan Liam yang diceritakan Knight.
Setelah itu, Liam langsung menyanyikan sejumlah lagu dengan gaya khasnya.
Tidak ada adegan dramatis berupa pelukan atau percakapan emosional antara Liam dan Noel.
Liam kemudian meninggalkan lokasi tanpa mengucapkan selamat tinggal.
Tidak ada kata-kata panjang yang menggambarkan perasaan mereka.
Bagi orang yang mengikuti perjalanan Oasis selama bertahun-tahun, sikap tersebut mungkin terasa sangat familiar.
Liam Gallagher memang dikenal dengan karakter yang blak-blakan dan spontan. Noel juga memiliki karakter yang kuat serta tidak selalu mudah menunjukkan sisi emosionalnya.
Namun, pertemuan tersebut ternyata menjadi awal dari perubahan hubungan keduanya.
Ada sesuatu yang kemudian membuat suasana menjadi berbeda.
Hal tersebut datang dari generasi berikutnya dalam keluarga Gallagher.
Anak-anak Liam dan Noel Menjadi Perekat Hubungan
Menurut Steven Knight, salah satu hal yang membantu Liam dan Noel kembali dekat adalah kehadiran anak-anak mereka.
Anak-anak Liam dan Noel yang secara hubungan keluarga merupakan sepupu ternyata justru menjadi jembatan bagi kedua orang tua mereka.
Menariknya, anak-anak tersebut sebelumnya tidak saling mengenal secara dekat.
Mereka baru bertemu ketika proses persiapan reuni Oasis dimulai.
Pertemuan itu kemudian berkembang secara alami.
Anak-anak Liam dan Noel mulai berinteraksi dan menjadi teman.
Situasi tersebut secara perlahan menciptakan suasana berbeda di antara dua bersaudara Gallagher.
“Menurut saya, begitu anak-anak mereka mulai terlibat, itulah yang menjadi perekatnya,” ujar Knight.
“Anak-anak mereka pun menjadi teman akrab.”
Hubungan yang terbangun di antara para sepupu tersebut ternyata memberikan dampak terhadap hubungan Liam dan Noel.
Keduanya tidak lagi hanya melihat satu sama lain sebagai dua orang yang pernah bertengkar hebat.
Ada hubungan keluarga yang lebih luas di antara mereka.
Anak-anak mereka menjadi penghubung yang membuat suasana menjadi lebih cair.
Hal tersebut juga memperlihatkan bahwa proses rekonsiliasi Liam dan Noel bukanlah sesuatu yang berlangsung secara tiba-tiba.
Tidak ada satu percakapan ajaib yang langsung menghapus semua masalah selama bertahun-tahun.
Sebaliknya, hubungan mereka perlahan berubah melalui berbagai interaksi kecil selama persiapan tur.
Perselisihan Liam dan Noel Berawal dari 2009
Hubungan Liam dan Noel Gallagher mengalami keretakan serius sebelum Oasis akhirnya bubar pada 2009.
Perselisihan keduanya telah berlangsung dalam berbagai bentuk selama perjalanan Oasis.
Sebagai dua bersaudara yang sama-sama memiliki karakter kuat, perbedaan pendapat antara Liam dan Noel bukan sesuatu yang baru.
Namun, konflik tersebut mencapai titik yang tidak bisa lagi dipertahankan pada 2009.
Oasis akhirnya berakhir setelah Noel meninggalkan band.
Sejak saat itu, Liam dan Noel menjalani perjalanan musik masing-masing.
Liam kemudian membentuk Beady Eye sebelum melanjutkan karier sebagai solois.
Noel juga membangun proyek musiknya sendiri melalui Noel Gallagher’s High Flying Birds.
Selama bertahun-tahun, penggemar Oasis terus berharap agar keduanya kembali bersama.
Namun, harapan tersebut berkali-kali tampak sulit terwujud.
Hubungan kedua bersaudara itu menjadi salah satu alasan utama mengapa reuni Oasis terasa seperti sesuatu yang hampir mustahil.
Karena itu, ketika kabar reuni akhirnya muncul, perhatian publik langsung tertuju pada bagaimana Liam dan Noel bisa kembali bekerja bersama.
