PILARadio.com – Jakarta menempati peringkat ke-140 dari 1.000 kota di dunia dalam laporan Global Cities Index 2026 yang dirilis lembaga riset Oxford Economics. Hasil tersebut menunjukkan posisi Jakarta dalam persaingan kota-kota global, dengan keunggulan utama pada aspek modal manusia atau human capital yang berhasil menembus 25 besar dunia.
Dalam laporan yang dirilis pada Senin (28/9), Jakarta mencatatkan peringkat ke-23 dunia untuk kategori modal manusia. Capaian ini menjadi salah satu indikator menonjol dalam penilaian Jakarta, terutama jika dibandingkan dengan sejumlah aspek lain yang masih menghadapi tantangan, seperti kualitas hidup dan lingkungan.
Global Cities Index merupakan pemeringkatan yang menilai performa kota berdasarkan sejumlah indikator yang berkaitan dengan perkembangan ekonomi, kualitas sumber daya manusia, kondisi kehidupan masyarakat, lingkungan, serta tata kelola pemerintahan. Melalui penilaian tersebut, Oxford Economics berupaya menggambarkan kondisi kota-kota di dunia dari berbagai sisi, bukan hanya berdasarkan ukuran ekonomi atau jumlah penduduk.
Dalam edisi 2026, New York menempati posisi pertama sebagai kota dengan peringkat tertinggi secara keseluruhan. London berada di posisi kedua, sedangkan Paris menempati peringkat ketiga.
Sementara itu, posisi Jakarta di urutan ke-140 memperlihatkan bahwa ibu kota Indonesia tersebut memiliki capaian yang berbeda-beda pada setiap kategori. Jakarta mencatatkan hasil relatif tinggi dalam modal manusia dan ekonomi, tetapi masih berada di peringkat lebih rendah pada aspek lingkungan serta kualitas hidup.
Jakarta Peringkat 140 dari 1.000 Kota Dunia
Peringkat ke-140 dalam Global Cities Index 2026 menempatkan Jakarta dalam daftar kota yang dinilai memiliki peran penting dalam perkembangan perkotaan global. Namun, posisi keseluruhan tersebut tidak dapat dibaca hanya sebagai ukuran keberhasilan atau kekurangan sebuah kota.
Penilaian dalam indeks ini menggunakan lima pilar utama yang memiliki karakteristik berbeda. Setiap pilar menggambarkan aspek tertentu dalam kehidupan perkotaan, mulai dari aktivitas ekonomi hingga kualitas lingkungan tempat masyarakat tinggal.
Bagi Jakarta, hasil penilaian tersebut memperlihatkan adanya perbedaan capaian yang cukup lebar antara satu pilar dan pilar lainnya. Modal manusia berada di posisi ke-23, sedangkan ekonomi menempati peringkat ke-59. Dua kategori ini menjadi aspek dengan posisi tertinggi bagi Jakarta berdasarkan data yang tersedia dalam laporan tersebut.
Di sisi lain, tata kelola berada di peringkat ke-372. Sementara itu, kategori lingkungan menempatkan Jakarta di posisi ke-553 dan kualitas hidup di peringkat ke-561.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penilaian kota global tidak hanya berkaitan dengan aktivitas bisnis, produktivitas, atau kemampuan menarik investasi. Faktor yang berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari masyarakat juga menjadi bagian penting dalam mengukur performa sebuah kota.
Jakarta merupakan pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan, jasa, keuangan, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya di Indonesia. Kota ini juga menjadi tujuan masyarakat dari berbagai daerah untuk mencari pekerjaan, mengakses pendidikan, dan memperoleh layanan publik.
Besarnya aktivitas tersebut membuat Jakarta memiliki karakter perkotaan yang kompleks. Pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sumber daya manusia berjalan beriringan dengan kebutuhan untuk meningkatkan transportasi, perumahan, pelayanan kesehatan, pengelolaan sampah, serta kualitas lingkungan.
Karena itu, hasil Global Cities Index 2026 dapat menjadi salah satu bahan untuk memahami aspek yang telah menunjukkan capaian tinggi dan bidang yang masih membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Modal Manusia Jadi Keunggulan Jakarta
Salah satu hasil paling menonjol dari Jakarta dalam Global Cities Index 2026 adalah peringkat ke-23 dunia pada pilar modal manusia. Posisi ini menunjukkan capaian Jakarta yang kuat dalam kategori tersebut menurut metodologi penilaian Oxford Economics.
