PILARadio.com – Peta dunia yang selama ini akrab dilihat di ruang kelas, buku pelajaran, televisi hingga internet ternyata tidak sepenuhnya menggambarkan ukuran benua sesuai kondisi sebenarnya. Salah satu peta yang paling banyak dikenal adalah proyeksi Mercator. Peta tersebut memang sangat berguna untuk kebutuhan navigasi, tetapi memiliki persoalan ketika digunakan untuk membandingkan luas daratan.
Karena itu, muncul berbagai upaya untuk membuat peta dunia yang dapat memberikan gambaran lebih mendekati ukuran sebenarnya. Salah satu yang kini mendapat perhatian adalah proyeksi Equal Earth atau Bumi Setara.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan penggunaan peta yang dinilai mampu menggambarkan luas wilayah dunia secara lebih proporsional. Perubahan tersebut kembali memunculkan pembahasan mengenai bagaimana selama ini manusia melihat bentuk dan ukuran berbagai negara serta benua di dunia.
Salah satu persoalan yang paling sering dibahas adalah perbandingan Afrika dengan Greenland. Pada peta Mercator, Greenland terlihat memiliki ukuran yang hampir mendekati Afrika. Padahal, jika dibandingkan berdasarkan luas sebenarnya, Afrika jauh lebih besar. Luas Afrika bahkan sekitar 14 kali luas Greenland.
Perbedaan visual tersebut bukan berarti pembuat peta melakukan kesalahan sederhana. Masalahnya jauh lebih kompleks. Bumi berbentuk hampir bulat, sedangkan peta yang biasa digunakan manusia umumnya berbentuk datar. Ketika permukaan bumi dipindahkan ke bidang datar, selalu ada bagian yang harus dikorbankan, baik bentuk, luas, jarak maupun arah.
Inilah yang menjadi alasan mengapa tidak ada satu proyeksi peta yang mampu menggambarkan seluruh permukaan bumi secara sempurna.
Peta Mercator memiliki keunggulan untuk navigasi. Sementara itu, proyeksi Equal Earth berusaha mempertahankan perbandingan luas wilayah agar lebih sesuai dengan kondisi sebenarnya. Ada pula peta Peters yang lebih menekankan kesetaraan luas, peta dengan orientasi selatan di bagian atas, hingga peta berbentuk lingkaran yang digunakan dalam logo PBB.
Setiap jenis peta memiliki tujuan dan karakteristik masing-masing.
Mengapa PBB Membahas Peta Dunia Baru?
Pembahasan mengenai peta dunia tidak hanya berkaitan dengan persoalan teknis kartografi. Peta juga dapat memengaruhi cara seseorang melihat dunia.
Ketika sebuah wilayah terlihat jauh lebih besar atau lebih kecil daripada ukuran sebenarnya, persepsi orang terhadap wilayah tersebut dapat ikut berubah. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa penggunaan proyeksi peta terus diperdebatkan.
Peta Mercator, misalnya, membuat wilayah yang berada jauh dari garis khatulistiwa terlihat semakin besar. Negara-negara dan wilayah yang berada dekat kutub mengalami pembesaran visual yang cukup signifikan.
Sebaliknya, kawasan di sekitar khatulistiwa terlihat lebih kecil dibandingkan ukuran sebenarnya.
Afrika menjadi salah satu contoh yang paling sering digunakan untuk menjelaskan persoalan tersebut. Benua Afrika memiliki luas sekitar 30,3 juta kilometer persegi. Sementara Greenland memiliki luas sekitar 2,16 juta kilometer persegi.
Jika hanya melihat peta Mercator, perbedaan ukuran tersebut tidak terlihat secara proporsional.
Karena itulah muncul dorongan agar masyarakat juga mengenal peta alternatif yang lebih mampu menggambarkan perbandingan luas wilayah.
Dalam konteks inilah Equal Earth mendapat perhatian. Proyeksi tersebut dirancang untuk menampilkan luas daratan dengan skala yang lebih proporsional tanpa membuat seluruh bentuk benua terlihat terlalu berbeda dari aslinya.
