Robot China Cetak Rekor Lari Tercepat, tapi Masih Kalah dari Usain Bolt

Robot-robot berlomba dalam lari 100 meter saat upacara pembukaan World Humanoid Robot Games di Beijing, Sabtu, 22 Agustus 2026. (Foto AP/Achmad Ibrahim)

PILARadio.com – Robot humanoid buatan China, Tiangong Ultra, mencuri perhatian dunia setelah mencatatkan waktu 8,64 detik dalam lari 100 meter. Catatan tersebut bahkan lebih cepat dibandingkan rekor dunia manusia milik Usain Bolt yang mencapai 9,58 detik. Meski demikian, para ahli menilai pencapaian Bolt masih lebih mengesankan karena kedua pelari memiliki kemampuan, sistem tenaga, pola gerak, serta batasan fisik yang sangat berbeda.

Perkembangan teknologi robot humanoid kembali menjadi sorotan setelah Tiangong Ultra menunjukkan kemampuan berlari dengan kecepatan yang sebelumnya sulit dibayangkan untuk sebuah mesin berkaki dua.

Robot buatan China tersebut berhasil menyelesaikan jarak 100 meter dalam waktu 8,64 detik. Jika angka itu dibandingkan secara langsung dengan catatan manusia, Tiangong Ultra memang terlihat unggul. Waktunya 0,94 detik lebih cepat daripada rekor dunia lari 100 meter yang dibuat Usain Bolt di Kejuaraan Dunia Atletik 2009 di Berlin, Jerman.

Namun, perbandingan antara robot dan manusia ternyata tidak sesederhana melihat angka pada stopwatch.

Tiangong Ultra merupakan mesin yang digerakkan motor dan sistem kendali elektronik. Sementara itu, Bolt mengandalkan tubuh manusia yang bekerja dengan otot, tendon, tulang, persendian, sistem saraf, serta energi biologis.

Perbedaan tersebut membuat pencapaian keduanya perlu dilihat dari sudut pandang yang lebih luas.

Tiangong Ultra memang menunjukkan perkembangan luar biasa dalam teknologi robot humanoid. Akan tetapi, kemampuan Usain Bolt berlari 100 meter dalam 9,58 detik dengan tubuh manusia tetap menjadi pencapaian yang sangat sulit ditandingi jika mempertimbangkan batas biologis manusia.

Tiangong Ultra Catat Waktu 8,64 Detik

Tiangong Ultra berhasil mencatatkan waktu 8,64 detik dalam percobaan lari 100 meter.

Dengan catatan tersebut, robot humanoid itu mampu mencatatkan kecepatan rata-rata hampir 42 kilometer per jam.

Angka tersebut tentu sangat menarik jika melihat perkembangan teknologi robot saat ini. Selama bertahun-tahun, robot berkaki dua menghadapi persoalan besar ketika harus melakukan gerakan dinamis seperti berlari.

Berjalan saja membutuhkan koordinasi banyak komponen.

Robot harus mampu mengatur keseimbangan tubuh, menggerakkan kaki secara bergantian, menjaga posisi badan, membaca kondisi permukaan, serta menyesuaikan gerakan agar tidak terjatuh.

Ketika kecepatannya ditingkatkan, tingkat kesulitannya menjadi jauh lebih tinggi.

Setiap langkah menghasilkan gaya yang harus dikendalikan dengan cepat. Jika robot terlambat merespons perubahan posisi tubuh, keseimbangan dapat hilang dan robot berpotensi terjatuh.

Tiangong Ultra menunjukkan bahwa teknologi tersebut sudah mengalami perkembangan signifikan.

Pengembang melakukan berbagai peningkatan untuk membuat robot mampu berlari lebih cepat. Perubahan dilakukan pada motor, rentang pergerakan, perangkat lunak kontrol, hingga desain fisik robot.

Bagian tubuh dan pinggang juga didesain ulang untuk mengurangi bobot.

Pengurangan bobot menjadi faktor penting dalam meningkatkan performa robot. Semakin berat sebuah robot, semakin besar pula energi yang diperlukan untuk menggerakkan tubuhnya secara cepat.

Dengan tubuh yang lebih ringan, sistem penggerak dapat bekerja secara lebih efisien.

