Survei: 3 dari 4 Pilot Pernah Alami Microsleep Saat Menerbangkan Pesawat

Survei : 3 dari 4 Pilot Pernah Alami Microsleep Saat Menerbangkan Pesawat (Tangkapan Layar)

PILARadio.com – Kelelahan saat bertugas menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam industri penerbangan. Sebuah survei terbaru mengungkap bahwa sekitar 77 persen pilot di Eropa mengaku pernah mengalami microsleep atau tertidur sesaat ketika sedang bekerja.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena pilot memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keselamatan penerbangan. Saat mengendalikan pesawat, mereka dituntut untuk tetap fokus, mampu mengambil keputusan dengan cepat, serta memperhatikan berbagai informasi yang muncul selama perjalanan.

Survei tersebut dilakukan oleh Baines Simmons, konsultan keselamatan penerbangan, terhadap 7.200 pilot dari 32 negara di Eropa. Hasil jajak pendapat itu kemudian dipublikasikan oleh European Cockpit Association (ECA).

Dalam laporan tersebut, sekitar tiga perempat dari seluruh responden menyatakan pernah mengalami microsleep. Angka itu menunjukkan bahwa kondisi kelelahan bukan persoalan yang dapat dianggap sepele di kalangan awak pesawat.

Selain tingginya jumlah pilot yang pernah mengalami tidur sesaat ketika bertugas, survei juga menemukan adanya persoalan terkait waktu istirahat. Hampir 39 persen pilot mengaku biasanya atau selalu tidak memperoleh waktu istirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan.

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya tantangan dalam pengaturan waktu kerja dan pemulihan tenaga bagi pilot. Di tengah jadwal penerbangan yang dapat berlangsung pada waktu berbeda, kebutuhan untuk mendapatkan tidur berkualitas menjadi hal penting.

Persoalan lainnya muncul dari rendahnya jumlah pilot yang melaporkan kondisi kelelahan ketika merasa tidak cukup fit untuk menerbangkan pesawat. Hanya 37,2 persen responden yang menyatakan melaporkan kondisi tersebut.

Sementara itu, sebanyak 24,2 persen pilot mengaku tidak melaporkan kelelahan dan memilih tetap menjalankan tugas. Situasi ini menjadi perhatian karena kondisi tubuh yang tidak cukup istirahat berpotensi memengaruhi kesiapan seseorang dalam bekerja.

Survei Ungkap 77 Persen Pilot Eropa Pernah Mengalami Microsleep

Temuan mengenai microsleep pada pilot berasal dari survei yang dilakukan Baines Simmons terhadap 7.200 pilot di 32 negara Eropa.

Hasil survei yang dipublikasikan oleh European Cockpit Association tersebut memperlihatkan bahwa sekitar 77 persen responden pernah mengalami microsleep. Dengan kata lain, hampir tiga dari empat pilot yang mengikuti survei mengaku pernah mengalami kondisi tertidur sesaat ketika bekerja.

Angka tersebut menjadi perhatian karena aktivitas penerbangan membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi. Pilot harus memantau kondisi pesawat, memperhatikan instrumen penerbangan, berkomunikasi dengan petugas pengatur lalu lintas udara, serta memastikan perjalanan berlangsung sesuai prosedur.

Dalam situasi seperti itu, kemampuan untuk tetap waspada menjadi bagian penting dari pekerjaan. Pilot tidak hanya dituntut mampu mengendalikan pesawat, tetapi juga harus siap menghadapi perubahan kondisi yang mungkin terjadi selama penerbangan.

Microsleep dapat membuat seseorang kehilangan kesadaran terhadap lingkungan sekitar dalam waktu singkat. Walaupun berlangsung hanya beberapa detik, kondisi tersebut dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam menerima dan memproses informasi.

Temuan survei ini tidak berarti bahwa setiap penerbangan mengalami kejadian pilot tertidur sesaat. Data tersebut menggambarkan pengalaman para responden selama menjalankan pekerjaan mereka, bukan jumlah kejadian microsleep dalam seluruh penerbangan.

Meski demikian, persentase yang ditemukan tetap menjadi bahan evaluasi bagi industri penerbangan. Terlebih, survei tersebut melibatkan ribuan pilot dari berbagai negara sehingga memberikan gambaran mengenai persoalan kelelahan yang dilaporkan oleh para responden.

