PILARadio.com – Gelombang panas ekstrem yang melanda India sejak awal 2026 memicu kekhawatiran besar di kalangan ilmuwan dan otoritas kesehatan. Selain menyebabkan suhu udara mencapai level berbahaya di berbagai wilayah, fenomena cuaca ekstrem tersebut juga diperkirakan berpotensi menimbulkan ribuan kematian dalam waktu singkat.
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Environmental Health mengungkap bahwa satu hari gelombang panas ekstrem di India dapat menyebabkan sekitar 3.400 kematian tambahan. Jika kondisi tersebut berlangsung selama lima hari berturut-turut, jumlah korban jiwa diperkirakan dapat mendekati 30.000 orang.
Temuan tersebut menambah daftar panjang kekhawatiran mengenai dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat, terutama di negara-negara yang memiliki populasi besar dan tingkat kerentanan tinggi terhadap cuaca ekstrem.
Gelombang Panas di India Datang Lebih Awal pada 2026
Tahun 2026 menjadi salah satu periode paling panas yang dialami India dalam beberapa tahun terakhir. Gelombang panas mulai terasa sejak April dan diperkirakan berlangsung hingga akhir Juni sebelum musim monsun membawa hujan dan suhu yang lebih sejuk.
Menurut data Departemen Meteorologi India (IMD), sejumlah wilayah mencatat suhu di atas 45 derajat Celsius. Bahkan beberapa daerah mengalami suhu yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis.
Di Piduguralla, Distrik Palnadu, suhu udara mencapai 48,1 derajat Celsius. Angka tersebut menjadi salah satu suhu tertinggi yang pernah tercatat di kawasan tersebut selama periode gelombang panas.
Sementara itu, wilayah Vetapalem dan Nandiwada mencatat suhu hingga 47,6 derajat Celsius. Di Thorragudipadu dan Addanki, suhu mencapai 47,4 derajat Celsius.
Puluhan wilayah lainnya juga mengalami suhu ekstrem. Setidaknya 18 distrik mencatat temperatur berkisar antara 45 hingga 46 derajat Celsius, termasuk Bapatla, Amaravati, Kavali, Ongole, Gannavaram, Nandigama hingga Nellore.
Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat terganggu. Banyak warga memilih membatasi aktivitas di luar ruangan karena risiko sengatan panas atau heatstroke meningkat secara signifikan.
Korban Jiwa Mulai Bermunculan
Dampak gelombang panas tidak hanya dirasakan dalam bentuk ketidaknyamanan akibat cuaca yang menyengat. Hingga saat ini, sedikitnya 16 orang dilaporkan meninggal dunia di wilayah India selatan akibat suhu ekstrem.
Namun para peneliti menilai angka tersebut kemungkinan hanya sebagian kecil dari dampak sebenarnya. Banyak kematian yang berkaitan dengan cuaca panas sering kali tidak tercatat secara langsung sebagai akibat gelombang panas.
Kondisi ini membuat para ilmuwan berupaya mencari metode yang lebih akurat untuk menghitung dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh suhu ekstrem.
Melalui pendekatan statistik dan pemodelan epidemiologi, para peneliti mencoba memperkirakan jumlah kematian yang dapat terjadi selama periode gelombang panas di berbagai wilayah India.
Hasilnya menunjukkan bahwa dampak sebenarnya bisa jauh lebih besar dibandingkan angka kematian yang tercatat secara resmi.
Studi Prediksi 3.400 Kematian Tambahan Setiap Hari
Penelitian tersebut dilakukan oleh Piyush Narang dan Ashok Gadgil dari India Energy and Climate Center di University of California Berkeley, Amerika Serikat.
Dalam penelitian mereka, kedua ilmuwan menyoroti masih terbatasnya data rinci mengenai hubungan antara suhu ekstrem dan tingkat kematian di berbagai distrik India.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, para peneliti menggunakan data kematian akibat panas dari 10 kota besar di India sebagai dasar analisis.
Data tersebut kemudian dikombinasikan dengan informasi tingkat kematian dari Civil Registration System serta proyeksi jumlah penduduk terbaru.
Melalui metode tersebut, para peneliti berhasil memperkirakan dampak gelombang panas terhadap seluruh wilayah India secara lebih komprehensif.
Hasil analisis menunjukkan bahwa satu hari gelombang panas ekstrem berpotensi menyebabkan sekitar 3.400 kematian tambahan di seluruh India.
Jumlah tersebut meningkat drastis apabila kondisi panas berlangsung lebih lama.
Jika gelombang panas bertahan selama lima hari berturut-turut, jumlah kematian tambahan diperkirakan mendekati 30.000 jiwa.
Apa Itu Kematian Berlebih?
Dalam studi tersebut, para peneliti menggunakan konsep yang dikenal sebagai “kematian berlebih” atau excess deaths.
Istilah ini merujuk pada selisih antara jumlah kematian yang terjadi selama periode tertentu dengan jumlah kematian yang secara normal diperkirakan terjadi berdasarkan data historis.
