PILARadio.com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Indonesia di kancah internasional. Dua wakil Indonesia berhasil meraih posisi lima besar dalam Kompetisi Internasional King Abdulaziz untuk Hafalan, Tilawah, dan Tafsir Al-Qur’an ke-46 yang berlangsung di Makkah, Arab Saudi.
Ajang bergengsi tersebut tidak hanya menjadi panggung bagi para penghafal Al-Qur’an dari berbagai negara. Kompetisi King Abdulaziz ke-46 juga mencatat sejarah baru karena untuk pertama kalinya dalam penyelenggaraan kompetisi, peserta perempuan diperbolehkan mengikuti perlombaan.
Keikutsertaan peserta perempuan membuat penyelenggaraan tahun ini menjadi berbeda dibandingkan edisi-edisi sebelumnya. Para peserta putra dan putri datang dari berbagai negara untuk menunjukkan kemampuan dalam menghafal, membaca, serta memahami Al-Qur’an sesuai cabang yang mereka ikuti.
Indonesia menjadi salah satu negara yang berhasil mencuri perhatian. Dari empat peserta yang dikirim, dua di antaranya berhasil menembus posisi lima besar pada cabang masing-masing.
Prestasi tersebut diraih oleh Muhammad Husni Ash-Shiddiq pada kategori putra dan Fehima Najaha Asy-Syarifah pada kategori putri.
Keduanya sama-sama meraih juara kelima.
Bagi Indonesia, pencapaian tersebut menjadi catatan penting. Terlebih, Fehima mencatatkan sejarah sebagai hafizah Indonesia pertama yang berhasil meraih penghargaan dalam kompetisi Al-Qur’an internasional yang digelar di Makkah tersebut.
Kompetisi King Abdulaziz Ke-46 Catat Sejarah
Kompetisi Internasional King Abdulaziz merupakan salah satu ajang Al-Qur’an bergengsi yang mempertemukan peserta dari berbagai belahan dunia.
Pada penyelenggaraan ke-46 tahun ini, sebanyak 334 peserta dari 133 negara ambil bagian.
Para peserta bersaing dalam sejumlah cabang yang berkaitan dengan hafalan Al-Qur’an, tafsir, serta qira’at.
Kompetisi tahun ini memiliki keistimewaan tersendiri karena peserta perempuan untuk pertama kalinya diberikan kesempatan untuk berpartisipasi.
Keputusan tersebut membuka ruang yang lebih luas bagi para hafizah dari berbagai negara untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Bagi Indonesia, kehadiran peserta putri dalam kompetisi tersebut juga menjadi momentum penting.
Salah satunya adalah Fehima Najaha Asy-Syarifah yang kemudian berhasil meraih juara kelima pada cabang hafalan 15 juz putri.
Prestasi itu membuat nama Indonesia tercatat dalam sejarah baru kompetisi King Abdulaziz.
Dua Wakil Indonesia Berhasil Raih Juara
Indonesia mengirimkan empat peserta dalam Kompetisi Internasional King Abdulaziz ke-46.
Mereka berasal dari sejumlah daerah di Indonesia dan mengikuti cabang yang berbeda.
Empat wakil tersebut adalah:
- Aliifah Khansa Dewi dari Kalimantan Timur, peserta cabang Hafalan 30 Juz Putri.
- Fehima Najaha Asy-Syarifah dari Jawa Timur, peserta cabang Hafalan 15 Juz Putri.
- Muhammad Hasbi Assidik dari Kepulauan Riau, peserta cabang Hafalan 30 Juz Putra.
- Muhammad Habibul Haq al-Hanif dari Riau, peserta cabang Hafalan 15 Juz Putra.
Dari empat peserta tersebut, dua wakil berhasil masuk dalam daftar pemenang.
Muhammad Husni Ash-Shiddiq tercatat sebagai juara kelima pada Cabang 3 kategori putra, yaitu hafalan Al-Qur’an 30 juz.
Sementara Fehima Najaha Asy-Syarifah menjadi juara kelima pada Cabang 4 kategori putri, yakni hafalan 15 juz.
Keduanya berhak menerima hadiah uang dengan nilai yang cukup besar.
Muhammad Husni Raih Juara 5 Hafalan 30 Juz
Muhammad Husni Ash-Shiddiq berhasil meraih juara kelima Cabang 3 kategori putra, yaitu hafalan Al-Qur’an 30 juz.
Atas prestasinya tersebut, Muhammad Husni mendapatkan hadiah sebesar SAR 160.000 atau sekitar Rp660 juta.
Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa wakil Indonesia mampu bersaing dengan peserta dari berbagai negara dalam kompetisi Al-Qur’an tingkat internasional.
Cabang 3 menjadi salah satu kategori yang cukup kompetitif karena peserta dituntut memiliki hafalan 30 juz Al-Qur’an.
Kemampuan menjaga hafalan tentu membutuhkan proses panjang.
Para peserta harus memiliki ketelitian dalam melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an serta mampu mempertahankan hafalan dalam kondisi perlombaan.
Muhammad Husni berhasil melewati rangkaian kompetisi dan masuk ke dalam lima besar.
Posisi tersebut sekaligus menempatkan Indonesia dalam daftar negara yang berhasil meraih penghargaan pada cabang hafalan 30 juz putra.
Fehima Najaha Ukir Sejarah untuk Indonesia
Prestasi tidak kalah membanggakan diraih Fehima Najaha Asy-Syarifah.
Peserta asal Jawa Timur tersebut berhasil meraih juara kelima pada Cabang 4 kategori putri, yakni hafalan Al-Qur’an 15 juz.
Fehima berhak mendapatkan hadiah sebesar SAR 110.000, atau sekitar Rp454 juta.
Namun, pencapaian Fehima tidak hanya dilihat dari hadiah yang diterimanya.
Namanya menjadi bagian dari sejarah kompetisi King Abdulaziz karena ia tercatat sebagai hafizah Indonesia pertama yang meraih penghargaan di Makkah dalam ajang tersebut.
Momen tersebut menjadi semakin istimewa karena kompetisi tahun ini merupakan penyelenggaraan pertama yang secara resmi membuka kesempatan bagi peserta perempuan.
Fehima berhasil memanfaatkan kesempatan tersebut dengan meraih posisi lima besar.
Prestasi tersebut sekaligus menjadi kebanggaan bagi Indonesia dan daerah asalnya, Jawa Timur.
Pengumuman Pemenang Digelar di Makkah
Pengumuman pemenang dan penyerahan penghargaan berlangsung pada Rabu, 19 Agustus 2026 malam waktu setempat, atau Kamis, 20 Agustus 2026 dini hari waktu Indonesia.
Acara penghargaan untuk peserta putra digelar di kompleks Masjidil Haram, Makkah.
Acara tersebut dihadiri Wakil Gubernur Makkah, Pangeran Saud bin Mishal bin Abdulaziz, yang hadir mewakili Raja Salman.
Sementara itu, acara penghargaan bagi peserta putri berlangsung di Hilton Convention Hotel Makkah.
Acara tersebut turut dihadiri Putri Fahda bint Falah Al Hithlain, istri Raja Salman.
Pemisahan lokasi penghargaan antara peserta putra dan putri menjadi bagian dari pelaksanaan kompetisi tahun ini.
Hadiah Kompetisi King Abdulaziz Capai Puluhan Miliar
Kompetisi Internasional King Abdulaziz ke-46 menawarkan hadiah dengan nilai total lebih dari Rp48 miliar.
Besarnya hadiah menunjukkan tingginya perhatian terhadap kompetisi hafalan, tilawah, dan tafsir Al-Qur’an tersebut.
Para peserta tidak hanya berkompetisi untuk mendapatkan hadiah. Ajang ini juga menjadi kesempatan bagi para penghafal Al-Qur’an untuk bertemu dengan peserta dari berbagai negara.
Setiap peserta juga mendapatkan uang apresiasi sebesar SAR5.000, atau sekitar Rp23,7 juta, dari pihak penyelenggara.
Pemberian apresiasi tersebut diberikan kepada seluruh peserta yang mengikuti kompetisi.
Dengan jumlah peserta mencapai 334 orang dari 133 negara, ajang ini menjadi salah satu pertemuan internasional yang mempertemukan generasi muda dan penghafal Al-Qur’an dari berbagai latar belakang.
Cabang Perlombaan King Abdulaziz 2026
Kompetisi King Abdulaziz ke-46 terbagi dalam lima cabang utama untuk peserta putra dan lima cabang untuk peserta putri.
Cabang pertama merupakan hafalan 30 juz yang dipadukan dengan tujuh qira’at mutawatir.
Cabang kedua adalah hafalan 30 juz dan tafsir mufradat.
Cabang ketiga khusus hafalan 30 juz.
Cabang keempat merupakan hafalan 15 juz.
Sedangkan cabang kelima adalah hafalan lima juz.
