Studi Ungkap El Niño Tahun Ini Berpotensi Pecahkan Rekor Suhu

Ilustrasi anomali suhu muka laut global bulan Februari 2026. Dominasi merah di Samudra Pasifik menjadi penanda kuat datangnya fase El Nino. (Foto: Arsip BMKG)

PILARadio.com – Fenomena El Niño 2026 terus menunjukkan penguatan dan mulai memasuki wilayah yang belum pernah terlihat dalam catatan modern. Suhu permukaan laut di kawasan tropis Samudra Pasifik telah mencapai tingkat yang sangat tinggi, bahkan menyamai atau melampaui rekor yang pernah terjadi pada periode El Niño 2015-2016.

Kondisi tersebut menjadi perhatian para ilmuwan karena puncak El Niño tahun ini diperkirakan belum terjadi. Sejumlah model iklim menunjukkan fenomena ini masih dapat menguat hingga akhir 2026, dengan puncak diperkirakan berlangsung sekitar November hingga Januari.

Analisis terbaru yang dipublikasikan Carbon Brief mencatat anomali suhu permukaan laut di wilayah Niño 3.4 mencapai sekitar 3,07 derajat Celsius pada 19 September 2026. Angka tersebut secara statistik sudah berada di sekitar rekor yang tercatat pada El Niño 2015. Dengan menggunakan acuan 1991-2020, angka tersebut bahkan dapat disebut sebagai rekor baru dalam pengukuran tertentu.

Yang membuat situasi kali ini semakin diperhatikan adalah waktunya. Suhu laut sudah berada pada level tersebut ketika El Niño belum mencapai puncak musiman. Biasanya, fenomena El Niño mencapai intensitas tertinggi pada sekitar November atau Desember.

Jika penguatan terus berlangsung sesuai proyeksi, El Niño 2026 berpotensi menjadi salah satu peristiwa terkuat yang pernah diamati manusia.

El Niño 2026 Diperkirakan Terus Menguat

El Niño merupakan fenomena iklim alami yang terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis mengalami pemanasan di atas kondisi normal.

Perubahan suhu laut tersebut bukan sekadar persoalan temperatur di satu wilayah lautan. El Niño dapat memengaruhi sirkulasi atmosfer dan kemudian mengubah pola hujan, suhu, angin, serta kejadian cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.

Pada kondisi normal, wilayah Pasifik tropis memiliki pola sirkulasi atmosfer tertentu yang membantu mendistribusikan panas dan uap air. Ketika El Niño berkembang, distribusi panas tersebut berubah. Akibatnya, wilayah yang biasanya mendapatkan hujan dapat mengalami kondisi lebih kering, sementara daerah lain justru menghadapi hujan lebih deras.

El Niño 2026 menjadi perhatian karena perkembangannya berlangsung sangat cepat.

Menurut analisis Zeke Hausfather yang diterbitkan Carbon Brief, El Niño tahun ini berkembang lebih cepat dibandingkan peristiwa-peristiwa sebelumnya dalam catatan modern. Data hingga September juga memperlihatkan bahwa penguatan kali ini sudah berada di level yang sangat tinggi.

Carbon Brief menganalisis 14 model prakiraan iklim. Hasil gabungan model tersebut menunjukkan anomali bulanan Niño 3.4 dapat mencapai sekitar 4,1 derajat Celsius pada puncaknya. Sekitar 80 persen dari 674 simulasi model berada dalam kisaran 3,4 hingga 4,6 derajat Celsius.

Namun, angka tersebut masih merupakan proyeksi model, bukan suhu yang sudah terjadi.

Para ilmuwan juga memberikan catatan penting. Sistem prakiraan belum pernah diuji terhadap peristiwa El Niño dengan skala sebesar yang diproyeksikan saat ini. Artinya, tingkat ketidakpastian tetap ada dan perkembangan kondisi laut serta atmosfer dalam beberapa bulan mendatang masih harus terus dipantau.