Peta Mercator Dibuat untuk Navigasi
Proyeksi Mercator bukanlah peta yang dibuat tanpa tujuan. Justru, peta ini merupakan salah satu pencapaian penting dalam sejarah kartografi.
Peta Mercator dibuat pada 1569 oleh Gerardus Mercator, pembuat peta asal Flanders. Pada masa tersebut, kebutuhan terhadap peta yang dapat membantu pelayaran sangat besar.
Para pelaut membutuhkan cara untuk menentukan arah ketika melakukan perjalanan melintasi lautan. Karena itu, Mercator merancang sebuah proyeksi yang memungkinkan garis dengan arah konstan berdasarkan kompas digambarkan sebagai garis lurus pada peta.
Profesor Kartografi dari University College London, James Cheshire, menjelaskan bahwa tujuan utama proyeksi tersebut adalah membantu para pelaut.
“Ia ingin sebuah garis lurus yang digambar pada peta tampak sebagai garis lurus dalam kenyataan jika Anda mengikuti arah kompas,” katanya kepada BBC.
“Itulah tujuan pembuatannya, dan itulah yang dilakukannya dengan sangat baik.”
Keunggulan tersebut membuat proyeksi Mercator memiliki posisi penting dalam sejarah navigasi.
Masalahnya muncul ketika peta tersebut digunakan untuk melihat perbandingan ukuran daratan. Proyeksi yang dirancang untuk mempertahankan arah dan sudut tersebut tidak dapat sekaligus mempertahankan ukuran sebenarnya dari seluruh wilayah.
Semakin jauh sebuah wilayah dari garis khatulistiwa, semakin besar distorsi ukurannya.
Mengapa Afrika Terlihat Lebih Kecil?
Untuk memahami masalah pada peta Mercator, kita perlu mengetahui bagaimana proyeksi tersebut bekerja.
Bumi memiliki bentuk tiga dimensi. Ketika permukaannya diproyeksikan ke bidang datar, garis lintang dan garis bujur harus disusun sedemikian rupa agar dapat digunakan.
Pada proyeksi Mercator, garis lintang semakin diperlebar ketika bergerak menjauh dari khatulistiwa menuju kutub. Akibatnya, wilayah yang berada di sekitar kutub terlihat jauh lebih besar daripada ukuran sebenarnya.
Inilah alasan Greenland dapat terlihat sangat besar dalam peta Mercator.
Padahal, jika luas sebenarnya dibandingkan, Afrika jauh lebih luas.
Fenomena tersebut sering kali membuat orang yang baru pertama kali mengetahui perbandingan ukuran Afrika dan Greenland merasa terkejut. Selama bertahun-tahun, banyak orang melihat peta dunia yang sama sehingga gambaran visual tersebut dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Padahal, ukuran pada peta tidak selalu sama dengan ukuran sebenarnya di permukaan bumi.
Bukan hanya Greenland yang mengalami perubahan visual. Negara-negara seperti Rusia, Kanada, Alaska dan wilayah lain yang berada di lintang tinggi juga terlihat jauh lebih besar.
Sementara wilayah yang berada di sekitar garis khatulistiwa, termasuk banyak bagian Afrika, Amerika Selatan dan Asia Tenggara, relatif mengalami distorsi yang lebih kecil dalam hal luas.
Apakah Peta Mercator Salah?
Pertanyaan ini cukup sering muncul ketika pembahasan mengenai peta dunia baru mencuat.
Jawabannya, peta Mercator tidak bisa begitu saja disebut sebagai peta yang salah.
Peta tersebut dibuat untuk tujuan tertentu, yaitu navigasi. Dalam fungsi tersebut, proyeksi Mercator memiliki keunggulan yang sangat penting.
Masalahnya adalah ketika peta tersebut digunakan untuk tujuan yang berbeda, misalnya membandingkan ukuran benua.
Sebuah peta bisa sangat tepat untuk satu kebutuhan tetapi tidak ideal untuk kebutuhan lainnya.
