PILARadio.com – Pemerintah Provinsi Jawa Barat kembali menorehkan prestasi di sektor pariwisata. Jawa Barat berhasil meraih peringkat pertama sebagai provinsi terbaik dalam Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026. Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat, 16 Oktober 2026.
Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menerima langsung penghargaan tersebut dari Menteri Pariwisata Republik Indonesia Widiyanti Putri Wardhana. Capaian ini menjadi pengakuan atas upaya pengembangan pariwisata ramah Muslim di Jawa Barat, sekaligus memperkuat posisi provinsi tersebut dalam pengembangan destinasi yang memperhatikan kebutuhan wisatawan Muslim.
Penghargaan Indonesia Muslim Travel Index 2026 bukan satu-satunya apresiasi yang diterima Jawa Barat. Pada kesempatan yang sama, Jawa Barat juga memperoleh Special Recognition IMTI dalam kategori Best IMTI Performance of the Year.
Capaian tersebut melanjutkan prestasi serupa yang diraih Jawa Barat pada 2025. Keberhasilan mempertahankan posisi teratas menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata ramah Muslim menjadi salah satu perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama para pemangku kepentingan di sektor pariwisata.
Erwan Setiawan menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diterima Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Menurutnya, pencapaian tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak yang selama ini terlibat dalam pengembangan pariwisata di wilayah Jawa Barat.
“Alhamdulillah, sebuah kebanggaan Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerima penghargaan tertinggi sebagai Provinsi Terbaik Peringkat 1 di Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2026 yang diserahkan secara langsung oleh Menteri Pariwisata Ibu Widiyanti Putri Wardhana, pada ajang bergengsi ISEF 2026,” ujar Erwan.
Ia menilai penghargaan tersebut menjadi dorongan bagi seluruh pihak untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan pariwisata. Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, mempertahankan prestasi tidak cukup hanya dengan mengandalkan potensi alam dan daya tarik destinasi. Kualitas layanan, fasilitas, serta keterlibatan masyarakat juga perlu terus diperhatikan.
Erwan menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi pemerintah daerah, masyarakat pariwisata, dan Bank Indonesia. Sinergi berbagai pihak dinilai memiliki peran penting dalam mendorong pengembangan destinasi yang mampu memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim.
“Prestasi membanggakan ini adalah buah dari kerja keras, muhasabah, dan kolaborasi erat dari seluruh pihak. Target kita untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas pariwisata ramah muslim di Jawa Barat akhirnya terwujud nyata,” katanya.
Menurut Erwan, penghargaan ini juga menjadi milik masyarakat Jawa Barat yang selama ini ikut menjaga keramahan, mengembangkan potensi daerah, dan memberikan pelayanan kepada wisatawan.
“Penghargaan ini adalah milik seluruh masyarakat Jawa Barat. Mari terus kita tunjukkan keramahan, keindahan alam, dan kelengkapan fasilitas pariwisata kita kepada dunia,” tuturnya.
Jawa Barat Pertahankan Prestasi di Indonesia Muslim Travel Index
Keberhasilan Jawa Barat menempati peringkat pertama Indonesia Muslim Travel Index 2026 menjadi kabar positif bagi pengembangan sektor pariwisata daerah. Terlebih, provinsi ini sebelumnya juga memperoleh penghargaan serupa pada 2025.
Pencapaian tersebut memperlihatkan keberlanjutan upaya yang dilakukan untuk memperkuat layanan pariwisata ramah Muslim. Dalam pengembangan destinasi, keberhasilan tidak hanya bergantung pada banyaknya tempat wisata yang dimiliki, tetapi juga pada kesiapan fasilitas dan pelayanan yang dapat menunjang kebutuhan pengunjung.
Jawa Barat mempunyai beragam potensi wisata, mulai dari kawasan pegunungan, wisata alam, destinasi keluarga, hingga objek wisata budaya dan kuliner. Potensi tersebut dapat dikembangkan untuk menjangkau berbagai kelompok wisatawan, termasuk mereka yang membutuhkan fasilitas penunjang perjalanan ramah Muslim.