Meski demikian, model-model yang dianalisis menunjukkan kecenderungan yang serupa, yakni El Niño diperkirakan terus menguat hingga akhir 2026.

Apa Arti Anomali Suhu 3 Derajat Celsius?

Angka anomali suhu sering menimbulkan salah pemahaman.

Ketika disebut suhu di wilayah Niño 3.4 mencapai sekitar 3 derajat Celsius di atas rata-rata, angka tersebut bukan berarti seluruh suhu permukaan Bumi naik 3 derajat Celsius.

Angka itu menggambarkan perbedaan suhu permukaan laut di wilayah pemantauan tertentu di Samudra Pasifik dibandingkan dengan suhu rata-rata periode acuan.

Wilayah Niño 3.4 merupakan salah satu kawasan penting yang digunakan para ahli untuk memantau ENSO atau El Niño-Southern Oscillation.

NOAA menggunakan indeks seperti Oceanic Niño Index atau ONI untuk memantau kondisi tersebut. ONI menghitung anomali suhu permukaan laut di kawasan Niño 3.4 dengan menggunakan rata-rata periode 30 tahun yang diperbarui secara berkala. Cara tersebut membantu ilmuwan membandingkan kondisi El Niño antarperiode dengan mempertimbangkan perubahan iklim jangka panjang.

Selain ONI, NOAA juga menggunakan Relative Oceanic Niño Index atau RONI. Indeks ini berusaha memperhitungkan pemanasan tropis yang lebih luas sehingga pengaruh pemanasan global jangka panjang terhadap pengukuran El Niño dapat dipisahkan.

Kedua pendekatan tersebut memberikan gambaran yang sedikit berbeda mengenai seberapa ekstrem sebuah El Niño.

Dalam analisis terbaru Carbon Brief, nilai RONI pada pertengahan September berada di sekitar 2,5 derajat Celsius. Angka tersebut belum melewati rekor harian yang tercatat pada El Niño 1982-1983, tetapi sudah sangat tinggi untuk periode ini.

Karena itu, pembahasan mengenai rekor El Niño perlu melihat jenis indeks, periode rata-rata, dan metode penghitungan yang digunakan.

NOAA Beri Sinyal El Niño Sangat Kuat

Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat atau NOAA juga mencatat perkembangan yang signifikan.

Dalam pembaruan 10 September 2026, NOAA menyatakan El Niño terus menguat. Suhu permukaan laut di kawasan Pasifik ekuator timur telah menunjukkan anomali lebih dari 3 derajat Celsius pada sejumlah wilayah.

NOAA memperkirakan peluang lebih dari 90 persen bahwa El Niño akan berada dalam kategori sangat kuat selama musim gugur dan musim dingin 2026-2027 di Belahan Bumi Utara.

Untuk periode Oktober-November-Desember 2026, NOAA juga memberikan peluang sekitar 75 persen bagi terjadinya peristiwa bersejarah yang kekuatannya melampaui El Niño yang tercatat sejak 1950 berdasarkan ambang RONI yang digunakan lembaga tersebut.

Artinya, penguatan El Niño bukan hanya berasal dari satu analisis independen. Lembaga meteorologi dan pusat prakiraan iklim internasional juga melihat perkembangan yang sama.

Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO sebelumnya menyebut peluang El Niño bertahan hingga Februari 2027 mendekati 100 persen. WMO juga memperkirakan fenomena tersebut akan terus menguat sebelum mencapai puncak pada akhir 2026.

Kondisi ini membuat dampak El Niño tidak berhenti ketika kalender berganti dari 2026 ke 2027.

Justru, sebagian dampaknya terhadap suhu global dapat terasa beberapa bulan setelah pemanasan laut di Pasifik mencapai puncak.

Mengapa El Niño Bisa Membuat 2027 Sangat Panas?

Salah satu alasan El Niño menjadi perhatian dunia adalah hubungannya dengan temperatur global.