Hal ini berlaku pada hampir semua proyeksi peta.
Ketika manusia mencoba mengubah permukaan bumi yang berbentuk bola menjadi bidang datar, pasti ada karakteristik yang mengalami perubahan. Tidak mungkin seluruh sifat permukaan bumi dipertahankan secara sempurna sekaligus.
James Cheshire menjelaskan persoalan tersebut dengan sederhana.
“Anda bisa mempertahankan luas, atau mempertahankan bentuk, atau mempertahankan jarak dan arah, tetapi tidak bisa mempertahankan semuanya secara sempurna, karena jika demikian Anda akan kembali ke bentuk bola,” ujarnya.
Dengan kata lain, perdebatan mengenai peta dunia bukan sekadar menentukan mana peta yang benar dan mana yang salah. Yang lebih penting adalah memahami tujuan dari sebuah proyeksi.
Dampak Psikologis dari Peta Dunia
Peta bukan hanya alat untuk menunjukkan lokasi. Cara sebuah wilayah ditampilkan juga dapat memengaruhi cara manusia memahami dunia.
Ketika suatu wilayah terlihat besar, seseorang secara tidak sadar dapat menganggap wilayah tersebut lebih penting atau lebih dominan. Sebaliknya, wilayah yang terlihat kecil bisa dianggap kurang besar perannya.
Hal tersebut menjadi salah satu kritik terhadap penggunaan peta Mercator untuk pendidikan dan representasi umum dunia.
Ahli geografi Kenya, Kioko Muendo, menilai peta dapat memengaruhi persepsi terhadap suatu kawasan.
“Peta lebih dari sekadar panduan bagi para pelancong. Peta membentuk cara kawasan dipersepsikan secara politik dan ekonomi,” katanya kepada BBC.
Menurut pandangan tersebut, persoalan representasi ukuran Afrika bukan hanya soal angka luas wilayah. Cara Afrika digambarkan dalam peta juga dapat memengaruhi cara orang melihat potensi benua tersebut.
Afrika memiliki sumber daya alam yang besar, jumlah penduduk yang terus berkembang serta berbagai potensi ekonomi. Namun, jika benua tersebut secara visual terlihat lebih kecil dibandingkan wilayah lain yang sebenarnya jauh lebih kecil, gambaran mengenai skala Afrika bisa menjadi bias.
Karena itu, penggunaan proyeksi alternatif menjadi penting terutama dalam konteks pendidikan dan pemahaman geografis.
Mengenal Peta Equal Earth
Equal Earth atau Bumi Setara merupakan salah satu proyeksi yang dirancang untuk memberikan gambaran luas daratan yang lebih proporsional.
Proyeksi Equal Earth dikembangkan pada 2018 oleh tim pembuat peta. Tujuan utamanya adalah menghasilkan peta dunia yang mempertahankan perbandingan luas daratan secara lebih akurat sekaligus menjaga bentuk benua agar tidak mengalami perubahan ekstrem.
Proyeksi ini terinspirasi dari Robinson, sebuah proyeksi peta yang diperkenalkan pada 1963.
Robinson sendiri dikenal sebagai salah satu proyeksi yang berusaha memberikan tampilan dunia secara keseluruhan dengan distorsi yang relatif seimbang. Namun, Equal Earth memiliki fokus berbeda karena memberikan perhatian khusus terhadap kesetaraan luas.
Dengan proyeksi Equal Earth, Afrika terlihat jauh lebih sesuai dengan ukuran sebenarnya jika dibandingkan dengan Greenland.
Perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana bagi orang yang hanya melihat peta. Namun, bagi kartografer, membuat proyeksi yang mampu menyeimbangkan berbagai kepentingan merupakan pekerjaan yang rumit.
Kelebihan dan Kekurangan Equal Earth
Peta Equal Earth bukan berarti menjadi peta yang sempurna.
Keunggulan utamanya adalah kemampuannya mempertahankan luas relatif berbagai wilayah. Dengan begitu, pengguna dapat memperoleh gambaran yang lebih baik mengenai perbandingan ukuran benua.