Modal manusia atau human capital secara umum berkaitan dengan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia. Aspek yang dapat menjadi perhatian dalam penilaian kategori ini meliputi pendidikan, keterampilan, dan kemampuan masyarakat dalam mendukung aktivitas ekonomi serta perkembangan kota.
Ketersediaan sumber daya manusia yang terdidik dan memiliki keterampilan menjadi salah satu unsur penting dalam perkembangan kawasan perkotaan. Kota yang memiliki tenaga kerja dengan beragam keahlian dapat mendukung aktivitas bisnis, pengembangan teknologi, industri kreatif, penelitian, hingga pelayanan profesional.
Jakarta memiliki ekosistem pendidikan dan pekerjaan yang beragam. Sejumlah perguruan tinggi, lembaga pelatihan, perusahaan nasional, perusahaan multinasional, serta berbagai sektor jasa beroperasi di kawasan metropolitan Jakarta dan sekitarnya.
Kondisi tersebut menciptakan kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan kemampuan yang beragam. Bidang keuangan, teknologi informasi, komunikasi, pemasaran, kesehatan, pendidikan, dan industri kreatif merupakan sebagian contoh sektor yang membutuhkan sumber daya manusia dengan keterampilan khusus.
Selain itu, Jakarta menjadi tempat bertemunya pekerja dari berbagai latar belakang pendidikan dan pengalaman. Mobilitas penduduk tersebut ikut membentuk pasar tenaga kerja perkotaan yang luas, meskipun juga menghadirkan tantangan berupa persaingan pekerjaan dan kebutuhan peningkatan keterampilan.
Peringkat ke-23 pada pilar modal manusia menjadi catatan penting dalam hasil penilaian Jakarta. Meski demikian, peringkat tersebut tidak berarti seluruh penduduk Jakarta telah memiliki akses pendidikan, pekerjaan, dan pelatihan yang merata. Hasil indeks merupakan gambaran berdasarkan indikator dan metode yang digunakan lembaga penyusun, sehingga perlu dibaca sesuai cakupannya.
Tantangan berikutnya adalah memastikan potensi sumber daya manusia dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Peningkatan kualitas pendidikan, pemerataan akses pelatihan, pengembangan keterampilan digital, dan keterhubungan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.
Dengan demikian, modal manusia tidak hanya berkaitan dengan jumlah penduduk terdidik, tetapi juga bagaimana keterampilan mereka dapat dikembangkan dan digunakan untuk mendukung produktivitas, inovasi, serta kesejahteraan masyarakat.
Pilar Ekonomi Jakarta Berada di Peringkat ke-59
Selain modal manusia, Jakarta mencatatkan hasil yang relatif tinggi pada pilar ekonomi dengan menempati peringkat ke-59 dunia.
Sebagai pusat kegiatan bisnis nasional, Jakarta memiliki peran besar dalam aktivitas perdagangan, keuangan, jasa profesional, dan berbagai sektor ekonomi lainnya. Keberadaan kantor pusat perusahaan, lembaga keuangan, pusat perbelanjaan, kawasan bisnis, serta jaringan usaha membuat kegiatan ekonomi di kota ini berlangsung dalam skala besar.
Aktivitas tersebut turut menciptakan lapangan pekerjaan dan membuka peluang bagi pelaku usaha. Perusahaan besar, usaha menengah, usaha kecil, hingga pelaku ekonomi informal menjadi bagian dari dinamika perekonomian Jakarta.
Dalam perkembangan ekonomi perkotaan, besarnya aktivitas bisnis bukan satu-satunya faktor yang menentukan kualitas pertumbuhan. Produktivitas, akses terhadap pekerjaan, kemampuan masyarakat memperoleh penghasilan, dan kesempatan mengembangkan usaha juga menjadi bagian dari persoalan yang perlu diperhatikan.
Jakarta menghadapi tantangan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh berbagai kelompok masyarakat. Pertumbuhan yang terkonsentrasi pada sektor atau kelompok tertentu berpotensi menciptakan kesenjangan apabila tidak diimbangi dengan kesempatan ekonomi yang lebih luas.
Selain itu, perkembangan dunia usaha membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai. Transportasi, jaringan komunikasi, pasokan energi, ketersediaan ruang usaha, serta kepastian layanan publik merupakan beberapa unsur yang berpengaruh terhadap kegiatan ekonomi.
