CIREBON, PILARadio – Musim kemarau membuat para petani garam di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mulai memasuki masa panen. Namun, di tengah melimpahnya hasil panen, para petani justru mengeluhkan harga garam yang terus merosot hingga hanya Rp800 per kilogram. Kondisi tersebut membuat petani terpaksa menjual hasil panennya demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Musim kemarau yang telah berlangsung dimanfaatkan para petani garam untuk memulai panen di tambak-tambak garapan mereka. Di salah satu sentra produksi garam di Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, sejumlah petani tampak sibuk memanen dan mengumpulkan garam dari lahan tambak mereka.
Meski hasil panen mulai melimpah berkat cuaca panas yang mendukung proses produksi, kondisi tersebut tidak serta-merta membawa keuntungan bagi para petani. Pasalnya, harga garam di tingkat petani terus mengalami penurunan sejak akhir Juni lalu.
Sebelumnya, garam kasar dari petani masih dihargai sekitar Rp1.500 per kilogram. Namun hingga Senin siang, harga tersebut turun drastis menjadi sekitar Rp900 bahkan hanya Rp800 per kilogram.
“Ya mulai panen, hasil panennya lumayan. Cuma harganya terus turun karena banyak yang panen. Sekarang harganya Rp900 sampai Rp800 per kilogram. Kemarin masih Rp1.400, lumayan. Turunnya hampir setiap hari, kadang Rp200, Rp100, bahkan Rp50. Ada yang cuma dihargai Rp800 per kilogram. Empat karung paling dapat Rp100 ribu. Kalau disimpan, kami tidak punya uang untuk kebutuhan sehari-hari, jadi terpaksa dijual murah. Harapannya harga bisa naik lagi, minimal Rp1.500 per kilogram. Tapi kemungkinan masih turun.” Ujar Petani Garam, Rokim
Penurunan harga terjadi hampir setiap hari secara fluktuatif sejak akhir Juni. Kondisi ini membuat para petani tidak memiliki banyak pilihan selain menerima harga yang ditetapkan oleh pengepul.
Sebagian besar petani mengaku tidak mampu menyimpan hasil panen untuk menunggu harga kembali stabil. Desakan kebutuhan ekonomi membuat mereka terpaksa menjual garam meski harganya jauh di bawah harapan.
“Sekarang panen, tapi harganya turun jadi Rp900 per kilogram. Sejak daerah sebelah mulai panen, harga terus turun. Tadinya Rp1.500, sekarang Rp900, bahkan di tempat lain hanya Rp800.” Ujar Petani Garam, Kusnadi.
Menurut para petani, anjloknya harga garam di tingkat petani diperkirakan masih akan terus berlanjut karena masih banyak tambak garam di wilayah lain yang belum memasuki masa panen.
Para petani berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait dapat mengambil langkah untuk membantu menstabilkan harga garam agar hasil panen mereka memiliki nilai jual yang lebih layak dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.