Pengembangan wisata ramah Muslim tidak berarti membatasi daya tarik destinasi hanya untuk kelompok tertentu. Konsep ini lebih menekankan kesiapan fasilitas dan pelayanan agar wisatawan Muslim dapat melakukan perjalanan dengan nyaman, tanpa menghilangkan karakter lokal maupun daya tarik utama suatu daerah.
Ketersediaan informasi mengenai fasilitas ibadah, kemudahan menemukan makanan halal, serta pelayanan yang memperhatikan kebutuhan wisatawan menjadi sejumlah aspek yang relevan dalam pengembangan pariwisata ramah Muslim.
Di sisi lain, keramahan masyarakat dan kualitas pelayanan juga menjadi bagian dari pengalaman wisata. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan atau mengunjungi tempat tertentu, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat, pelaku usaha, dan pengelola destinasi.
Karena itu, pengembangan wisata ramah Muslim membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah daerah memiliki peran dalam menyusun kebijakan dan mendorong peningkatan fasilitas, sedangkan pelaku usaha dapat berkontribusi melalui layanan, produk, serta pengalaman wisata yang sesuai dengan kebutuhan pengunjung.
Masyarakat setempat juga mempunyai peran penting dalam menjaga lingkungan destinasi dan memberikan sambutan yang baik kepada wisatawan. Keterlibatan tersebut dapat membantu menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.
Penghargaan IMTI 2026 menjadi momentum bagi Jawa Barat untuk melanjutkan upaya tersebut. Capaian peringkat pertama perlu diikuti dengan peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan agar manfaat pengembangan pariwisata dapat dirasakan oleh wisatawan maupun masyarakat setempat.
Penghargaan IMTI 2026 Jadi Hasil Kolaborasi Berbagai Pihak
Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menekankan pentingnya kerja sama dalam mempertahankan prestasi pariwisata ramah Muslim. Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari keterlibatan pemerintah, masyarakat pariwisata, dan Bank Indonesia.
Kolaborasi menjadi salah satu unsur penting karena pengembangan pariwisata melibatkan berbagai kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh satu pihak saja. Pemerintah dapat mendorong kebijakan dan penguatan fasilitas, sementara pelaku usaha menyediakan produk dan layanan yang dibutuhkan wisatawan.
Bank Indonesia Jawa Barat juga terlibat dalam pembinaan pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pesantren binaan. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi syariah sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk unggulan daerah.
Keterlibatan UMKM dalam kegiatan berskala nasional seperti ISEF memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk kepada konsumen, bertemu calon mitra bisnis, dan menjajaki peluang kerja sama.
Hubungan antara pengembangan pariwisata dan UMKM juga cukup erat. Wisatawan membutuhkan beragam layanan selama melakukan perjalanan, termasuk makanan dan minuman, produk fesyen, kerajinan, serta cendera mata yang mencerminkan karakter daerah.
Jika dikembangkan dengan baik, produk lokal dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata. Pengunjung tidak hanya menikmati destinasi, tetapi juga mengenal hasil karya dan usaha masyarakat setempat.
Dengan demikian, penguatan pariwisata ramah Muslim dapat berjalan beriringan dengan pengembangan usaha lokal. Keduanya dapat saling mendukung melalui peningkatan kualitas produk, pelayanan, promosi, dan akses pasar.
Erwan berharap masyarakat Jawa Barat terus menjaga keramahan dan memperkenalkan keindahan daerah kepada wisatawan. Ia juga mengajak berbagai pihak untuk mempertahankan semangat kolaborasi agar prestasi yang telah diraih dapat menjadi dorongan bagi peningkatan kualitas pariwisata pada masa mendatang.
ISEF 2026 Hadirkan Lebih dari 100 Kegiatan
Penghargaan Indonesia Muslim Travel Index 2026 diberikan dalam rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival ke-13 atau ISEF 2026. Kegiatan ini diselenggarakan pada 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center, Jakarta.
