Jangan Malu! Sering Ngobrol dengan Kucing atau Anjing Ternyata Normal

Ngobrol dengan anabul bisa jadi tanda kecerdasan sosial tinggi, empati, dan kreativitas manusia. (medibank.com.au)

PILARadio.com – Sering ngobrol dengan kucing atau anjing di rumah? Mulai dari menanyakan kenapa belum makan, mengajak bermain, sampai curhat soal pekerjaan yang bikin pusing? Kalau pernah melakukan hal tersebut, tidak perlu buru-buru menganggap diri sendiri aneh.

Bagi sebagian pemilik hewan peliharaan, berbicara dengan kucing atau anjing sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Bahkan, obrolannya terkadang bisa panjang meski lawan bicara hanya memberikan respons berupa mengeong, menggonggong, menatap, menggerakkan ekor, atau sekadar pergi meninggalkan pemiliknya.

Pemandangan seperti ini memang terlihat lucu. Namun, kebiasaan manusia berbicara dengan hewan peliharaan ternyata bukan sesuatu yang asing jika dilihat dari sisi psikologi dan hubungan manusia dengan hewan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan memperlakukan hewan sebagai bagian dari lingkungan sosialnya. Karena itu, ketika seseorang berbicara dengan kucing atau anjing seperti sedang berbicara dengan teman sendiri, perilaku tersebut masih dapat dipahami sebagai bagian dari interaksi sosial manusia dengan hewan.

Tidak sedikit pemilik anabul yang bahkan memiliki gaya bicara khusus ketika berhadapan dengan hewan kesayangannya. Suara menjadi lebih tinggi, kata-kata dibuat lebih sederhana, dan panggilan sayang pun bermunculan.

Ada yang memanggil kucingnya dengan sebutan “sayang”, “dek”, atau “anak mama”. Ada pula yang menyebut dirinya sendiri sebagai “mama” atau “papa”. Sementara itu, pemilik anjing mungkin akan berbicara seolah-olah hewan tersebut benar-benar memahami seluruh cerita yang sedang disampaikan.

Meski kucing dan anjing tentu tidak berkomunikasi dengan manusia menggunakan bahasa seperti manusia berbicara satu sama lain, kebiasaan tersebut ternyata memiliki penjelasan secara ilmiah.

Sekitar 10 Persen Percakapan Bisa Ditujukan kepada Hewan

Salah satu penelitian yang menarik perhatian dilakukan oleh peneliti dari University of Arizona. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa sekitar 10 persen percakapan manusia yang terekam secara acak ditujukan kepada anjing atau kucing.

Temuan ini memberikan gambaran bahwa berbicara dengan hewan peliharaan bukanlah perilaku yang hanya dilakukan oleh segelintir orang.

Penelitian tersebut menggunakan perangkat bernama Electronically Activated Recorder atau EAR. Perangkat ini digunakan untuk merekam potongan percakapan secara acak ketika peserta menjalani aktivitas sehari-hari.

Metode tersebut memungkinkan peneliti melihat bagaimana manusia benar-benar berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya berdasarkan jawaban peserta ketika ditanya mengenai kebiasaan mereka.

Hasilnya cukup menarik. Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian percakapan ternyata memang ditujukan kepada hewan peliharaan.

Hal ini juga menunjukkan bahwa kehadiran hewan peliharaan di rumah tidak selalu diposisikan hanya sebagai hewan yang dirawat. Dalam kehidupan pemiliknya, kucing atau anjing dapat mengambil peran sosial tertentu.

Mereka menjadi teman di rumah, teman bermain, bahkan menjadi “pendengar” ketika pemiliknya ingin mengeluarkan isi pikiran.

Tentu saja, bukan berarti kucing atau anjing dapat memahami seluruh isi pembicaraan manusia sebagaimana manusia memahami bahasa satu sama lain. Namun, interaksi tersebut tetap memiliki arti bagi pemilik maupun hubungan antara pemilik dan hewan.

Gaya Bicara kepada Hewan Bisa Berbeda

Menariknya, cara manusia berbicara dengan hewan peliharaan juga tidak selalu sama.

Ada orang yang berbicara dengan kucing atau anjing menggunakan nada suara biasa. Mereka berbicara seperti sedang berbicara kepada anggota keluarga atau teman.

Namun, ada pula yang otomatis mengubah nada suara ketika berhadapan dengan hewan kesayangannya.

