PILARadio.com – Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di The American Journal of Clinical Nutrition menyoroti dampak serius konsumsi makanan ultraproses atau ultraprocessed food (UPF) pada anak-anak. Studi tersebut menunjukkan adanya hubungan antara tingginya konsumsi UPF sejak usia dini dengan ukuran volume otak yang lebih kecil pada sejumlah area penting ketika anak memasuki usia 6 tahun.
Temuan ini menjadi perhatian khusus bagi orang tua, mengingat pola makan pada masa awal kehidupan anak memiliki peran besar dalam perkembangan otak jangka panjang.
Penelitian Ungkap Hubungan Konsumsi UPF dan Perkembangan Otak Anak
Studi ilmiah berjudul “Early-life cumulative intake of ultraprocessed foods and subcortical brain volume at age 6 y: a prospective cohort study” ini dipublikasikan pada 2 Juni 2026. Penelitian tersebut dipimpin oleh Jonatan Ottino-González bersama tim dari Children’s Hospital Los Angeles (CHLA) dan University of Southern California (USC).
Dalam penelitian ini, para ilmuwan melakukan pengamatan jangka panjang terhadap pola konsumsi makanan anak sejak usia bayi, tepatnya mulai usia 6 bulan hingga 72 bulan atau 6 tahun. Fokus utama penelitian adalah melihat dampak kumulatif konsumsi makanan UPF terhadap perkembangan struktur otak.
Konsumsi UPF diukur berdasarkan persentase energi harian yang diperoleh anak dari makanan ultraproses. Semakin tinggi persentasenya, semakin besar pula tingkat paparan terhadap bahan makanan yang umumnya tinggi gula, garam, lemak, serta mengandung berbagai bahan tambahan industri.
Setelah masa observasi selesai, para peneliti melakukan pemindaian otak menggunakan teknologi Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk menganalisis volume pada area subkortikal otak.
Delapan Area Otak yang Terdampak Konsumsi UPF
Hasil analisis MRI menunjukkan adanya korelasi signifikan antara tingginya konsumsi UPF dengan penurunan volume di delapan area penting otak anak.
Adapun delapan area tersebut meliputi:
- Nucleus accumbens kanan dan kiri, yang berperan dalam sistem penghargaan (reward system) dan motivasi
- Amigdala kiri, bagian otak yang mengatur emosi serta respons terhadap rasa takut
- Pallidum kanan dan kiri, yang terlibat dalam pengendalian gerakan serta motivasi
- Putamen kiri, yang berhubungan dengan pembentukan kebiasaan dan pembelajaran motorik
- Talamus kanan dan kiri, yang berfungsi sebagai pusat distribusi informasi sensorik menuju korteks otak
Secara keseluruhan, area-area tersebut memiliki fungsi vital dalam proses perkembangan anak, terutama yang berkaitan dengan pengaturan emosi, motivasi, kemampuan belajar, serta integrasi sensorik dan motorik.
Para peneliti menemukan bahwa semakin tinggi konsumsi UPF secara kumulatif sejak usia dini, semakin kecil pula volume pada area-area tersebut ketika anak memasuki usia sekolah.
Konsumsi UPF Sejak Dini Jadi Faktor Kumulatif
Berbeda dengan banyak penelitian sebelumnya yang hanya mengukur pola makan dalam jangka pendek, studi ini menekankan pada pendekatan kumulatif atau jangka panjang.
Artinya, peneliti tidak hanya melihat apa yang dikonsumsi anak pada satu waktu tertentu, tetapi bagaimana pola makan tersebut terbentuk sejak masa bayi hingga usia prasekolah.
Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten. Anak-anak dengan paparan UPF lebih tinggi dalam jangka panjang cenderung memiliki perubahan struktur otak yang lebih signifikan dibandingkan mereka yang lebih banyak mengonsumsi makanan segar dan alami.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kebiasaan makan yang terbentuk sejak usia sangat dini dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap perkembangan otak, bahkan hingga terlihat secara struktural.