ISEF 2026 mempertemukan berbagai mitra ekonomi dan keuangan syariah dari dalam maupun luar negeri. Acara tersebut juga melibatkan lebih dari 1.000 pelaku industri halal dari berbagai sektor.
Rangkaian kegiatan ISEF 2026 mencakup lebih dari 100 agenda yang diselenggarakan secara luring dan daring. Berbagai kegiatan tersebut dirancang untuk mempertemukan pelaku usaha, memperluas jejaring, serta membuka peluang kerja sama di dalam ekosistem ekonomi syariah.
Sejumlah agenda yang dihadirkan antara lain business matching perdagangan dan wastra, Forum Bisnis Pesantren, serta forum nasional dan internasional yang membahas berbagai sektor ekonomi syariah.
Pembahasan dalam rangkaian kegiatan tersebut mencakup industri halal, zakat, wakaf, pembiayaan haji, hingga pariwisata ramah Muslim. Beragamnya agenda menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi syariah melibatkan banyak bidang yang saling berhubungan.
Dalam konteks industri halal, kegiatan pameran dan pertemuan bisnis dapat membantu pelaku usaha memperkenalkan produk sekaligus menjajaki kebutuhan pasar. Sementara itu, forum diskusi memberikan ruang bagi pemangku kepentingan untuk bertukar informasi dan membahas tantangan pengembangan sektor terkait.
ISEF juga menjadi tempat bagi UMKM untuk bertemu dengan calon pembeli dan mitra bisnis. Kesempatan tersebut penting, terutama bagi pelaku usaha yang ingin memperluas jangkauan pemasaran di luar daerah asal.
Partisipasi pelaku usaha dalam kegiatan berskala nasional dapat membantu mereka memahami kebutuhan konsumen yang lebih beragam. Pelaku usaha juga dapat memperkenalkan keunggulan produk, menerima masukan, serta membangun hubungan yang berpotensi dikembangkan setelah acara selesai.
Bagi Jawa Barat, keikutsertaan UMKM binaan Bank Indonesia dalam ISEF 2026 menjadi salah satu bentuk pengenalan produk daerah kepada pasar yang lebih luas. Produk makanan dan minuman halal, fesyen, wastra, serta produk unggulan lainnya ditampilkan melalui berbagai area kegiatan.
Kehadiran UMKM tersebut melengkapi pencapaian Jawa Barat di bidang pariwisata ramah Muslim. Penghargaan IMTI menunjukkan capaian di sektor pariwisata, sedangkan partisipasi pelaku usaha dalam ISEF memberikan ruang untuk memperkenalkan potensi ekonomi daerah.
Sebanyak 30 UMKM dan Pesantren Binaan BI Jawa Barat Berpartisipasi
ISEF 2026 menjadi kesempatan bagi 30 UMKM dan pesantren binaan Bank Indonesia Jawa Barat untuk memperkenalkan produk unggulan mereka. Para peserta terlibat dalam sejumlah agenda, mulai dari pameran, fashion show, business matching, Halal Mart, hingga Jawara Ekspor.
Keikutsertaan tersebut memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk bertemu langsung dengan konsumen, pelaku industri, calon mitra, dan jaringan pasar yang lebih luas.
Bagi UMKM, mengikuti pameran bukan hanya tentang menampilkan produk di sebuah stan. Kegiatan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan identitas merek, menjelaskan keunggulan produk, dan membangun komunikasi dengan calon pembeli.
Pertemuan bisnis pun memiliki peran tersendiri. Melalui business matching, pelaku usaha berkesempatan menjajaki kemungkinan kerja sama dengan mitra yang memiliki kebutuhan atau bidang usaha yang sesuai.
Peluang tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan pemasaran, memperluas jaringan distribusi, atau menemukan mitra yang dapat mendukung pertumbuhan usaha. Namun, tindak lanjut setelah kegiatan tetap menjadi bagian penting agar pertemuan yang terjadi dapat berkembang menjadi kerja sama nyata.
Pembinaan UMKM dan pesantren binaan Bank Indonesia Jawa Barat dilakukan secara berkelanjutan. Prosesnya mencakup penguatan kapasitas usaha, kurasi produk, perluasan akses pasar, hingga akses pembiayaan syariah.