Pendekatan ini banyak digunakan oleh para ahli kesehatan masyarakat untuk mengukur dampak berbagai peristiwa besar, mulai dari pandemi, bencana alam, hingga cuaca ekstrem.
Melalui metode tersebut, para peneliti dapat memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai dampak sesungguhnya dari gelombang panas terhadap populasi.
Pasalnya, tidak semua korban yang meninggal akibat suhu ekstrem tercatat secara langsung sebagai kematian karena gelombang panas.
Banyak kasus terjadi akibat komplikasi penyakit jantung, gangguan pernapasan, dehidrasi berat, hingga stroke yang dipicu oleh suhu tinggi.
Uttar Pradesh Jadi Wilayah Paling Rentan
Penelitian tersebut juga mengungkap wilayah-wilayah yang paling rentan terhadap dampak gelombang panas.
Negara bagian Uttar Pradesh disebut sebagai daerah dengan risiko kematian tertinggi selama periode cuaca ekstrem.
Para peneliti memperkirakan sekitar 8.100 kematian tambahan dapat terjadi di Uttar Pradesh dalam satu kejadian gelombang panas yang berlangsung selama lima hari.
Selain Uttar Pradesh, sejumlah wilayah lain juga menunjukkan tingkat kerentanan yang tinggi, termasuk Bihar, Madhya Pradesh, Rajasthan, dan Gujarat.
Kota-kota besar seperti Ahmedabad, Jaipur, dan Surat diperkirakan masing-masing dapat mengalami lebih dari 250 kematian tambahan selama satu periode gelombang panas.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak suhu ekstrem tidak hanya dirasakan di daerah pedesaan, tetapi juga di kawasan perkotaan yang memiliki kepadatan penduduk tinggi.
Hubungan antara Kemiskinan dan Risiko Gelombang Panas
Salah satu temuan penting dalam studi ini adalah adanya hubungan erat antara tingkat kerentanan terhadap gelombang panas dan kondisi ekonomi suatu wilayah.
Lima negara bagian yang diproyeksikan mengalami jumlah kematian tertinggi ternyata hanya menyumbang sekitar 29 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional India.
Namun secara bersamaan, wilayah-wilayah tersebut diperkirakan menyumbang sekitar 66 persen dari total kematian tambahan akibat gelombang panas.
Artinya, daerah yang paling terdampak justru merupakan wilayah dengan sumber daya ekonomi yang relatif lebih terbatas.
Kondisi tersebut membuat masyarakat di daerah tersebut memiliki kemampuan adaptasi yang lebih rendah terhadap perubahan iklim.
Akses terhadap pendingin ruangan, fasilitas kesehatan, sistem peringatan dini, hingga infrastruktur perlindungan panas sering kali tidak merata.
Akibatnya, risiko kesehatan yang muncul saat gelombang panas menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah yang memiliki kapasitas ekonomi lebih baik.
Perubahan Iklim Perparah Gelombang Panas
Sejumlah penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perubahan iklim berperan besar dalam meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas di berbagai belahan dunia.
Asia Selatan termasuk kawasan yang paling rentan terhadap fenomena tersebut.
Kombinasi antara suhu tinggi, kelembapan ekstrem, kepadatan penduduk, dan keterbatasan infrastruktur membuat wilayah ini menghadapi risiko kesehatan yang serius.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa tanpa langkah mitigasi yang efektif, kejadian gelombang panas ekstrem dapat menjadi lebih sering terjadi pada dekade mendatang.
Bahkan sejumlah model iklim memprediksi bahwa suhu yang saat ini dianggap ekstrem dapat menjadi kondisi yang lebih umum di masa depan.
Perlunya Kebijakan Adaptasi yang Lebih Tepat Sasaran
Hasil penelitian ini dinilai memiliki implikasi penting bagi kebijakan pemerintah India dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Para peneliti mendorong agar alokasi dana adaptasi iklim difokuskan kepada wilayah yang memiliki tingkat risiko kematian tinggi sekaligus kapasitas ekonomi rendah.
Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan distribusi anggaran yang hanya didasarkan pada jumlah penduduk atau kemampuan administratif daerah.
Investasi pada sistem peringatan dini, layanan kesehatan, ruang pendingin publik, serta edukasi masyarakat mengenai bahaya suhu ekstrem menjadi langkah yang dianggap mendesak.
Di tengah tren kenaikan suhu global yang terus berlanjut, gelombang panas tidak lagi dipandang sebagai fenomena cuaca musiman biasa.
Para ahli menilai kondisi tersebut kini telah berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang serius dan membutuhkan respons kebijakan yang lebih cepat, terukur, serta berbasis data ilmiah.
Dengan lebih dari sepertiga populasi India tinggal di distrik yang masuk kategori berisiko tinggi, tantangan menghadapi gelombang panas diperkirakan akan menjadi salah satu isu kesehatan dan iklim terbesar yang dihadapi negara tersebut dalam beberapa dekade mendatang.
Sumber : www.kumparan.com








