PILARadio.com – Sebuah survei terbaru yang dilakukan lembaga think tank internasional Atlantic Council mengungkap adanya kekhawatiran dari sejumlah pakar dunia mengenai kondisi geopolitik global dalam satu dekade ke depan. Dalam survei tersebut, sebanyak 41,2 persen responden memperkirakan kemungkinan terjadinya Perang Dunia III masih terbuka dalam kurun waktu 10 tahun mendatang.
Survei ini melibatkan lebih dari 450 pakar yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari organisasi nirlaba, lembaga pemerintahan, institusi akademik, hingga sektor swasta. Para responden diminta memberikan pandangan mengenai berbagai tantangan terbesar yang kemungkinan akan dihadapi dunia hingga tahun 2036.
Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa ancaman konflik antarnegara besar menjadi salah satu perhatian utama para pakar. Selain isu perang, mereka juga menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), penyebaran senjata nuklir, perubahan iklim, hingga perubahan pola peperangan di masa depan.
Meski demikian, hasil survei ini bukan merupakan prediksi pasti mengenai kejadian yang akan terjadi. Temuan tersebut lebih menggambarkan persepsi dan tingkat kekhawatiran sekelompok pakar terhadap berbagai risiko yang dapat memengaruhi stabilitas dunia.
Konflik Antarnegara Jadi Ancaman Terbesar Dunia
Dalam survei Atlantic Council, para pakar diminta menjawab mengenai ancaman terbesar yang dapat mengganggu kemakmuran global dalam 10 tahun ke depan.
Hasilnya, hampir 30 persen responden menilai perang antarnegara besar sebagai risiko utama yang harus diwaspadai. Angka tersebut menjadi perhatian karena konflik berskala besar dianggap memiliki dampak luas terhadap ekonomi, keamanan, serta hubungan internasional.
Sementara itu, isu krisis iklim yang selama bertahun-tahun menjadi perhatian dunia berada di posisi berikutnya. Sebanyak 19 persen responden menilai perubahan iklim sebagai ancaman terbesar yang dapat memengaruhi kondisi global dalam satu dekade mendatang.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan yang saling berkaitan. Konflik geopolitik, perubahan teknologi, hingga persoalan lingkungan menjadi faktor yang dapat memengaruhi stabilitas berbagai negara.
41 Persen Pakar Prediksi Perang Dunia III Bisa Terjadi
Salah satu pertanyaan utama dalam survei tersebut adalah mengenai kemungkinan terjadinya Perang Dunia III dalam 10 tahun ke depan.
Sebagian besar responden atau sekitar 58,8 persen menyatakan tidak yakin bahwa perang dunia baru akan terjadi. Namun, sebanyak 41,2 persen lainnya menilai kemungkinan tersebut tetap ada.
Dari kelompok responden yang memperkirakan adanya potensi konflik global, sebagian besar menyebut kawasan Taiwan sebagai wilayah yang berpotensi menjadi titik awal terjadinya konflik besar.
Sekitar 43 persen responden memperkirakan Taiwan menjadi kawasan yang paling berisiko memicu konflik internasional. Setelah itu, Eropa Timur berada di posisi kedua dengan 25 persen responden, kemudian kawasan Timur Tengah dengan 13 persen.
Prediksi tersebut tidak berarti konflik pasti terjadi di wilayah tersebut. Namun, kawasan-kawasan tersebut selama ini memang menjadi perhatian dunia karena memiliki dinamika politik dan keamanan yang kompleks.
Kekhawatiran Terhadap Perkembangan Senjata Nuklir
Selain ancaman perang konvensional, survei Atlantic Council juga menyoroti kekhawatiran terhadap perkembangan senjata nuklir di berbagai negara.
Sebanyak 85 persen responden memperkirakan jumlah negara yang memiliki senjata nuklir dapat bertambah dalam satu dekade mendatang. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan ketegangan antarnegara karena semakin banyak pihak yang memiliki kemampuan militer dengan daya hancur besar.
Namun, di sisi lain, terdapat pandangan yang sedikit lebih optimistis terkait penggunaan senjata nuklir. Sebanyak 78 persen responden percaya bahwa senjata nuklir kemungkinan tidak akan digunakan dalam konflik selama periode tersebut.
Mantan spesialis kebijakan senjata nuklir dari Congressional Research Service, Perpustakaan Kongres Amerika Serikat, Amy F. Woolf, menyebut meningkatnya kekhawatiran tersebut kemungkinan berkaitan dengan perkembangan kekuatan militer sejumlah negara.
Menurutnya, perhatian besar muncul terhadap perkembangan kemampuan nuklir China dan Korea Utara serta bagaimana negara-negara lain merespons perubahan keseimbangan kekuatan global.
