Survei: 50 Persen Anak Muda Pilih Menunda Pernikahan dan Keputusan Hidup Besar

Ilustrasi pernikahan. Apa itu lavender marriage?(Freepik)

PILARadio.com – Keputusan untuk menikah dan membangun keluarga kini tidak selalu menjadi sesuatu yang ingin segera diwujudkan oleh anak muda. Survei Deloitte 2026 menunjukkan lebih dari separuh Gen Z dan Milenial memilih menunda berbagai keputusan besar dalam hidup, termasuk menikah dan memiliki keluarga, karena kondisi finansial.

Pernikahan dan membangun keluarga masih menjadi bagian dari rencana hidup banyak orang. Namun, bagi sebagian anak muda, keputusan tersebut kini tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang harus segera dilakukan. Persoalan biaya hidup, penghasilan, kepemilikan rumah, hingga ketidakpastian ekonomi membuat sebagian dari mereka memilih menunggu sampai kondisi dirasa lebih memungkinkan.

Fenomena tersebut terlihat dalam laporan 2026 Global Gen Z and Millennial Survey yang dirilis Deloitte pada Mei 2026. Survei tersebut menggambarkan berbagai pandangan Gen Z dan Milenial mengenai kehidupan, pekerjaan, kondisi keuangan, kepemimpinan, serta harapan mereka terhadap masa depan.

Salah satu temuan yang cukup menarik adalah perubahan cara generasi muda dalam mengambil keputusan besar. Pernikahan, membangun keluarga, melanjutkan pendidikan, hingga memulai usaha mulai dipertimbangkan lebih hati-hati karena kondisi finansial.

Alih-alih mengatakan tidak ingin menikah atau tidak ingin memiliki anak, banyak responden justru memilih pendekatan “maybe later” atau “mungkin nanti”.

Artinya, pernikahan dan keluarga bukan sepenuhnya ditinggalkan dari rencana hidup. Hanya saja, waktunya dianggap perlu menyesuaikan dengan kondisi ekonomi dan kemampuan masing-masing.

Lebih dari Separuh Anak Muda Pilih Menunda Keputusan Besar

Laporan Deloitte menunjukkan cukup banyak Gen Z dan Milenial yang menunda keputusan besar dalam kehidupan mereka akibat kondisi keuangan.

Sebanyak 55 persen Gen Z dan 52 persen Milenial mengaku memilih menunda keputusan besar dalam hidup karena situasi finansial.

Keputusan yang dimaksud bukan hanya soal pernikahan. Responden juga menyebut keputusan seperti mulai membangun keluarga, melanjutkan pendidikan, atau memulai usaha.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan keuangan memiliki pengaruh besar terhadap perencanaan masa depan anak muda.

Ketika kebutuhan sehari-hari semakin mahal, penghasilan belum tentu meningkat dengan kecepatan yang sama. Kondisi tersebut membuat sebagian anak muda harus mengatur ulang prioritas.

Menikah, misalnya, tidak hanya membutuhkan biaya untuk acara pernikahan. Setelah menikah, terdapat kebutuhan lain yang harus dipikirkan, mulai dari tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, kesehatan, transportasi, hingga rencana memiliki anak.

Bagi mereka yang belum memiliki kondisi finansial yang dianggap cukup stabil, menunda pernikahan menjadi pilihan yang lebih masuk akal.

Hal serupa berlaku bagi pasangan yang ingin memiliki anak. Keputusan tersebut membutuhkan perencanaan jangka panjang karena biaya yang harus dipersiapkan tidak berhenti setelah kelahiran.

Ada kebutuhan kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, makanan, hingga berbagai kebutuhan lainnya.

Karena itu, keputusan untuk menunda tidak selalu berarti generasi muda tidak tertarik dengan pernikahan atau keluarga. Dalam banyak kasus, keputusan tersebut lebih berkaitan dengan kesiapan menghadapi konsekuensi finansial setelah menikah.

Tren “Maybe Later” di Kalangan Gen Z dan Milenial

Deloitte menyebut kondisi tersebut sebagai tren “maybe later” atau “mungkin nanti”.

Istilah tersebut menggambarkan kecenderungan anak muda untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan besar.