Afrika tidak lagi terlihat seolah-olah hanya sedikit lebih besar dari Greenland. Amerika Selatan juga dapat dilihat dengan ukuran yang lebih mendekati kondisi sebenarnya.
Namun, ada konsekuensi dari keunggulan tersebut.
Equal Earth tidak mempertahankan garis lurus seperti Mercator. Hal tersebut membuatnya tidak cocok digunakan untuk navigasi laut seperti proyeksi Mercator.
Selain itu, jarak antara dua lokasi pada peta Equal Earth tidak dapat begitu saja diukur menggunakan garis lurus dan dianggap sebagai jarak sebenarnya.
Artinya, Equal Earth lebih cocok untuk tujuan tertentu, terutama ketika ukuran wilayah menjadi perhatian utama.
Penggunaannya untuk pendidikan, visualisasi data global dan perbandingan luas wilayah dapat memberikan gambaran yang lebih proporsional.
Peta Peters dan Upaya Mengoreksi Ukuran Daratan
Equal Earth bukan satu-satunya upaya untuk mengatasi masalah ukuran pada peta dunia.
Sebelumnya sudah ada proyeksi Peters yang juga dirancang untuk memberikan gambaran luas daratan secara lebih adil.
Proyeksi Peters diperkenalkan oleh sejarawan Jerman Arno Peters pada awal 1970-an. Proyeksi tersebut sebenarnya didasarkan pada gagasan yang sebelumnya telah dijelaskan oleh pembuat peta asal Skotlandia, James Gall, pada 1855.
Sama seperti Equal Earth, peta Peters mengutamakan akurasi luas dibandingkan bentuk.
Dengan pendekatan tersebut, persoalan Greenland yang terlihat hampir sebesar Afrika dapat dikurangi.
Namun, konsekuensinya adalah bentuk daratan mengalami distorsi.
Wilayah-wilayah tertentu tampak memanjang atau tertekan. Bagian yang berada di dekat khatulistiwa terlihat lebih meregang, sementara wilayah kutub tampak lebih tertekan.
Rusia, misalnya, dapat terlihat berbeda dibandingkan bentuk yang biasa dikenal melalui peta Mercator.
Peta Peters juga tidak cocok untuk navigasi karena garis lurus di dalamnya tidak menunjukkan arah kompas konstan seperti pada Mercator.
Sekali lagi, hal tersebut menunjukkan bahwa setiap proyeksi memiliki fungsi masing-masing.
Mengapa Ada Peta Dunia yang Dibalik?
Selain memperdebatkan ukuran wilayah, para kartografer juga pernah mencoba mengubah posisi benua pada peta.
Peta dunia yang umum digunakan biasanya menempatkan utara di bagian atas dan selatan di bagian bawah. Konvensi tersebut sudah begitu akrab sehingga banyak orang menganggapnya sebagai sesuatu yang mutlak.
Padahal, secara geografis tidak ada aturan alam yang mengatakan bahwa utara harus berada di atas.
Peta sebenarnya bisa dibuat dengan selatan di bagian atas.
Beberapa kartografer menggunakan pendekatan tersebut untuk memberikan perspektif berbeda mengenai dunia.
Tujuannya antara lain untuk mempertanyakan bias yang muncul dari kebiasaan melihat negara-negara di belahan bumi utara sebagai bagian yang “lebih tinggi”, sementara negara-negara di belahan bumi selatan selalu berada di bagian bawah.
Ketika peta dibalik, Afrika, Australia dan Amerika Selatan dapat berada di posisi yang berbeda dibandingkan peta konvensional.
Namun, perubahan orientasi tersebut tidak menyelesaikan masalah distorsi ukuran.
Peta hanya mengubah cara dunia dilihat, bukan menghilangkan persoalan teknis ketika permukaan bola dipindahkan ke bidang datar.
Posisi Benua di Tengah Peta Juga Berpengaruh
Selain ukuran dan arah, posisi sebuah wilayah dalam peta juga dapat memengaruhi cara seseorang melihat dunia.