Hasilnya juga menunjukkan bahwa pembahasan mengenai keselamatan penerbangan tidak hanya berkaitan dengan kondisi teknis pesawat dan prosedur operasional. Kesiapan fisik serta kemampuan awak pesawat untuk tetap fokus juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Apa Itu Microsleep dan Mengapa Bisa Terjadi?

Menurut situs resmi Kementerian Kesehatan, microsleep merupakan kondisi ketika seseorang tertidur dalam waktu sangat singkat, biasanya berlangsung antara satu hingga 30 detik, tanpa disadari.

Ketika mengalami microsleep, otak berhenti memproses informasi dari lingkungan sekitar untuk sementara waktu. Kondisi ini dapat terjadi meskipun mata seseorang masih terbuka atau terlihat kosong.

Karena berlangsung singkat, microsleep terkadang sulit dikenali oleh orang yang mengalaminya. Seseorang mungkin tidak menyadari bahwa dirinya sempat kehilangan kesadaran terhadap keadaan sekitar.

Kondisi tersebut umumnya berkaitan dengan rasa kantuk dan kelelahan. Ketika tubuh membutuhkan istirahat tetapi seseorang tetap memaksakan diri untuk terjaga, kemampuan untuk mempertahankan konsentrasi dapat menurun.

Microsleep juga dapat muncul ketika seseorang melakukan aktivitas dalam keadaan kurang tidur. Pada situasi tertentu, otak dapat mengalami jeda singkat dalam memproses informasi meskipun orang tersebut berusaha tetap terjaga.

Gejalanya tidak selalu terlihat sama pada setiap orang. Ada yang mengalami kedipan mata lebih lama dari biasanya, tatapan kosong, kepala yang tiba-tiba terangguk, atau kehilangan fokus selama beberapa detik.

Namun, tidak semua orang menyadari tanda-tanda tersebut ketika mengalaminya. Hal inilah yang membuat microsleep perlu mendapat perhatian, terutama ketika seseorang sedang melakukan pekerjaan yang membutuhkan kewaspadaan tinggi.

Dalam aktivitas sehari-hari, microsleep dapat menjadi persoalan ketika seseorang sedang mengemudi, mengoperasikan mesin, atau menjalankan tugas yang menuntut konsentrasi. Pada pekerjaan penerbangan, tuntutan kewaspadaan tersebut menjadi semakin penting karena pilot bertanggung jawab terhadap pengoperasian pesawat.

Meski hanya berlangsung beberapa detik, hilangnya perhatian dapat membuat seseorang melewatkan informasi penting. Dalam pekerjaan yang melibatkan banyak instrumen dan komunikasi, kemampuan untuk tetap memproses informasi secara konsisten sangat dibutuhkan.

Karena itu, microsleep tidak seharusnya dianggap sebagai rasa kantuk biasa. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan istirahat dan tidak lagi berada dalam kondisi optimal untuk menjalankan aktivitas.

Kelelahan Masih Menjadi Persoalan di Industri Penerbangan

Selain mengungkap tingginya jumlah pilot yang pernah mengalami microsleep, survei Baines Simmons juga menyoroti persoalan kecukupan waktu istirahat.

Dalam laporan tersebut, hampir 39 persen pilot mengatakan bahwa mereka biasanya atau selalu tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan.

Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalan kelelahan tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan tidur masing-masing individu. Pengaturan jadwal kerja dan kesempatan untuk memulihkan kondisi tubuh juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Pilot dapat menjalani jadwal penerbangan dengan waktu keberangkatan yang berbeda-beda. Ada penerbangan yang berlangsung pada pagi hari, siang, malam, bahkan melewati waktu tidur normal.

Perubahan waktu kerja tersebut dapat memengaruhi pola istirahat. Seseorang yang terbiasa tidur pada malam hari, misalnya, mungkin perlu menyesuaikan diri ketika mendapatkan jadwal penerbangan yang mengharuskannya beristirahat pada siang hari.

Selain itu, penerbangan jarak jauh yang melintasi beberapa zona waktu dapat membuat tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Perbedaan waktu antara lokasi keberangkatan dan tujuan dapat mengganggu pola tidur yang sudah terbentuk.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pilot. Mereka harus tetap menjalankan tugas sesuai jadwal sekaligus menjaga agar tubuh mendapatkan waktu pemulihan yang memadai.