Suara menjadi lebih tinggi, lembut, dan penuh ekspresi. Kata-kata yang digunakan juga terkadang berubah menjadi lebih pendek dan terdengar menggemaskan.

Misalnya, pemilik kucing mungkin akan berkata, “Sudah makan belum?” dengan nada yang berbeda dari ketika berbicara kepada orang lain.

Ketika melihat hewan peliharaannya tidur, pemilik juga bisa saja mengatakan, “Capek ya hari ini?” atau “Bangun, yuk, sudah siang.”

Padahal, pemilik tersebut kemungkinan besar memahami bahwa kucingnya tidak akan menjawab menggunakan kalimat seperti manusia.

Respons yang muncul biasanya berupa mengeong, mendengkur, mengibaskan ekor, menggerakkan telinga, menatap pemilik, atau mendekat.

Pada anjing, responsnya bisa berupa gonggongan, gerakan ekor, menjilat, menatap, atau menunjukkan perubahan perilaku tertentu.

Interaksi seperti itu kemudian menjadi semacam percakapan versi manusia dan hewan.

Apa Itu Anthropomorphism?

Kebiasaan manusia memberikan sifat atau karakter manusia kepada hewan dikenal dengan istilah anthropomorphism.

Secara sederhana, anthropomorphism adalah kecenderungan manusia memberikan karakteristik, emosi, niat, atau sifat manusia kepada makhluk nonmanusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya bisa sangat sederhana.

Misalnya, ketika kucing sedang duduk di depan pintu, pemiliknya berkata, “Kamu mau keluar, ya?”

Ketika anjing terlihat murung, pemiliknya mengatakan, “Kamu lagi sedih?”

Atau ketika kucing menjatuhkan barang dari meja, pemiliknya berkata, “Kamu sengaja, ya?”

Manusia sebenarnya sedang memberikan makna dan maksud tertentu terhadap perilaku hewan berdasarkan cara manusia memahami dunia.

Kebiasaan ini tidak hanya terjadi pada hewan. Manusia juga sering memberikan karakter manusia kepada benda atau objek lain.

Namun, pada hewan peliharaan, anthropomorphism menjadi lebih kuat karena ada hubungan emosional yang terbentuk selama proses hidup bersama.

Kucing atau anjing yang tinggal bertahun-tahun dalam satu rumah akhirnya menjadi bagian dari rutinitas pemiliknya. Kehadirannya tidak lagi dianggap sekadar sebagai hewan yang ada di rumah.

Ada jadwal makan, waktu bermain, kebiasaan tidur, hingga rutinitas ketika pemilik pulang dari aktivitas di luar rumah.

Karena hubungan tersebut berlangsung setiap hari, hewan peliharaan kemudian dapat menempati posisi sosial yang cukup penting dalam kehidupan pemiliknya.

Mengapa Orang Suka Mengajak Hewan Peliharaan Bicara?

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa manusia bisa begitu nyaman berbicara dengan hewan meskipun tahu bahwa hewan tersebut tidak akan memberikan jawaban verbal?

Salah satu penjelasannya berkaitan dengan hubungan sosial.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia terbiasa berbicara dengan orang lain untuk menyampaikan informasi, mengekspresikan emosi, mencari respons, atau sekadar mengisi suasana.

Ketika seseorang tinggal bersama hewan peliharaan, hewan tersebut juga menjadi bagian dari lingkungan sosialnya.

Menurut pembahasan dalam Frontiers in Psychology, hewan dapat mengambil posisi yang biasanya ditempati manusia sebagai lawan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Artinya, ketika seseorang berbicara kepada kucing atau anjing, bukan berarti ia benar-benar menganggap hewan tersebut memiliki kemampuan berbahasa seperti manusia.

Ada proses sosial yang lebih sederhana.

Hewan tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sehingga manusia secara alami memperlakukannya sebagai teman berinteraksi.

Hal ini bisa terlihat ketika seseorang pulang ke rumah dan langsung berbicara kepada hewan peliharaannya.

“Papa pulang.”

“Kamu dari tadi di mana?”

“Sudah makan?”

Kalimat-kalimat sederhana tersebut mungkin terdengar biasa bagi pemilik hewan peliharaan.

Namun, jika dilihat dari sisi hubungan sosial, hal itu menunjukkan bahwa hewan tersebut sudah memiliki tempat dalam rutinitas kehidupan pemiliknya.