Tahapan tersebut penting karena setiap pelaku usaha memiliki kebutuhan yang berbeda. Ada usaha yang perlu meningkatkan kualitas dan konsistensi produk, sementara usaha lain membutuhkan penguatan identitas merek atau akses menuju pasar baru.
Melalui pembinaan yang berjenjang, pelaku usaha diharapkan mampu meningkatkan kesiapan dalam menghadapi persaingan. Produk yang ditawarkan tidak hanya perlu memiliki daya tarik, tetapi juga harus didukung kualitas, pelayanan, dan kemampuan memenuhi permintaan konsumen.
Partisipasi dalam ISEF 2026 menjadi salah satu kesempatan untuk menerapkan hasil pembinaan tersebut. Para pelaku usaha dapat memperkenalkan produk secara langsung sekaligus melihat respons pasar terhadap produk yang mereka tawarkan.
Keterlibatan pesantren juga memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi syariah dapat melibatkan lembaga pendidikan dan komunitas usaha. Melalui produk yang dikembangkan, pesantren memiliki kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi dan memperluas jejaring.
14 UMKM Wastra dan Fesyen Jawa Barat Tampil di Modest Fashion Exhibition
Salah satu agenda yang diikuti UMKM Jawa Barat dalam ISEF 2026 adalah Modest Fashion Exhibition. Sebanyak 14 UMKM wastra dan fesyen membuka stan di area lobi dan Cenderawasih Jakarta International Convention Center.
Ke-14 UMKM tersebut adalah Dama Kara, YASA, Neu Men, Boolao, Klambikoe, Fustan by Dots Indonesia, Bellahasura, Himeca Daily, Awgorgeousin, Kirapassa, Netaly, Jofan Design, Artikala, dan Anggia Handmade.
Kehadiran para pelaku usaha tersebut memberikan kesempatan untuk memperkenalkan produk fesyen dan wastra kepada pengunjung ISEF. Melalui area pameran, pengunjung dapat melihat produk secara langsung serta mengenal berbagai merek yang dikembangkan oleh UMKM Jawa Barat.
Sektor fesyen memiliki ruang pengembangan yang luas, terutama ketika pelaku usaha mampu menggabungkan kualitas produk, desain, identitas merek, dan kebutuhan konsumen. Bagi UMKM, pameran dapat menjadi sarana untuk memperlihatkan karakter produk sekaligus membangun pengenalan merek.
Selain membuka stan pameran, enam UMKM Jawa Barat turut tampil dalam peragaan busana IN2MOTIONFEST x JMFW 2026. Mereka adalah Jofan Design, Artikala, Klambikoe, Bellahasura, Fustan by Dots Indonesia, dan Boolao.
Keterlibatan dalam fashion show memberikan bentuk promosi yang berbeda dibandingkan pameran produk. Dalam peragaan busana, produk dapat diperlihatkan melalui penampilan langsung sehingga pengunjung memperoleh gambaran mengenai desain dan cara pemakaiannya.
Partisipasi tersebut juga membuka kesempatan bagi UMKM untuk memperkenalkan karya kepada audiens yang lebih luas. Bagi merek yang sedang mengembangkan pasar, pengenalan melalui berbagai kanal promosi dapat membantu membangun identitas dan memperluas jangkauan calon konsumen.
Sementara itu, Mom Aiko Store turut berpartisipasi dalam kegiatan business matching modest fashion. Agenda tersebut memberi kesempatan bagi pelaku usaha untuk menjajaki hubungan bisnis dengan mitra potensial di sektor fesyen.
Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa keterlibatan UMKM dalam ISEF tidak terbatas pada penjualan langsung. Pameran, peragaan busana, dan pertemuan bisnis dapat menjadi bagian dari strategi untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat keberadaan merek lokal.
Produk Makanan dan Minuman Halal UMKM Jabar Ramaikan ISEF
Selain sektor fesyen, UMKM Jawa Barat juga menghadirkan produk makanan dan minuman halal dalam rangkaian ISEF 2026.
