PILARadio.com – Kehidupan asmara ternyata menjadi salah satu aspek yang cukup memuaskan bagi masyarakat Indonesia. Hal tersebut terungkap dalam survei terbaru Ipsos bertajuk Love Life Satisfaction Index 2026.
Dalam survei tersebut, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan tingkat kepuasan terhadap kehidupan cinta tertinggi di dunia. Indonesia memperoleh skor 85, hanya terpaut satu poin dari Thailand yang berada di posisi pertama dengan skor 86.
Hasil ini cukup menarik karena Indonesia berhasil mengungguli sejumlah negara yang selama ini kerap dikenal memiliki budaya romantis dan ekspresif dalam urusan hubungan. Meksiko, misalnya, berada di bawah Indonesia dengan skor 81. Begitu pula Kolombia yang memperoleh skor 80 dan Peru dengan skor 79.
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa kehidupan cinta masyarakat Indonesia ternyata memiliki tingkat kepuasan yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang menjadi bagian dari survei global Ipsos.
Survei ini tidak hanya melihat apakah seseorang memiliki pasangan atau tidak. Ipsos mencoba mengukur kepuasan kehidupan cinta secara lebih luas, mulai dari perasaan dicintai, kehidupan romantis dan seksual, hingga kualitas hubungan bersama pasangan.
Indonesia Raih Skor 85 dalam Love Life Satisfaction Index 2026
Dalam Love Life Satisfaction Index 2026, Indonesia mendapatkan skor 85. Angka tersebut menempatkan Indonesia tepat di bawah Thailand yang menjadi negara dengan tingkat kepuasan kehidupan cinta tertinggi dengan skor 86.
Posisi Indonesia menjadi salah satu hasil yang menarik dalam survei tersebut. Sebab, negara-negara Asia dan Amerika Latin terlihat mendominasi daftar teratas.
Thailand berada di urutan pertama, disusul Indonesia. Meksiko dan Spanyol sama-sama mendapatkan skor 81, kemudian Kolombia dengan skor 80 serta Peru dengan skor 79.
Malaysia juga berhasil masuk dalam 10 besar dengan skor 78. Negara tersebut berada sejajar dengan Belanda yang juga memperoleh skor 78.
Sementara itu, Chile dan Afrika Selatan melengkapi daftar 10 negara dengan tingkat kepuasan kehidupan cinta tertinggi dengan skor masing-masing 76.
Jika melihat daftar tersebut, terlihat bahwa kepuasan terhadap kehidupan asmara tidak hanya berkaitan dengan stereotip mengenai budaya romantis suatu negara. Negara-negara Asia, Amerika Latin, dan beberapa negara Eropa sama-sama menunjukkan tingkat kepuasan yang cukup tinggi.
Indonesia bahkan berhasil berada di atas sejumlah negara yang selama ini kerap diasosiasikan dengan kehidupan romantis.
Apa yang Diukur dalam Survei Kepuasan Cinta Ipsos?
Love Life Satisfaction Index 2026 mengukur tingkat kepuasan seseorang terhadap kehidupan cintanya secara menyeluruh.
Ada beberapa aspek yang menjadi perhatian dalam survei tersebut. Salah satunya adalah seberapa puas seseorang terhadap cinta yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Aspek berikutnya berkaitan dengan kehidupan romantis dan seksual. Kemudian ada pula kepuasan terhadap hubungan dengan pasangan.
Dengan demikian, skor yang diperoleh masing-masing negara bukan sekadar menggambarkan jumlah orang yang sedang menjalin hubungan.
Seseorang bisa saja memiliki pasangan, tetapi belum tentu merasa puas dengan hubungan tersebut. Sebaliknya, tingkat kepuasan seseorang terhadap kehidupan cinta dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kualitas komunikasi, kedekatan emosional, kehidupan pribadi, kondisi ekonomi, hingga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga.
Karena itu, angka 85 yang diperoleh Indonesia menunjukkan bahwa secara keseluruhan responden Indonesia yang mengikuti survei memberikan penilaian cukup positif terhadap kehidupan cinta mereka.
Meski demikian, hasil survei tetap perlu dilihat dalam konteks karakteristik responden yang ikut berpartisipasi.