Pemanasan di Samudra Pasifik dapat memengaruhi perpindahan energi dari laut ke atmosfer. Ketika jumlah panas yang tersimpan di laut berubah dan kemudian dilepaskan ke atmosfer, temperatur global untuk sementara dapat terdorong naik.

Dampak terhadap suhu global biasanya tidak muncul secara bersamaan dengan puncak suhu laut di Pasifik.

Carbon Brief mencatat bahwa pengaruh El Niño terhadap temperatur global biasanya mengalami jeda beberapa bulan. Karena itu, sebagian besar dampak pemanasan global dari El Niño 2026 diperkirakan baru terasa pada 2027.

Inilah salah satu alasan munculnya perkiraan bahwa 2027 berpotensi menjadi tahun terpanas dalam catatan pengamatan modern.

Namun, hal tersebut tetap merupakan proyeksi dan belum dapat disebut sebagai hasil yang sudah pasti.

Suhu global tidak hanya dipengaruhi El Niño. Ada banyak faktor lain yang berperan, mulai dari kondisi lautan global, aerosol, aktivitas vulkanik, perubahan tutupan lahan hingga tren pemanasan akibat meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca.

Dengan kata lain, El Niño bekerja seperti tambahan dorongan terhadap sistem iklim yang memang sudah berada dalam kondisi lebih hangat dibandingkan masa lalu.

Analisis Carbon Brief pada pertengahan 2026 sebelumnya memperkirakan 2026 memiliki peluang lebih tinggi untuk mencatat rekor temperatur global dibandingkan perkiraan beberapa bulan sebelumnya. Pembaruan berikutnya akan menilai lebih jauh bagaimana El Niño yang sangat kuat ini memengaruhi temperatur 2027.

Pemanasan Global Membuat Kondisinya Berbeda

El Niño sendiri bukan fenomena yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Fenomena tersebut merupakan bagian dari variabilitas alami sistem iklim Bumi dan sudah berlangsung jauh sebelum era industri.

Persoalannya adalah El Niño 2026 terjadi ketika suhu dasar Bumi sudah jauh lebih tinggi akibat pemanasan global.

Kondisi ini membuat dampak yang sebelumnya masih dapat ditoleransi oleh sejumlah wilayah berpotensi menjadi lebih berat.

Profesor Friederike Otto dari Imperial College London menjelaskan bahwa El Niño menyebabkan redistribusi energi dalam jumlah besar di dalam sistem iklim yang saat ini sudah berada dalam kondisi lebih hangat. Dampaknya dapat terlihat dalam bentuk panas ekstrem, tekanan terhadap sumber air dan gangguan terhadap ketahanan pangan.

Gambaran sederhananya, El Niño bukan satu-satunya penyebab panas ekstrem.

Fenomena tersebut memberikan tambahan dorongan terhadap kondisi yang sudah panas akibat perubahan iklim.

Itulah sebabnya para ilmuwan memperhatikan kombinasi antara El Niño sangat kuat dan pemanasan global.

Indonesia Berada di Antara Wilayah yang Perlu Waspada

Bagi Indonesia, perkembangan El Niño memiliki arti yang sangat penting.

Wilayah Indonesia secara umum berada di kawasan yang sensitif terhadap perubahan pola atmosfer dan curah hujan akibat ENSO.

BMKG dalam analisis terbarunya menyebut El Niño dengan intensitas sangat kuat sedang berlangsung. Pada dasarian II September 2026, nilai SSTA di wilayah Niño 3.4 tercatat +2,97 derajat Celsius, sedangkan indeks ENSO rata-rata tiga bulan Juli-Agustus-September berada di +2,63.

Angka tersebut memperkuat gambaran bahwa Indonesia sedang menghadapi pengaruh El Niño yang signifikan.

BMKG juga memperkirakan musim hujan 2026-2027 akan datang lebih lambat di banyak wilayah Indonesia.

