MAJALENGKA, PILARadio – Kenaikan harga kedelai impor dan plastik yang terjadi secara bersamaan memberikan beban ganda bagi pengrajin tempe di Desa Pagandon, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Majalengka. Para pengrajin tempe ini memilih untuk memproduksi tempe menggunakan daun pisang.
Dampak dari kenaikan harga kedelai dan plastik membuat pengrajin tempe di Desa Pagandon, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, beralih ke daun pisang. Langkah ini menjadi strategi pengrajin tempe untuk mengurangi beban biaya produksi sekaligus menjaga harga jual tetap terjangkau bagi konsumen.
Selain itu, para pengrajin tempe rela mengecilkan ukuran tempe yang sebelumnya besar. Hal ini juga dipicu oleh tingginya harga kedelai yang terus naik. Khaliri, salah seorang pengrajin tempe, mengaku harga kedelai impor sebelumnya mencapai Rp 9.500 per kilogram, kini naik menjadi Rp 11.500 per kilogram. Kenaikan harga kedelai diikuti oleh melambungnya harga plastik sebagai bahan kemasan tempe, membuat pengrajin tempe merasa terbebani.
“Dampak kenaikan harga plastik jadi beralih ke daun pisang karena untuk mengurangi beban biaya produksi sekaligus menjaga harga jual tetap terjangkau bagi konsumen dan tidak mungkin juga menaikkan harga jadi kita mengecilkan ukuran tempe. Untuk Sekarang harga kedelai tinggi sebelumnya 9.500 perkg sekarang 11.500 perkg. Sebelumnya kita bisa menghabiskan enam kuintal kedelai. Namun setelah kenaikan harga, jumlah yang bisa digunakan hanya satu setengah kuintal dalam satu kali produksi” Ujarnya
Sebelum kenaikan harga berbagai bahan baku tempe, pengrajin tempe bisa menghabiskan enam kuintal kedelai. Namun setelah kenaikan harga, jumlah yang bisa digunakan hanya satu setengah kuintal dalam satu kali produksi. Meski tidak menaikkan harga tempe, pengrajin tempe mengalami penurunan omzet hingga 80 persen. Para pengrajin berharap pemerintah segera memberikan solusi dan mengatasi lonjakan harga yang terus meningkat.


