Di area Halal Food B2B, sejumlah produk dari Jawa Barat diwakili oleh Ciomy, D’Mamam, Imago, Sila Tea, dan Yammy Babeh. Sementara itu, Alamme dan Madu NP hadir di area Halal Food B2C, Hall B JICC.
Perbedaan area B2B dan B2C memberikan konteks pemasaran yang berbeda bagi pelaku usaha. B2B atau business to business berfokus pada hubungan antarpelaku usaha, sedangkan B2C atau business to consumer berkaitan dengan pemasaran langsung kepada konsumen.
Melalui area B2B, pelaku usaha dapat memperkenalkan produk kepada calon mitra yang berpotensi mendukung distribusi atau kerja sama komersial. Sementara itu, area B2C memberi kesempatan untuk menjangkau konsumen secara langsung dan memperkenalkan produk kepada pengunjung.
Produk UMKM Jawa Barat juga dapat ditemukan di Gema Halal – Halal Mart. Merek yang tercantum dalam area tersebut meliputi Ciomy, D’Mamam, Imago, MT Farm, Srinaga & Cancimen, Sunkrips, Palmute & Bee Polis, Nurul Iman, dan Sila Tea.
Kehadiran produk di beberapa area kegiatan memperluas kesempatan pengenalan merek. Pengunjung dapat melihat beragam produk yang dikembangkan oleh pelaku usaha Jawa Barat, sementara para pelaku usaha memperoleh ruang untuk membangun hubungan dengan pasar.
Produk makanan dan minuman memiliki peluang untuk dikembangkan melalui peningkatan kualitas, pengemasan, konsistensi produksi, serta pemasaran yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Hal-hal tersebut dapat menjadi perhatian pelaku usaha ketika ingin memperluas jangkauan penjualan.
Dalam ekosistem halal, pemenuhan kebutuhan konsumen juga perlu didukung oleh informasi produk yang jelas dan proses usaha yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, pengembangan pasar dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kepercayaan konsumen.
Keterlibatan UMKM makanan dan minuman dalam ISEF 2026 menjadi bagian dari upaya memperkenalkan produk lokal di tengah kegiatan ekonomi syariah nasional. Melalui pameran dan pertemuan bisnis, para peserta memiliki kesempatan untuk memperluas jaringan serta menjajaki peluang pengembangan usaha.
UMKM Jawa Barat Ikut Program Jawara Ekspor
Produk unggulan Jawa Barat juga tampil dalam area Jawara Ekspor di ISEF 2026. Program ini menjadi salah satu ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk yang berpotensi menjangkau pasar lebih luas.
Untuk kategori makanan halal, produk yang mewakili Jawa Barat adalah Imago, Sarkara Madu, dan Sila Tea. Sementara itu, kategori modest fashion diwakili oleh Dama Kara, Kirapassa, dan Neu Men.
Keikutsertaan dalam area Jawara Ekspor memberi kesempatan bagi UMKM untuk memperlihatkan produk kepada pengunjung dan jaringan usaha yang hadir dalam kegiatan tersebut. Pengenalan semacam ini dapat menjadi langkah awal untuk menjajaki kebutuhan pasar di luar wilayah pemasaran yang selama ini dijangkau.
Bagi pelaku usaha yang ingin memperluas pasar, kesiapan produk menjadi hal penting. Selain kualitas, pelaku usaha perlu memperhatikan kapasitas produksi, konsistensi pasokan, pengemasan, serta kemampuan memenuhi kebutuhan calon mitra.
Peluang ekspor juga memerlukan persiapan yang tidak sederhana. Pelaku usaha perlu memahami persyaratan pasar tujuan, ketentuan produk, dokumen yang diperlukan, dan sistem distribusi yang akan digunakan.
Karena itu, keikutsertaan dalam pameran dan program pengenalan produk dapat menjadi bagian dari proses pengembangan usaha. Pelaku UMKM dapat memperkenalkan produk, memperoleh masukan, dan mengidentifikasi kebutuhan yang perlu dipenuhi sebelum memasuki pasar yang lebih luas.