Dalam keterangan yang diterbitkan 22 September 2026, BMKG menyebut 529 Zona Musim atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal musim hujan yang mundur dari rata-rata klimatologisnya.

Kondisi tersebut berkaitan dengan berkurangnya curah hujan akibat pengaruh El Niño yang sangat kuat. BMKG juga mencatat adanya fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD yang dapat memperkuat atau memperpanjang kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia.

Bagi masyarakat, dampaknya dapat terasa dalam berbagai bentuk.

Musim kemarau yang lebih panjang dapat membuat sumber air semakin terbatas. Waduk, embung, sungai kecil, dan sumber air masyarakat dapat mengalami penurunan debit apabila hujan tidak kunjung turun dalam jumlah yang cukup.

Sektor pertanian juga menjadi salah satu yang paling sensitif.

Ancaman Kekeringan bagi Pertanian

Ketersediaan air merupakan faktor utama dalam kegiatan pertanian.

Ketika awal musim hujan terlambat, jadwal tanam dapat ikut bergeser. Petani yang bergantung pada hujan perlu menyesuaikan waktu tanam agar tanaman tidak mengalami kekurangan air pada fase penting pertumbuhan.

Situasi menjadi lebih rumit ketika periode kering berlangsung lebih lama.

Lahan pertanian tadah hujan menjadi sangat bergantung pada ketepatan datangnya hujan. Jika hujan turun tidak merata atau hanya berlangsung singkat, tanaman yang sudah ditanam dapat mengalami stres air.

Dampaknya tidak hanya dirasakan petani.

Jika produksi komoditas pangan terganggu, harga di tingkat konsumen juga dapat ikut terpengaruh. Besarnya dampak tentu berbeda-beda tergantung jenis komoditas, lokasi, ketersediaan irigasi dan kemampuan masing-masing daerah mengantisipasi kekeringan.

Fenomena tersebut juga terjadi di berbagai negara.

WFP menyebut El Niño 2026-2027 berpotensi memperburuk kondisi ketahanan pangan di 45 negara yang sudah menghadapi kerentanan pangan. Analisis awal lembaga tersebut memperkirakan setidaknya 49 juta orang tambahan dapat masuk ke kondisi kerawanan pangan akut hingga akhir 2027.

WFP memperkirakan jumlah penduduk yang mengalami kerawanan pangan akut di negara-negara yang dianalisis dapat meningkat dari sekitar 225 juta menjadi 274 juta orang.

Angka tersebut bukan berarti seluruhnya akan mengalami kelaparan akibat El Niño secara langsung. Proyeksi tersebut merupakan perkiraan tambahan dampak terhadap populasi yang sudah rentan terhadap gangguan pangan.

Kebakaran Hutan dan Lahan Jadi Perhatian

Kondisi panas dan kering juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Vegetasi yang kehilangan kelembapan akan lebih mudah terbakar. Dalam kondisi angin tertentu, api dapat menyebar dengan cepat dan sulit dikendalikan.

Indonesia memiliki pengalaman panjang menghadapi kebakaran hutan dan lahan pada periode kemarau yang panjang.

El Niño dapat meningkatkan risiko tersebut karena berpengaruh terhadap berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah.

Laporan yang dikutip Guardian menyebut kondisi panas dan kering di Indonesia pada 2026 telah berhubungan dengan kebakaran dan kualitas udara yang memburuk di sejumlah daerah.

Risiko tidak hanya menyangkut kerusakan hutan.

Asap kebakaran dapat mengganggu kualitas udara dan berdampak terhadap aktivitas masyarakat, transportasi, sekolah, hingga kesehatan kelompok rentan.

Karena itu, pemantauan titik panas, kesiapsiagaan pemadam kebakaran dan pengelolaan lahan menjadi semakin penting selama periode El Niño berlangsung.