Konektivitas dengan kawasan penyangga juga memiliki peran penting. Aktivitas ekonomi Jakarta tidak dapat dilepaskan dari hubungan dengan wilayah metropolitan di sekitarnya, termasuk pergerakan pekerja, distribusi barang, dan jaringan layanan.
Peringkat ke-59 pada pilar ekonomi memperlihatkan posisi Jakarta dalam kategori tersebut menurut penilaian Oxford Economics. Namun, angka ini tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh kondisi ekonomi masyarakat, termasuk pemerataan pendapatan, biaya hidup, atau kualitas pekerjaan.
Oleh sebab itu, hasil pemeringkatan perlu dipahami sebagai salah satu indikator untuk membaca posisi Jakarta dalam konteks perkotaan global, bukan sebagai gambaran menyeluruh tentang kesejahteraan setiap penduduk.
Tata Kelola Jakarta Berada di Peringkat ke-372
Berbeda dengan modal manusia dan ekonomi, Jakarta menempati peringkat ke-372 pada pilar tata kelola atau governance.
Tata kelola merupakan aspek penting dalam pengelolaan kota karena berkaitan dengan bagaimana kebijakan disusun, pelayanan publik dijalankan, dan berbagai persoalan perkotaan ditangani. Kualitas tata kelola juga berhubungan dengan kemampuan pemerintah merespons kebutuhan masyarakat dan mengoordinasikan pembangunan.
Di kota besar seperti Jakarta, pengelolaan pemerintahan melibatkan persoalan yang saling berkaitan. Transportasi, penataan ruang, pengendalian banjir, pengelolaan sampah, penyediaan hunian, serta pelayanan administrasi merupakan sebagian urusan yang membutuhkan koordinasi lintas sektor.
Kompleksitas tersebut semakin besar karena kehidupan masyarakat Jakarta terhubung erat dengan wilayah di sekitarnya. Banyak penduduk yang bekerja, belajar, atau mengakses layanan di Jakarta meskipun tinggal di kawasan penyangga. Pergerakan penduduk setiap hari membuat kebutuhan transportasi dan pelayanan perkotaan melampaui batas administratif.
Dalam kondisi seperti ini, koordinasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan wilayah sekitar menjadi salah satu unsur penting. Kebijakan yang hanya berfokus pada satu wilayah berpotensi menghadapi keterbatasan ketika persoalan yang ditangani sebenarnya bersifat lintas daerah.
Pelayanan publik yang mudah diakses juga menjadi bagian penting dalam tata kelola. Masyarakat membutuhkan proses administrasi yang jelas, informasi yang terbuka, serta mekanisme pengaduan yang dapat digunakan ketika menghadapi masalah.
Di samping itu, perencanaan pembangunan memerlukan data yang memadai dan evaluasi berkala agar kebijakan yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pelibatan warga dalam proses perencanaan juga dapat membantu pemerintah memahami persoalan yang terjadi di lingkungan permukiman.
Meski demikian, peringkat ke-372 tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh aspek pemerintahan Jakarta memiliki kualitas yang sama. Penilaian indeks bergantung pada indikator, bobot, sumber data, dan metode yang digunakan. Untuk mengetahui persoalan yang lebih spesifik, diperlukan penjelasan lebih terperinci mengenai indikator tata kelola dalam laporan Oxford Economics.
Hasil tersebut dapat menjadi titik awal untuk melihat kembali kebutuhan perbaikan tata kelola, terutama dalam menghadapi persoalan perkotaan yang melibatkan banyak lembaga dan kepentingan masyarakat.
Kualitas Lingkungan Jakarta Masih Menjadi Tantangan
Pada pilar lingkungan, Jakarta menempati peringkat ke-553 dari 1.000 kota yang dinilai. Posisi tersebut menunjukkan bahwa kategori lingkungan menjadi salah satu aspek yang masih perlu mendapat perhatian dalam membaca hasil pemeringkatan Jakarta.
Lingkungan perkotaan memiliki hubungan langsung dengan kesehatan, kenyamanan, dan aktivitas sehari-hari penduduk. Kualitas udara, ketersediaan ruang terbuka hijau, pengelolaan sampah, sistem drainase, serta kemampuan kota menghadapi dampak perubahan iklim merupakan beberapa persoalan yang sering menjadi perhatian dalam pembangunan perkotaan.