Mereka tetap memiliki rencana mengenai masa depan, tetapi waktunya dibuat lebih fleksibel.

Jika kondisi finansial belum memungkinkan, keputusan tersebut ditunda hingga keadaan dianggap lebih aman.

Tren ini menarik karena memperlihatkan adanya perubahan dalam cara generasi muda melihat kehidupan.

Pada masa sebelumnya, menikah dan membangun keluarga sering kali dianggap sebagai tahapan kehidupan yang berjalan secara berurutan. Seseorang menyelesaikan pendidikan, bekerja, menikah, memiliki rumah, kemudian memiliki anak.

Namun, pola tersebut kini tidak selalu berjalan dengan urutan yang sama.

Anak muda lebih banyak mempertimbangkan kondisi pribadi sebelum mengambil keputusan.

Pekerjaan harus stabil, penghasilan harus cukup, tempat tinggal perlu dipikirkan, dan kemampuan menghadapi kebutuhan keluarga juga menjadi pertimbangan.

Dalam kondisi biaya hidup yang terus menjadi perhatian, keputusan untuk menunggu menjadi salah satu pilihan yang dianggap lebih aman.

Biaya Hidup Menjadi Kekhawatiran Utama

Salah satu temuan penting dalam laporan Deloitte adalah biaya hidup yang tinggi.

Selama lima tahun berturut-turut, biaya hidup di berbagai negara menjadi salah satu persoalan utama yang dirasakan Gen Z dan Milenial.

Kenaikan biaya kebutuhan sehari-hari secara langsung memengaruhi kemampuan seseorang dalam menyusun rencana keuangan.

Ketika sebagian besar pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, ruang untuk menabung atau mempersiapkan kebutuhan jangka panjang menjadi lebih terbatas.

Kondisi tersebut pada akhirnya memengaruhi keputusan mengenai pernikahan dan keluarga.

Bagi sebagian anak muda, menikah bukan hanya tentang menemukan pasangan yang tepat. Ada pertanyaan lain yang harus dijawab.

Di mana akan tinggal?

Bagaimana membayar kebutuhan sehari-hari?

Apakah penghasilan cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga?

Bagaimana jika memiliki anak?

Berapa biaya pendidikan yang harus disiapkan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat keputusan menikah menjadi semakin kompleks.

Karena itu, tidak mengherankan apabila sebagian responden memilih menunggu hingga kondisi finansial lebih stabil.

Banyak Anak Muda Belum Mampu Membeli Rumah

Persoalan tempat tinggal juga menjadi bagian penting dari kondisi finansial generasi muda.

Dalam survei Deloitte, sebanyak 51 persen Gen Z dan 40 persen Milenial mengatakan mereka tidak mampu membeli rumah.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa kepemilikan rumah masih menjadi tantangan bagi banyak anak muda.

Harga rumah yang tinggi, biaya hidup, kebutuhan sehari-hari, serta kondisi pendapatan menjadi sejumlah faktor yang harus dipertimbangkan.

Rumah juga memiliki kaitan erat dengan keputusan menikah.

Bagi sebagian orang, memiliki tempat tinggal yang layak menjadi salah satu persiapan sebelum membangun keluarga.

Namun, ketika membeli rumah terasa sulit, rencana pernikahan pun dapat ikut tertunda.

Bukan berarti semua anak muda menetapkan syarat harus memiliki rumah sendiri sebelum menikah. Sebagian mungkin memilih menyewa tempat tinggal atau tinggal bersama keluarga.

Meski demikian, persoalan tempat tinggal tetap menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun rencana kehidupan setelah menikah.

Menikah Tidak Lagi Hanya soal Perasaan

Temuan survei tersebut juga memperlihatkan bahwa keputusan menikah semakin berkaitan dengan persoalan praktis.

Perasaan dan kecocokan dengan pasangan tetap menjadi hal penting. Namun, kehidupan setelah pernikahan juga membutuhkan persiapan.

Seseorang yang ingin menikah perlu mempertimbangkan kemampuan finansial bersama pasangan.

Pembagian pengeluaran, tabungan, tempat tinggal, biaya kesehatan, hingga rencana memiliki anak perlu dibicarakan sejak awal.