Negara Asia dan Amerika Latin Mendominasi
Salah satu hal yang terlihat dari hasil Love Life Satisfaction Index 2026 adalah kuatnya posisi negara-negara Asia dan Amerika Latin.
Thailand dan Indonesia berada di dua posisi teratas. Malaysia juga masuk dalam 10 besar.
Di sisi lain, Meksiko, Kolombia, Peru, dan Chile juga menunjukkan skor yang relatif tinggi. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat di negara-negara tersebut secara umum memberikan penilaian positif terhadap kehidupan asmara mereka.
Namun, tingginya skor sebuah negara tidak berarti seluruh masyarakat di negara tersebut memiliki pengalaman hubungan yang sama. Survei merupakan gambaran dari jawaban para responden yang terlibat dan tidak dapat digunakan untuk menggambarkan setiap individu secara mutlak.
Meski begitu, hasilnya tetap memberikan gambaran menarik mengenai bagaimana masyarakat dari berbagai negara memandang kehidupan cinta mereka.
Bagi Indonesia, posisi kedua menjadi catatan tersendiri. Terlebih, Indonesia berada di atas sejumlah negara yang memiliki budaya populer cukup kuat dalam menggambarkan kehidupan romantis.
Daftar 10 Negara dengan Kepuasan Cinta Tertinggi
Berikut daftar negara dengan skor tertinggi dalam Love Life Satisfaction Index 2026:
- Thailand – 86
- Indonesia – 85
- Meksiko – 81
- Spanyol – 81
- Kolombia – 80
- Peru – 79
- Malaysia – 78
- Belanda – 78
- Chile – 76
- Afrika Selatan – 76
Dari daftar tersebut, Thailand dan Indonesia menjadi dua negara dengan skor paling tinggi.
Indonesia hanya tertinggal satu poin dari Thailand. Sementara jarak Indonesia dengan negara yang berada di posisi ketiga mencapai empat poin.
Hasil tersebut membuat Indonesia menjadi negara Asia dengan skor tertinggi kedua setelah Thailand dalam survei tersebut.
Prancis dan Italia Justru Tidak Masuk Papan Atas
Menariknya, beberapa negara Eropa yang selama ini identik dengan budaya romantis tidak berada di jajaran teratas.
Prancis hanya memperoleh skor 71. Sementara Italia mencatat skor yang lebih rendah, yakni 68.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa citra suatu negara di dunia tidak selalu sejalan dengan bagaimana masyarakatnya menilai kehidupan cinta mereka sendiri.
Sebuah negara bisa saja memiliki reputasi sebagai tempat yang romantis, tetapi tingkat kepuasan kehidupan cinta masyarakatnya belum tentu menjadi yang tertinggi.
Hal tersebut juga menunjukkan bahwa kepuasan dalam hubungan tidak bisa hanya diukur berdasarkan budaya populer, tempat wisata romantis, atau gambaran kehidupan pasangan yang sering muncul di media.
Kepuasan asmara merupakan sesuatu yang sangat personal dan dipengaruhi banyak faktor.
Jepang dan Korea Selatan Berada di Posisi Terendah
Di sisi lain, Jepang dan Korea Selatan kembali menjadi dua negara dengan tingkat kepuasan kehidupan cinta terendah dalam survei ini.
Jepang memperoleh skor 51, sedangkan Korea Selatan mencatat skor 60.
Selain kedua negara tersebut, India dan Hungaria sama-sama memperoleh skor 66. Swedia dan Italia berada di angka 68.
Jika dibandingkan dengan Indonesia yang memperoleh skor 85, terdapat selisih cukup besar antara tingkat kepuasan yang dilaporkan responden Indonesia dan Jepang.
Namun, perbedaan tersebut tidak serta-merta berarti masyarakat di suatu negara memiliki kehidupan cinta yang buruk. Ada banyak faktor sosial, budaya, ekonomi, dan demografis yang dapat memengaruhi jawaban seseorang ketika menilai kehidupan asmara mereka.
Survei semacam ini lebih tepat digunakan untuk melihat kecenderungan umum dibandingkan membuat kesimpulan mengenai setiap individu.
Faktor Ekonomi Ternyata Ikut Berkaitan dengan Kepuasan Cinta
Selain melihat perbedaan antarnegara, Ipsos juga menemukan hubungan antara kondisi ekonomi dan tingkat kepuasan terhadap kehidupan cinta.