Sebagai kota dengan aktivitas penduduk dan kendaraan yang tinggi, Jakarta membutuhkan pengelolaan lingkungan yang terintegrasi. Pertumbuhan kawasan terbangun, kebutuhan mobilitas, kegiatan industri dan jasa, serta peningkatan konsumsi masyarakat dapat menambah tekanan terhadap lingkungan apabila tidak diimbangi dengan kebijakan yang tepat.
Kualitas udara menjadi salah satu isu yang banyak dibahas dalam konteks perkotaan. Aktivitas transportasi, penggunaan energi, kegiatan industri, dan sumber emisi lainnya dapat memengaruhi kondisi udara. Upaya mengatasinya membutuhkan pemantauan kualitas udara, pengendalian emisi, peningkatan transportasi umum, serta koordinasi dengan wilayah sekitar.
Persoalan sampah juga memerlukan penanganan berkelanjutan. Pertambahan penduduk dan aktivitas ekonomi meningkatkan kebutuhan pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan sampah. Pengurangan sampah sejak dari sumbernya, pemilahan, penggunaan kembali, dan daur ulang dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi beban sistem pengelolaan sampah.
Ruang terbuka hijau turut berperan dalam menciptakan lingkungan yang lebih nyaman. Taman kota dan kawasan hijau dapat menyediakan ruang untuk aktivitas masyarakat, mendukung keberadaan vegetasi, serta membantu mengurangi dampak panas di kawasan perkotaan. Namun, ketersediaan dan persebaran ruang hijau perlu diperhatikan agar manfaatnya dapat dijangkau oleh lebih banyak warga.
Jakarta juga menghadapi kebutuhan untuk memperkuat ketahanan terhadap risiko banjir dan perubahan iklim. Penataan drainase, pemeliharaan saluran air, pengelolaan daerah aliran sungai, serta pengendalian pemanfaatan ruang merupakan bagian dari persoalan yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.
Peringkat lingkungan dalam Global Cities Index tidak secara otomatis menjelaskan kontribusi masing-masing persoalan tersebut terhadap posisi Jakarta. Untuk memastikan indikator yang paling berpengaruh, diperlukan rincian metodologi dan data pendukung dari laporan aslinya.
Meski begitu, posisi ke-553 dapat menjadi pengingat bahwa perkembangan kota tidak cukup diukur melalui aktivitas ekonomi dan ketersediaan tenaga kerja. Kondisi lingkungan juga berperan dalam menentukan kenyamanan hidup masyarakat dan keberlanjutan pembangunan dalam jangka panjang.
Kualitas Hidup Jakarta Berada di Peringkat ke-561
Pilar kualitas hidup atau quality of life menjadi kategori dengan peringkat terendah di antara lima pilar Jakarta dalam laporan Global Cities Index 2026. Jakarta berada di urutan ke-561 dunia pada kategori tersebut.
Kualitas hidup merupakan konsep yang luas karena mencakup berbagai aspek yang memengaruhi kehidupan penduduk. Dalam konteks perkotaan, hal-hal seperti akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, perumahan, transportasi, fasilitas umum, dan kenyamanan lingkungan dapat berkaitan dengan pengalaman masyarakat sehari-hari.
Kota dengan aktivitas ekonomi besar belum tentu secara otomatis memberikan pengalaman hidup yang sama bagi seluruh penduduknya. Kesempatan memperoleh pekerjaan dan penghasilan perlu berjalan seiring dengan akses terhadap hunian yang layak, layanan publik, serta transportasi yang terjangkau.
Bagi Jakarta, mobilitas menjadi salah satu persoalan penting. Perjalanan dari rumah ke tempat kerja atau sekolah dapat menyita waktu dan biaya, terutama bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kegiatan. Ketersediaan transportasi umum dan keterhubungan antarmoda menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap berbagai aktivitas.
Persoalan perumahan juga berkaitan dengan kualitas hidup. Ketersediaan hunian yang sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat, akses terhadap air bersih dan sanitasi, serta kedekatan dengan tempat kerja dan layanan publik dapat memengaruhi kenyamanan tinggal di kota.
Selain itu, kualitas hidup tidak hanya ditentukan oleh fasilitas fisik. Keamanan lingkungan, akses terhadap ruang publik, kesempatan beraktivitas, dan kemudahan mendapatkan layanan kesehatan juga menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat perkotaan.
Perbaikan kualitas hidup membutuhkan kebijakan yang memperhatikan perbedaan kondisi antarwilayah dan kelompok penduduk. Kebutuhan warga di kawasan pusat bisnis dapat berbeda dengan kebutuhan masyarakat di permukiman padat atau wilayah yang memiliki akses transportasi terbatas.