Dokumenter Oasis: Don’t Look Back in Anger kemudian memberikan kesempatan kepada penggemar untuk melihat sisi lain dari proses tersebut.
Reuni Oasis di Tur Live ’25
Reuni Oasis melalui tur Live ’25 menjadi salah satu peristiwa terbesar dalam perjalanan band asal Manchester tersebut.
Setelah lebih dari satu dekade berpisah, Liam dan Noel kembali berada di panggung yang sama.
Tur tersebut membawa kembali lagu-lagu Oasis yang telah menjadi bagian dari perjalanan musik generasi 1990-an hingga generasi setelahnya.
Bagi penggemar lama, konser tersebut menjadi kesempatan untuk kembali mendengar lagu-lagu Oasis secara langsung.
Sementara bagi penggemar yang lebih muda, reuni tersebut menjadi kesempatan untuk menyaksikan salah satu band Inggris paling berpengaruh secara langsung.
Antusiasme terhadap reuni Oasis juga memperlihatkan bahwa popularitas band tersebut tidak hilang meskipun mereka sudah lama tidak tampil bersama.
Lagu-lagu mereka tetap dikenal dan didengarkan oleh berbagai generasi.
Liam dan Noel Tiba Bersama di Venice Film Festival
Hubungan Liam dan Noel yang semakin membaik juga terlihat ketika keduanya hadir di Venice Film Festival 2026.
Keduanya tiba di lokasi festival menggunakan perahu pada Sabtu (5/9) pagi.
Kehadiran Liam dan Noel langsung mendapat perhatian dari para penggemar yang telah menunggu di sekitar lokasi.
Dari atas perahu, kedua bersaudara tersebut terlihat berdampingan.
Mereka kemudian melambaikan tangan kepada para penggemar dari kejauhan.
Pemandangan tersebut menjadi salah satu momen menarik dalam rangkaian promosi dokumenter Oasis.
Jika beberapa tahun lalu Liam dan Noel identik dengan konflik dan saling sindir, kini keduanya justru terlihat berada di tempat yang sama untuk mempromosikan sebuah film tentang perjalanan reuni mereka.
Suasana hangat tersebut menjadi gambaran lain mengenai perubahan hubungan kedua bersaudara tersebut.
Kehadiran mereka di Venice juga memperlihatkan besarnya perhatian publik terhadap dokumenter Oasis.
Para penggemar tidak hanya ingin mengetahui bagaimana konser berlangsung, tetapi juga ingin melihat bagaimana hubungan Liam dan Noel berkembang setelah bertahun-tahun berpisah.
Dokumenter Oasis Tayang Perdana di Venice
Oasis: Don’t Look Back in Anger melakukan pemutaran perdana di Venice Film Festival 2026 pada Sabtu (5/9).
Kehadiran film tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan reuni Oasis.
Dokumenter ini tidak hanya menampilkan pertunjukan di atas panggung, tetapi juga mencoba memperlihatkan perjalanan di balik layar.
Steven Knight membawa penonton melihat proses ketika Liam dan Noel kembali berlatih.
Hal tersebut membuat dokumenter terasa lebih personal.
Penonton dapat melihat bagaimana dua bersaudara yang pernah berselisih selama bertahun-tahun harus kembali berada dalam satu lingkungan kerja.
Ada ketegangan, kecanggungan, sekaligus berbagai momen yang memperlihatkan bahwa hubungan keduanya perlahan mengalami perubahan.
Film ini juga memberikan ruang untuk memperlihatkan sisi emosional Liam dan Noel yang selama ini mungkin jarang terlihat oleh publik.
Sisi Rapuh Liam Gallagher
Salah satu bagian dokumenter yang cukup menarik adalah cerita mengenai kondisi emosional Liam Gallagher selama persiapan tur.
Di balik karakter Liam yang dikenal percaya diri dan penuh energi ketika berada di atas panggung, dokumenter tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran yang ia rasakan.
Liam digambarkan memiliki pergulatan batin dan ketakutan akan melakukan kesalahan.
Hal tersebut menjadi sisi berbeda dari sosok Liam yang selama bertahun-tahun dikenal publik.
Di atas panggung, Liam dikenal memiliki gaya bernyanyi dan penampilan yang sangat khas.