Istirahat yang cukup menjadi bagian penting untuk menjaga kesiapan sebelum bekerja. Tanpa pemulihan yang baik, rasa kantuk dapat muncul ketika seseorang harus menjalankan tugas yang membutuhkan konsentrasi.

Dalam pekerjaan penerbangan, persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan awak pesawat. Kelelahan juga menjadi hal yang perlu diperhitungkan dalam upaya menjaga keselamatan operasional.

Banyak Pilot Tidak Melaporkan Kondisi Kelelahan

Salah satu temuan lain dari survei tersebut berkaitan dengan kebiasaan pilot dalam melaporkan kondisi tubuh ketika merasa terlalu lelah untuk bertugas.

Berdasarkan hasil jajak pendapat, hanya 37,2 persen pilot yang melaporkan kondisi diri saat merasa terlalu lelah untuk menerbangkan pesawat.

Sementara itu, sebanyak 24,2 persen responden mengaku tidak melaporkan kelelahan dan memilih tetap menjalankan tugas.

Data tersebut menjadi perhatian karena laporan mengenai kondisi fisik awak pesawat dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam pengaturan operasional penerbangan.

Ketika pilot merasa tidak cukup fit untuk bertugas, informasi tersebut perlu disampaikan agar pihak maskapai dapat mengambil langkah sesuai prosedur. Dengan begitu, kondisi awak pesawat dapat dipertimbangkan sebelum penerbangan dilaksanakan.

Namun, hasil survei menunjukkan bahwa sebagian responden memilih tidak menyampaikan kondisi kelelahan yang mereka alami.

Situasi tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor. Salah satu hal yang disoroti dalam laporan ECA adalah kekhawatiran pilot terhadap konsekuensi yang mungkin muncul terhadap karier mereka apabila melaporkan kelelahan.

Kapten Coen George, anggota dewan European Cockpit Association, mengatakan bahwa kekhawatiran terhadap dampak karier dapat membuat pilot enggan menyampaikan kondisi sebenarnya.

“Ketika pilot khawatir akan konsekuensi terhadap karier mereka, kelelahan tidak dilaporkan dan risikonya kembali muncul di kokpit,” kata Coen George dalam siaran pers.

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya lingkungan kerja yang memungkinkan pilot menyampaikan kondisi fisik tanpa merasa khawatir terhadap dampak negatif pada pekerjaan mereka.

Pelaporan kelelahan seharusnya menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan, bukan sesuatu yang dianggap sebagai kelemahan atau bentuk ketidakmampuan seorang pilot.

Jika kondisi kelelahan tidak disampaikan, maskapai dapat kesulitan memperoleh gambaran mengenai seberapa luas persoalan tersebut terjadi di kalangan awak pesawat.

ECA Ingatkan Dampak Pilot yang Enggan Melaporkan Kelelahan

Mengutip Fox News, Coen George memperingatkan bahwa keengganan pilot melaporkan kelelahan dapat membuat maskapai tidak mengetahui seberapa besar masalah tersebut terjadi di kalangan awak pesawat.

Persoalan ini berkaitan dengan pentingnya komunikasi antara pilot dan pihak maskapai. Informasi mengenai kondisi awak pesawat diperlukan agar perusahaan dapat mengetahui ketika seseorang membutuhkan waktu istirahat tambahan sebelum kembali bertugas.

Tanpa laporan yang memadai, persoalan kelelahan berpotensi tidak terlihat dalam evaluasi operasional. Padahal, kondisi tersebut dapat memengaruhi kesiapan awak pesawat ketika menjalankan tugas.

Dalam industri penerbangan, prosedur keselamatan tidak hanya mengatur kondisi pesawat, tetapi juga memperhatikan faktor manusia. Pilot dan awak pesawat lainnya merupakan bagian penting dari sistem operasional yang harus selalu berada dalam kondisi siap.

Karena itu, pelaporan kelelahan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Ketika pilot merasa tidak layak terbang akibat kondisi tubuh, informasi tersebut perlu disampaikan agar dapat ditindaklanjuti.

Kekhawatiran terhadap karier seperti yang disampaikan George juga memperlihatkan perlunya membangun budaya keselamatan di lingkungan kerja. Pilot perlu memiliki ruang untuk melaporkan kondisi kelelahan tanpa merasa tertekan untuk tetap bertugas.