Kondisi ekonomi yang tidak menentu membuat pembicaraan tersebut menjadi semakin penting.

Anak muda kini cenderung menyadari bahwa pernikahan bukan hanya acara satu hari.

Pesta pernikahan mungkin selesai dalam beberapa jam, tetapi kehidupan setelahnya berlangsung bertahun-tahun.

Karena itu, keputusan untuk menunda bisa menjadi cara bagi sebagian pasangan untuk mempersiapkan kehidupan setelah menikah dengan lebih baik.

Anak Muda Bukan Berarti Tidak Ingin Menikah

Salah satu hal yang menarik dari laporan Deloitte dan temuan UNFPA adalah adanya perbedaan antara keinginan untuk menikah dengan kemampuan untuk mewujudkannya.

Anak muda tidak serta-merta kehilangan keinginan untuk membangun keluarga.

Sebaliknya, banyak dari mereka masih memiliki harapan tersebut.

Masalahnya adalah kondisi yang ada belum selalu mendukung keinginan tersebut.

Ketidakamanan ekonomi menjadi salah satu hambatan yang cukup besar.

Artinya, ketika seseorang mengatakan belum ingin menikah, alasan di baliknya belum tentu karena tidak tertarik dengan pernikahan.

Bisa saja orang tersebut masih ingin menikah, tetapi merasa belum memiliki kemampuan finansial yang cukup.

Perbedaan antara “tidak ingin” dan “belum bisa” menjadi penting untuk memahami tren pernikahan di kalangan anak muda.

Jika dilihat dari temuan survei, banyak responden lebih dekat dengan pilihan kedua.

Mereka masih mempertimbangkan pernikahan dan keluarga, tetapi memilih menunggu.

Laporan UNFPA Menunjukkan Temuan Serupa

Fenomena tersebut juga terlihat dalam laporan tahunan yang dirilis UNFPA pada Juli 2026.

Dalam laporan bertajuk Survei Masa Depan Geografi, UNFPA menyoroti keinginan anak muda untuk menikah dan memiliki anak.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa anak muda tidak sepenuhnya menolak gagasan tentang keluarga.

Namun, terdapat sejumlah kendala sistemik yang membuat mereka kesulitan mewujudkan rencana tersebut.

Sebanyak 81 persen anak muda menyebut ketidakamanan ekonomi sebagai salah satu hambatan.

Sementara itu, 57 persen mengatakan kepemilikan rumah menjadi kendala.

Dua persoalan tersebut memiliki hubungan yang kuat dengan keputusan menikah.

Ketika seseorang tidak yakin dengan kondisi ekonominya dan kesulitan mendapatkan tempat tinggal, rencana untuk membangun keluarga tentu menjadi lebih berat.

Karena itu, penundaan pernikahan dapat dilihat sebagai salah satu bentuk respons terhadap kondisi tersebut.

Ketidakamanan Ekonomi Membuat Masa Depan Terasa Tidak Pasti

Kondisi ekonomi yang tidak stabil membuat anak muda lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan jangka panjang.

Pekerjaan yang belum tentu bertahan, pendapatan yang terbatas, biaya kebutuhan yang meningkat, dan sulitnya memiliki rumah menjadi pertimbangan.

Dalam situasi seperti itu, mengambil keputusan besar membutuhkan perhitungan lebih panjang.

Pernikahan menjadi salah satu keputusan yang terkena dampaknya.

Anak muda mungkin sudah memiliki pasangan dan ingin menikah. Namun, mereka memilih menunggu sampai memiliki tabungan yang cukup.

Ada pula yang menunggu mendapatkan pekerjaan yang lebih stabil.

Sebagian lainnya mungkin menunggu sampai mampu mendapatkan tempat tinggal yang dianggap layak.

Semua keputusan tersebut pada akhirnya mengarah pada satu hal, yaitu keinginan untuk memiliki kehidupan keluarga yang lebih aman.

Pernikahan dan Biaya Setelah Menikah

Salah satu alasan mengapa kondisi finansial menjadi pertimbangan adalah biaya setelah pernikahan.

Masyarakat sering kali lebih banyak membicarakan biaya pesta pernikahan.