Selain itu, muncul pula pertanyaan mengenai efektivitas perlindungan nuklir yang diberikan Amerika Serikat kepada negara-negara sekutunya.
“Di Eropa, kekhawatiran ini bahkan memicu diskusi sesekali di antara negara sekutu AS mengenai pengembangan sistem pencegahan nuklir yang lebih independen,” ujar Amy F. Woolf.
AI Diprediksi Mengubah Cara Perang di Masa Depan
Tidak hanya membahas ancaman perang dan senjata nuklir, survei tersebut juga menyoroti perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Para responden memperkirakan teknologi AI akan membawa perubahan besar terhadap berbagai sektor kehidupan, termasuk bidang pertahanan dan keamanan.
Lebih dari separuh responden percaya bahwa konflik militer di masa depan kemungkinan tidak hanya terjadi di darat, laut, dan udara, tetapi juga dapat melibatkan ruang angkasa.
Selain itu, sebanyak 73 persen responden memperkirakan AI dapat mulai digunakan untuk mengambil keputusan yang berdampak mematikan dalam medan perang tanpa keterlibatan langsung manusia dalam proses pengambilan keputusan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu kekhawatiran utama karena perkembangan teknologi militer berbasis AI dapat mengubah cara negara menjalankan operasi pertahanan.
Meski memiliki kekhawatiran terhadap penggunaan AI dalam peperangan, para pakar tetap melihat perkembangan teknologi tersebut secara positif dalam berbagai bidang lainnya.
Pakar Tetap Optimistis Terhadap Perkembangan AI
Di tengah kekhawatiran terhadap risiko teknologi AI, sebagian besar responden masih memiliki pandangan positif mengenai manfaat kecerdasan buatan.
Sebanyak 58 persen responden memperkirakan dunia akan mencapai Artificial General Intelligence (AGI) pada 2036. AGI merupakan konsep kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan setara atau bahkan melampaui manusia dalam berbagai bidang.
Selain itu, sekitar 56 persen responden menilai dampak AI dalam 10 tahun mendatang akan cenderung positif atau sangat positif.
Atlantic Council mencatat bahwa kelompok pakar yang mengikuti survei tersebut memiliki pandangan lebih optimistis terhadap perkembangan AI dibandingkan masyarakat umum di Amerika Serikat.
Namun, persepsi mengenai dampak negatif AI juga mengalami peningkatan dibandingkan survei sebelumnya. Kekhawatiran tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi membawa peluang sekaligus tantangan besar bagi masyarakat global.
Mayoritas Pakar Nilai Dunia Akan Lebih Buruk dalam 10 Tahun
Secara keseluruhan, hasil survei Atlantic Council menunjukkan kecenderungan pandangan yang cukup pesimistis terhadap masa depan dunia.
Sebanyak 63 persen responden menilai kondisi global dalam 10 tahun mendatang kemungkinan akan lebih buruk dibandingkan keadaan saat ini.
Pandangan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik, risiko konflik militer, perkembangan teknologi yang sulit diprediksi, hingga ancaman perubahan iklim.
Meski demikian, hasil survei ini tetap harus dipahami secara objektif. Pandangan para pakar tidak dapat dianggap sebagai gambaran pasti mengenai masa depan, melainkan sebagai peringatan terhadap berbagai kemungkinan yang perlu diantisipasi.
Hasil Survei Tidak Mewakili Prediksi Pasti Masa Depan
Atlantic Council juga memberikan catatan mengenai keterbatasan survei tersebut. Salah satunya adalah komposisi responden yang belum sepenuhnya menggambarkan perspektif global.
Hampir setengah peserta survei berasal dari Amerika Serikat. Hal tersebut membuat hasil yang diperoleh kemungkinan lebih banyak mencerminkan sudut pandang masyarakat dan pakar dari negara tersebut.
Selain itu, sekitar 76 persen responden mengidentifikasi diri sebagai laki-laki. Survei ini juga bersifat sukarela, sehingga terdapat kemungkinan adanya bias dari peserta yang memilih untuk memberikan pendapat.
Karena itu, hasil survei lebih tepat dipandang sebagai gambaran mengenai kekhawatiran dan pandangan para ahli terhadap berbagai risiko global, bukan sebagai ramalan pasti mengenai apa yang akan terjadi.
Pada akhirnya, prediksi mengenai Perang Dunia III, perkembangan senjata nuklir, dan kemajuan teknologi AI menjadi pengingat bahwa dunia menghadapi tantangan besar yang membutuhkan kerja sama antarnegara.
Upaya menjaga perdamaian, memperkuat diplomasi, serta mengembangkan teknologi secara bertanggung jawab menjadi langkah penting agar berbagai risiko global dapat diminimalkan dalam beberapa tahun mendatang.
Sumber : www.kumparan.com