Hewan Peliharaan Bisa Menjadi Teman di Rumah

Bagi orang yang tinggal sendiri, keberadaan hewan peliharaan bahkan dapat menjadi bagian penting dari suasana rumah.

Setelah menjalani aktivitas seharian, seseorang mungkin merasa perlu berbicara atau sekadar mengeluarkan suara meskipun tidak ada orang lain di rumah.

Kucing atau anjing kemudian menjadi teman yang selalu ada.

Tidak harus ada percakapan dua arah seperti manusia. Kehadiran hewan saja sudah dapat membuat seseorang merasa tidak benar-benar sendirian.

Karena itu, tidak mengherankan jika pemilik hewan peliharaan sering mengajak hewan mereka berbicara.

Obrolannya pun tidak selalu penting.

Kadang hanya membicarakan makanan, cuaca, pekerjaan, kondisi jalan, acara televisi, atau hal kecil yang terjadi sepanjang hari.

Ada pula pemilik yang menceritakan masalah pribadi kepada hewan peliharaan.

Misalnya, seseorang pulang setelah mengalami hari yang buruk di tempat kerja. Ia kemudian duduk di sofa dan berbicara kepada kucingnya.

“Capek banget hari ini.”

“Bos bikin pusing.”

“Besok harus masuk lagi.”

Kucing tersebut tentu tidak memberikan nasihat. Namun, aktivitas berbicara itu tetap dapat menjadi bentuk ekspresi bagi pemiliknya.

Hubungan Manusia dan Hewan Tidak Sekadar Soal Merawat

Hubungan antara manusia dan hewan peliharaan juga semakin banyak dibahas dalam penelitian mengenai human-animal bond.

Hubungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas memberi makan, membersihkan kandang, mengajak jalan-jalan, atau membawa hewan ke dokter.

Ada ikatan emosional yang berkembang seiring waktu.

Dalam jurnal Animals, pembahasan mengenai hubungan manusia dan hewan menyoroti sejumlah unsur yang sering muncul, termasuk empati, attachment atau keterikatan, dan anthropomorphism.

Ketiga hal tersebut dapat saling berkaitan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemilik menunjukkan empati terhadap hewan ketika memperhatikan kondisi dan kebutuhannya.

Keterikatan muncul karena adanya hubungan yang terbentuk dari interaksi berulang.

Sementara itu, anthropomorphism dapat terlihat ketika manusia memberikan karakter atau emosi manusia kepada hewan.

Berbicara dengan hewan bisa menjadi salah satu bentuk sederhana dari hubungan tersebut.

Ketika pemilik bertanya kepada kucingnya apakah sudah makan, misalnya, ada perhatian terhadap kondisi hewan.

Ketika pemilik merasa khawatir karena anjingnya terlihat tidak aktif, ada bentuk empati.

Ketika pemilik merasa senang saat hewan peliharaannya menyambut ketika pulang, ada ikatan emosional yang sudah terbentuk.

Kenapa Suara Kita Berubah Saat Bicara dengan Hewan?

Pernah sadar kalau suara otomatis berubah ketika berbicara dengan kucing atau anjing?

Nada suara menjadi lebih tinggi, lebih lembut, dan lebih ekspresif.

Fenomena seperti ini sebenarnya cukup umum dalam interaksi manusia dengan hewan peliharaan.

Manusia menggunakan intonasi tertentu untuk menunjukkan perhatian dan membangun respons dari lawan interaksi.

Dalam hubungan dengan hewan, perubahan nada suara juga bisa menjadi bagian dari cara pemilik mendapatkan perhatian.

Misalnya, pemilik memanggil kucing dengan suara yang lebih tinggi ketika ingin membuatnya datang.

Pemilik anjing juga dapat menggunakan nada tertentu ketika memberi perintah, memuji, atau mengajak bermain.

Jadi, perubahan suara tidak selalu berarti seseorang menganggap hewan tersebut sebagai manusia.

Bisa saja itu merupakan cara komunikasi yang berkembang secara alami selama manusia dan hewan hidup bersama.

Berbicara dengan Hewan Tidak Berarti Kehilangan Kewarasan

Bagi orang yang melihat dari luar, seseorang yang sedang berbicara panjang dengan kucing mungkin terlihat lucu.

Apalagi jika orang tersebut bertanya, kemudian menjawab sendiri seolah-olah sedang melakukan percakapan.