Peta yang berpusat di Eropa akan membuat Eropa menjadi titik perhatian utama. Peta yang berpusat di Amerika akan memberikan fokus berbeda.
Karena itu, beberapa kartografer membuat peta dengan pusat yang berbeda-beda.
Bergantung pada wilayah tempat peta tersebut dibuat dan siapa yang menjadi penggunanya, benua yang ditempatkan di tengah dapat berubah.
Persoalan ini menunjukkan bahwa peta bukan sekadar gambaran netral mengenai dunia. Ada keputusan manusia di balik setiap desain peta.
Penentuan titik pusat, arah utara, bentuk peta dan proyeksi yang digunakan semuanya akan menghasilkan pengalaman visual yang berbeda.
Peta Dunia dengan Kutub Utara sebagai Pusat
Salah satu alternatif lain dapat ditemukan pada logo PBB.
Peta yang digunakan dalam logo PBB menempatkan Kutub Utara sebagai pusat. Dari titik tersebut, berbagai wilayah dunia terlihat menyebar ke arah luar.
Pendekatan tersebut menggunakan proyeksi azimutal ekuidistan.
Pada proyeksi ini, arah dari titik pusat ke lokasi lain dapat dipertahankan. Dengan demikian, wilayah-wilayah dunia ditampilkan berdasarkan hubungan arah dari pusat peta.
Namun, semakin jauh sebuah wilayah dari pusat, semakin besar distorsi yang muncul.
Pada peta PBB, wilayah yang berada dekat Kutub Utara menjadi pusat perhatian, sementara kawasan yang berada jauh di selatan mengalami perubahan bentuk dan ukuran.
Wilayah di sekitar Kutub Selatan, misalnya, dapat terlihat lebih tertekan dan memanjang.
Kembali terlihat bahwa tidak ada solusi sempurna dalam membuat peta dunia datar.
Mengapa Tidak Ada Peta Dunia yang Sempurna?
Alasan paling sederhana adalah bentuk bumi.
Bumi bukan bidang datar.
Permukaannya berbentuk hampir bulat, sedangkan peta dunia pada kertas atau layar komputer umumnya berbentuk persegi panjang, oval atau lingkaran.
Ketika permukaan bola dibuka dan dipindahkan ke bidang datar, akan selalu ada bagian yang berubah.
Analogi sederhananya seperti mencoba membentangkan kulit jeruk ke atas meja. Jika kulit tersebut dipaksa menjadi bidang datar, bagian tertentu akan robek, melar atau harus dipotong.
Hal yang sama terjadi pada peta.
Kartografer harus menentukan apa yang ingin dipertahankan.
Apakah bentuk?
Apakah luas?
Apakah jarak?
Atau arah?
Tidak mungkin semuanya dipertahankan sekaligus.
Karena itu, peta Mercator sangat baik untuk navigasi, tetapi kurang tepat jika digunakan untuk membandingkan luas benua. Equal Earth lebih baik dalam menunjukkan perbandingan luas, tetapi tidak dirancang sebagai pengganti Mercator untuk navigasi.
Peta Peters memberikan pilihan lain, tetapi menghasilkan distorsi bentuk yang cukup besar.
Sementara peta dengan orientasi berbeda atau pusat Kutub Utara menawarkan perspektif visual lain.
Peta Dunia Baru Bukan Berarti Peta Lama Hilang
Munculnya peta dunia baru tidak berarti peta Mercator harus dianggap tidak berguna.
Proyeksi Mercator masih memiliki fungsi penting dalam bidang tertentu. Keunggulannya dalam mempertahankan arah membuatnya tetap relevan untuk kebutuhan navigasi dan berbagai aplikasi tertentu.
Yang menjadi persoalan adalah penggunaannya ketika masyarakat membutuhkan gambaran mengenai ukuran relatif benua.
Untuk kebutuhan tersebut, peta seperti Equal Earth dapat memberikan pemahaman yang lebih baik.