Melalui pembinaan berkelanjutan, UMKM Jawa Barat diharapkan dapat memperkuat kesiapan usaha sekaligus meningkatkan daya saing produk. Dukungan terhadap akses pasar menjadi salah satu unsur penting dalam proses tersebut.
Kehadiran produk makanan halal dan modest fashion dari Jawa Barat di area Jawara Ekspor menunjukkan keragaman potensi usaha yang dikembangkan di daerah. Produk-produk tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan hasil karya pelaku usaha lokal dalam ekosistem industri halal.
Pesantren Binaan BI Jawa Barat Turut Berpartisipasi
Tidak hanya UMKM, pesantren binaan Bank Indonesia Jawa Barat juga ambil bagian dalam ISEF 2026. Dua peserta yang tercatat dalam kegiatan tersebut adalah Gerbang Santri melalui produk Air Berkah dan Pondok Pesantren Darussyifa Al Fitra.
Keterlibatan pesantren menjadi bagian dari pengembangan ekonomi syariah yang melibatkan lebih banyak unsur masyarakat. Pesantren tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan dan pembinaan keagamaan, tetapi juga dapat berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi melalui usaha yang dikembangkan.
Partisipasi dalam kegiatan berskala nasional memberikan kesempatan untuk memperkenalkan produk pesantren kepada pengunjung dan calon mitra. Kesempatan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk membangun jejaring dengan pelaku usaha lain.
Dalam pengembangan usaha, pesantren dan UMKM membutuhkan dukungan yang sesuai dengan kapasitas masing-masing. Penguatan pengelolaan usaha, kualitas produk, promosi, dan akses pasar dapat menjadi bagian dari proses pengembangan secara bertahap.
Pembinaan yang berkelanjutan diperlukan agar pelaku usaha dapat meningkatkan kemampuan dalam mengelola kegiatan bisnis. Selain memperkenalkan produk, mereka perlu membangun sistem usaha yang mampu menjaga kualitas dan memenuhi kebutuhan konsumen.
Kehadiran Gerbang Santri dan Pondok Pesantren Darussyifa Al Fitra di ISEF 2026 memperlihatkan keterlibatan lembaga pesantren dalam kegiatan ekonomi syariah. Melalui partisipasi tersebut, produk yang dikembangkan memiliki kesempatan untuk dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
Kolaborasi antara pemerintah, Bank Indonesia, pelaku usaha, dan pesantren diharapkan dapat mendukung perkembangan ekosistem halal. Dukungan tersebut dapat diarahkan pada penguatan kapasitas, pengembangan produk, dan pembukaan akses pasar yang lebih luas.
Pembinaan UMKM Jadi Bagian dari Penguatan Ekonomi Syariah Jawa Barat
Keterlibatan 30 UMKM dan pesantren binaan Bank Indonesia Jawa Barat dalam ISEF 2026 merupakan bagian dari proses pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan dan berjenjang.
Pembinaan tersebut mencakup penguatan kapasitas usaha, kurasi produk, perluasan akses pasar, hingga akses pembiayaan syariah. Setiap tahapan memiliki peran dalam membantu pelaku usaha meningkatkan kesiapan menghadapi persaingan.
Penguatan kapasitas usaha dapat mencakup peningkatan kemampuan mengelola bisnis dan memahami kebutuhan konsumen. Sementara itu, kurasi produk membantu pelaku usaha memperhatikan kualitas dan kesiapan produk sebelum diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas.
Akses pasar juga menjadi faktor penting bagi UMKM. Produk yang memiliki kualitas baik tetap membutuhkan strategi pemasaran dan jaringan distribusi agar dapat menjangkau konsumen.
Melalui kegiatan pameran, business matching, dan program pengenalan produk, pelaku usaha memperoleh kesempatan untuk memperluas hubungan dengan calon mitra. Hubungan tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan masing-masing usaha.
