PILARadio.com – Liga Italia musim 2026-2027 kembali memiliki cerita yang menarik bagi pencinta sepak bola Indonesia. Jejak Indonesia semakin terasa di kompetisi sepak bola Italia, baik melalui pemain yang memiliki keterkaitan dengan Indonesia maupun keterlibatan pengusaha Tanah Air dalam kepemilikan klub.
Nama Federico Barba menjadi salah satu bagian terbaru dari cerita tersebut. Bek yang sebelumnya memperkuat Persib Bandung itu resmi bergabung dengan Palermo dan akan melanjutkan kariernya di kompetisi sepak bola Italia. Palermo mengumumkan kedatangan Barba pada 29 Juli 2026 setelah sang pemain berstatus bebas transfer dari Persib Bandung.
Kepindahan Barba memang berbeda dengan cerita Jay Idzes dan Emil Audero. Barba bukan pemain keturunan Indonesia dan tidak memperkuat Timnas Indonesia. Namun, perjalanan kariernya di Indonesia bersama Persib Bandung membuat namanya memiliki kaitan dengan sepak bola Tanah Air.
Di sisi lain, Jay Idzes masih menjadi salah satu nama utama yang membawa identitas Indonesia di Liga Italia. Bek sekaligus kapten Timnas Indonesia tersebut tercatat masuk dalam daftar pemain Sassuolo untuk persiapan musim 2026-2027. Klub bahkan memasukkan nama Idzes dalam daftar pemain yang dipanggil untuk pemusatan latihan musim panas di Ronzone.
Sementara itu, masa depan Emil Audero memasuki babak baru setelah menyelesaikan masa peminjamannya di Cremonese. Kiper Timnas Indonesia tersebut kembali ke Como 1907, klub yang masih memegang kontraknya. Namun, posisinya untuk musim 2026-2027 masih menjadi perhatian karena belum sepenuhnya jelas apakah ia akan bertahan di Como atau melanjutkan karier di klub lain.
Bukan hanya pemain. Hubungan Indonesia dengan sepak bola Italia juga semakin kuat melalui Como 1907 yang dimiliki Djarum Group serta keterlibatan pengusaha Indonesia, Alvin Sariaatmadja, dalam kepemilikan saham US Lecce.
Dengan begitu, cerita Indonesia di Liga Italia musim 2026-2027 tidak hanya soal siapa yang turun ke lapangan. Ada pemain, pemilik klub, investasi, hingga perkembangan klub yang membuat hubungan sepak bola Indonesia dan Italia semakin menarik untuk diikuti.
Federico Barba Kembali ke Italia Setelah dari Persib Bandung
Federico Barba menjadi nama terbaru yang memperkuat hubungan antara sepak bola Indonesia dan Italia.
Bek asal Italia tersebut sebelumnya bermain untuk Persib Bandung. Setelah menyelesaikan kebersamaannya dengan klub asal Jawa Barat itu, Barba kembali ke negaranya untuk melanjutkan karier.
Palermo menjadi klub yang dipilih Barba. Pada 29 Juli 2026, Palermo secara resmi mengumumkan bahwa mereka telah mendapatkan jasa Barba yang sebelumnya berstatus bebas transfer dari Persib Bandung.
Kepindahan ini menarik perhatian karena Barba sebelumnya sudah merasakan atmosfer sepak bola Indonesia bersama Persib. Kini, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan kariernya ketika kembali ke Italia.
Palermo sendiri merupakan salah satu klub besar yang memiliki sejarah panjang dalam sepak bola Italia. Bergabungnya Barba memberikan warna baru dalam perjalanan karier sang pemain sekaligus menjadi penghubung menarik antara pengalaman bermain di Indonesia dan kompetisi Italia.
Bagi pencinta sepak bola Indonesia, nama Barba juga tidak asing. Ia pernah menjadi bagian dari Persib dan merasakan langsung atmosfer sepak bola Indonesia.
Karena itu, meskipun Barba bukan pemain Indonesia, perjalanannya tetap menarik untuk diperhatikan.
Musim 2026-2027 menjadi kesempatan bagi Barba untuk kembali membuktikan kemampuannya di sepak bola Italia.
Jay Idzes Tetap Jadi Andalan di Sassuolo
Jika Federico Barba menjadi wajah baru dalam cerita Indonesia di Italia, Jay Idzes tetap menjadi salah satu nama paling penting.
