PILARadio.com – Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kuliner khas yang tidak hanya lezat, tetapi juga sarat nilai budaya. Salah satunya adalah kue lapis sanana, makanan tradisional dari Kepulauan Sula (Kepsul), Maluku Utara. Kue ini baru saja resmi ditetapkan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) untuk kategori indikasi asal.
Penetapan tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Maluku Utara, Budi Argap Situngkir. Ia menjelaskan bahwa indikasi asal merupakan tanda pada suatu barang atau produk untuk menunjukkan daerah asalnya, meski tidak selalu berkaitan dengan faktor alam.
Argap menegaskan bahwa Maluku Utara memiliki banyak kekayaan intelektual komunal yang perlu dilindungi agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, ia mendorong sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengidentifikasi dan mencatatkan berbagai kekayaan budaya ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).
Kue lapis sanana sendiri dikenal sebagai oleh-oleh khas Kepulauan Sula. Kue ini dibuat dari bahan sederhana seperti tepung terigu, gula pasir, telur, susu, dan mentega, ditambah rempah vanili serta kayu manis. Proses pembuatannya masih mempertahankan cara tradisional, yaitu dipanggang secara bertahap menggunakan kayu bakar dan ngura-ngura, penutup dari tanah liat.
Menurut DJKI Kemenkumham, kue lapis sanana memiliki tekstur lembut dengan rasa manis yang khas. Kue ini kerap disajikan dalam acara penting, terutama upacara adat pernikahan saro badaka matapia bakai, serta berbagai perayaan lainnya. Masyarakat Kepulauan Sula juga percaya bahwa semakin banyak lapisan pada kue, semakin banyak pula rezeki yang akan datang.
Proses pembuatan kue lapis sanana memakan waktu sekitar lima jam, sehingga harganya relatif tinggi. Meski demikian, kue ini menjadi produk unggulan daerah yang banyak dipesan dari luar wilayah dan ikut mendukung perekonomian masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro.
Secara filosofi, kue lapis sanana melambangkan umur panjang, kebahagiaan, dan kemakmuran. Lapisan-lapisannya menggambarkan kesabaran dan kecantikan. Selain itu, kue ini cukup tahan lama dan dapat bertahan hingga satu minggu, menjadikannya pilihan tepat sebagai oleh-oleh khas dari Kepulauan Sula.
Sumber : www.kumparan.com





