Dengan mengenalkan lebih dari satu jenis proyeksi, masyarakat juga dapat memahami bahwa setiap peta memiliki keterbatasan.
Hal tersebut penting terutama dalam pendidikan.
Daripada menganggap satu peta sebagai gambaran mutlak mengenai dunia, siswa dapat diperkenalkan dengan berbagai jenis proyeksi dan memahami alasan mengapa bentuk bumi bisa terlihat berbeda pada setiap peta.
Afrika dan Greenland Jadi Contoh Paling Menonjol
Perbandingan Afrika dan Greenland menjadi salah satu contoh paling mudah untuk memahami masalah proyeksi peta.
Jika melihat peta Mercator, Greenland tampak sangat besar. Sementara Afrika terlihat tidak jauh berbeda ukurannya.
Namun, kenyataan di permukaan bumi sangat berbeda.
Afrika memiliki luas lebih dari 30 juta kilometer persegi, sedangkan Greenland hanya sekitar 2 juta kilometer persegi.
Perbedaannya sangat besar.
Dengan proyeksi yang mempertahankan luas seperti Equal Earth, perbandingan tersebut menjadi lebih mudah dipahami.
Bagi masyarakat yang selama ini hanya melihat peta Mercator, perbedaan visual ini bisa menjadi pengalaman yang cukup mengejutkan.
Inilah salah satu alasan mengapa diskusi mengenai peta dunia terus menarik perhatian.
Peta yang terlihat sederhana ternyata memiliki pengaruh besar terhadap cara manusia memahami ukuran dan posisi berbagai wilayah.
Apa Arti Perubahan Peta bagi Masyarakat?
Penggunaan peta yang lebih sesuai untuk tujuan tertentu dapat membantu masyarakat mendapatkan pemahaman geografis yang lebih baik.
Ketika melihat Equal Earth, misalnya, orang dapat memahami bahwa Afrika merupakan benua yang sangat luas.
Hal tersebut penting karena luas wilayah berkaitan dengan banyak aspek, mulai dari sumber daya alam, keanekaragaman hayati, populasi hingga potensi ekonomi.
Begitu pula dengan negara-negara lain.
Ukuran visual yang muncul di peta tidak selalu mencerminkan ukuran sebenarnya.
Karena itu, memahami jenis proyeksi menjadi bagian penting ketika membaca peta dunia.
Peta tidak seharusnya dipahami hanya sebagai gambar. Di baliknya ada sistem matematis yang menentukan bagaimana permukaan bumi ditampilkan.
Peta Dunia Akan Terus Berkembang
Perkembangan teknologi membuat kebutuhan terhadap peta juga semakin beragam.
Dulu, peta terutama digunakan oleh pelaut, penjelajah dan militer. Sekarang, hampir semua orang mengakses peta melalui ponsel dan komputer.
Aplikasi navigasi, layanan pemetaan digital, sistem informasi geografis dan berbagai platform daring membutuhkan jenis proyeksi yang sesuai dengan fungsi masing-masing.
Karena itu, tidak mengherankan jika kartografi terus berkembang.
Peta yang digunakan untuk menunjukkan rute kendaraan tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan peta yang digunakan untuk menunjukkan perubahan iklim, persebaran penduduk atau luas hutan.
Satu proyeksi tidak mungkin menjadi solusi untuk semua kebutuhan.
Dalam konteks tersebut, munculnya Equal Earth bukan berarti dunia menemukan peta yang paling sempurna. Proyeksi ini hanya memberikan alternatif yang lebih baik untuk kebutuhan tertentu.
Jadi, Apa yang Salah dari Peta Lama?
Jika pertanyaannya adalah apa yang salah dari peta Mercator, jawabannya adalah tidak ada yang salah jika peta tersebut digunakan sesuai tujuan awal pembuatannya.
Mercator dirancang untuk membantu navigasi. Dalam hal tersebut, peta ini memiliki keunggulan yang sangat penting.
Masalah muncul ketika peta tersebut dipakai untuk menunjukkan perbandingan ukuran benua tanpa menjelaskan adanya distorsi.