Perubahan tersebut kemudian dikombinasikan dengan peningkatan sistem kendali sehingga Tiangong Ultra dapat mempertahankan keseimbangannya ketika bergerak dengan kecepatan tinggi.

Teknologi Robot Humanoid Makin Berkembang

Keberhasilan Tiangong Ultra menunjukkan bahwa teknologi robot humanoid tidak lagi hanya berfokus pada kemampuan berjalan atau melakukan gerakan sederhana.

Pengembang kini mulai mengejar kemampuan yang jauh lebih kompleks.

Berlari membutuhkan koordinasi seluruh bagian tubuh. Gerakan kaki harus selaras dengan gerakan tangan, posisi badan, serta perubahan pusat gravitasi.

Robot juga harus terus menghitung posisi tubuhnya dalam waktu yang sangat singkat.

Dalam kondisi seperti itu, sistem kontrol menjadi bagian yang sangat penting.

Robot harus menerima informasi dari berbagai sensor, kemudian memprosesnya untuk menentukan gerakan berikutnya.

Kesalahan kecil dapat membuat robot kehilangan keseimbangan.

Profesor Ilmu Olahraga Chungnam National University, Korea Selatan, Jung Moon-hyun, menilai pencapaian tersebut sebagai perkembangan teknologi yang luar biasa.

“Ini merupakan kemajuan teknologi yang luar biasa. Robot humanoid mampu menjaga keseimbangan dan berlari dengan kecepatan yang tidak dapat dikejar manusia,” kata Jung Moon-hyun, mengutip Reuters.

Pernyataan tersebut menggambarkan betapa besar perkembangan yang telah dicapai dalam teknologi robot berkaki dua.

Namun, kemampuan berlari cepat bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah robot humanoid.

Kemampuan berhenti, berbelok, menghindari rintangan, serta beradaptasi terhadap kondisi lingkungan juga menjadi tantangan yang harus diselesaikan.

Cara Berlari Tiangong Ultra Berbeda dari Usain Bolt

Jika melihat gerakan Tiangong Ultra dan Usain Bolt, terdapat perbedaan yang cukup mencolok.

Robot tersebut cenderung menggunakan langkah yang lebih pendek dan cepat.

Sementara itu, Bolt mengandalkan langkah yang panjang untuk menjangkau jarak lebih jauh dalam setiap pijakan.

Perbedaan tersebut bukan sebuah kebetulan.

Pola gerak robot disesuaikan dengan kemampuan sistem motor dan mekanisme penggeraknya.

Profesor Robotika Kwangwoon University, Korea Selatan, Park Suhan, menjelaskan bahwa pola lari Tiangong Ultra menyesuaikan kemampuan motor robot, bukan meniru teknik lari manusia.

Artinya, pengembang tidak berusaha membuat robot berlari persis seperti atlet manusia.

Robot memiliki sistem penggerak yang berbeda sehingga teknik gerak yang digunakan juga berbeda.

Dalam lari manusia, panjang langkah menjadi salah satu faktor penting untuk menghasilkan kecepatan.

Namun, bagi robot, memperpanjang langkah dapat meningkatkan risiko kehilangan keseimbangan.

Karena itu, Tiangong Ultra menggunakan langkah yang lebih pendek tetapi dilakukan dengan frekuensi lebih tinggi.

Tiangong Ultra Mengambil Lebih dari 50 Langkah

Perbedaan teknik tersebut dapat terlihat dari jumlah langkah yang dilakukan.

Dalam perlombaan yang menghasilkan rekor dunia 9,58 detik pada 2009, Usain Bolt tercatat menyelesaikan lari 100 meter dengan 41 langkah.

Sebaliknya, Tiangong Ultra terlihat mengambil lebih dari 50 langkah dalam salah satu percobaan pemecahan rekor.

Jumlah langkah yang lebih banyak menunjukkan bahwa robot tersebut mengandalkan frekuensi gerakan kaki untuk mempertahankan kecepatannya.

Ilmuwan olahraga dari Mahidol University, Thailand, Parunchaya Jamkrajang, menjelaskan bahwa langkah pendek dapat membantu robot mempertahankan keseimbangan.