Pembagian tersebut memberikan kesempatan kepada peserta dengan tingkat kemampuan hafalan yang berbeda untuk berkompetisi.
Tidak semua peserta harus mengikuti kategori hafalan 30 juz. Peserta dapat mengikuti cabang sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh penyelenggara.
Daftar Pemenang Kategori Putra
Cabang 1: Hafalan 30 Juz dan 7 Qira’at Mutawatir
Pada cabang pertama kategori putra, peserta yang berhasil meraih lima besar adalah:
- Abdurrahman bin Mukhtar bin Ahmad Muhammad dari Arab Saudi – SAR500.000
- Abdul Karim Rajab Agha dari Suriah – SAR450.000
- Qasim Saif Rasul Tsalats Biyukovich dari Kirgizstan – SAR400.000
- Abdullah bin Ahmad bin Abdurrazzaq Al-Math’u dari Arab Saudi – SAR350.000
- Umar Faruq dari Kamerun – SAR325.000
Cabang ini menjadi salah satu kategori dengan nilai hadiah tertinggi.
Peserta tidak hanya diuji dari kemampuan menghafal 30 juz, tetapi juga harus menguasai tujuh qira’at mutawatir.
Cabang 2: Hafalan 30 Juz dan Tafsir Mufradat
Lima peserta terbaik pada cabang kedua adalah:
- Umar bin Abdullah bin Hamad As-Shabih dari Arab Saudi – SAR300.000
- Fattal Zakaria dari Aljazair – SAR275.000
- Badr Sayed Hamid Yusuf Musyail dari Bahrain – SAR250.000
- Ahmad bin Hamad bin Rasyid As-Suhaili dari Arab Saudi – SAR225.000
- Muhammad Marza Abdullah dari Nigeria – SAR220.000
Kategori ini menggabungkan kemampuan hafalan dengan pemahaman tafsir mufradat.
Cabang 3: Hafalan 30 Juz
Cabang ketiga menjadi salah satu kategori yang membawa nama Indonesia ke daftar pemenang.
Lima besar pada kategori ini adalah:
- Naji Athiyah Naji bin Sulaiman dari Libya – SAR200.000
- Muhammad Al-Wadi Al-Gharbi dari Tunisia – SAR190.000
- Syekh Muhammad Mahmud Al-Hasan dari Bangladesh – SAR180.000
- Ubaid Husain dari Inggris – SAR170.000
- Muhammad Husni Ash-Shiddiq dari Indonesia – SAR160.000
Muhammad Husni menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang masuk lima besar pada kategori tersebut.
Cabang 4: Hafalan 15 Juz
Lima pemenang pada cabang hafalan 15 juz putra adalah:
- Muhammad Zakaria dari Bangladesh – SAR150.000
- Hammam Mustafa Al-‘Abid Zirqan dari Libya – SAR140.000
- Mir Yusuf Musa dari Kirgizstan – SAR130.000
- Abdulhalim Syekh Dhiya dari Arab Saudi – SAR120.000
- Syaban Mubin dari Myanmar – SAR110.000
Cabang 5: Hafalan 5 Juz
Lima besar pada cabang hafalan lima juz putra adalah:
- Toria Taufiq dari Myanmar – SAR65.000
- Syakir Syeikh Ghosob dari Bangladesh – SAR60.000
- Muhammad Imad Iyas Muhammad dari Sierra Leone – SAR55.000
- Nasir Syafi Khan dari Afghanistan – SAR50.000
- Barak Azim dari Brasil – SAR45.000
Daftar Pemenang Kategori Putri
Penyelenggaraan kategori putri menjadi bagian penting dalam sejarah Kompetisi King Abdulaziz tahun ini.
Untuk pertama kalinya, peserta perempuan mendapat kesempatan berkompetisi dalam ajang tersebut.
Para peserta putri kemudian menunjukkan kemampuan mereka dalam berbagai cabang hafalan.