Padahal, kebutuhan terbesar justru dapat muncul setelah acara selesai.

Pasangan membutuhkan biaya untuk tempat tinggal, makanan, transportasi, listrik, internet, kesehatan, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Jika pasangan kemudian memiliki anak, kebutuhan tersebut tentu bertambah.

Ada biaya pemeriksaan kesehatan, persalinan, perlengkapan bayi, makanan, pendidikan, hingga kebutuhan lainnya.

Karena itu, wajar apabila anak muda mulai menghitung kemampuan finansial sebelum menikah.

Keputusan untuk menunda bisa menjadi pilihan agar mereka memiliki waktu lebih banyak untuk menabung dan mempersiapkan diri.

Rumah Menjadi Salah Satu Masalah Besar

Kepemilikan rumah menjadi salah satu persoalan yang cukup menonjol dalam laporan tersebut.

Sebanyak 51 persen Gen Z dan 40 persen Milenial menyebut tidak mampu membeli rumah.

Harga rumah yang tinggi menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi mereka yang baru memasuki dunia kerja.

Ketika penghasilan masih digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, menabung untuk uang muka rumah menjadi tidak mudah.

Belum lagi cicilan yang harus dibayar selama bertahun-tahun.

Situasi tersebut dapat memengaruhi keputusan pasangan muda untuk menikah.

Sebagian mungkin memilih tinggal bersama orang tua terlebih dahulu.

Sebagian lainnya memilih menyewa rumah atau apartemen.

Namun, ada pula yang memutuskan menunda pernikahan sampai mereka memiliki tempat tinggal sendiri.

Tidak ada satu pilihan yang berlaku untuk semua orang.

Setiap pasangan memiliki kondisi dan prioritas masing-masing.

Pernikahan Menjadi Keputusan yang Lebih Terencana

Fenomena menunda pernikahan juga dapat dilihat sebagai tanda bahwa anak muda semakin mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan mereka.

Menikah tidak lagi hanya dipandang sebagai kewajiban sosial atau tahapan hidup yang harus dilakukan pada usia tertentu.

Bagi sebagian generasi muda, pernikahan harus dilakukan ketika mereka merasa siap.

Kesiapan tersebut mencakup hubungan dengan pasangan, kondisi emosional, pekerjaan, penghasilan, tempat tinggal, hingga rencana masa depan.

Perubahan cara pandang ini membuat usia menikah bisa menjadi lebih fleksibel.

Ada yang memilih menikah lebih muda karena kondisi sudah mendukung.

Ada pula yang memilih menunggu hingga usia lebih matang.

Keduanya merupakan pilihan yang berbeda dan sangat bergantung pada keadaan masing-masing individu.

Kondisi Finansial Menjadi Penentu Rencana Masa Depan

Deloitte menemukan bahwa persoalan finansial tidak hanya memengaruhi keputusan menikah.

Keputusan untuk melanjutkan pendidikan juga dapat tertunda.

Begitu pula dengan keinginan memulai usaha.

Ketika uang menjadi persoalan utama, seseorang harus menentukan prioritas.

Bagi sebagian orang, memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi lebih penting daripada mengambil keputusan jangka panjang.

Hal tersebut menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kondisi ekonomi terhadap kehidupan generasi muda.

Keputusan yang sebelumnya dianggap sebagai bagian dari perjalanan hidup kini harus disesuaikan dengan kemampuan finansial.

Gen Z dan Milenial Masih Optimistis

Meski menghadapi berbagai persoalan, bukan berarti Gen Z dan Milenial kehilangan harapan.

Laporan Deloitte menunjukkan bahwa masih banyak responden yang optimistis terhadap masa depan keuangan mereka.

Sebanyak 53 persen Gen Z dan 45 persen Milenial percaya kondisi keuangan mereka akan membaik dalam satu tahun ke depan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa penundaan bukan berarti menyerah.

Sebagian anak muda masih memiliki keyakinan bahwa kondisi mereka dapat berubah.

Mereka hanya memilih menunggu waktu yang dianggap lebih tepat.

Jika penghasilan meningkat, pekerjaan lebih stabil, tabungan bertambah, atau kondisi ekonomi membaik, keputusan yang sebelumnya ditunda bisa kembali dipertimbangkan.