Secara global, responden dengan pendapatan lebih tinggi cenderung melaporkan tingkat kepuasan yang lebih besar dibandingkan mereka yang memiliki pendapatan lebih rendah.
Dalam survei tersebut, 82 persen responden berpenghasilan tinggi menyatakan puas dengan cinta yang mereka rasakan.
Sementara itu, pada kelompok berpenghasilan rendah, angka tersebut berada di sekitar 72 persen.
Artinya, terdapat perbedaan sekitar 10 poin persentase antara kedua kelompok tersebut.
Perbedaan semakin terlihat ketika responden ditanya mengenai kehidupan romantis dan seksual.
Sebanyak 68 persen responden berpendapatan tinggi menyatakan puas terhadap kehidupan romantis dan seksual mereka. Sementara kelompok berpendapatan rendah hanya mencapai sekitar 52 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya selisih yang cukup besar.
Mengapa Kondisi Finansial Bisa Berpengaruh?
Kondisi ekonomi memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan kebahagiaan seseorang dalam hubungan. Namun, situasi finansial dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan yang pada akhirnya ikut berkaitan dengan kualitas hubungan.
Tekanan ekonomi, misalnya, dapat menjadi sumber persoalan dalam rumah tangga maupun hubungan pasangan. Persoalan mengenai pekerjaan, biaya tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, hingga perencanaan masa depan dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang.
Sebaliknya, kondisi keuangan yang lebih stabil dapat memberikan ruang bagi pasangan untuk menjalani kehidupan dengan tekanan yang relatif lebih rendah.
Hal tersebut bukan berarti hubungan yang sehat harus ditopang oleh penghasilan besar. Banyak pasangan tetap mampu membangun hubungan yang bahagia meskipun memiliki kondisi ekonomi sederhana.
Namun, hasil survei menunjukkan adanya kecenderungan bahwa kondisi ekonomi berkaitan dengan bagaimana seseorang menilai kehidupan cintanya.
Dengan kata lain, kehidupan asmara tidak selalu berdiri sendiri. Ada berbagai persoalan di luar hubungan yang bisa ikut memengaruhi kepuasan seseorang.
Generasi Milenial Jadi Kelompok Paling Puas
Faktor usia juga menjadi bagian yang menarik dari temuan Ipsos.
Dalam hal merasa dicintai, perbedaan antara generasi ternyata tidak terlalu besar. Sekitar tiga dari empat responden dari berbagai kelompok generasi mengatakan mereka merasa puas dengan cinta yang diterima.
Namun, perbedaan lebih terlihat ketika responden ditanya mengenai kehidupan romantis dan seksual.
Dalam aspek tersebut, generasi milenial menjadi kelompok dengan tingkat kepuasan paling tinggi.
Secara global, sekitar 65 persen milenial mengatakan puas dengan kehidupan romantis dan seksual mereka.
Angka tersebut sekitar 10 poin persentase lebih tinggi dibandingkan generasi Baby Boomers yang berada di kisaran 55 persen.
Perbedaan ini menjadi salah satu temuan menarik karena menunjukkan adanya perubahan pengalaman dan cara pandang antar generasi terhadap hubungan.
Milenial dan Perubahan Pola Kehidupan
Generasi milenial tumbuh dalam masa perubahan teknologi yang cukup pesat. Mereka mengalami peralihan dari komunikasi konvensional menuju era internet dan media sosial.
Perubahan tersebut ikut memengaruhi cara seseorang bertemu, berkomunikasi, dan mempertahankan hubungan.
Namun, faktor teknologi bukan satu-satunya penjelasan yang bisa digunakan untuk membaca hasil survei tersebut.
Fase kehidupan juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Sebagian milenial berada pada usia ketika hubungan, pekerjaan, keluarga, dan kehidupan pribadi menjadi bagian penting yang harus dijalani secara bersamaan.
Sementara kelompok generasi yang lebih tua mungkin memiliki pengalaman kehidupan yang berbeda.
Karena itu, perbedaan tingkat kepuasan antar generasi tidak dapat disederhanakan hanya berdasarkan usia.