Jay Idzes memasuki musim baru bersama Sassuolo. Bek Timnas Indonesia tersebut tercantum dalam daftar pemain yang dipanggil untuk menjalani pemusatan latihan Sassuolo di Ronzone pada Juli 2026.
Keberadaan Idzes dalam skuad Sassuolo menunjukkan bahwa dirinya masih masuk dalam rencana klub.
Musim sebelumnya juga menjadi periode penting bagi Idzes. Sassuolo memberikan peran besar kepada pemain kelahiran Belanda tersebut sejak bergabung.
Bahkan, Sassuolo mencatat Idzes telah mengoleksi 29 penampilan dengan total 2.610 menit bermain pada musim pertamanya bersama klub. Angka tersebut menunjukkan bahwa Idzes bukan sekadar pelapis, melainkan mendapatkan kepercayaan cukup besar di lini belakang.
Performa tersebut turut mendapat pengakuan dari sepak bola Indonesia.
Pada Maret 2026, Jay Idzes mendapatkan penghargaan sebagai Indonesian Player of the Year dalam PSSI Awards. Sassuolo sendiri memberikan ucapan selamat kepada kapten Timnas Indonesia tersebut melalui kanal resmi klub.
Penghargaan itu menjadi salah satu pencapaian penting bagi Idzes setelah menjalani musim yang cukup padat.
Ia bukan hanya berperan bersama Sassuolo, tetapi juga menjadi salah satu pemain utama Timnas Indonesia.
Musim Ketiga Jay Idzes di Level Tertinggi Italia
Keberadaan Jay Idzes di Italia bukan lagi sesuatu yang baru.
Ia telah membangun pengalaman cukup panjang di sepak bola Negeri Pizza. Setelah sebelumnya memperkuat Venezia, Idzes kemudian melanjutkan perjalanan bersama Sassuolo.
Musim 2026-2027 menjadi kesempatan berikutnya bagi Idzes untuk terus menunjukkan perkembangan.
Peran Idzes juga semakin menarik karena ia tidak hanya berstatus sebagai pemain asing di klub Italia. Di Indonesia, dirinya merupakan kapten Timnas Indonesia.
Status tersebut membuat setiap penampilan Idzes bersama Sassuolo mendapatkan perhatian lebih besar dari publik Tanah Air.
Setiap pertandingan yang dimainkan Idzes menjadi bahan evaluasi, terutama karena pengalaman bermain di kompetisi Italia menjadi modal penting bagi Timnas Indonesia.
Gaya bermain sepak bola Italia yang terkenal dengan perhatian besar terhadap organisasi pertahanan juga memberikan pengalaman berharga bagi Idzes.
Ia harus berhadapan dengan berbagai karakter penyerang dan sistem permainan yang berbeda.
Pengalaman tersebut dapat menjadi modal ketika Idzes kembali memperkuat Timnas Indonesia dalam pertandingan internasional.
Sassuolo Masih Memasukkan Nama Jay Idzes
Salah satu hal penting menjelang musim baru adalah keputusan Sassuolo memasukkan Jay Idzes dalam daftar pemain yang mengikuti pemusatan latihan.
Pada 13 Juli 2026, Sassuolo mengumumkan daftar pemain yang dipanggil untuk menjalani persiapan musim panas di Ronzone.
Nama Jay Idzes tercantum di antara para pemain belakang yang dipanggil pelatih Alberto Aquilani.
Hal ini menjadi sinyal bahwa Idzes masih menjadi bagian dari rencana Sassuolo.
Kehadiran Aquilani sebagai pelatih juga menjadi faktor menarik yang perlu diperhatikan.
Pelatih tentu memiliki gambaran sendiri mengenai komposisi lini belakang dan sistem permainan yang akan digunakan.
Bagi Idzes, masa pramusim menjadi kesempatan penting untuk mendapatkan tempat utama dan membangun komunikasi dengan rekan-rekan setim.
Persaingan di lini belakang Sassuolo tentu tidak mudah. Namun, pengalaman yang sudah dimiliki Idzes menjadi modal penting.
Emil Audero dan Masa Depan yang Belum Sepenuhnya Jelas
Selain Jay Idzes, nama Emil Audero juga menjadi bagian dari cerita pemain Timnas Indonesia di Italia.
Emil Audero menjalani musim 2025-2026 sebagai pemain pinjaman di Cremonese dari Como 1907.