Namun, ketika harus kembali tampil bersama Oasis setelah lebih dari 15 tahun, tekanan yang dirasakan tentu berbeda.
Ada sejarah panjang yang ikut membebani momen tersebut.
Ada pula ekspektasi dari jutaan penggemar yang telah menunggu reuni Oasis.
Dalam dokumenter tersebut, Liam juga memperlihatkan keputusan penting untuk berhenti mengonsumsi alkohol dan rokok selama tur.
Keputusan tersebut menjadi bagian dari persiapan Liam menghadapi rangkaian konser.
Hal tersebut menunjukkan bahwa reuni Oasis bukan sekadar kembali naik panggung.
Ada persiapan fisik dan mental yang harus dilakukan.
Noel Gallagher Juga Menghadapi Tekanan
Bukan hanya Liam yang mengalami pergulatan emosional.
Noel Gallagher juga harus menghadapi tantangan ketika kembali tampil bersama Oasis.
Setelah lebih dari 15 tahun tidak menjalani konser bersama Liam, Noel harus kembali menemukan ritme bermain dalam sebuah band yang pernah menjadi bagian besar dalam hidupnya.
Dokumenter tersebut memperlihatkan bagaimana Noel berusaha mengendalikan emosinya.
Salah satu momen yang disorot adalah ketika Oasis memulai kembali konser tur mereka di Cardiff pada Juli 2025.
Bagi Noel, tampil kembali bersama Liam bukan perkara sederhana.
Keduanya memiliki sejarah panjang yang tidak bisa begitu saja dilupakan.
Namun, mereka akhirnya berhasil melewati berbagai ketegangan tersebut.
Konser berlangsung dan Oasis kembali tampil sebagai sebuah band.
Momen tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam cerita reuni Oasis.
Bukan Sekadar Film Konser
Oasis: Don’t Look Back in Anger memang menampilkan perjalanan tur, tetapi film tersebut bukan sekadar rekaman konser.
Dokumenter ini mencoba menjawab pertanyaan yang selama bertahun-tahun muncul di kalangan penggemar.
Bagaimana Oasis bisa kembali bersatu setelah konflik panjang?
Mengapa Liam dan Noel akhirnya bersedia kembali bekerja sama?
Dan apa yang membuat Oasis masih memiliki daya tarik begitu kuat setelah lebih dari 30 tahun berkarier?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari cerita yang dibangun dalam dokumenter.
Film ini membawa penonton ke balik panggung dan menunjukkan sisi yang tidak selalu terlihat ketika Oasis tampil di hadapan puluhan ribu penonton.
Di atas panggung, yang terlihat adalah musik, sorakan penonton, dan lagu-lagu nostalgia.
Namun, di belakang panggung terdapat proses panjang yang melibatkan hubungan personal, persiapan, kekhawatiran, dan berbagai emosi.
Mengapa Oasis Masih Populer?
Salah satu tujuan dokumenter tersebut adalah memperlihatkan alasan mengapa Oasis masih memiliki daya tarik yang besar.
Band yang telah berkarier selama sekitar tiga dekade tersebut berhasil mempertahankan popularitasnya lintas generasi.
Lagu-lagu Oasis tidak hanya dikenal di Inggris.
Nama mereka juga memiliki penggemar di berbagai negara.
Wonderwall dan Don’t Look Back in Anger menjadi dua lagu yang paling identik dengan Oasis.
Namun, katalog musik mereka jauh lebih luas daripada dua lagu tersebut.
Live Forever, Champagne Supernova, Supersonic, Some Might Say, Stand by Me, dan berbagai lagu lainnya telah menjadi bagian dari sejarah musik Britpop.
Karakter musik Oasis yang sederhana tetapi kuat menjadi salah satu alasan lagu-lagu mereka tetap mudah diterima.
Lirik yang emosional dan melodi yang mudah diingat juga membuat musik Oasis mampu bertahan dalam ingatan pendengar.
Reuni pada 2025 kemudian memperlihatkan bahwa daya tarik tersebut belum hilang.
Tren Film Tur Konser
Dokumenter Oasis juga hadir di tengah tren film konser yang semakin berkembang.
Film mengenai tur konser memberikan kesempatan kepada penggemar untuk melihat pertunjukan musik melalui layar lebar.