Kepuasan Cinta Bukan Sekadar Punya Pasangan
Hasil survei Ipsos juga dapat menjadi pengingat bahwa memiliki pasangan tidak otomatis membuat seseorang merasa puas dalam kehidupan cinta.
Hubungan yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar status.
Komunikasi menjadi salah satu hal penting dalam hubungan. Pasangan perlu memiliki ruang untuk berbicara mengenai perasaan, kebutuhan, rencana masa depan, hingga persoalan yang sedang dihadapi.
Selain komunikasi, rasa aman dan saling menghargai juga menjadi bagian penting dari sebuah hubungan.
Seseorang mungkin memiliki pasangan, tetapi jika hubungan tersebut dipenuhi konflik, tekanan, atau kurangnya komunikasi, tingkat kepuasannya belum tentu tinggi.
Sebaliknya, hubungan yang dibangun dengan komunikasi yang baik dan rasa saling menghargai dapat memberikan pengalaman yang lebih positif.
Karena itulah pengukuran kehidupan cinta dalam survei Ipsos dibuat dengan melihat beberapa aspek, bukan sekadar status hubungan seseorang.
Indonesia Punya Modal Sosial yang Kuat
Tingginya posisi Indonesia dalam survei tersebut juga menarik jika dikaitkan dengan kehidupan sosial masyarakat.
Indonesia dikenal memiliki budaya yang cukup kuat dalam hal keluarga, pertemanan, dan hubungan sosial.
Interaksi dengan keluarga besar, teman, maupun lingkungan sekitar masih menjadi bagian penting dalam kehidupan banyak masyarakat Indonesia.
Kondisi tersebut bisa saja menjadi salah satu latar belakang yang membuat seseorang memiliki dukungan sosial ketika menghadapi persoalan kehidupan.
Namun, hasil survei tidak secara langsung menyatakan bahwa budaya keluarga atau hubungan sosial menjadi penyebab Indonesia berada di posisi kedua.
Karena itu, faktor tersebut sebaiknya dilihat sebagai konteks sosial, bukan sebagai kesimpulan langsung dari penelitian.
Survei Melibatkan Lebih dari 23 Ribu Responden
Love Life Satisfaction Index 2026 merupakan bagian dari survei global Ipsos yang dilakukan pada 24 Desember 2025 hingga 9 Januari 2026.
Survei tersebut melibatkan 23.268 responden di 29 negara.
Jumlah responden tersebut membuat survei memiliki cakupan yang cukup luas untuk melihat perbedaan pandangan masyarakat dari berbagai negara.
Meski demikian, setiap negara memiliki karakteristik responden yang berbeda. Karena itu, hasilnya tetap perlu dibaca sesuai konteks masing-masing negara.
Khusus untuk Indonesia, survei melibatkan sekitar 500 responden berusia 21 hingga 74 tahun.
Angka tersebut menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana data Indonesia diperoleh.
Responden Indonesia Lebih Banyak Mewakili Masyarakat Perkotaan
Ipsos juga memberikan catatan mengenai karakteristik sampel di Indonesia.
Responden Indonesia dalam survei tersebut lebih banyak merepresentasikan masyarakat perkotaan, masyarakat dengan tingkat pendidikan lebih tinggi, serta kelompok yang memiliki akses internet.
Artinya, hasil survei ini tidak serta-merta bisa dianggap sebagai gambaran mutlak seluruh masyarakat Indonesia.
Masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan dan memiliki akses internet tentu memiliki pengalaman sosial dan kehidupan yang mungkin berbeda dengan masyarakat di wilayah lain.
Begitu pula tingkat pendidikan dan kondisi ekonomi dapat memengaruhi pengalaman seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Catatan mengenai karakteristik responden tersebut penting agar pembaca tidak langsung menganggap skor 85 sebagai gambaran seluruh masyarakat Indonesia tanpa pengecualian.
Posisi Indonesia Tetap Menarik untuk Dicermati
Terlepas dari karakteristik responden, posisi Indonesia di urutan kedua dalam Love Life Satisfaction Index 2026 tetap menjadi hasil yang menarik.
Indonesia hanya berjarak satu poin dari Thailand dan berada di atas sejumlah negara dengan skor cukup tinggi.
Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden Indonesia yang mengikuti survei memiliki penilaian positif terhadap kehidupan cinta mereka.
