PILARadio.com – Inter Milan resmi menerima sanksi denda sebesar 50 ribu euro atau setara sekitar Rp991 juta akibat ulah suporter yang melempar flare ke arah kiper Emil Audero. Insiden tersebut terjadi dalam laga lanjutan Serie A Italia antara Cremonese vs Inter Milan yang digelar di Stadion Giovanni Zini.
Sanksi denda itu dijatuhkan oleh operator kompetisi Lega Serie A pada Rabu (4/2). Keputusan tersebut diambil setelah pihak liga melakukan investigasi atas insiden pelemparan petasan yang mengakibatkan Emil Audero mengalami cedera. Lega Serie A juga memberikan apresiasi kepada manajemen Inter Milan yang dinilai bertindak cepat dan kooperatif dalam mengidentifikasi pelaku.
Dilansir dari Football Italia, pihak operator kompetisi menilai Inter Milan telah menunjukkan itikad baik dengan membantu aparat keamanan mengungkap identitas suporter yang melakukan pelanggaran. Langkah cepat tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam penjatuhan sanksi kepada klub.
Insiden bermula saat pertandingan Cremonese vs Inter Milan memasuki menit ke-49. Sebuah petasan atau flare dilemparkan dari tribun yang ditempati suporter Inter ke area lapangan, tepatnya ke dalam kotak penalti. Petasan tersebut kemudian meledak di dekat posisi Emil Audero yang tengah bersiap mengawal gawang Inter Milan.
Akibat ledakan tersebut, Emil Audero mengalami luka di bagian kaki kanan. Selain itu, kiper Timnas Indonesia tersebut juga sempat mengalami gangguan pendengaran sesaat setelah insiden terjadi. Kondisi ini membuat laga sempat terhenti beberapa menit untuk memastikan keadaan Audero aman sebelum pertandingan kembali dilanjutkan.
Pelemparan petasan ini langsung menuai kecaman luas, baik dari publik sepak bola Italia maupun internasional. Banyak pihak menilai tindakan tersebut sangat membahayakan keselamatan pemain dan mencoreng citra sepak bola Italia, khususnya Serie A yang tengah berupaya meningkatkan kualitas kompetisi dan keamanan stadion.
Pihak keamanan stadion bergerak cepat setelah kejadian tersebut. Suporter yang diduga melempar petasan akhirnya berhasil diamankan. Dikutip dari laporan Rai, unit khusus kepolisian Italia, DIGOS, telah menangkap seorang pria berusia 19 tahun yang diduga kuat sebagai pelaku pelemparan petasan ke arah lapangan.
Remaja tersebut diketahui memiliki keterkaitan dengan kelompok suporter Inter Milan bernama Vikings. Kelompok ini disebut dipimpin oleh sosok bernama Nino Ceccarelli. Penangkapan ini menjadi bagian dari upaya aparat untuk menekan aksi kekerasan dan tindakan berbahaya yang dilakukan oknum suporter di stadion.
Tidak hanya berhenti pada penangkapan pelaku, Kementerian Dalam Negeri Italia juga menjatuhkan sanksi tambahan kepada suporter Inter Milan. Hukuman tersebut berupa larangan hadir dalam pertandingan tandang Inter hingga 23 Maret 2026. Sanksi ini bertujuan memberikan efek jera dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Pihak Inter Milan sendiri menyatakan penyesalan atas insiden tersebut. Klub menegaskan tidak menoleransi segala bentuk kekerasan maupun tindakan yang membahayakan keselamatan pemain, ofisial, dan penonton. Inter juga berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan pihak berwenang dalam menjaga keamanan pertandingan.
Bagi Emil Audero, insiden ini menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan. Meski sempat mengalami cedera, kondisinya dilaporkan berangsur membaik dan tidak mengalami dampak serius jangka panjang. Dukungan pun mengalir dari berbagai pihak, termasuk dari penggemar sepak bola Indonesia yang memberikan perhatian besar kepada kipers Timnas Indonesia tersebut.
Kasus pelemparan flare ini kembali menegaskan pentingnya pengawasan ketat terhadap perilaku suporter di stadion. Insiden semacam ini tidak hanya berujung pada sanksi finansial bagi klub, tetapi juga dapat merugikan tim secara moral dan reputasi. Lega Serie A berharap hukuman yang dijatuhkan dapat menjadi pelajaran bagi seluruh klub dan pendukungnya.
Dengan adanya sanksi denda sebesar Rp991 juta serta larangan hadir di laga tandang bagi suporter, diharapkan keamanan dan kenyamanan pertandingan Serie A ke depan dapat lebih terjaga. Sepak bola seharusnya menjadi ajang hiburan yang aman dan sportif, bukan arena tindakan berbahaya yang mengancam keselamatan pemain.
Sumber : www.cnnindonesia.com






