Pengguna kemudian dapat mengira bahwa ukuran wilayah yang terlihat di layar atau kertas merupakan ukuran sebenarnya.
Padahal, wilayah yang berada dekat kutub mengalami pembesaran visual yang cukup besar.
Karena itu, peta seperti Equal Earth menjadi penting sebagai alternatif untuk memberikan gambaran mengenai luas daratan secara lebih proporsional.
Perubahan cara melihat peta juga dapat membantu masyarakat memahami bahwa dunia jauh lebih kompleks daripada sekadar gambar dua dimensi.
Peta Dunia Baru PBB dan Cara Kita Melihat Dunia
Pembahasan mengenai peta dunia baru menunjukkan bahwa sebuah gambar yang selama ini dianggap biasa ternyata dapat memiliki pengaruh terhadap cara manusia memahami dunia.
Peta Mercator telah digunakan selama berabad-abad dan memiliki jasa besar dalam sejarah navigasi. Namun, kebutuhan manusia terus berubah.
Saat tujuan penggunaan peta bergeser dari navigasi menuju pendidikan, visualisasi data dan perbandingan luas wilayah, kebutuhan terhadap proyeksi yang berbeda pun muncul.
Equal Earth menawarkan salah satu jawabannya.
Dengan mempertahankan perbandingan luas secara lebih akurat, peta tersebut membuat ukuran Afrika, Amerika Selatan, Asia dan wilayah lainnya terlihat lebih mendekati kondisi sebenarnya.
Namun, Equal Earth tetap memiliki keterbatasan. Ia tidak dapat menggantikan semua fungsi Mercator.
Pada akhirnya, tidak ada satu peta dunia yang bisa dianggap sempurna untuk semua keperluan.
Setiap proyeksi memiliki kelebihan dan kekurangan.
Mercator unggul dalam navigasi. Peters menekankan kesetaraan luas meskipun bentuk daratan lebih terdistorsi. Equal Earth mencoba mencari keseimbangan antara luas dan bentuk. Peta dengan orientasi terbalik menawarkan sudut pandang berbeda, sedangkan proyeksi azimutal pada logo PBB memberikan perspektif dengan Kutub Utara sebagai pusat.
Semua pendekatan tersebut menunjukkan satu hal penting: cara kita melihat dunia sangat dipengaruhi oleh cara dunia itu digambarkan.
Karena itu, kehadiran peta dunia baru bukan semata-mata soal mengganti gambar lama dengan gambar baru. Perubahan tersebut juga menjadi pengingat bahwa peta memiliki batasan dan tujuan tertentu.
Bagi masyarakat, memahami perbedaan tersebut dapat membuat kita lebih kritis ketika membaca peta. Ukuran yang terlihat belum tentu sama dengan ukuran sebenarnya, begitu pula bentuk dan jarak yang ditampilkan.
Pada akhirnya, pertanyaan mengenai peta mana yang paling benar tidak memiliki satu jawaban sederhana.
Peta terbaik adalah peta yang digunakan untuk tujuan yang tepat.
Untuk navigasi, Mercator masih memiliki keunggulan. Untuk melihat perbandingan luas benua, Equal Earth menawarkan gambaran yang lebih proporsional. Sementara untuk kebutuhan lain, proyeksi berbeda mungkin justru lebih sesuai.
Jadi, ketika PBB mendorong penggunaan peta yang lebih akurat dalam menggambarkan ukuran benua, hal tersebut bukan berarti peta Mercator tiba-tiba menjadi tidak berguna. Persoalannya adalah bagaimana memilih peta yang tepat agar masyarakat tidak mendapatkan gambaran yang keliru mengenai ukuran sebenarnya dari berbagai wilayah di dunia.
Dan dari sekian banyak contoh, perbandingan Afrika dengan Greenland menjadi pengingat paling jelas bahwa peta dunia yang kita lihat sehari-hari tidak selalu menggambarkan dunia sebagaimana ukurannya di permukaan bumi.
Sumber : www.detik.com