Peringkat ke-561 dalam indeks tersebut memberikan gambaran mengenai posisi Jakarta berdasarkan indikator yang digunakan Oxford Economics. Namun, angka itu tidak berarti setiap penduduk mengalami kondisi hidup yang sama. Pengalaman masyarakat dapat berbeda bergantung pada lokasi tempat tinggal, pekerjaan, pendapatan, dan akses terhadap layanan.
Karena itu, pembacaan terhadap hasil indeks perlu dilengkapi dengan data yang lebih terperinci. Informasi mengenai indikator penyusun kualitas hidup dapat membantu menjelaskan aspek yang memengaruhi posisi Jakarta dan menentukan bidang yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Rincian Lima Pilar Jakarta dalam Global Cities Index 2026
Berdasarkan data yang tercantum dalam laporan yang dirujuk, berikut peringkat Jakarta pada lima kategori Global Cities Index 2026.
| Pilar penilaian | Peringkat Jakarta |
| Modal manusia (Human Capital) | 23 |
| Ekonomi (Economy) | 59 |
| Tata kelola (Governance) | 372 |
| Lingkungan (Environment) | 553 |
| Kualitas hidup (Quality of Life) | 561 |
| Peringkat keseluruhan | 140 |
Data tersebut memperlihatkan bahwa posisi Jakarta berbeda cukup jauh antara kategori modal manusia dan ekonomi dibandingkan dengan lingkungan serta kualitas hidup. Perbedaan ini menunjukkan pentingnya membaca peringkat keseluruhan bersama hasil setiap pilar.
Peringkat keseluruhan merangkum penilaian berdasarkan metodologi indeks, sedangkan hasil tiap pilar membantu memperlihatkan variasi capaian pada bidang yang berbeda. Karena itu, posisi ke-140 tidak dapat digunakan sendirian untuk menjelaskan seluruh kelebihan dan tantangan Jakarta.
Perlu diperhatikan pula bahwa peringkat merupakan posisi relatif di antara kota-kota yang masuk dalam penilaian. Peringkat yang lebih tinggi atau lebih rendah tidak selalu menjelaskan besarnya perubahan kondisi suatu kota dari tahun ke tahun. Untuk menilai perkembangan Jakarta secara historis, diperlukan data perbandingan antartahun dengan indikator dan metode yang sebanding.
Jakarta Diproyeksikan Menambah 1,7 Juta Rumah Tangga Berpendapatan Tinggi
Di tengah tantangan pada pilar lingkungan dan kualitas hidup, laporan tersebut juga menyoroti potensi pertumbuhan ekonomi Jakarta dalam jangka panjang. Oxford Economics memproyeksikan Jakarta akan mengalami penambahan lebih dari 1,7 juta rumah tangga berpendapatan tinggi atau high-income households dalam kurun waktu 25 tahun mendatang.
Proyeksi tersebut menggambarkan potensi perubahan komposisi ekonomi rumah tangga di Jakarta. Pertumbuhan kelompok berpendapatan tinggi dapat berkaitan dengan perkembangan kegiatan usaha, perubahan struktur pekerjaan, peningkatan produktivitas, dan pertumbuhan sektor-sektor ekonomi tertentu.
Namun, angka tersebut merupakan proyeksi untuk jangka panjang, bukan jumlah rumah tangga yang telah terbentuk saat ini. Realisasinya akan bergantung pada berbagai faktor, termasuk perkembangan ekonomi nasional, kondisi pasar tenaga kerja, investasi, produktivitas, serta perubahan demografi.
Pertumbuhan rumah tangga berpendapatan tinggi juga perlu dibedakan dari peningkatan kesejahteraan seluruh penduduk. Bertambahnya kelompok masyarakat dengan penghasilan tinggi tidak secara otomatis menunjukkan bahwa pendapatan kelompok berpenghasilan rendah dan menengah meningkat pada kecepatan yang sama.
Oleh sebab itu, proyeksi tersebut perlu dibaca dalam konteks perubahan ekonomi yang lebih luas. Pertumbuhan ekonomi perkotaan dapat membuka peluang usaha dan pekerjaan, tetapi manfaatnya juga bergantung pada pemerataan kesempatan serta kemampuan masyarakat mengakses peluang tersebut.