Dengan adanya laporan yang terbuka, maskapai dapat memperoleh gambaran lebih jelas mengenai kondisi awak pesawat. Informasi tersebut juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pengaturan jadwal dan waktu istirahat.

Aturan Istirahat Pilot di Amerika Serikat

Persoalan kelelahan awak pesawat juga menjadi perhatian regulator penerbangan di Amerika Serikat.

Federal Aviation Administration (FAA) menerapkan aturan waktu istirahat dan masa tugas pilot yang lebih ketat pada 2012. Kebijakan tersebut dibuat untuk membantu mengatasi kelelahan dan meningkatkan keselamatan penerbangan.

Berdasarkan aturan tersebut, pilot harus mendapatkan waktu istirahat setidaknya 10 jam berturut-turut sebelum menjalani periode tugas penerbangan.

Dari waktu istirahat tersebut, pilot harus memperoleh kesempatan untuk tidur selama delapan jam tanpa gangguan.

Ketentuan itu menjadi bagian dari upaya memastikan pilot memiliki waktu yang cukup untuk memulihkan kondisi tubuh sebelum kembali bekerja.

Kebutuhan istirahat menjadi hal penting karena pekerjaan pilot dapat berlangsung pada waktu yang berbeda dari pola tidur normal. Jadwal penerbangan malam atau perjalanan jarak jauh dapat membuat waktu istirahat seseorang berubah.

Selain mengatur waktu istirahat, aturan tersebut juga menekankan pentingnya pelaporan kondisi ketika pilot merasa terlalu lelah atau tidak layak terbang.

Pilot yang mengalami kondisi tersebut harus menyampaikan laporan agar maskapai dapat mengeluarkannya dari jadwal tugas.

Langkah ini berkaitan dengan prinsip bahwa keselamatan harus menjadi pertimbangan utama dalam operasional penerbangan. Jika seorang pilot merasa tidak berada dalam kondisi yang memadai untuk bekerja, pihak maskapai perlu mengetahui keadaan tersebut.

Aturan mengenai waktu istirahat juga memperlihatkan bahwa kelelahan bukan semata-mata persoalan pribadi. Pengelolaan jadwal dan kebijakan perusahaan memiliki peran dalam memastikan awak pesawat memperoleh kesempatan untuk beristirahat.

Meski kebijakan FAA berlaku di Amerika Serikat, penerapan aturan tersebut menunjukkan bagaimana regulator penerbangan memberikan perhatian terhadap faktor kelelahan dalam pekerjaan pilot.

Penerbangan Malam dan Perbedaan Zona Waktu Jadi Tantangan

Kelelahan dapat menjadi tantangan tersendiri bagi pilot yang menjalani penerbangan malam atau melakukan perjalanan melintasi beberapa zona waktu.

Jadwal kerja pada malam hari dapat membuat seseorang harus tetap aktif ketika tubuh secara alami membutuhkan waktu untuk tidur. Kondisi ini dapat memengaruhi pola istirahat, terutama jika jadwal penerbangan berubah-ubah.

Tantangan serupa juga dapat dialami pilot yang melakukan perjalanan jarak jauh. Ketika pesawat melintasi beberapa zona waktu, perbedaan waktu di lokasi tujuan dapat membuat pola tidur tidak lagi sesuai dengan kebiasaan sebelumnya.

Matthew ‘Whiz’ Buckley, mantan pilot jet tempur Angkatan Laut Amerika Serikat yang kemudian bekerja di American Airlines dan FedEx, mengatakan bahwa jadwal hari libur yang sudah ditentukan tidak selalu menjamin pilot memperoleh tidur yang cukup.

Menurut Buckley, waktu istirahat yang tersedia belum tentu dapat dimanfaatkan untuk tidur berkualitas apabila berlangsung di luar jam tidur normal seseorang.

“Tidur di luar jam tidur normal itu tidak alami,” kata Buckley.

Ia menjelaskan bahwa pilot terkadang harus tidur pada siang hari setelah tiba di hotel pada pagi hari. Situasi tersebut dapat terjadi ketika jadwal perjalanan membuat mereka tiba di tempat tujuan pada waktu yang berbeda dari kebiasaan tidur.