Di Cremonese, Audero mendapatkan kesempatan bermain cukup banyak dan menjadi salah satu pemain penting di bawah mistar gawang.
Data yang dipublikasikan Okezone menyebut Audero mencatat 35 penampilan di semua kompetisi dan 11 clean sheet bersama Cremonese.
Namun, perjalanan Cremonese di Serie A tidak berakhir sesuai harapan.
Klub tersebut harus menerima kenyataan turun kasta ke Serie B setelah menyelesaikan musim di posisi 18.
Situasi tersebut kemudian memengaruhi masa depan Audero.
Cremonese tidak mempermanenkan sang kiper dan Audero kembali ke Como 1907 setelah masa peminjamannya berakhir.
Como sendiri masih menjadi klub yang memiliki kontrak Audero. Data terkini mencatat kontrak Audero bersama Como berlangsung hingga 30 Juni 2028.
Namun, memiliki kontrak tidak otomatis membuat posisi Audero di skuad utama menjadi aman.
Audero Kembali ke Como
Setelah masa peminjaman berakhir, Audero kembali ke Como.
Kepulangan tersebut sebenarnya bukan hal yang mengejutkan karena Como merupakan klub yang masih memiliki kontraknya.
Namun, persoalan berikutnya adalah apakah Audero akan menjadi pilihan utama di bawah mistar gawang Como pada musim 2026-2027.
Situasi tersebut membuat masa depan kiper Timnas Indonesia menjadi salah satu hal yang menarik untuk dipantau.
Audero memiliki pengalaman panjang di Serie A.
Ia pernah bermain bersama Sampdoria dan beberapa klub lain melalui skema peminjaman. Pengalaman tersebut membuatnya memiliki jam terbang yang cukup tinggi dibandingkan banyak kiper muda.
Namun, persaingan untuk mendapatkan posisi utama tetap menjadi tantangan.
Apalagi Como memasuki musim yang sangat penting dalam sejarah klub.
Como 1907, Klub Milik Indonesia yang Mencuri Perhatian
Jika berbicara mengenai hubungan Indonesia dan Liga Italia, nama Como 1907 tidak bisa dilewatkan.
Como merupakan klub Italia yang dimiliki oleh Djarum Group, salah satu kelompok bisnis besar asal Indonesia.
Menurut keterangan resmi Como 1907, klub tersebut diakuisisi oleh Djarum Group pada 2019 ketika Como sedang menghadapi persoalan besar dan berada di Serie D. Setelah proses pembangunan kembali, klub berhasil bangkit dan kembali ke Serie A pada 2023-2024.
Perjalanan tersebut menjadi salah satu kisah kebangkitan menarik dalam sepak bola Italia.
Como tidak hanya berhasil kembali ke Serie A. Klub tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu tim yang menarik perhatian publik Eropa.
Pada musim 2026-2027, Como bahkan akan menjalani musim bersejarah karena untuk pertama kalinya tampil di UEFA Champions League. Klub secara resmi menyebut musim tersebut sebagai musim pertama mereka di kompetisi paling bergengsi antarklub Eropa.
Keterlibatan Indonesia di Como pun semakin terlihat melalui sosok Mirwan Suwarso yang menjabat sebagai presiden klub.
Artinya, hubungan Indonesia dengan sepak bola Italia tidak hanya berlangsung di level pemain.
Ada pula peran langsung dalam pengelolaan klub.
Mirwan Suwarso dan Proyek Besar Como 1907
Mirwan Suwarso menjadi salah satu sosok yang sering muncul dalam perjalanan Como 1907.
Sebagai presiden klub, ia berada di tengah proses perubahan Como dari klub yang sempat mengalami masa sulit menjadi klub yang kini bermain di level tertinggi Italia dan tampil di Liga Champions.
Proyek Como tidak dibangun hanya dalam waktu singkat.
Klub memilih membangun fondasi secara bertahap.
Pengembangan pemain, struktur klub, fasilitas, hingga strategi transfer menjadi bagian dari proses tersebut.
Keberhasilan Como menembus Liga Champions menjadi bukti bahwa investasi dan perencanaan jangka panjang mulai memberikan hasil.
Bagi sepak bola Indonesia, keberadaan Como memberikan kebanggaan tersendiri.