Cabang 1: Hafalan 30 Juz dan 7 Qira’at Mutawatir
Lima pemenang cabang pertama kategori putri adalah:
- Jum’ah Syurabithah dari Aljazair – SAR500.000
- Ra’id binti Husain bin Ali Al-Ridhwan dari Arab Saudi – SAR450.000
- Hibah binti Majid bin Rasyidi Al-Shamdi dari Arab Saudi – SAR400.000
- Iman Jamal Faruq Hasan dari Mesir – SAR350.000
- Shabihah Barghuts dari Suriah – SAR325.000
Cabang 2: Hafalan 30 Juz dan Tafsir Mufradat
Pemenang lima besar pada cabang kedua adalah:
- Maryam Thah Armi Ibrahim dari Nigeria – SAR300.000
- Ummaturrahman Badi’ah Mathur Kulaib dari Bahrain – SAR275.000
- Amani binti Syaib bin Aun Al-Hasbiki Al-Harizi dari Arab Saudi – SAR250.000
- Zainab binti Ibrahim bin Abdul Salam Idris dari Arab Saudi – SAR225.000
- Syumu’ binti Faiz bin Hamdan Az-Zahrani dari Arab Saudi – SAR220.000
Cabang 3: Hafalan 30 Juz
Lima peserta terbaik dalam cabang hafalan 30 juz putri adalah:
- Shafa Iman bin Yahya dari Aljazair – SAR200.000
- Zainab Abdurrahman dari Ghana – SAR190.000
- Musfirah binti Mahmud dari Bangladesh – SAR180.000
- Fatimah Syafa Zahir dari Maladewa – SAR170.000
- Fathiyah Hasan Rasyid dari Kenya – SAR160.000
Cabang 4: Hafalan 15 Juz
Pada cabang inilah Indonesia kembali mencatatkan prestasi melalui Fehima Najaha Asy-Syarifah.
Berikut lima besar pemenangnya:
- Bint Ji Mun dari Myanmar – SAR150.000
- Rami Syahir Yusuf Yunus dari Palestina – SAR140.000
- Rabithah binti Ramadhan dari Bangladesh – SAR130.000
- Maisam binti Ahmad bin Muhammad bin Sarhan Al-Habsiyah dari Oman – SAR120.000
- Fehima Najaha Asy-Syarifah dari Indonesia – SAR110.000
Posisi kelima tersebut menjadi pencapaian bersejarah bagi Indonesia.
Fehima bukan hanya membawa pulang penghargaan, tetapi juga menjadi bagian dari catatan sejarah peserta perempuan Indonesia dalam kompetisi King Abdulaziz.
Cabang 5: Hafalan 5 Juz
Lima besar pada cabang hafalan lima juz putri adalah:
- Fatoum Faridah dari Madagaskar – SAR65.000
- Marya Ma’adah dari Barbados – SAR60.000
- Khanoma Kabaro dari Afrika Tengah – SAR55.000
- Hibah binti Zohar Khamsah dari Mauritius – SAR50.000
- Laily Bouzerich dari Bosnia dan Herzegovina – SAR45.000
Indonesia dan Tradisi Penghafal Al-Qur’an
Keberhasilan dua wakil Indonesia dalam kompetisi King Abdulaziz ke-46 kembali memperlihatkan keberadaan tradisi hafalan Al-Qur’an yang kuat di Indonesia.
Indonesia memiliki banyak lembaga pendidikan Al-Qur’an, pesantren, madrasah, rumah tahfiz, serta berbagai lembaga pembinaan hafiz dan hafizah.
Para peserta yang mengikuti kompetisi internasional umumnya melewati proses persiapan yang panjang.
Hafalan 15 juz maupun 30 juz membutuhkan konsistensi. Tidak cukup hanya menghafal ayat, peserta juga harus mampu menjaga hafalan agar tetap kuat ketika diuji.
Dalam kompetisi internasional, tekanan yang dihadapi tentu berbeda dengan kegiatan hafalan sehari-hari.
Peserta harus tampil di hadapan dewan juri dan bersaing dengan hafiz serta hafizah dari berbagai negara.
Karena itu, masuk lima besar menjadi pencapaian yang patut diapresiasi.
Prestasi Fehima Jadi Catatan Penting
Prestasi Fehima Najaha Asy-Syarifah memiliki makna tersendiri.
Ia menjadi hafizah Indonesia pertama yang berhasil mendapatkan penghargaan dalam kompetisi King Abdulaziz di Makkah.
Pencapaian tersebut terjadi pada saat kompetisi untuk pertama kalinya membuka kesempatan bagi peserta perempuan.
Dengan demikian, nama Fehima menjadi bagian dari sejarah baru penyelenggaraan kompetisi tersebut.
Bagi Indonesia, prestasi tersebut juga dapat menjadi motivasi bagi para hafizah muda untuk mengikuti kompetisi serupa di tingkat internasional.
Selama ini, kompetisi hafalan Al-Qur’an internasional telah menjadi salah satu ruang bagi para penghafal Al-Qur’an untuk mengukur kemampuan mereka.