Robot akan menghadapi risiko jatuh jika mencoba memperlebar langkah untuk meningkatkan kecepatan.

Hal ini menjadi salah satu perbedaan mendasar antara robot dan manusia.

Manusia memiliki struktur tubuh yang secara alami mampu menyesuaikan gerakan ketika berlari. Otot, tendon, dan persendian bekerja secara terkoordinasi untuk menjaga tubuh tetap stabil.

Robot membutuhkan sistem kontrol yang dirancang secara khusus untuk melakukan fungsi tersebut.

Keunggulan Usain Bolt Terlihat Sejak Start

Meski kalah dari Tiangong Ultra jika hanya melihat catatan waktu akhir, Usain Bolt memiliki keunggulan besar dalam fase awal perlombaan.

Pada perlombaan di Berlin 2009, Bolt tercatat memiliki waktu reaksi 0,146 detik setelah bunyi start.

Ia langsung melesat dari posisi start dan membangun kecepatan dalam beberapa langkah pertama.

Kondisi tersebut berbeda dengan Tiangong Ultra.

Robot humanoid tersebut memulai lari dari posisi berdiri tegak, bukan menggunakan balok start seperti atlet sprint.

Dalam salah satu percobaannya, Tiangong Ultra bahkan membutuhkan waktu hampir satu detik untuk mulai bergerak karena diduga mengalami masalah dalam mengenali sinyal start.

Perbedaan tersebut memberikan keuntungan besar kepada pelari manusia seperti Bolt.

Profesor Ilmu Olahraga Brigham Young University sekaligus ilmuwan olahraga USA Track and Field, Iain Hunter, memperkirakan Bolt sudah unggul hampir dua detik ketika mencapai jarak lima meter.

“Jika robot dapat menggunakan balok start, saya bisa melihat mereka berlari jauh lebih cepat,” ujar Hunter.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa catatan 8,64 detik Tiangong Ultra masih dapat berubah jika sistem start robot ditingkatkan.

Balok Start Memberikan Keuntungan Besar

Dalam lomba lari 100 meter, beberapa langkah pertama memiliki peranan penting.

Atlet menggunakan balok start untuk membantu menghasilkan gaya horizontal yang besar.

Posisi tubuh yang condong ke depan memungkinkan pelari mendorong permukaan lintasan dengan kuat dan mengubah dorongan tersebut menjadi percepatan.

Bolt merupakan salah satu pelari yang sangat efektif dalam membangun kecepatan.

Kemampuan akselerasinya menjadi salah satu bagian penting dari kesuksesan sang sprinter.

Sementara itu, Tiangong Ultra belum menggunakan metode start yang sama.

Robot memulai lari dari posisi berdiri.

Akibatnya, waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan kecepatan awal menjadi lebih panjang.

Jika teknologi robot mampu mengintegrasikan sistem start yang lebih agresif tanpa mengorbankan keseimbangan, catatan waktunya berpotensi semakin cepat.

Motor Listrik Menjadi Keunggulan Robot

Setelah fase awal perlombaan terlewati, Tiangong Ultra memiliki keunggulan lain.

Robot tidak menghasilkan tenaga dengan menggunakan otot.

Sistem penggeraknya menggunakan motor listrik dan gearbox.

Motor tersebut dapat menghasilkan rotasi pada sendi secara langsung.

Dalam tubuh manusia, tenaga untuk berlari berasal dari proses biologis yang jauh lebih kompleks.

Otot berkontraksi untuk menghasilkan gaya. Tendon membantu menyalurkan gaya tersebut. Persendian kemudian bergerak untuk menghasilkan langkah.

Pergelangan kaki, lutut, dan pinggul bekerja bersama untuk menyerap serta menghasilkan gaya dalam setiap langkah.

Tubuh manusia juga harus mengatur penggunaan energi agar dapat mempertahankan kecepatan.

Robot tidak memiliki sistem biologis seperti itu.

Motor listrik dapat memberikan tenaga secara langsung sesuai dengan perintah sistem kontrol.

Karena itu, ketika robot sudah mencapai kondisi optimal, gerakannya dapat dipertahankan dengan cara yang berbeda dari manusia.

Manusia Mengalami Kelelahan, Robot Tidak

Perbedaan lain yang sangat penting adalah masalah kelelahan.