Dalam kondisi seperti itu, tubuh perlu menyesuaikan diri dengan waktu istirahat yang tidak biasa. Walaupun seseorang sudah memiliki waktu luang, belum tentu ia dapat langsung tidur dengan nyaman.

Buckley juga menyoroti penerbangan jarak jauh yang melewati beberapa zona waktu. Perjalanan semacam ini dapat membuat pola tidur tubuh mengalami gangguan.

“Ketika melintasi beberapa zona waktu, tubuh bisa benar-benar terganggu,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan tantangan yang dihadapi pilot dalam menjaga pola tidur selama menjalankan pekerjaan. Perubahan waktu dan jadwal penerbangan dapat membuat kebutuhan istirahat tidak selalu mudah dipenuhi.

Jadwal Libur Tidak Selalu Menjamin Pilot Mendapat Tidur Cukup

Ketersediaan waktu libur sering kali dianggap sebagai kesempatan bagi pekerja untuk memulihkan tenaga. Namun, menurut Matthew ‘Whiz’ Buckley, jadwal libur yang sudah ditentukan tidak otomatis membuat pilot mendapatkan tidur yang cukup.

Hal tersebut berkaitan dengan waktu istirahat yang mungkin tidak sesuai dengan jam biologis tubuh.

Sebagai contoh, seorang pilot dapat tiba di hotel pada pagi hari setelah menjalani penerbangan malam. Dalam kondisi tersebut, ia perlu tidur pada siang hari untuk memulihkan tenaga sebelum kembali bertugas.

Meski tersedia waktu untuk beristirahat, tidur pada siang hari tidak selalu sama dengan tidur pada malam hari. Lingkungan sekitar dan kebiasaan tubuh dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk memperoleh istirahat berkualitas.

Situasi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pekerjaan yang memiliki jadwal tidak tetap. Pilot harus menyesuaikan waktu tidur dengan kebutuhan operasional, termasuk ketika perjalanan melintasi zona waktu yang berbeda.

Perubahan pola tidur yang terjadi berulang kali juga dapat membuat seseorang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Karena itu, pengaturan jadwal penerbangan dan waktu istirahat menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai kelelahan awak pesawat.

Kondisi tersebut sejalan dengan temuan survei Baines Simmons yang menunjukkan bahwa hampir 39 persen responden biasanya atau selalu merasa tidak memperoleh waktu istirahat yang cukup.

Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalan kelelahan tidak cukup diselesaikan hanya dengan memberikan jadwal libur. Kualitas dan waktu istirahat juga perlu menjadi perhatian.

Pakar Perjalanan Ingatkan Pentingnya Keselamatan Awak Pesawat

Temuan mengenai microsleep pada pilot juga mendapat perhatian dari Bobby Laurie, pakar perjalanan sekaligus mantan awak kabin.

Laurie menilai hasil survei tersebut perlu menjadi perhatian industri penerbangan. Menurutnya, jumlah responden yang mengaku pernah mengalami microsleep saat bekerja menunjukkan adanya persoalan yang tidak boleh diabaikan.

“Ketika hampir 77 persen responden dalam survei baru ini mengatakan mereka pernah mengalami microsleep atau tertidur sesaat saat bekerja, angka tersebut jelas mengkhawatirkan dan industri perlu memperhatikannya,” kata Laurie.

Meski demikian, Laurie menegaskan bahwa hasil survei tersebut tidak berarti pilot dalam setiap penerbangan tertidur ketika menjalankan tugas.

Pernyataan ini penting untuk memahami hasil survei secara tepat. Angka 77 persen menggambarkan jumlah responden yang mengaku pernah mengalami microsleep, bukan persentase penerbangan yang berlangsung ketika pilot tertidur.

Dengan demikian, temuan tersebut lebih tepat dipahami sebagai gambaran pengalaman kelelahan yang dilaporkan oleh para pilot dalam survei.

Laurie juga mengingatkan bahwa penumpang perlu memahami alasan keselamatan di balik penundaan penerbangan akibat waktu istirahat awak pesawat.

Dalam situasi tertentu, penerbangan dapat mengalami penundaan karena awak pesawat membutuhkan waktu istirahat sebelum kembali bertugas. Keputusan seperti itu berkaitan dengan upaya memastikan kru berada dalam kondisi yang memadai untuk menjalankan tanggung jawabnya.