Sebab, ada perusahaan dan pengelola asal Indonesia yang ikut berada di balik perjalanan sebuah klub Italia hingga mencapai kompetisi Eropa.
Como Tidak Sekadar Mengandalkan Pemain Bintang
Salah satu hal yang menarik dari Como adalah strategi pembangunan skuad.
Klub tidak sekadar mengandalkan pembelian pemain berharga tinggi.
Como juga memberikan ruang bagi pemain muda untuk berkembang.
Strategi tersebut terlihat dari sejumlah pemain yang kemudian mendapatkan perhatian klub-klub besar Eropa.
Nico Paz menjadi salah satu nama yang paling mencuri perhatian.
Pemain asal Argentina tersebut tampil menonjol bersama Como. Statistik resmi klub mencatat Nico Paz tampil dalam 35 pertandingan Serie A 2025-2026, dengan 33 kali menjadi starter dan mencetak 12 gol.
Selain Paz, ada pula Martin Baturina dan Assane Diao.
Ketiganya menjadi bagian dari generasi pemain yang membuat Como semakin menarik perhatian.
Baturina bahkan mencetak gol dalam kemenangan Como atas Pisa, sementara Diao juga menjadi pencetak gol dalam pertandingan tersebut.
Como Bersiap Menghadapi Liga Champions
Musim 2026-2027 akan menjadi musim yang sangat berbeda bagi Como.
Selain bersaing di Serie A, klub juga akan menghadapi persaingan di Liga Champions.
Untuk klub yang baru beberapa tahun lalu kembali dari kasta bawah, pencapaian tersebut merupakan lompatan yang sangat besar.
Como sendiri telah memperkenalkan jersey musim 2026-2027 yang akan digunakan pada musim bersejarah tersebut. Klub menyebut musim ini sebagai penampilan pertama Como di UEFA Champions League.
Bagi pemilik klub asal Indonesia, pencapaian tersebut tentu menjadi bagian penting dari proyek yang telah dibangun sejak 2019.
Bagi publik Indonesia, keberhasilan Como juga memberikan cerita menarik mengenai bagaimana investasi dari Tanah Air dapat berkembang hingga panggung tertinggi sepak bola Eropa.
Indonesia Juga Punya Jejak di US Lecce
Como bukan satu-satunya klub Italia yang memiliki keterlibatan pengusaha Indonesia.
Ada pula US Lecce.
Pada 2022, pengusaha Indonesia Alvin Sariaatmadja melalui konsorsium bersama Boris Collardi dan Pascal Picci mengakuisisi sekitar 10 persen saham Lecce.
Akuisisi tersebut dilakukan ketika Lecce baru saja kembali promosi ke Serie A.
Keterlibatan Alvin menunjukkan bahwa minat pengusaha Indonesia terhadap sepak bola Italia bukan hanya terjadi di Como.
Lecce memiliki karakter yang berbeda dengan Como.
Jika Como kini berkembang dengan proyek besar dan tampil di Liga Champions, Lecce lebih dikenal sebagai klub yang harus bekerja keras mempertahankan eksistensinya di Serie A.
Namun, kehadiran investor Indonesia di struktur kepemilikan tetap menjadi bagian dari hubungan sepak bola kedua negara.
Dari Pemain hingga Pemilik Klub
Jika melihat perkembangan beberapa tahun terakhir, jejak Indonesia di Liga Italia semakin beragam.
Ada pemain Timnas Indonesia seperti Jay Idzes dan Emil Audero.
Ada Federico Barba yang pernah bermain di Indonesia bersama Persib Bandung sebelum kembali ke Italia.
Ada pula Como 1907 yang dimiliki Djarum Group dan dipimpin Mirwan Suwarso.
Selain itu, ada Alvin Sariaatmadja yang memiliki saham di US Lecce.
Artinya, hubungan Indonesia dengan sepak bola Italia tidak lagi hanya terjadi melalui pemain yang turun ke lapangan.
Keterlibatan tersebut sudah masuk ke sektor manajemen dan investasi klub.
Perkembangan ini tentu menarik bagi publik Indonesia karena membuka perspektif baru mengenai hubungan sepak bola kedua negara.
Liga Italia Tetap Menjadi Tempat Penting bagi Pemain Indonesia
Bagi pemain Indonesia, bermain di Liga Italia tentu memberikan pengalaman yang sangat berharga.
Kompetisi Italia dikenal memiliki karakter permainan yang kuat dalam hal taktik dan organisasi.