Pelari manusia, bahkan atlet kelas dunia seperti Usain Bolt, tetap memiliki batas biologis.

Ketika berlari dengan kecepatan sangat tinggi, tubuh manusia membutuhkan energi dalam jumlah besar.

Sistem saraf dan otot bekerja keras untuk mempertahankan gerakan.

Semakin lama kecepatan tinggi dipertahankan, semakin besar kemungkinan performa menurun.

Kelelahan neuromuskular dapat memengaruhi kemampuan atlet mempertahankan kecepatan.

Dalam lari 100 meter, perubahan kecepatan sekecil apa pun dapat berpengaruh terhadap catatan waktu.

Robot tidak mengalami kelelahan biologis dengan cara yang sama.

Selama baterai, motor, sistem elektronik, dan komponen mekanis mampu bekerja, robot dapat terus menjalankan gerakannya.

Pakar biomekanika University of Montana, Matt Bundle, menjelaskan keunggulan tersebut.

“Karena robot tidak memiliki batasan seperti itu, ia akan mampu terus berlari,” kata Bundle.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa perbandingan langsung antara waktu robot dan manusia harus dilakukan dengan hati-hati.

Tiangong Ultra Belum Sempurna Saat Berhenti

Meskipun memiliki kemampuan berlari dengan kecepatan tinggi, Tiangong Ultra masih menghadapi tantangan lain.

Dalam salah satu video perlombaan, robot tersebut terlihat menabrak dinding pelindung setelah menyelesaikan percobaan.

Kejadian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan berlari cepat belum otomatis berarti robot mampu mengendalikan seluruh fase perlombaan.

Robot dapat meningkatkan kecepatan, tetapi juga harus mampu mengurangi kecepatan secara aman.

Kemampuan mengerem menjadi sangat penting ketika robot digunakan di lingkungan manusia.

Bayangkan sebuah robot yang dapat berlari dengan kecepatan tinggi tetapi kesulitan berhenti ketika menghadapi manusia atau benda di depannya.

Kondisi tersebut tentu dapat menimbulkan risiko.

Karena itu, pengembangan robot humanoid tidak hanya berkaitan dengan seberapa cepat robot dapat bergerak.

Kemampuan mengontrol gerakan menjadi bagian yang tidak kalah penting.

Berlari Cepat Bukan Satu-satunya Tolok Ukur

Matt Bundle menilai kemampuan mencapai kecepatan tinggi belum cukup jika robot belum mampu berhenti dengan aman.

Pendapat tersebut menjadi penting dalam melihat perkembangan robot humanoid secara lebih luas.

Robot yang nantinya digunakan di lingkungan nyata tidak akan selalu berada di lintasan lurus sepanjang 100 meter.

Robot mungkin harus berjalan di dalam rumah, bekerja di pabrik, membantu manusia, membawa barang, menaiki tangga, menghindari benda, atau bergerak di area yang ramai.

Dalam situasi seperti itu, kemampuan berlari cepat mungkin justru bukan prioritas utama.

Robot harus mampu memahami lingkungan dan mengambil keputusan.

Kemampuan berbelok, menghindari rintangan, serta mengubah arah dengan cepat menjadi tantangan berikutnya.

Parunchaya Jamkrajang juga menilai kemampuan tersebut dapat menjadi pencapaian yang lebih penting dalam pengembangan robot humanoid.

Dengan kata lain, rekor lari 100 meter merupakan demonstrasi kemampuan teknologi, tetapi belum menjadi gambaran lengkap mengenai seberapa canggih sebuah robot.

Mengapa Rekor Bolt Tetap Berbeda?

Catatan Usain Bolt sebesar 9,58 detik dibuat dalam kompetisi atletik resmi dengan aturan yang berlaku untuk manusia.

Bolt harus mengandalkan tubuhnya sendiri.

Ia tidak menggunakan motor, baterai, gearbox, atau sistem kontrol elektronik untuk menghasilkan tenaga.

Semua gerakan berasal dari koordinasi biologis tubuhnya.

Mulai dari reaksi terhadap suara pistol start, dorongan dari balok start, akselerasi, mempertahankan kecepatan, hingga melewati garis finis, semuanya dilakukan dengan kemampuan fisik manusia.

