PILARadio.com – Sebuah studi terbaru mengungkap dampak serius deforestasi terhadap kesehatan manusia. Berkurangnya tutupan hutan dan punahnya satwa liar ternyata membuat nyamuk semakin “haus darah” manusia. Kondisi ini terjadi karena nyamuk kehilangan inang alami mereka dan akhirnya lebih bergantung pada darah manusia, sehingga meningkatkan risiko penularan berbagai penyakit menular berbahaya.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers dan menyoroti hubungan erat antara kerusakan lingkungan, perubahan ekosistem, serta meningkatnya ancaman penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Studi tersebut menyimpulkan bahwa hilangnya habitat alami mendorong nyamuk lebih sering menggigit manusia, memperbesar potensi penyebaran penyakit seperti demam berdarah, Zika, dan demam kuning.
Para peneliti menjelaskan bahwa deforestasi dan aktivitas manusia lainnya, seperti pembangunan dan alih fungsi lahan, secara signifikan mengurangi populasi tumbuhan dan satwa liar di berbagai wilayah. Di sisi lain, jumlah penduduk manusia di kawasan yang sama justru terus meningkat. Ketidakseimbangan ini menciptakan kondisi ideal bagi nyamuk untuk beradaptasi dengan sumber makanan baru, yaitu manusia.
“Nyamuk yang biasanya memakan inang lain di habitat tersebut dapat beralih ke manusia jika habitat itu tidak lagi cocok untuk inang-inang tersebut dan mereka meninggalkan wilayah tersebut,” ujar Laura Harrington, profesor entomologi dari Cornell University.
Menurut Harrington, perubahan lanskap akibat deforestasi memaksa nyamuk menyesuaikan perilaku mencari makan. Ketika hewan-hewan liar yang sebelumnya menjadi sumber darah utama berkurang atau menghilang, manusia menjadi pilihan paling dekat dan paling mudah diakses.
Studi ini mengambil sampel dari dua wilayah yang sebelumnya tidak berpenghuni di negara bagian Rio de Janeiro, Brasil. Wilayah tersebut dulunya merupakan bagian dari Hutan Atlantik, salah satu ekosistem paling kaya keanekaragaman hayati di dunia. Hutan Atlantik pada masa lalu mencakup area seluas sekitar 502.000 mil persegi, namun kini telah menyusut drastis hingga hanya tersisa sekitar 29 persen akibat deforestasi dan pembangunan masif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa darah manusia ditemukan secara luas pada sembilan spesies nyamuk yang hidup di wilayah tersebut. Temuan ini mengindikasikan adanya pergeseran pola makan nyamuk yang sebelumnya lebih banyak bergantung pada darah hewan liar.
Para peneliti juga merujuk pada sejumlah studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat deforestasi lebih parah cenderung memiliki populasi nyamuk yang lebih tinggi. Tak hanya itu, angka penyakit yang ditularkan oleh nyamuk di wilayah tersebut juga lebih besar. Hal ini disebabkan habitat yang terganggu justru lebih menguntungkan spesies nyamuk yang mampu berkembang biak di sekitar permukiman manusia.
Pada saat yang sama, penurunan keanekaragaman hayati turut menghilangkan spesies hewan yang sebenarnya berperan sebagai “penyangga” penularan penyakit. Dengan berkurangnya hewan-hewan tersebut, manusia menjadi sumber darah utama bagi nyamuk, sehingga risiko penularan penyakit meningkat secara signifikan.
Sérgio Lisboa Machado, salah satu penulis studi dan profesor di Universitas Federal Rio de Janeiro, menjelaskan bahwa nyamuk merupakan serangga oportunis yang cenderung tidak menjelajah jauh untuk mencari makanan.
“Nyamuk jarang terbang jauh. Mereka tidak akan menghabiskan banyak energi untuk mencari sumber makanan lain. Jadi, ketika manusia berada di dekat mereka, manusia menjadi target utama,” ujar Lisboa.
Kondisi ini menjadi semakin mengkhawatirkan mengingat peran nyamuk sebagai vektor penyakit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa lebih dari 17 persen dari seluruh penyakit menular di dunia disebabkan oleh penyakit yang ditularkan oleh vektor, yaitu organisme hidup seperti nyamuk, kutu, dan lalat. Penyakit-penyakit ini menyebabkan lebih dari 700.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia.
WHO juga menyebut bahwa nyamuk saja mampu menularkan puluhan penyakit serius kepada manusia. Karena dampak globalnya yang besar, nyamuk bahkan kerap disebut sebagai hewan paling mematikan di Bumi.
Para peneliti menjelaskan bahwa nyamuk betina menjadi aktor utama dalam penularan penyakit. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), nyamuk betina membutuhkan darah untuk mendapatkan protein dan zat besi yang diperlukan dalam proses pembentukan telur.
“Ada dorongan reproduksi yang membuat mereka memakan darah. Jika tidak ada inang lain, kebanyakan nyamuk akan memakan darah manusia,” ungkap Harrington.
Sementara itu, nyamuk jantan tidak menggigit manusia. Mereka bertahan hidup dengan memakan nektar dan gula dari tumbuhan. Perbedaan peran biologis ini membuat nyamuk betina menjadi fokus utama dalam studi tentang penularan penyakit.
Harrington juga menjelaskan bahwa terdapat sekitar 3.500 spesies nyamuk di seluruh dunia. Namun, hanya sebagian kecil yang benar-benar memiliki preferensi kuat terhadap darah manusia. Dalam kondisi normal, sebagian besar nyamuk tidak secara khusus memilih manusia jika masih tersedia inang lain.
“Ini sebenarnya sudah lama diketahui. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana manipulasi lanskap oleh manusia dapat mengubah pola makan nyamuk dan mengarahkannya lebih sering ke manusia,” jelas Harrington.
Temuan ini memperkuat peringatan bahwa deforestasi bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan publik. Kerusakan hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan ekspansi manusia ke wilayah alami berpotensi menciptakan siklus baru penyebaran penyakit menular.
Para peneliti menekankan pentingnya menjaga ekosistem alami sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit. Pelestarian hutan dan keanekaragaman hayati dinilai tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga berperan penting dalam melindungi manusia dari ancaman penyakit yang dibawa oleh nyamuk.
Dengan semakin jelasnya hubungan antara deforestasi dan meningkatnya risiko penyakit, studi ini menjadi pengingat bahwa kesehatan manusia sangat bergantung pada keseimbangan alam. Tanpa upaya serius untuk melindungi lingkungan, ancaman penyakit menular yang ditularkan oleh nyamuk dikhawatirkan akan terus meningkat di masa depan.
Sumber : www.cnnindonesia.com


