Bagi dunia usaha, pertumbuhan kelompok rumah tangga berpendapatan tinggi dapat memengaruhi permintaan terhadap berbagai produk dan layanan. Sektor perumahan, layanan keuangan, pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan jasa profesional berpotensi menghadapi perubahan kebutuhan konsumen seiring perkembangan pendapatan masyarakat.
Meski demikian, besarnya peluang pada setiap sektor tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan proyeksi jumlah rumah tangga. Pelaku usaha tetap perlu mempertimbangkan daya beli, perubahan perilaku konsumen, kondisi persaingan, serta faktor ekonomi lainnya.
Bagi pemerintah, proyeksi tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan perencanaan kota dalam jangka panjang. Perubahan komposisi pendapatan penduduk dapat memengaruhi permintaan terhadap hunian, transportasi, fasilitas publik, dan berbagai layanan perkotaan.
Perencanaan yang memperhatikan perkembangan ekonomi sekaligus kebutuhan masyarakat luas menjadi penting agar pertumbuhan kota tidak hanya tercermin dalam peningkatan aktivitas bisnis, tetapi juga dalam akses terhadap layanan dan kualitas hidup.
Pertumbuhan Ekonomi Perlu Berjalan Bersama Perbaikan Kota
Hasil Global Cities Index 2026 memperlihatkan bahwa Jakarta memiliki capaian yang berbeda-beda pada lima pilar penilaian. Posisi ke-23 pada modal manusia dan ke-59 pada ekonomi menunjukkan hasil yang relatif tinggi dalam dua kategori tersebut. Sementara itu, peringkat ke-372 pada tata kelola, ke-553 pada lingkungan, dan ke-561 pada kualitas hidup memperlihatkan bidang lain yang perlu dicermati.
Perbedaan ini menjadi penting karena perkembangan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh besarnya kegiatan ekonomi. Kota juga perlu menyediakan lingkungan yang sehat, layanan publik yang dapat diakses, serta sistem transportasi dan perumahan yang mendukung aktivitas penduduk.
Kualitas sumber daya manusia, misalnya, dapat memberikan manfaat lebih besar ketika masyarakat memiliki akses terhadap pekerjaan yang sesuai dengan keterampilannya. Di sisi lain, aktivitas ekonomi yang berkembang membutuhkan dukungan infrastruktur dan pengelolaan lingkungan agar pertumbuhan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Tata kelola juga memiliki peran dalam menghubungkan berbagai kebutuhan tersebut. Kebijakan transportasi, perumahan, lingkungan, dan pelayanan publik sering kali saling memengaruhi. Karena itu, perencanaan yang terkoordinasi dibutuhkan agar pembangunan pada satu sektor tidak menimbulkan persoalan baru di sektor lain.
Bagi Jakarta, tantangan perkotaan juga berkaitan dengan hubungannya bersama kawasan metropolitan di sekitarnya. Mobilitas penduduk, jaringan ekonomi, dan penggunaan infrastruktur membentuk sistem perkotaan yang melampaui batas administrasi. Penanganan berbagai persoalan tersebut membutuhkan koordinasi yang berkelanjutan.
Hasil pemeringkatan Oxford Economics dapat digunakan sebagai salah satu referensi untuk memahami posisi Jakarta di antara kota-kota dunia. Namun, indeks tersebut bukan satu-satunya ukuran untuk menilai perkembangan kota. Data lokal mengenai kondisi lingkungan, akses layanan publik, perumahan, transportasi, dan kesejahteraan masyarakat tetap diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap.
Dengan proyeksi penambahan lebih dari 1,7 juta rumah tangga berpendapatan tinggi dalam 25 tahun mendatang, Jakarta menghadapi peluang sekaligus kebutuhan perencanaan jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi dapat membuka ruang bagi aktivitas bisnis dan lapangan kerja, sedangkan peningkatan kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat menjadi bagian penting dari pembangunan perkotaan.
Pada akhirnya, posisi Jakarta di peringkat ke-140 Global Cities Index 2026 memberikan gambaran mengenai kondisi kota berdasarkan sejumlah indikator yang digunakan dalam indeks tersebut. Keunggulan pada modal manusia dan ekonomi berjalan berdampingan dengan tantangan pada kualitas hidup, lingkungan, serta tata kelola. Perkembangan Jakarta selanjutnya akan bergantung pada bagaimana berbagai aspek tersebut dikelola secara terpadu dan berkelanjutan.
Sumber : www.cnnindonesia.com