Tidak semua penggemar memiliki kesempatan membeli tiket konser.
Harga tiket, lokasi pertunjukan, serta jumlah tiket yang terbatas membuat banyak penggemar akhirnya tidak bisa menyaksikan artis favorit mereka secara langsung.
Film konser kemudian menjadi alternatif.
Penggemar bisa menikmati pertunjukan melalui bioskop dengan biaya yang relatif lebih terjangkau dibandingkan pengalaman menonton konser secara langsung.
Format tersebut juga memberikan kesempatan kepada penonton untuk melihat berbagai adegan di balik panggung.
Tren tersebut sebelumnya telah menghasilkan kesuksesan besar bagi sejumlah musisi dunia.
Film konser Taylor Swift, The Eras Tour, misalnya, berhasil mencatat pendapatan global sekitar 260 juta dolar AS.
Beyoncé juga merilis film dokumenter konser pada tahun yang sama dan mencatat pendapatan sekitar 44 juta dolar AS.
Kesuksesan tersebut memperlihatkan bahwa film konser bukan lagi sekadar pelengkap tur.
Kini, film konser dapat menjadi produk hiburan tersendiri.
Steven Knight Melihat Potensi Besar Film Konser
Steven Knight melihat keberhasilan film konser sebelumnya sebagai salah satu alasan proyek seperti dokumenter Oasis mendapatkan dukungan.
“Menurut saya ini hal yang sangat bagus. Alasan orang mau mendanai proyek seperti ini adalah karena mereka melihat adanya preseden keberhasilan sebelumnya,” kata Knight.
Menurutnya, keberhasilan film konser sebelumnya menunjukkan bahwa ada pasar yang besar untuk jenis film tersebut.
Penggemar tidak hanya ingin mendengar musik.
Mereka juga ingin mengetahui cerita di balik pertunjukan.
Dalam kasus Oasis, faktor tersebut menjadi semakin menarik karena ada cerita besar mengenai hubungan Liam dan Noel.
Penonton bukan hanya datang untuk melihat konser.
Mereka juga ingin mengetahui bagaimana dua bersaudara yang pernah berpisah selama 15 tahun akhirnya bisa kembali berada di panggung yang sama.
Oasis dan Cerita Tentang Keluarga
Di balik cerita musik, dokumenter tersebut juga membawa tema mengenai keluarga.
Hubungan Liam dan Noel bukan hanya hubungan antara dua musisi.
Mereka adalah saudara kandung.
Konflik yang berlangsung selama bertahun-tahun tentu memiliki dampak yang lebih kompleks dibandingkan perselisihan antarrekan band biasa.
Karena itu, kehadiran anak-anak mereka menjadi bagian menarik dalam proses rekonsiliasi.
Para sepupu yang sebelumnya tidak saling mengenal justru menjadi dekat ketika orang tua mereka mempersiapkan reuni.
Interaksi tersebut kemudian membantu menciptakan hubungan baru di antara keluarga Gallagher.
Bagi Liam dan Noel, melihat anak-anak mereka berteman tentu memberikan perspektif berbeda.
Hubungan yang sebelumnya penuh konflik perlahan memiliki ruang untuk berubah.
Tidak ada yang tahu apakah proses tersebut akan terjadi jika tidak ada reuni Oasis.
Namun, fakta bahwa anak-anak mereka menjadi dekat menunjukkan bahwa generasi berikutnya justru bisa membangun hubungan yang lebih sederhana dan tanpa beban masa lalu.
Dokumenter Memperlihatkan Oasis dari Sisi Berbeda
Selama bertahun-tahun, Oasis dikenal sebagai band dengan karakter yang kuat.
Liam dan Noel juga dikenal sering melontarkan komentar tajam.
Perselisihan mereka bahkan menjadi bagian dari cerita yang tidak terpisahkan dari sejarah Oasis.
Namun, Oasis: Don’t Look Back in Anger mencoba memberikan sudut pandang berbeda.
Film tersebut tetap menampilkan karakter Oasis yang penuh energi, tetapi juga memperlihatkan sisi rapuh kedua bersaudara.
Ada Liam yang khawatir melakukan kesalahan.
Ada Noel yang harus mengendalikan emosinya.