Bermain di kompetisi tersebut membuat pemain harus memahami berbagai aspek permainan secara lebih detail.
Jay Idzes menjadi contoh bagaimana pemain Indonesia dapat berkembang melalui pengalaman tersebut.
Dari Venezia hingga Sassuolo, Idzes terus mendapatkan pengalaman di level kompetitif Italia.
Konsistensinya bersama Sassuolo bahkan mendapatkan penghargaan Indonesian Player of the Year pada PSSI Awards 2026.
Sementara Emil Audero memberikan contoh lain.
Ia memiliki pengalaman panjang di sepak bola Italia dan kini menjadi bagian dari Timnas Indonesia.
Perjalanannya menunjukkan bahwa pemain yang memiliki pengalaman di Italia dapat membawa pengalaman tersebut ke level internasional.
Tantangan Jay Idzes di Musim Baru
Meski sudah mendapatkan kepercayaan besar dari Sassuolo, musim baru tetap menghadirkan tantangan bagi Jay Idzes.
Ia harus kembali bersaing untuk mendapatkan posisi utama.
Kompetisi internal di lini belakang akan menjadi salah satu faktor penting.
Selain itu, jadwal yang padat juga dapat menjadi tantangan.
Jika Sassuolo harus menjalani pertandingan liga dengan intensitas tinggi, Idzes perlu menjaga kondisi fisiknya.
Di sisi lain, tugas bersama Timnas Indonesia juga membuat jadwalnya semakin padat.
Pengalaman tersebut akan menguji konsistensi Idzes sebagai pemain profesional.
Bagi Timnas Indonesia, kondisi Idzes juga menjadi perhatian karena ia merupakan salah satu pemain utama sekaligus kapten.
Masa Depan Emil Audero Masih Menarik Ditunggu
Berbeda dengan Idzes, masa depan Emil Audero masih lebih sulit diprediksi.
Setelah kembali ke Como, Audero perlu melihat situasi skuad sebelum menentukan langkah berikutnya.
Sebelumnya, agennya juga menyebut akan melakukan pembicaraan dengan pihak Como mengenai masa depan pemain tersebut.
Beberapa klub sempat dikaitkan dengan Audero, termasuk Sampdoria.
Namun, hingga pertengahan 2026, belum ada kepastian bahwa ia akan kembali ke klub tersebut secara permanen.
Kondisi ini membuat bursa transfer menjadi periode penting bagi Audero.
Jika bertahan di Como, ia harus bersaing mendapatkan tempat.
Jika memilih pindah, ia perlu menemukan klub yang memberikan kesempatan bermain secara reguler.
Bagi seorang kiper, menit bermain sangat penting.
Terutama bagi Audero yang juga memiliki tanggung jawab bersama Timnas Indonesia.
Persaingan Kiper Jadi Faktor Penting
Como memiliki ambisi besar pada musim 2026-2027.
Dengan status sebagai peserta Liga Champions, klub tentu membutuhkan kedalaman skuad yang baik.
Posisi penjaga gawang juga tidak terkecuali.
Audero memiliki pengalaman yang menjadi nilai tambah.
Namun, usia dan kebutuhan klub terhadap regenerasi juga dapat menjadi pertimbangan.
Audero kini berusia 29 tahun dan memiliki pengalaman panjang di Serie A. Data pemain mencatat dirinya masih terikat kontrak dengan Como hingga Juni 2028.
Keputusan Como mengenai masa depan Audero akan menjadi salah satu cerita menarik menjelang bergulirnya musim baru.
Federico Barba Menambah Warna Baru
Kepindahan Federico Barba ke Palermo membuat cerita Indonesia di sepak bola Italia semakin unik.
Barba datang ke Italia setelah sebelumnya menjalani pengalaman bermain bersama Persib Bandung.
Ia membawa pengalaman sepak bola Indonesia kembali ke Italia.
Palermo sendiri menyambut Barba setelah ia berstatus bebas transfer dari Persib.
Pengumuman resmi klub pada akhir Juli 2026 memastikan kepindahan tersebut.
Bagi Barba, tantangannya kini adalah kembali beradaptasi dengan sepak bola Italia.
Sementara bagi publik Indonesia, perjalanannya menjadi menarik karena ia merupakan salah satu pemain yang pernah merasakan atmosfer kompetisi domestik Tanah Air sebelum kembali ke Eropa.