Dampak El Niño Tidak Selalu Berupa Kekeringan

Meskipun Indonesia dan sejumlah wilayah Asia dapat menghadapi kondisi lebih kering, El Niño tidak berarti seluruh dunia akan mengalami kekeringan.

Justru, salah satu karakteristik utama fenomena ini adalah perubahan distribusi hujan secara global.

Ada wilayah yang menjadi lebih kering, sementara wilayah lain dapat mengalami hujan lebih deras.

Peru dan Chile, misalnya, dapat menghadapi peningkatan risiko hujan lebat dan banjir dalam kondisi El Niño tertentu.

Kawasan Tanduk Afrika juga berpotensi mengalami peningkatan hujan lebat.

Sementara itu, Australia dan Afrika bagian selatan menghadapi risiko kondisi yang lebih panas dan kering selama musim panas belahan Bumi selatan.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa El Niño merupakan fenomena global.

Dampaknya tidak dapat dilihat hanya dari satu indikator, seperti suhu atau hujan di satu negara.

Risiko Banjir Tetap Ada

Ada anggapan bahwa El Niño hanya identik dengan kekeringan.

Padahal, perubahan pola atmosfer akibat El Niño dapat meningkatkan hujan ekstrem di kawasan tertentu.

Karena itu, kesiapsiagaan bencana tidak boleh hanya difokuskan pada kekeringan dan kebakaran.

Daerah yang berada di jalur dampak hujan lebat tetap harus memperhatikan potensi banjir dan longsor.

WMO menyebut El Niño sangat kuat dapat mengubah pola temperatur dan curah hujan secara signifikan di berbagai wilayah dunia. Dampaknya mencakup peningkatan risiko kekeringan, banjir dan panas ekstrem.

Dengan kondisi iklim global yang semakin hangat, perubahan tersebut menjadi lebih sulit diprediksi secara sederhana.

Mengapa El Niño 2026 Disebut Berpotensi Ekstrem?

Ada beberapa alasan yang membuat para ilmuwan memberikan perhatian khusus terhadap El Niño tahun ini.

Pertama, kecepatannya.

El Niño berkembang dengan cepat sejak pertengahan 2026 dan pada September sudah mencapai tingkat yang sangat tinggi.

Kedua, waktunya.

Suhu laut telah mendekati atau menyamai rekor ketika puncak El Niño biasanya masih beberapa bulan lagi.

Ketiga, proyeksi model.

Sejumlah model menunjukkan kemungkinan anomali Niño 3.4 dapat mencapai sekitar 4 derajat Celsius pada akhir tahun. Semua model dalam analisis Carbon Brief memproyeksikan puncak di atas rekor El Niño 2015-2016, meski para peneliti mengingatkan adanya ketidakpastian karena belum pernah ada peristiwa sebesar ini untuk dijadikan pembanding langsung.

Keempat, kondisi dasar Bumi.

El Niño 2026 tidak terjadi dalam iklim yang sama seperti beberapa dekade lalu. Suhu global sudah meningkat akibat akumulasi gas rumah kaca dari aktivitas manusia.

Kombinasi inilah yang membuat para ilmuwan memperkirakan dampak panasnya dapat menjadi lebih besar.

Ancaman terhadap Ketersediaan Air

Salah satu dampak paling nyata dari El Niño di kawasan terdampak kekeringan adalah tekanan terhadap ketersediaan air.

Rumah tangga membutuhkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Petani membutuhkan air untuk tanaman. Industri membutuhkan air untuk proses produksi. Sektor energi juga bergantung pada ketersediaan air di sejumlah wilayah.

Jika musim kering berlangsung lebih lama, kebutuhan tersebut dapat saling berhadapan.

Daerah yang biasanya masih memiliki cadangan air pada akhir musim kemarau dapat mengalami tekanan lebih cepat.

Karena itu, informasi mengenai prediksi musim tidak hanya berguna bagi masyarakat umum.

Data tersebut juga menjadi bahan perencanaan bagi pemerintah daerah, petani, pengelola waduk, perusahaan air minum, sektor energi dan berbagai bidang lain yang bergantung pada kondisi hidrologi.