Ada pula dua bersaudara yang harus belajar kembali bekerja bersama setelah lebih dari satu dekade berpisah.
Semua itu membuat dokumenter tersebut tidak hanya menjadi nostalgia.
Film ini juga menjadi cerita mengenai bagaimana hubungan yang pernah retak bisa berubah seiring berjalannya waktu.
Film Oasis Hadir pada September 2026
Oasis: Don’t Look Back in Anger dijadwalkan tayang pada 11 September 2026.
Film tersebut menjadi salah satu dokumenter musik yang paling dinantikan penggemar Oasis.
Pemutaran perdana di Venice Film Festival 2026 semakin meningkatkan perhatian terhadap film tersebut.
Bagi penggemar yang menyaksikan reuni Oasis melalui tur Live ’25, dokumenter ini menawarkan kesempatan untuk melihat kembali perjalanan tersebut dari sudut pandang berbeda.
Sementara bagi mereka yang tidak sempat menyaksikan konser secara langsung, film ini dapat menjadi cara untuk merasakan kembali atmosfer reuni Oasis.
Reuni Liam dan Noel Menjadi Bagian Penting Sejarah Oasis
Kembalinya Liam dan Noel Gallagher menjadi salah satu babak paling menarik dalam perjalanan Oasis.
Selama bertahun-tahun, kemungkinan reuni terasa sulit diwujudkan.
Konflik yang terjadi pada 2009 membuat Oasis berhenti sebagai band.
Namun, lebih dari 15 tahun kemudian, keduanya kembali bekerja sama.
Proses tersebut ternyata tidak berlangsung secara dramatis seperti yang mungkin dibayangkan.
Tidak ada adegan besar ketika Liam dan Noel langsung berpelukan dan melupakan semua masalah.
Sebaliknya, rekonsiliasi berlangsung secara perlahan.
Dimulai dari pertemuan yang canggung, latihan musik, interaksi anak-anak mereka, hingga akhirnya kembali berada di atas panggung.
Perjalanan tersebut menjadi inti dari dokumenter Oasis: Don’t Look Back in Anger.
Film ini memperlihatkan bahwa di balik musik dan kemeriahan konser, terdapat hubungan keluarga yang harus kembali dibangun.
Oasis Membuka Babak Baru
Reuni Oasis melalui Live ’25 menjadi bukti bahwa perjalanan sebuah band tidak selalu berhenti ketika para anggotanya berpisah.
Waktu dapat mengubah banyak hal.
Liam dan Noel yang pernah tidak berbicara selama bertahun-tahun akhirnya kembali berdiri di panggung yang sama.
Para penggemar pun mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan kembali dua bersaudara tersebut membawakan lagu-lagu yang telah menjadi bagian dari sejarah musik dunia.
Kini, cerita mengenai reuni itu diabadikan melalui Oasis: Don’t Look Back in Anger.
Dokumenter tersebut bukan hanya tentang sebuah tur.
Film ini juga bercerita tentang keluarga, konflik, waktu, tekanan, dan kesempatan kedua.
Kehadiran anak-anak Liam dan Noel sebagai “perekat” hubungan menjadi salah satu bagian paling menarik dari cerita tersebut.
Dua bersaudara yang selama 15 tahun berjalan di jalur berbeda akhirnya kembali menemukan titik temu.
Mereka kembali bermain musik bersama.
Mereka kembali berada di atas panggung yang sama.
Dan yang tidak kalah penting, hubungan mereka sebagai keluarga perlahan kembali membaik.
Bagi penggemar Oasis, reuni tersebut tentu lebih dari sekadar konser.
Ini adalah kesempatan untuk melihat kembali sebuah band legendaris yang sempat dianggap tidak mungkin bersatu lagi.
Setelah lebih dari satu dekade penuh konflik, Liam dan Noel Gallagher akhirnya membuktikan bahwa hubungan yang retak masih memiliki kemungkinan untuk diperbaiki.
Cerita lengkap mengenai perjalanan tersebut kini dapat disaksikan melalui Oasis: Don’t Look Back in Anger, dokumenter yang membawa penonton melihat lebih dekat proses di balik reuni terbesar Oasis dalam beberapa tahun terakhir.
Sumber : www.cnnindonesia.com