Namun, perilaku tersebut tidak otomatis berarti orang tersebut mengalami masalah.

Selama seseorang masih mampu membedakan bahwa hewan peliharaannya bukan manusia dan tidak benar-benar membalas percakapan menggunakan bahasa manusia, kebiasaan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk interaksi dengan hewan.

Ada perbedaan antara berbicara kepada hewan sebagai bentuk kebiasaan sosial dengan meyakini bahwa hewan tersebut memiliki kemampuan manusia secara literal.

Dalam banyak kasus, pemilik sebenarnya sadar bahwa kucing atau anjing tidak memahami setiap kata yang diucapkan.

Mereka hanya menikmati interaksi tersebut.

Bahkan, terkadang pemilik sengaja berbicara karena merasa hewan peliharaannya memberikan respons tertentu.

Kucing yang menatap balik, misalnya, bisa membuat pemilik merasa seperti sedang didengarkan.

Anjing yang mengibaskan ekor juga dapat dianggap sebagai respons positif terhadap suara pemilik.

Interaksi tersebut kemudian menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi kedua pihak.

Kucing dan Anjing Memiliki Cara Merespons Sendiri

Meski hewan tidak berbicara seperti manusia, bukan berarti mereka sama sekali tidak memberikan respons.

Kucing dan anjing memiliki berbagai bentuk komunikasi nonverbal.

Kucing bisa menggunakan suara mengeong, dengkuran, gerakan telinga, ekor, posisi tubuh, hingga ekspresi tertentu.

Anjing juga memiliki berbagai bentuk komunikasi melalui gonggongan, rengekan, gerakan ekor, posisi tubuh, tatapan, dan perilaku lainnya.

Pemilik yang sudah lama tinggal bersama hewan biasanya semakin memahami pola tersebut.

Suara tertentu bisa dianggap sebagai tanda lapar.

Gerakan tertentu mungkin menunjukkan keinginan bermain.

Sikap tertentu dapat menjadi tanda bahwa hewan merasa tidak nyaman.

Karena itu, percakapan manusia dengan hewan sebenarnya tidak selalu benar-benar satu arah.

Manusia berbicara menggunakan kata-kata, sementara hewan merespons menggunakan bentuk komunikasi yang berbeda.

Pemilik kemudian belajar memahami respons tersebut berdasarkan pengalaman.

Kebiasaan Ini Bisa Memperkuat Interaksi

Berbicara dengan hewan peliharaan juga dapat menjadi bagian dari rutinitas yang membuat hubungan pemilik dan hewan semakin dekat.

Ketika pemilik sering mengajak bicara, ia juga menjadi lebih memperhatikan reaksi hewan.

Misalnya, pemilik mengetahui bahwa kucingnya akan mendekat ketika dipanggil dengan nama tertentu.

Atau anjingnya akan menggerakkan ekor ketika mendengar kata yang berkaitan dengan jalan-jalan.

Interaksi semacam itu membuat pemilik lebih peka terhadap kebiasaan hewan.

Sebaliknya, hewan juga dapat belajar mengenali suara, rutinitas, dan pola perilaku pemiliknya.

Hubungan tersebut kemudian berkembang dari waktu ke waktu.

Karena itu, percakapan dengan hewan tidak selalu harus dilihat sebagai aktivitas yang aneh.

Dalam konteks hubungan manusia dan hewan, berbicara dapat menjadi salah satu bentuk interaksi yang muncul secara alami.

Curhat kepada Hewan Peliharaan Juga Sering Terjadi

Tidak sedikit orang yang mengaku lebih nyaman menceritakan sesuatu kepada hewan peliharaan.

Alasannya sederhana, hewan tidak menghakimi.

Ketika seseorang bercerita kepada teman atau keluarga, selalu ada kemungkinan mendapatkan tanggapan, kritik, atau pertanyaan.

Sementara ketika bercerita kepada kucing atau anjing, pemilik hanya perlu berbicara.

Tidak ada tuntutan untuk memberikan penjelasan panjang.

Tidak ada perdebatan.

Tidak ada komentar balik yang membuat situasi menjadi semakin rumit.

Bagi sebagian orang, hal tersebut memberikan rasa nyaman.

Meski tentu saja hewan tidak dapat menggantikan peran manusia dalam semua bentuk hubungan sosial, keberadaan mereka tetap dapat memberikan pengalaman emosional yang berbeda.

