CIREBON, PILARadio – Berbagai tradisi menyambut Ramadan digelar di berbagai daerah dengan beragam cara. Di Kota Cirebon, Jawa Barat, Keraton Kasepuhan menggelar tradisi turun-temurun dari Sunan Gunungjati, yakni tabuh bedug drugdag untuk menandakan masuknya bulan suci Ramadan, Rabu sore.
Bedug yang ditabuh berulang-ulang oleh keluarga keraton memiliki irama yang berbeda-beda sebagai bentuk menyambut sekaligus pemberi informasi untuk mempersiapkan diri melaksanakan tarawih dan saum.
Dipimpin Patih Kasultanan Kasepuhan, Pangeran Raja Gumilar Soeryadiningrat, rombongan keluarga keraton ini berjalan menuju Langgar Alit, kompleks Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon, Rabu sore. Patih bersama keluarga keraton menabuh Bedug Samogiri peninggalan Sunan Gunung Jati sebagai penanda masuknya bulan Ramadan.
Dalam tradisi rutin yang dilestarikan secara turun-temurun ini, secara bergantian patih dan keluarga keraton menabuh bedug hingga memasuki waktu petang.
Masing-masing penabuh memiliki irama yang berbeda-beda, mulai dari datar, sedang hingga kencang. Patih Keraton Kasepuhan menabuh bedug pertama, disusul sejumlah kerabat dan tokoh ulama keraton. Tabuh bedug ini tak hanya dilakukan di Langgar Alit, namun juga di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton pada malam hari hingga menjelang sahur.
Tradisi ini sudah ada sejak zaman Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam di Tanah Jawa bersama sembilan wali. Bedug menjadi alat untuk memberikan tanda dan informasi masuknya bulan Ramadan agar warga bersiap melaksanakan tarawih dan saum. Meski saat ini sudah ada pengeras suara maupun informasi yang cepat, tradisi ini tetap dipertahankan sebagai bentuk pelestarian budaya.
“Tradisi ini telah ada sejak masa Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Bedug digunakan sebagai penanda masuknya Ramadan agar warga bersiap melaksanakan tarawih dan saum” Ujar Patih Keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Gumilar Soeryadiningrat.
Meski ditabuh cukup keras, suara bedug ini hanya terdengar di lingkungan sekitar. Usai tabuh bedug awal di keraton, selanjutnya masing-masing langgar, musala, dan masjid menyusul mengisi tabuhan bedug.


