Ancaman terhadap Kesehatan

Panas ekstrem merupakan salah satu dampak yang paling dikhawatirkan dari kombinasi El Niño dan pemanasan global.

Suhu tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada kelompok lanjut usia, anak-anak, pekerja luar ruangan dan masyarakat dengan kondisi tertentu.

Ketika suhu malam hari juga tetap tinggi, tubuh menjadi lebih sulit memulihkan diri dari tekanan panas.

Kualitas udara yang buruk akibat kebakaran juga dapat memperbesar masalah.

Di sejumlah wilayah, masyarakat dapat menghadapi kombinasi panas, asap dan kekurangan air dalam waktu bersamaan.

Kondisi seperti itu membutuhkan kesiapsiagaan lebih awal, terutama ketika prakiraan menunjukkan periode panas dan kering berkepanjangan.

Dampak Ekonomi Bisa Menjalar ke Banyak Sektor

El Niño tidak hanya menjadi persoalan cuaca.

Dampaknya dapat menjalar ke ekonomi.

Gangguan terhadap pertanian dapat memengaruhi produksi dan harga pangan. Kekeringan dapat mengurangi produktivitas sektor tertentu. Kebakaran dapat menimbulkan kerugian terhadap hutan dan lahan.

Di wilayah yang mengalami banjir, kerusakan infrastruktur dan terganggunya transportasi juga dapat menambah biaya ekonomi.

WFP menilai pengalaman El Niño 2015-2016 menunjukkan bahwa dampaknya terhadap ketahanan pangan dapat menjangkau puluhan juta orang. Untuk El Niño 2026-2027, lembaga tersebut kini memperkirakan tambahan 49 juta orang berpotensi terdorong ke kondisi kerawanan pangan akut di negara-negara yang dianalisis.

Besarnya dampak akhir tetap akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah, masyarakat dan lembaga kemanusiaan merespons perkembangan cuaca.

Apakah 2027 Pasti Menjadi Tahun Terpanas?

Belum tentu.

Perkiraan bahwa 2027 akan menjadi tahun terpanas dalam catatan sejarah merupakan proyeksi yang berkaitan dengan perkembangan El Niño dan kondisi pemanasan global.

El Niño yang sangat kuat memang dapat meningkatkan suhu global, tetapi hasil akhirnya masih dipengaruhi berbagai faktor lain.

Carbon Brief menyatakan dampak El Niño terhadap suhu global biasanya memiliki jeda beberapa bulan sehingga efek terbesarnya diperkirakan terasa pada 2027. Namun, analisis lanjutan diperlukan untuk menentukan seberapa besar pengaruhnya terhadap rekor temperatur global.

Dengan demikian, kalimat bahwa 2027 akan menjadi tahun terpanas sebaiknya ditulis sebagai potensi atau proyeksi, bukan fakta yang sudah terjadi.

Hal tersebut penting dalam pemberitaan perubahan iklim karena angka prediksi dapat berubah seiring masuknya data baru.

El Niño Diperkirakan Bertahan hingga 2027

WMO memperkirakan El Niño memiliki peluang hampir 100 persen untuk bertahan hingga Februari 2027. Organisasi tersebut juga memperkirakan fenomena ini mencapai intensitas sangat kuat sebelum mencapai puncak sekitar akhir 2026.

NOAA juga memiliki gambaran serupa.

Dalam pembaruan September, NOAA menyebut El Niño terus menguat dan kemungkinan besar berlanjut hingga musim dingin 2026-2027.

Artinya, masyarakat perlu melihat El Niño bukan sebagai kejadian singkat yang hanya berlangsung selama beberapa hari.

Fenomena ini berkembang selama berbulan-bulan dan dapat memengaruhi pola musim dalam rentang waktu yang panjang.