Jejak Indonesia Semakin Terlihat di Italia
Musim 2026-2027 bisa menjadi salah satu periode menarik dalam hubungan sepak bola Indonesia dan Italia.
Jay Idzes masih berada di Sassuolo.
Emil Audero kembali ke Como setelah menjalani masa peminjaman di Cremonese.
Federico Barba kembali ke Italia setelah sebelumnya bermain bersama Persib Bandung.
Sementara Como 1907 yang dimiliki Djarum Group akan menjalani musim bersejarah dengan tampil di Liga Champions.
Di sisi lain, US Lecce juga memiliki keterlibatan investor asal Indonesia melalui Alvin Sariaatmadja.
Semua cerita tersebut memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia dan sepak bola Italia terus berkembang.
Bukan Hanya Soal Pemain
Perkembangan ini juga menunjukkan perubahan cara publik Indonesia memandang sepak bola luar negeri.
Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju kepada pemain Indonesia yang berkarier di Eropa, kini kepemilikan klub dan investasi juga menjadi bagian dari cerita.
Como menjadi contoh paling jelas.
Djarum Group mengambil alih klub ketika Como berada dalam kondisi sulit. Beberapa tahun kemudian, klub tersebut kembali ke Serie A dan kini bersiap tampil di Liga Champions.
Perjalanan tersebut tentu tidak bisa dilepaskan dari proses pembangunan klub yang dilakukan secara bertahap.
Kehadiran Mirwan Suwarso sebagai presiden juga membuat sosok Indonesia terlihat dalam struktur penting klub.
Musim 2026-2027 Jadi Panggung Pembuktian
Bagi Jay Idzes, musim baru adalah kesempatan untuk kembali menunjukkan bahwa dirinya pantas menjadi bagian penting dari Sassuolo.
Bagi Emil Audero, musim baru akan menjadi penentu arah kariernya.
Sementara bagi Federico Barba, kembali ke Italia bersama Palermo menjadi kesempatan untuk membuka lembaran baru setelah pengalaman bermain di Indonesia.
Untuk Como 1907, musim 2026-2027 bahkan memiliki arti yang jauh lebih besar.
Klub akan menghadapi tantangan di Serie A sekaligus Liga Champions.
Dengan kepemilikan Djarum Group dan Mirwan Suwarso sebagai presiden, Como menjadi salah satu klub yang membuat nama Indonesia semakin dikenal dalam sepak bola Italia.
Jejak Indonesia Bisa Semakin Panjang
Apa yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa hubungan sepak bola Indonesia dan Italia memiliki peluang untuk terus berkembang.
Keberadaan pemain seperti Jay Idzes dan Emil Audero membuat masyarakat Indonesia semakin akrab dengan kompetisi Italia.
Keterlibatan pengusaha Indonesia di Como dan Lecce memberikan dimensi lain.
Sementara pengalaman Federico Barba bersama Persib kemudian kembali ke Italia menjadi cerita unik yang menghubungkan sepak bola Indonesia dengan Italia dari arah berbeda.
Jika perkembangan tersebut terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan semakin banyak cerita mengenai keterlibatan Indonesia di sepak bola Italia.
Untuk musim 2026-2027, perhatian utama tentu akan tertuju kepada Jay Idzes di Sassuolo, masa depan Emil Audero, perjalanan Federico Barba bersama Palermo, serta Como 1907 yang akan membuat sejarah baru di Liga Champions.
Bagi pencinta sepak bola Indonesia, keberadaan nama-nama tersebut memberikan alasan tambahan untuk mengikuti Liga Italia musim ini.
Bukan sekadar melihat pertandingan, tetapi juga menyaksikan bagaimana jejak Indonesia semakin terlihat di salah satu kompetisi sepak bola paling bersejarah di Eropa.
Dari seorang bek Timnas Indonesia di Sassuolo, kiper Timnas Indonesia yang masih mencari kepastian klub, pemain Italia yang pernah memperkuat Persib, hingga pengusaha Indonesia yang berada di balik kepemilikan klub, semuanya membentuk satu cerita yang sama.
Indonesia semakin dekat dengan sepak bola Italia.
Musim 2026-2027 pun menjadi babak baru untuk melihat sejauh mana perjalanan tersebut akan berkembang.
Sumber : www.kompas.com