Pembiayaan syariah menjadi unsur lain yang dapat mendukung perkembangan usaha. Akses pembiayaan yang sesuai kebutuhan dapat membantu pelaku usaha merencanakan pengembangan bisnis, sepanjang didukung pengelolaan keuangan dan perhitungan usaha yang memadai.
Dalam ekosistem ekonomi syariah nasional, UMKM dan pesantren memiliki peluang untuk berperan melalui produk serta layanan yang mereka kembangkan. Namun, keberlanjutan usaha tetap memerlukan pengelolaan yang baik, kualitas yang terjaga, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan pasar.
Melalui pembinaan yang berkesinambungan, UMKM Jawa Barat diharapkan dapat naik kelas dan menjadi bagian penting dari rantai nilai halal nasional. Upaya tersebut juga diharapkan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Penghargaan Wisata Ramah Muslim Jadi Momentum bagi Jawa Barat
Penghargaan Indonesia Muslim Travel Index 2026 memberikan pengakuan terhadap capaian Jawa Barat dalam pengembangan pariwisata ramah Muslim. Namun, prestasi tersebut juga menjadi pengingat bahwa peningkatan kualitas layanan perlu terus dilakukan.
Pengembangan destinasi membutuhkan perhatian terhadap banyak aspek, mulai dari fasilitas, informasi wisata, kebersihan, kenyamanan, hingga pelayanan yang diberikan kepada pengunjung. Kebutuhan tersebut perlu disesuaikan dengan karakter masing-masing destinasi dan pengalaman yang ingin ditawarkan kepada wisatawan.
Potensi alam dan budaya Jawa Barat dapat menjadi daya tarik utama. Agar manfaatnya semakin luas, pengembangan destinasi juga dapat dihubungkan dengan produk lokal, kuliner, fesyen, kerajinan, serta usaha masyarakat di sekitar kawasan wisata.
Hubungan tersebut membuka peluang agar aktivitas pariwisata memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata. Ketika wisatawan menggunakan layanan lokal atau membeli produk masyarakat, aktivitas perjalanan dapat ikut mendukung perputaran ekonomi di daerah.
Dalam konteks tersebut, pembinaan UMKM dan pengembangan pariwisata dapat berjalan saling melengkapi. Destinasi yang memiliki layanan memadai dapat memberikan pengalaman lebih baik kepada pengunjung, sedangkan UMKM dapat menyediakan produk yang memperkaya pengalaman wisata.
Kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan lembaga pendukung menjadi penting untuk menjaga kesinambungan pengembangan tersebut. Setiap pihak memiliki peran berbeda, tetapi tujuan akhirnya adalah membangun ekosistem pariwisata dan ekonomi yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi Jawa Barat, penghargaan IMTI 2026 menjadi salah satu capaian yang dapat dijadikan pijakan untuk melanjutkan upaya tersebut. Pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan diharapkan terus memperkuat pelayanan, memperkenalkan potensi daerah, dan membuka ruang bagi pelaku usaha untuk berkembang.
Partisipasi UMKM dan pesantren binaan Bank Indonesia Jawa Barat dalam ISEF 2026 juga menjadi bagian dari upaya memperluas pengenalan produk lokal. Beragam produk fesyen, wastra, makanan, minuman, serta produk pesantren ditampilkan dalam kegiatan yang mempertemukan pelaku industri halal dari berbagai sektor.
Dengan keberlanjutan pembinaan dan kerja sama antarpihak, UMKM Jawa Barat diharapkan mampu memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing. Pada saat yang sama, pengembangan pariwisata ramah Muslim diharapkan terus meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun mengajak masyarakat untuk menjaga keramahan, keindahan alam, dan kelengkapan fasilitas pariwisata yang dimiliki daerah. Upaya tersebut menjadi bagian dari usaha memperkenalkan Jawa Barat kepada wisatawan dari berbagai wilayah dan negara.
Prestasi sebagai peringkat pertama Indonesia Muslim Travel Index 2026 menjadi kabar membanggakan bagi Jawa Barat. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan kualitas, memperkuat kolaborasi, serta memastikan pengembangan pariwisata dan ekonomi syariah memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.
Sumber : www.kumparan.com