“Mungkin Nanti” Bukan Berarti “Tidak”

Istilah “maybe later” menjadi penting dalam memahami kondisi tersebut.

Ada perbedaan besar antara mengatakan “tidak” dan “mungkin nanti”.

Ketika anak muda mengatakan “mungkin nanti”, terdapat kemungkinan bahwa mereka tetap memiliki keinginan untuk menikah atau membangun keluarga.

Mereka hanya belum siap melakukannya sekarang.

Keputusan tersebut dapat berubah ketika kondisi finansial sudah lebih baik.

Karena itu, tren menunda pernikahan tidak otomatis menunjukkan bahwa generasi muda sudah tidak tertarik dengan institusi keluarga.

Sebaliknya, bisa saja mereka ingin memastikan bahwa keputusan tersebut dilakukan dalam kondisi yang lebih siap.

Dampak Biaya Hidup terhadap Hubungan dan Keluarga

Biaya hidup yang tinggi tidak hanya berdampak pada keputusan menikah.

Setelah menikah, pasangan juga harus menghadapi tekanan ekonomi bersama.

Jika pendapatan tidak cukup, persoalan keuangan dapat menjadi sumber konflik dalam rumah tangga.

Karena itu, sebagian anak muda mungkin melihat persiapan finansial sebagai bagian dari upaya menjaga kehidupan rumah tangga di masa depan.

Menunggu sampai kondisi lebih stabil bisa dianggap sebagai bentuk persiapan.

Pasangan dapat menggunakan waktu tersebut untuk menabung, mencari pekerjaan yang lebih baik, melunasi utang, atau menyusun rencana keuangan.

Tantangan Generasi Muda Tidak Berdiri Sendiri

Masalah yang dihadapi anak muda tidak selalu bisa diselesaikan hanya dengan meminta mereka bekerja lebih keras.

Ada faktor yang lebih luas, seperti harga rumah, biaya pendidikan, kondisi pasar kerja, biaya kesehatan, hingga perubahan biaya kebutuhan sehari-hari.

Hal tersebut menjadi alasan mengapa UNFPA menyebut adanya kendala sistemik.

Keinginan membangun keluarga memang berasal dari individu, tetapi kemampuan untuk mewujudkannya juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan ekonomi dan sosial.

Jika harga rumah terlalu tinggi dibandingkan penghasilan, seseorang akan kesulitan membeli rumah meskipun sudah bekerja.

Jika biaya hidup meningkat lebih cepat daripada pendapatan, kemampuan menabung juga ikut tertekan.

Kondisi seperti inilah yang akhirnya dapat memengaruhi keputusan besar dalam hidup.

Pentingnya Dukungan Sosial

Selain kondisi ekonomi, dukungan sosial juga menjadi faktor penting.

Membangun keluarga membutuhkan lingkungan yang mendukung.

Pasangan membutuhkan akses terhadap layanan kesehatan, tempat tinggal yang layak, pekerjaan, hingga fasilitas pendidikan.

Ketika dukungan tersebut tersedia, keputusan membangun keluarga dapat terasa lebih ringan.

Sebaliknya, ketika berbagai kebutuhan dasar sulit diperoleh, pasangan mungkin memilih menunggu.

Hal tersebut menunjukkan bahwa persoalan pernikahan dan keluarga tidak hanya menjadi urusan individu.

Ada faktor sosial dan ekonomi yang ikut menentukan.

Anak Muda Ingin Masa Depan yang Stabil

Kepala Perwakilan UNFPA di Indonesia, Hassan Mohtashami, mengatakan anak muda pada dasarnya ingin memiliki masa depan yang stabil.

Ketika mereka menunda keputusan untuk membangun keluarga, pilihan tersebut dapat menjadi respons terhadap kondisi yang belum mendukung.

“Orang muda ingin memiliki masa depan yang stabil. Ketika mereka menunda untuk berkeluarga, itu adalah respons rasional terhadap kondisi yang belum mendukung, seperti ketidakstabilan ekonomi dan kurangnya dukungan sosial,” ujar Hassan dalam keterangan resminya.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa penundaan bukan semata-mata perubahan nilai atau gaya hidup.