Keberhasilan Fehima menunjukkan bahwa peserta dari Indonesia mampu bersaing di antara para hafizah dari berbagai negara.
334 Peserta dari 133 Negara
Skala Kompetisi King Abdulaziz ke-46 terlihat dari jumlah peserta yang datang.
Sebanyak 334 peserta dari 133 negara ambil bagian dalam kompetisi.
Peserta datang dari berbagai kawasan dunia, termasuk Asia, Afrika, Eropa, Timur Tengah, dan wilayah lainnya.
Keragaman peserta tersebut menjadikan kompetisi ini bukan hanya sebagai ajang perlombaan, tetapi juga sebagai pertemuan internasional para penghafal Al-Qur’an.
Setiap negara membawa wakil terbaiknya untuk mengikuti cabang yang tersedia.
Indonesia menjadi salah satu negara yang ikut ambil bagian dengan mengirimkan empat peserta.
Dua di antaranya berhasil masuk lima besar dan membawa pulang penghargaan.
Hadiah Bukan Satu-Satunya Tujuan
Nilai hadiah yang besar tentu menjadi salah satu daya tarik kompetisi.
Namun, bagi para peserta, pencapaian dalam ajang internasional seperti King Abdulaziz memiliki nilai yang lebih luas.
Mereka membawa nama negara dan menunjukkan kemampuan hafalan di hadapan peserta dari berbagai negara.
Bagi peserta asal Indonesia, keberhasilan Muhammad Husni dan Fehima juga menjadi kebanggaan tersendiri.
Muhammad Husni berhasil meraih posisi kelima pada hafalan 30 juz putra.
Fehima mendapatkan posisi kelima pada hafalan 15 juz putri.
Keduanya membuktikan bahwa wakil Indonesia mampu menembus persaingan internasional.
Harapan untuk Generasi Hafiz dan Hafizah Indonesia
Prestasi di Makkah tersebut diharapkan dapat memberikan motivasi kepada generasi muda Indonesia.
Hafalan Al-Qur’an membutuhkan proses yang tidak singkat. Konsistensi dalam mengulang hafalan menjadi bagian penting untuk menjaga kemampuan.
Kompetisi internasional juga memberikan tantangan berbeda karena peserta harus siap diuji di hadapan juri dari berbagai negara.
Keberhasilan Muhammad Husni dan Fehima dapat menjadi inspirasi bagi para pelajar dan santri yang sedang menekuni hafalan Al-Qur’an.
Lebih dari sekadar memenangkan kompetisi, perjalanan menuju ajang internasional membutuhkan disiplin dan persiapan yang matang.
Indonesia Ukir Sejarah di Makkah
Kompetisi Internasional King Abdulaziz ke-46 akhirnya menjadi momentum bersejarah bagi Indonesia.
Dua wakil Indonesia berhasil meraih juara kelima di kategori masing-masing.
Muhammad Husni Ash-Shiddiq membawa pulang penghargaan dari cabang hafalan 30 juz putra dengan hadiah SAR160.000.
Fehima Najaha Asy-Syarifah meraih penghargaan pada cabang hafalan 15 juz putri dengan hadiah SAR110.000.
Lebih dari itu, Fehima mencatatkan sejarah sebagai hafizah Indonesia pertama yang meraih penghargaan di Makkah dalam ajang tersebut.
Prestasi ini terasa semakin istimewa karena kompetisi King Abdulaziz ke-46 menjadi penyelenggaraan pertama yang membuka kesempatan bagi peserta perempuan.
Dengan diikuti 334 peserta dari 133 negara, persaingan yang dihadapi para wakil Indonesia jelas tidak mudah.
Namun, dua nama berhasil masuk dalam daftar pemenang.
Pencapaian tersebut menjadi kabar baik bagi dunia tahfiz Indonesia sekaligus menunjukkan bahwa para penghafal Al-Qur’an dari Tanah Air mampu bersaing dalam kompetisi internasional.
Kini, perhatian berikutnya tertuju pada bagaimana prestasi tersebut dapat menjadi motivasi bagi lahirnya lebih banyak hafiz dan hafizah Indonesia yang mampu berprestasi di tingkat dunia.
Bagi Muhammad Husni dan Fehima, penghargaan dari Makkah menjadi hasil dari perjuangan mereka di ajang internasional.
Sementara bagi Indonesia, dua gelar juara kelima tersebut menjadi catatan yang menambah panjang perjalanan prestasi para penghafal Al-Qur’an Indonesia di panggung dunia.
Sumber : www.kumparan.com