Dampak UPF pada Perkembangan Otak Anak
Para peneliti menjelaskan bahwa ada beberapa mekanisme biologis yang diduga menjadi penyebab hubungan antara konsumsi UPF dan perubahan volume otak.
Pertama adalah peradangan sistemik. Makanan ultraproses umumnya mengandung gula tambahan, lemak jenuh, serta berbagai zat aditif yang dapat memicu peradangan kronis di dalam tubuh. Kondisi ini berpotensi memengaruhi perkembangan jaringan otak yang masih sangat sensitif pada masa anak-anak.
Kedua adalah kekurangan nutrisi penting. Ketika anak lebih sering mengonsumsi makanan UPF, asupan makanan bergizi seperti sayuran, buah, ikan, serta sumber protein berkualitas cenderung berkurang. Padahal, zat seperti zat besi, omega-3, zinc, dan vitamin tertentu sangat penting untuk perkembangan sistem saraf dan struktur otak.
Ketiga adalah gangguan pada poros usus dan otak (gut-brain axis). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa mikrobioma usus memiliki hubungan langsung dengan perkembangan otak. Konsumsi UPF dapat mengubah keseimbangan bakteri baik di usus, yang pada akhirnya dapat memengaruhi fungsi otak melalui jalur komunikasi biologis antara usus dan sistem saraf pusat.
Kebiasaan Makan Anak dan Dampak Jangka Panjang
Salah satu poin penting dari studi ini adalah penekanan pada efek jangka panjang dari pola makan sejak dini. Banyak orang tua mungkin menganggap konsumsi makanan instan atau kemasan sebagai hal yang biasa dalam kehidupan sehari-hari anak.
Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa dampaknya tidak hanya bersifat sementara. Paparan yang terjadi secara terus-menerus selama masa pertumbuhan dapat terakumulasi dan memengaruhi struktur otak anak saat mereka memasuki usia sekolah.
Dengan kata lain, kebiasaan makan pada masa awal kehidupan memiliki kontribusi penting terhadap perkembangan kognitif, emosional, dan perilaku anak di masa depan.
Imbauan bagi Orang Tua dalam Mengatur Pola Makan Anak
Penelitian ini tidak bertujuan untuk menimbulkan kekhawatiran berlebihan, melainkan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pola makan sehat sejak usia dini.
Para ahli menekankan bahwa perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari dapat memberikan dampak besar dalam jangka panjang terhadap kesehatan anak.
Beberapa langkah yang dapat diterapkan orang tua antara lain:
- Memperbanyak konsumsi makanan utuh seperti sayuran segar, buah-buahan, biji-bijian, serta sumber protein alami
- Membiasakan memasak makanan dari bahan segar, terutama untuk MPASI dan bekal sekolah anak
- Membaca label kemasan makanan untuk mengetahui kandungan bahan, dengan memilih produk yang memiliki komposisi lebih sederhana
- Mengurangi konsumsi camilan ultraproses dan menggantinya dengan makanan ringan berbahan alami
- Membatasi minuman manis kemasan dan menggantinya dengan air putih, susu, atau jus buah tanpa tambahan gula
Kesadaran Gizi sebagai Investasi Jangka Panjang
Para peneliti menegaskan bahwa tidak ada orang tua yang dapat sepenuhnya menghindarkan anak dari makanan kemasan di era modern saat ini. Namun, keseimbangan tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan anak.
Setiap keputusan kecil dalam pemilihan makanan sehari-hari dapat menjadi investasi jangka panjang bagi perkembangan otak anak. Nutrisi yang baik tidak hanya berpengaruh pada kesehatan fisik, tetapi juga pada kemampuan belajar, regulasi emosi, serta kualitas kehidupan anak di masa depan.
Dengan meningkatnya jumlah konsumsi makanan ultraproses di berbagai negara, termasuk pada anak-anak, hasil penelitian ini menjadi pengingat penting bahwa pola makan sejak usia dini memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk kualitas generasi mendatang.
Sumber : www.kumparan.com







