PILARadio.com – Gaya hidup vegan semakin berkembang dan menjadi bagian dari tren global yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk pariwisata dunia. Vegan merupakan gaya hidup yang sepenuhnya menghindari konsumsi serta penggunaan produk hewani, baik dalam bentuk makanan seperti daging, susu, telur, dan madu, maupun produk non-makanan seperti kulit, wol, serta kosmetik yang diuji pada hewan. Fokus utama gaya hidup ini adalah pada konsumsi makanan berbasis nabati, seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan, serta komitmen untuk menolak segala bentuk eksploitasi terhadap hewan.
Seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan, lingkungan, dan kesejahteraan hewan, jumlah vegan di dunia terus bertambah. Saat ini, populasi vegan global diperkirakan telah mencapai sekitar 26 juta orang. Pertumbuhan ini mendorong perubahan dalam industri makanan, perhotelan, hingga destinasi wisata ramah vegan yang kini semakin diperhitungkan oleh para pelancong.
Selandia Baru Peringkat Teratas Destinasi Wisata Vegan Dunia
Laporan terbaru dari The Vegan Society mengungkap daftar negara terbaik di dunia untuk wisatawan vegan. Laporan bertajuk Veganism Around the World yang dirilis pada Januari lalu ini menyoroti bagaimana gaya hidup berbasis tanaman memengaruhi budaya, perjalanan, hingga sektor bisnis global.
Dilansir dari Travel and Leisure, studi ini disusun berdasarkan riset data lintas negara serta survei langsung di 10 negara, dengan tujuan memetakan wilayah yang paling ramah terhadap veganisme. Salah satu indikator utama yang digunakan adalah jumlah restoran ramah vegan per kapita, termasuk restoran vegan murni dan restoran umum yang menyediakan menu berbasis nabati.
Berdasarkan hasil riset tersebut, Selandia Baru menempati posisi teratas sebagai destinasi terbaik dunia untuk wisatawan vegan. Peringkat ini didukung oleh kualitas bahan pangan segar yang sangat baik, sistem produksi lokal yang kuat, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap makanan berbasis tanaman.
Kualitas Bahan Pangan Jadi Keunggulan Selandia Baru
Keunggulan Selandia Baru sebagai destinasi wisata vegan tidak lepas dari kekayaan alam dan hasil buminya. Plabita Florence, koki sekaligus pemilik Forest Restaurant di Auckland, menyebut bahwa negara tersebut memiliki potensi besar dalam pengembangan kuliner vegan.
“Kami memiliki hasil bumi yang sangat segar dan berkualitas tinggi. Ini menjadi faktor penting dalam memasak tanpa menggunakan produk hewani,” ujar Florence kepada Travel and Leisure.
Produksi lokal yang melimpah membuat bahan makanan nabati tidak perlu menempuh perjalanan jauh sebelum sampai ke dapur restoran. Hal ini berpengaruh langsung pada rasa, tekstur, dan kualitas makanan, yang menjadi nilai tambah bagi wisatawan vegan. Selain itu, iklim Selandia Baru yang relatif sejuk dan stabil sepanjang tahun memungkinkan ketersediaan berbagai jenis bahan pangan nabati tanpa terpengaruh musim ekstrem.
Tantangan Perkembangan Veganisme di Selandia Baru
Meski menempati peringkat teratas, Florence mengakui bahwa perkembangan gerakan vegan di Selandia Baru masih berjalan secara bertahap. Jumlah restoran vegan murni di negara tersebut belum sebanyak di beberapa negara lain. Namun, semakin banyak restoran konvensional yang mulai menyediakan menu vegan sebagai bagian dari adaptasi terhadap tren global.
Hal ini justru membuka peluang besar bagi industri kuliner dan pariwisata di Selandia Baru untuk terus berkembang dan menarik lebih banyak wisatawan berbasis gaya hidup nabati.
Destinasi Paling Ramah Wisatawan Vegan Lainnya
Selain Selandia Baru, laporan The Vegan Society juga menyoroti sejumlah negara lain yang dinilai ramah bagi wisatawan vegan. Taiwan menempati posisi teratas dalam jumlah restoran vegan murni per kapita, menjadikannya salah satu tujuan favorit bagi pelancong vegan di Asia.
Di kawasan Eropa, Islandia menjadi negara paling menonjol. Sekitar 43 persen restoran di Islandia diketahui menawarkan setidaknya satu menu vegan, menunjukkan tingginya inklusivitas kuliner di negara tersebut. Sementara itu, Portugal menempati peringkat kedua dunia untuk jumlah restoran vegan murni per kapita, menjadikannya salah satu destinasi utama wisata vegan di Eropa Selatan.
Amerika Serikat juga masuk dalam daftar destinasi ramah vegan, terutama karena memiliki jumlah restoran vegan terbanyak secara absolut. Dengan sebaran restoran vegan di berbagai kota besar, wisatawan vegan relatif mudah menemukan pilihan makanan berbasis nabati di hampir seluruh wilayah negara tersebut.
Tren Vegan Membentuk Peta Baru Pariwisata Dunia
Laporan ini menunjukkan bahwa tren vegan tidak hanya memengaruhi pola makan masyarakat global, tetapi juga membentuk peta baru pariwisata dunia. Destinasi yang mampu menyediakan pilihan makanan vegan berkualitas kini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan internasional.
Bagi pelancong yang mengutamakan gaya hidup berbasis nabati, negara-negara seperti Selandia Baru, Taiwan, Islandia, Portugal, dan Amerika Serikat dinilai menawarkan pengalaman perjalanan yang lebih ramah, inklusif, dan berkelanjutan. Ke depan, wisata vegan diprediksi akan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran global terhadap kesehatan dan lingkungan.
Sumber : www.kumparan.com

















