MAJALENGKA, PILARadio – Seorang ibu yang memperjuangkan anaknya yang masih berusia 17 bulan dengan kondisi yang sangat memprihatinkan karena tidak memiliki bola mata sejak lahir. Perjuangan seorang ibu di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, tepatnya di Blok Dukuh Maja, Desa Weragati, Kecamatan Palaasah, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, memikul beban yang sangat berat. Sejak melahirkan, dirinya mengalami kecelakaan hingga kakinya patah dan kini harus menggunakan tongkat. Selain itu, anaknya yang masih berusia 17 bulan juga lahir tanpa bola mata.
Dengan penghasilan suaminya sebagai buruh harian lepas di Bogor yang rata-rata hanya sekitar Rp300 ribu per minggu, kebutuhan keluarga sulit terpenuhi, apalagi untuk biaya pengobatan anak kesayangannya tersebut.
Perjuangan Ressa Fitri Anisa (26) tidak mudah. Sejak mengalami patah kaki, aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga semakin terbatas. Ressa mengalami kecelakaan pada Februari lalu saat terjatuh ketika keluar dari kamar mandi, tidak lama setelah melahirkan anaknya. Akibat kejadian tersebut, kaki Ressa harus dipasangi pen dan kini ia masih berjalan menggunakan tongkat.
Sementara itu, suaminya bekerja sebagai buruh harian di Bogor. Pekerjaan sang suami pun tidak memberikan penghasilan tetap. Dalam kondisi tersebut, Ressa harus mengatur kebutuhan keluarga dari uang yang dikirim suaminya, sekitar Rp300 ribu per minggu. Sementara itu, untuk kebutuhan makan sehari-hari, Ressa mengandalkan bantuan dari ibunya.
“Jadi memang dari lahir sudah cacat tadinya kembar cuma yang satunya dalam beberapa menit setelah lahir meninggal terus yang lainnya lahir dengan kondisi cacat tanpa adanya bola mata. Suami sendiri bekerja sebagai buruh harian lepas yang berpenghasilan hanya 300ribu perminggu kita sangat kesulitan untuk biaya pengobatan anak apalagi untuk kebutuhan keluarga. Kita berharap adanya bantuan dari orang dermawan agar membantu pengobatan anak kami” Ujar Ibu MZA, Ressa.
Ressa dan keluarga tidak tinggal diam. Pemeriksaan untuk mengetahui kondisi mata MZA telah dilakukan di Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung, sebanyak dua kali.
Menurut Ressa, dokter menyampaikan bahwa MZA masih memiliki harapan untuk melihat jika mendapatkan donor mata. Namun, tindakan tersebut disebut baru memungkinkan ketika usianya sekitar 5 tahun karena kondisi tubuhnya dinilai belum cukup kuat saat ini.
Harapan terbesar Ressa kini adalah MZA bisa mendapatkan donor sehingga suatu hari nanti dapat melihat.
Di tengah kondisi ekonomi yang serba terbatas, Ressa juga mengaku bingung dengan status data kesejahteraannya. Ia mengetahui dirinya masuk desil 8 setelah melakukan pengecekan melalui telepon seluler.
Ressa berharap kondisi tersebut mendapat perhatian dan dirinya dapat memperoleh bantuan untuk meringankan beban keluarga, terutama dalam merawat dan memenuhi kebutuhan anaknya.