Untuk Indonesia, BMKG telah mengingatkan bahwa awal musim hujan 2026-2027 di banyak wilayah berpotensi mengalami kemunduran. Informasi tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi masyarakat untuk mengantisipasi periode kering yang lebih panjang.

Apa yang Perlu Diantisipasi Masyarakat?

Menghadapi El Niño tidak berarti masyarakat harus panik.

Hal yang lebih penting adalah menyesuaikan aktivitas dengan informasi cuaca dan iklim terbaru.

Di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan, penghematan air dapat dilakukan sejak awal. Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi sumber air dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Petani dapat menggunakan informasi prakiraan musim untuk menyesuaikan jadwal tanam. Pemilihan komoditas dan pengaturan kebutuhan air juga dapat menjadi bagian dari strategi menghadapi kemarau yang lebih panjang.

Masyarakat yang tinggal di wilayah rawan kebakaran perlu meningkatkan kewaspadaan ketika kondisi lahan sangat kering.

Sementara itu, warga di kawasan yang berpotensi mengalami hujan ekstrem tetap perlu mengikuti peringatan dini karena El Niño tidak menghilangkan risiko banjir di seluruh wilayah.

Pemerintah Perlu Memanfaatkan Peringatan Dini

Fenomena iklim sebesar El Niño memberikan kesempatan untuk melakukan mitigasi sebelum dampak terburuk terjadi.

Prediksi cuaca dan iklim saat ini memungkinkan pemerintah mengetahui potensi perubahan musim lebih awal.

WMO menekankan pentingnya sistem peringatan dini untuk menghadapi risiko yang muncul akibat El Niño. Organisasi tersebut juga meningkatkan koordinasi dengan layanan meteorologi dan hidrologi nasional untuk membantu negara-negara menghadapi potensi cuaca ekstrem.

Di Indonesia, BMKG juga terus memperbarui informasi terkait ENSO, IOD, curah hujan dan musim.

Pembaruan tersebut penting karena kondisi atmosfer dan laut terus berubah.

Masyarakat sebaiknya tidak hanya mengandalkan informasi yang beredar di media sosial, tetapi mengikuti informasi resmi BMKG dan pemerintah daerah.

El Niño dan Masa Depan Iklim Global

El Niño 2026 memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara variasi alami iklim dan pemanasan global.

El Niño sendiri merupakan fenomena alami.

Namun, ketika fenomena alami tersebut berlangsung dalam kondisi suhu global yang semakin tinggi, dampaknya dapat terasa berbeda dibandingkan masa lalu.

Inilah yang menjadi perhatian utama para ilmuwan.

Perubahan iklim tidak berarti El Niño akan selalu terjadi lebih kuat setiap saat. Hubungan antara perubahan iklim dan karakteristik El Niño merupakan bidang penelitian yang terus berkembang.

Tetapi satu hal yang sudah jelas adalah kondisi dasar sistem iklim kini lebih hangat.

Karena itu, ketika El Niño memberikan tambahan panas ke atmosfer, suhu global dapat terdorong lebih tinggi lagi.

Puncak El Niño Masih Harus Ditunggu

Meski kondisi saat ini sudah sangat kuat, para ilmuwan masih harus menunggu beberapa bulan untuk melihat seberapa tinggi El Niño 2026 akan mencapai puncaknya.

Data terbaru menunjukkan suhu Niño 3.4 sudah berada di sekitar rekor. Namun, proyeksi menuju angka 4 derajat Celsius masih merupakan hasil model.

Carbon Brief sendiri memberikan catatan bahwa sistem prakiraan belum pernah diverifikasi terhadap peristiwa dengan skala sebesar yang sedang diproyeksikan. Kondisi nyata pada Agustus juga sedikit lebih rendah dibandingkan beberapa proyeksi model sebelumnya.

Karena itu, setiap pembaruan data dapat mengubah gambaran mengenai kekuatan puncak El Niño.

Yang relatif jelas adalah tren penguatannya.