Ada faktor nyata yang memengaruhi pilihan tersebut.

Apakah Tren Menunda Menikah Akan Terus Berlanjut?

Pertanyaan berikutnya adalah apakah tren menunda menikah akan terus terjadi.

Jawabannya tentu bergantung pada banyak hal.

Jika biaya hidup tetap tinggi dan harga rumah terus sulit dijangkau, bukan tidak mungkin keputusan besar seperti menikah dan memiliki anak akan terus ditunda.

Namun, jika kondisi ekonomi membaik, kesempatan kerja semakin luas, pendapatan meningkat, dan akses terhadap rumah menjadi lebih mudah, sebagian anak muda mungkin kembali mempercepat rencana mereka.

Optimisme Gen Z dan Milenial terhadap kondisi keuangan mereka menunjukkan bahwa masih ada harapan perubahan.

Sebanyak 53 persen Gen Z dan 45 persen Milenial memperkirakan kondisi finansial mereka akan membaik dalam satu tahun ke depan.

Harapan tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang membuat mereka tetap memiliki rencana untuk masa depan.

Menikah Tetap Menjadi Impian Banyak Anak Muda

Di tengah tren menunda pernikahan, penting untuk melihat persoalan secara lebih luas.

Menunda bukan berarti menghapus keinginan.

Banyak anak muda tetap ingin memiliki pasangan, menikah, dan membangun keluarga.

Namun, mereka ingin menjalani kehidupan tersebut dalam kondisi yang lebih siap.

Keinginan untuk memiliki rumah, pekerjaan stabil, dan tabungan bukan berarti materialistis.

Bagi sebagian orang, hal tersebut merupakan bagian dari upaya memastikan kehidupan setelah menikah berjalan dengan lebih baik.

Karena itu, perubahan usia menikah dan keputusan untuk menunda keluarga perlu dilihat dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi yang dihadapi generasi muda.

Kesimpulan

Survei Deloitte melalui 2026 Global Gen Z and Millennial Survey menunjukkan bahwa kondisi finansial memiliki pengaruh besar terhadap keputusan hidup generasi muda.

Sebanyak 55 persen Gen Z dan 52 persen Milenial mengaku menunda keputusan besar dalam hidup karena persoalan keuangan. Keputusan tersebut mencakup pernikahan, membangun keluarga, melanjutkan pendidikan, hingga memulai usaha.

Biaya hidup menjadi salah satu persoalan utama yang dirasakan kedua generasi tersebut. Bahkan, 51 persen Gen Z dan 40 persen Milenial mengatakan mereka belum mampu membeli rumah.

Temuan tersebut sejalan dengan laporan UNFPA yang menunjukkan bahwa anak muda masih memiliki keinginan untuk menikah dan memiliki anak. Namun, keinginan tersebut menghadapi berbagai hambatan. Sebanyak 81 persen anak muda menyebut ketidakamanan ekonomi sebagai kendala, sementara 57 persen mengatakan kepemilikan rumah menjadi masalah.

Dengan kondisi tersebut, tren “maybe later” menjadi semakin mudah dipahami. Anak muda bukan berarti menolak pernikahan atau keluarga. Banyak di antara mereka hanya memilih menunggu sampai kondisi keuangan lebih stabil.

Menariknya, harapan terhadap masa depan tetap ada. Deloitte mencatat 53 persen Gen Z dan 45 persen Milenial optimistis kondisi keuangan mereka akan membaik dalam satu tahun mendatang.

Pada akhirnya, keputusan menikah memang menjadi pilihan pribadi. Namun, keputusan tersebut tidak pernah berdiri sendiri. Kondisi ekonomi, harga rumah, pekerjaan, pendapatan, serta dukungan sosial ikut membentuk cara generasi muda merencanakan masa depan.

Bagi sebagian anak muda, menikah mungkin bukan sesuatu yang ditolak. Hanya saja, untuk saat ini jawabannya adalah “mungkin nanti”, sampai mereka merasa lebih siap secara finansial dan memiliki fondasi kehidupan yang lebih kuat

Sumber : www.kumparan.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
Your Favorite Channel
--:--
STREAM
Scroll to Top