Kucing yang tidur di samping pemilik atau anjing yang duduk menemani di ruang keluarga bisa menjadi bagian dari rutinitas yang memberikan rasa akrab.

Jangan Heran Kalau Hewan Peliharaan Dianggap Seperti Keluarga

Perubahan cara pandang terhadap hewan peliharaan juga membuat fenomena ini semakin mudah ditemukan.

Banyak pemilik kini tidak lagi menganggap kucing atau anjing hanya sebagai hewan penjaga rumah atau sekadar peliharaan.

Mereka dianggap sebagai bagian dari keluarga.

Ada yang menyediakan tempat tidur khusus, membeli mainan, merayakan ulang tahun, membuat akun media sosial, hingga membawa hewan peliharaan bepergian.

Ketika posisi hewan sudah masuk dalam struktur kehidupan keluarga, komunikasi dengan mereka pun menjadi hal yang lebih wajar.

Panggilan seperti “anak bulu”, “anak mama”, “anak papa”, atau “adek” muncul dari kedekatan tersebut.

Di titik ini, anthropomorphism menjadi sesuatu yang cukup mudah ditemui.

Manusia menggunakan bahasa dan konsep sosial yang mereka kenal untuk menggambarkan hubungan dengan hewan.

Apakah Berbicara dengan Hewan Ada Manfaatnya?

Penelitian yang membahas hubungan manusia dan hewan menunjukkan bahwa interaksi dengan hewan dapat memiliki berbagai dimensi emosional dan sosial.

Namun, penting untuk tidak menarik kesimpulan berlebihan bahwa berbicara dengan hewan otomatis dapat menyelesaikan masalah psikologis seseorang.

Manfaat yang dirasakan setiap orang bisa berbeda.

Bagi sebagian pemilik, berbicara dengan hewan mungkin hanya menjadi kebiasaan menyenangkan.

Bagi orang lain, aktivitas tersebut menjadi bagian dari rutinitas yang membuat rumah terasa lebih hidup.

Ada pula yang merasa lebih tenang ketika menghabiskan waktu bersama hewan peliharaan setelah menjalani aktivitas yang melelahkan.

Yang jelas, interaksi tersebut menunjukkan adanya hubungan emosional yang nyata antara manusia dan hewan.

Jadi, Normal atau Tidak?

Kalau selama ini sering ngobrol dengan kucing atau anjing di rumah, tidak perlu malu.

Bertanya kepada kucing kenapa tidak mau makan, memanggil anjing dengan panggilan sayang, atau bahkan menceritakan bagaimana beratnya pekerjaan hari ini bukan sesuatu yang otomatis menunjukkan seseorang tidak normal.

Penelitian mengenai interaksi manusia dan hewan justru menunjukkan bahwa perilaku tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari cara manusia membangun hubungan sosial dengan hewan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kucing atau anjing memang tidak akan menjawab menggunakan kalimat seperti manusia.

Namun, mereka memiliki cara sendiri dalam memberikan respons.

Ada suara, gerakan tubuh, tatapan, ekspresi, hingga perilaku yang kemudian dipahami oleh pemilik berdasarkan pengalaman.

Hubungan tersebut semakin kuat karena terjadi berulang kali.

Jadi, jika suatu malam Anda menemukan diri sendiri sedang bercerita panjang kepada kucing di ruang tamu, sebenarnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan.

Bisa jadi, Anda hanya sedang melakukan salah satu bentuk interaksi yang sudah lama menjadi bagian dari hubungan manusia dan hewan.

Pada akhirnya, berbicara dengan hewan peliharaan bukan hanya soal apakah mereka mengerti setiap kata yang kita ucapkan. Lebih dari itu, kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa hewan peliharaan telah memiliki tempat dalam kehidupan sosial dan emosional manusia.

Selama pemilik tetap memahami batas antara manusia dan hewan, kebiasaan mengobrol dengan kucing atau anjing dapat menjadi bentuk sederhana dari kedekatan yang terbangun setiap hari.

Jadi, masih merasa aneh karena sering ngobrol dengan anabul?

Tenang saja. Bisa jadi, Anda hanya sama seperti banyak pemilik hewan peliharaan lainnya yang sudah menganggap kucing atau anjing bukan sekadar hewan di rumah, melainkan teman yang selalu ada ketika kehidupan sedang ramai maupun sepi.

Sumber : www.cnnindonesia.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
Your Favorite Channel
--:--
STREAM
Scroll to Top