NOAA, WMO, BMKG dan analisis independen menunjukkan bahwa El Niño 2026 berada dalam kategori sangat kuat dan diperkirakan masih menguat dalam beberapa bulan ke depan.

Ancaman Panas hingga 2027

Jika proyeksi penguatan El Niño terbukti, dampak terhadap suhu global kemungkinan besar tidak berhenti pada akhir 2026.

Pemanasan akibat El Niño biasanya memiliki jeda terhadap perubahan suhu laut di Pasifik.

Karena itu, tahun 2027 menjadi periode yang sangat diperhatikan oleh para ilmuwan iklim.

Suhu global yang sudah tinggi akibat pemanasan jangka panjang dapat memperoleh tambahan dorongan dari El Niño.

Inilah yang membuat sejumlah ilmuwan memperkirakan 2027 berpeluang mencatat suhu global yang sangat tinggi, bahkan berpotensi melewati rekor sebelumnya.

Namun, seperti halnya prakiraan cuaca dan iklim lainnya, perkembangan tersebut tetap perlu dipantau dari waktu ke waktu.

Tidak ada satu indikator tunggal yang dapat menentukan suhu global sepanjang satu tahun.

El Niño 2026 Bukan Sekadar Soal Suhu

Pada akhirnya, El Niño 2026 bukan hanya cerita tentang angka 3 derajat atau 4 derajat Celsius.

Di balik angka tersebut terdapat persoalan yang jauh lebih luas.

Ada risiko kekeringan bagi petani, tekanan terhadap sumber air, ancaman kebakaran hutan dan lahan, potensi gangguan kesehatan akibat panas, hingga masalah ketahanan pangan.

Di wilayah lain, dampaknya dapat berupa hujan ekstrem dan banjir.

Perubahan tersebut dapat terjadi secara bersamaan di berbagai bagian dunia karena El Niño memengaruhi sistem atmosfer global.

WFP bahkan memperkirakan hampir 49 juta orang tambahan dapat terdorong ke kondisi kerawanan pangan akut akibat dampak El Niño 2026-2027 di negara-negara yang sudah rentan.

Indonesia sendiri perlu memberi perhatian khusus terhadap kemungkinan musim hujan yang datang lebih lambat.

BMKG telah memperkirakan lebih dari separuh Zona Musim Indonesia mengalami kemunduran awal musim hujan pada periode 2026-2027.

Karena itu, perkembangan El Niño sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai fenomena cuaca yang terjadi jauh di Samudra Pasifik.

Pengaruhnya dapat dirasakan hingga kehidupan sehari-hari masyarakat.

Mulai dari ketersediaan air, kondisi lahan pertanian, harga pangan, risiko kebakaran, kesehatan, hingga aktivitas ekonomi.

Dengan kondisi El Niño yang masih terus menguat, perhatian kini tertuju pada beberapa bulan terakhir 2026. Jika proyeksi sejumlah model terbukti, puncaknya dapat mencapai tingkat yang belum pernah tercatat dalam pengamatan modern.

Sementara itu, dampak pemanasan global dari fenomena tersebut berpotensi berlanjut hingga 2027.

Karena itu, angka suhu dan prakiraan El Niño akan terus menjadi perhatian dalam beberapa bulan mendatang. Data terbaru dari lembaga meteorologi dan klimatologi akan menjadi acuan untuk melihat apakah fenomena ini benar-benar berkembang menjadi El Niño terkuat dalam catatan modern atau tidak.

Yang sudah terlihat saat ini, El Niño 2026 telah berada pada tingkat sangat kuat dan menunjukkan penguatan yang tidak biasa untuk periode September. Kondisi tersebut membuat persiapan menghadapi kekeringan, panas ekstrem, kebakaran, gangguan pangan, serta perubahan pola hujan menjadi semakin penting.

Sumber : www.cnnindonesia.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
Your Favorite Channel
--:--
STREAM
Scroll to Top