Karena itu, ketika catatan Bolt dibandingkan dengan robot, konteksnya harus diperhatikan.

Tiangong Ultra dapat mencatat waktu lebih cepat, tetapi bukan berarti robot tersebut telah mengalahkan rekor dunia atletik manusia.

Keduanya berada dalam kategori yang berbeda.

Catatan 8,64 detik merupakan pencapaian teknologi robot.

Sementara 9,58 detik merupakan rekor dunia dalam cabang olahraga lari 100 meter manusia.

Rekor Usain Bolt Masih Menjadi Tolok Ukur

Usain Bolt mencatat rekor dunia 100 meter pada Kejuaraan Dunia Atletik 2009 di Berlin.

Waktu 9,58 detik tersebut masih menjadi salah satu catatan paling ikonik dalam sejarah olahraga.

Bolt bukan hanya mencatat waktu yang sangat cepat, tetapi juga menunjukkan kemampuan akselerasi dan teknik sprint yang luar biasa.

Dalam perlombaan tersebut, ia mampu memaksimalkan kemampuan tubuhnya hingga melewati garis finis.

Catatan tersebut dibuat tanpa bantuan teknologi penggerak eksternal.

Inilah yang membuat pencapaian Bolt tetap memiliki nilai khusus.

Ketika manusia dibandingkan dengan mesin, manusia memiliki banyak keterbatasan.

Tubuh dapat mengalami kelelahan. Otot memiliki batas kemampuan. Sistem saraf memiliki waktu reaksi. Persendian juga memiliki batas gerak.

Semua faktor tersebut harus dikelola oleh seorang atlet ketika berlari.

Bolt mampu mengoptimalkan seluruh kemampuan tersebut dan menghasilkan catatan 9,58 detik.

Robot dan Manusia Memiliki Keunggulan Berbeda

Jika dibandingkan secara sederhana, robot dan manusia sebenarnya memiliki keunggulan masing-masing.

Tiangong Ultra unggul dalam kemampuan mempertahankan performa tanpa mengalami kelelahan biologis.

Motor listrik juga mampu menghasilkan tenaga secara langsung.

Sistem kontrol dapat mengatur gerakan secara cepat dan presisi.

Namun, robot masih menghadapi berbagai keterbatasan teknis.

Keseimbangan, kemampuan berhenti, respons terhadap lingkungan, konsumsi energi, serta kemampuan mengambil keputusan masih menjadi tantangan.

Manusia juga memiliki keunggulan yang tidak mudah ditiru.

Tubuh manusia dapat menyesuaikan gerakan secara alami terhadap berbagai kondisi.

Pelari dapat mengubah langkah ketika permukaan lintasan berubah. Atlet juga dapat merespons gangguan kecil tanpa harus menghitung seluruh gerakan melalui sistem komputer.

Kemampuan adaptasi biologis tersebut merupakan hasil dari proses evolusi yang sangat panjang.

Masa Depan Robot Humanoid

Rekor Tiangong Ultra menunjukkan bahwa persaingan teknologi robot humanoid akan semakin menarik.

Perusahaan dan pengembang robot di berbagai negara terus berusaha meningkatkan kemampuan mesin berkaki dua.

Tujuannya bukan hanya membuat robot mampu berjalan seperti manusia.

Robot diharapkan dapat melakukan berbagai pekerjaan yang membutuhkan mobilitas tinggi.

Kemampuan bergerak dengan cepat dapat berguna dalam situasi tertentu.

Namun, robot masa depan juga harus mampu berinteraksi dengan lingkungan secara aman.

Robot harus dapat memahami keberadaan manusia di sekitarnya.

Ketika berlari, robot harus mengetahui kapan harus mempercepat, memperlambat, berhenti, atau mengubah arah.

Sistem tersebut membutuhkan kombinasi antara perangkat keras dan perangkat lunak yang semakin kompleks.

Dari Rekor Lari Menuju Robot yang Lebih Adaptif

Tiangong Ultra mungkin belum menjadi robot humanoid yang sempurna.

Namun, catatan 8,64 detik menunjukkan bahwa teknologi telah mencapai tahap yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Beberapa tahun lalu, robot berkaki dua yang mampu berlari dengan kecepatan tinggi masih terlihat seperti eksperimen.