“Jika Anda berada di bandara dan papan keberangkatan menunjukkan bahwa penerbangan tertunda karena awak pesawat harus beristirahat, Anda perlu menyadari bahwa penundaan itu dilakukan demi keselamatan,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa ketepatan waktu penerbangan bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Kesiapan awak pesawat juga menjadi bagian penting dalam memastikan perjalanan berlangsung dengan aman.

Penundaan Penerbangan karena Istirahat Awak Pesawat Perlu Dipahami

Bagi penumpang, penundaan penerbangan tentu dapat mengubah rencana perjalanan. Jadwal yang sudah disusun bisa terganggu, terutama bagi mereka yang memiliki agenda lanjutan setelah tiba di tujuan.

Namun, penundaan yang berkaitan dengan kebutuhan istirahat awak pesawat perlu dilihat dari sisi keselamatan.

Pilot dan awak pesawat lainnya menjalankan pekerjaan yang membutuhkan kesiapan fisik serta konsentrasi. Jika mereka merasa terlalu lelah untuk bertugas, kondisi tersebut perlu diperhatikan sebelum penerbangan dilanjutkan.

Dalam konteks ini, waktu istirahat bukan sekadar fasilitas bagi kru, melainkan bagian dari pengelolaan keselamatan penerbangan.

Pernyataan Bobby Laurie mengingatkan penumpang agar tidak langsung memandang penundaan karena waktu istirahat sebagai persoalan yang hanya berkaitan dengan jadwal. Ada pertimbangan keselamatan yang perlu dipahami di balik keputusan tersebut.

Kondisi awak pesawat menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam operasional penerbangan. Karena itu, apabila penerbangan tertunda untuk memberikan kesempatan istirahat kepada kru, langkah tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan.

Temuan survei mengenai microsleep pada pilot juga memperlihatkan mengapa persoalan ini perlu mendapat perhatian. Kelelahan dapat terjadi pada pekerja yang memiliki jadwal tidak biasa, termasuk mereka yang harus bertugas pada malam hari atau melakukan perjalanan lintas zona waktu.

Kelelahan Pilot Perlu Menjadi Perhatian Industri Penerbangan

Hasil survei terhadap 7.200 pilot di 32 negara Eropa menunjukkan bahwa kelelahan masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan dalam industri penerbangan.

Sebanyak 77 persen responden mengaku pernah mengalami microsleep. Selain itu, hampir 39 persen pilot menyatakan biasanya atau selalu tidak memperoleh waktu istirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan.

Survei tersebut juga menemukan bahwa hanya 37,2 persen pilot yang melaporkan kondisi ketika merasa terlalu lelah untuk menerbangkan pesawat. Sementara 24,2 persen responden mengaku tidak melaporkan kelelahan dan memilih tetap bertugas.

Angka-angka tersebut memberikan gambaran mengenai tantangan yang dihadapi pilot dalam menjaga kondisi tubuh selama bekerja.

Jadwal penerbangan malam, perjalanan jarak jauh, serta perbedaan zona waktu dapat memengaruhi pola tidur. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap konsekuensi karier juga disebut menjadi salah satu alasan pilot enggan melaporkan kelelahan.

Karena itu, pembahasan mengenai microsleep tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan untuk membangun sistem kerja yang memperhatikan waktu istirahat dan kondisi awak pesawat.

Aturan waktu istirahat, mekanisme pelaporan kelelahan, serta kebijakan maskapai menjadi bagian penting dalam pengelolaan keselamatan penerbangan.

Bagi penumpang, temuan ini juga menjadi pengingat bahwa keselamatan perjalanan tidak hanya bergantung pada kondisi pesawat. Kesiapan pilot dan awak pesawat merupakan unsur penting yang ikut menentukan kelancaran operasional.

Pada akhirnya, hasil survei Baines Simmons menjadi bahan perhatian bagi industri penerbangan untuk terus mengevaluasi persoalan kelelahan. Microsleep yang dialami ketika bekerja menunjukkan pentingnya memastikan awak pesawat memperoleh istirahat yang memadai sebelum menjalankan tugas.

Keselamatan penerbangan membutuhkan kesiapan seluruh pihak yang terlibat. Karena itu, pelaporan kelelahan dan pemberian waktu istirahat yang cukup perlu dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan, bukan sekadar urusan jadwal kerja.

Sumber : www.cnnindonesia.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
Your Favorite Channel
--:--
STREAM
Scroll to Top