Kini, teknologi tersebut mulai menunjukkan hasil nyata.

Pengembangan motor, gearbox, sensor, sistem kontrol, desain tubuh, serta perangkat lunak membuat robot semakin mampu melakukan gerakan dinamis.

Rekor lari tersebut juga menjadi gambaran bahwa batas kemampuan robot terus berubah.

Apa yang saat ini dianggap sebagai pencapaian luar biasa mungkin saja menjadi kemampuan standar pada masa depan.

Bisa jadi, robot generasi berikutnya akan mampu berlari lebih cepat sekaligus memiliki kemampuan berhenti, berbelok, dan menghindari rintangan dengan lebih baik.

Jika hal tersebut terjadi, robot humanoid akan semakin mendekati kemampuan bergerak yang selama ini identik dengan manusia.

Tiangong Ultra Belum Menggantikan Rekor Atletik Usain Bolt

Pada akhirnya, catatan 8,64 detik Tiangong Ultra memang lebih cepat daripada waktu 9,58 detik milik Usain Bolt.

Namun, pencapaian tersebut tidak menggantikan rekor dunia Bolt dalam atletik manusia.

Keduanya menggunakan sistem tenaga yang berbeda.

Tiangong Ultra mengandalkan motor listrik, gearbox, baterai, sensor, dan perangkat lunak kontrol. Sementara Bolt menggunakan otot, tendon, persendian, sistem saraf, dan energi biologis.

Keduanya juga memiliki pola gerakan berbeda.

Robot menggunakan langkah pendek dan cepat untuk menjaga keseimbangan. Bolt mengandalkan langkah yang lebih panjang untuk menghasilkan kecepatan.

Selain itu, Bolt memiliki keunggulan pada fase start berkat penggunaan balok start dan kemampuan reaksinya.

Di sisi lain, Tiangong Ultra memiliki keunggulan ketika mempertahankan kecepatannya karena tidak mengalami kelelahan biologis seperti manusia.

Karena itu, membandingkan keduanya hanya berdasarkan angka waktu tidak sepenuhnya menggambarkan kemampuan masing-masing.

Tiangong Ultra menunjukkan sejauh mana teknologi robot telah berkembang.

Sementara itu, Usain Bolt menunjukkan sejauh mana kemampuan fisik manusia dapat dioptimalkan.

Keduanya merupakan pencapaian yang luar biasa dalam bidang masing-masing.

Bagi dunia teknologi, catatan 8,64 detik Tiangong Ultra menjadi sinyal bahwa robot humanoid semakin cepat, stabil, dan canggih.

Namun bagi dunia olahraga, rekor 9,58 detik Usain Bolt tetap menjadi pencapaian bersejarah yang belum tergantikan.

Justru perbedaan tersebut yang membuat perkembangan Tiangong Ultra menarik untuk diperhatikan. Robot mungkin sudah mampu berlari lebih cepat dari manusia dalam kondisi tertentu, tetapi tantangan sebenarnya bukan hanya mencapai garis finis dengan cepat.

Robot masa depan harus mampu bergerak secara aman, memahami lingkungan, menghindari rintangan, berbelok, berhenti, serta mengambil keputusan dalam situasi yang tidak selalu dapat diprediksi.

Jika kemampuan tersebut berhasil dikembangkan, barulah teknologi robot humanoid memasuki tahap yang jauh lebih maju.

Untuk saat ini, Tiangong Ultra telah menunjukkan satu hal penting: mesin berkaki dua kini mampu berlari dengan kecepatan yang bahkan melampaui catatan manusia tercepat dalam jarak 100 meter.

Namun, ketika seluruh faktor diperhitungkan, pencapaian Usain Bolt masih memiliki nilai tersendiri.

Ia mencapai 9,58 detik dengan tubuh manusia, tanpa motor dan tanpa sistem penggerak buatan.

Itulah alasan mengapa meskipun robot China berhasil mencatat waktu lebih cepat, capaian Usain Bolt tetap menjadi salah satu prestasi paling mengesankan dalam sejarah olahraga manusia.

Sumber : www.kumparan.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
Your Favorite Channel
--:--
STREAM
Scroll to Top