Menariknya lagi, faktor ekonomi dan usia juga menunjukkan adanya perbedaan dalam tingkat kepuasan kehidupan asmara secara global.
Kelompok berpendapatan tinggi cenderung lebih puas, sedangkan generasi milenial menjadi kelompok yang paling puas dalam hal kehidupan romantis dan seksual.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan cinta tidak berdiri sendiri. Kondisi ekonomi, fase kehidupan, hubungan dengan pasangan, serta pengalaman pribadi dapat saling berkaitan.
Bukan Berarti Kehidupan Cinta Masyarakat Indonesia Selalu Bahagia
Posisi Indonesia di urutan kedua juga tidak berarti seluruh masyarakat Indonesia memiliki kehidupan asmara yang bahagia.
Survei tersebut merupakan gambaran berdasarkan jawaban responden yang berpartisipasi. Pengalaman setiap orang tentu berbeda.
Ada yang merasa puas dengan hubungan mereka, ada pula yang sedang menghadapi persoalan dalam rumah tangga atau hubungan romantis.
Ada yang merasa bahagia karena memiliki pasangan yang mendukung, sementara orang lain mungkin merasa lebih nyaman menjalani kehidupan tanpa pasangan.
Karena itu, angka 85 sebaiknya dipahami sebagai tingkat kepuasan yang dilaporkan oleh responden dalam survei, bukan sebagai ukuran kebahagiaan setiap individu di Indonesia.
Kehidupan Cinta dan Keseimbangan Hidup
Kepuasan dalam hubungan pada akhirnya berkaitan dengan banyak aspek kehidupan.
Pekerjaan, kondisi finansial, kesehatan, keluarga, waktu luang, hingga lingkungan sosial dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi emosional seseorang.
Pasangan yang mampu menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi kemungkinan memiliki lebih banyak kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama.
Namun, kembali lagi, setiap hubungan memiliki dinamika masing-masing.
Tidak ada satu formula yang bisa memastikan seseorang selalu bahagia dalam kehidupan cinta.
Hasil survei Ipsos justru memberikan gambaran bahwa kepuasan tersebut dipengaruhi banyak faktor.
Indonesia di Posisi Kedua, Thailand Jadi Juara
Jika melihat keseluruhan hasil Love Life Satisfaction Index 2026, Thailand menjadi negara dengan tingkat kepuasan kehidupan cinta tertinggi dengan skor 86.
Indonesia menyusul di posisi kedua dengan skor 85.
Meksiko dan Spanyol berada di urutan berikutnya dengan skor sama-sama 81. Kolombia mencatat 80, disusul Peru 79.
Malaysia dan Belanda sama-sama memperoleh 78. Chile serta Afrika Selatan melengkapi 10 besar dengan skor 76.
Sementara itu, Jepang menjadi negara dengan skor terendah, yakni 51. Korea Selatan memperoleh 60, India dan Hungaria masing-masing 66, sedangkan Swedia dan Italia sama-sama mencatat 68.
Perbedaan skor tersebut menunjukkan betapa beragamnya pandangan masyarakat di berbagai negara terhadap kehidupan cinta.
Kesimpulan
Survei Love Life Satisfaction Index 2026 dari Ipsos menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kepuasan kehidupan cinta tertinggi kedua di dunia.
Indonesia memperoleh skor 85, hanya satu poin di bawah Thailand yang berada di posisi pertama dengan skor 86.
Hasil tersebut menempatkan Indonesia di atas Meksiko, Kolombia, Peru, Malaysia, Belanda, hingga sejumlah negara Eropa.
Survei juga menemukan adanya kaitan antara kondisi ekonomi dengan kepuasan kehidupan cinta. Kelompok berpenghasilan tinggi secara global cenderung lebih puas dibandingkan kelompok berpenghasilan rendah, baik dalam hal cinta maupun kehidupan romantis dan seksual.
Dari sisi usia, generasi milenial menjadi kelompok yang paling puas terhadap kehidupan romantis dan seksual, dengan tingkat kepuasan sekitar 65 persen.
Survei ini dilakukan terhadap 23.268 responden di 29 negara pada akhir 2025 hingga awal 2026. Untuk Indonesia, terdapat sekitar 500 responden berusia 21-74 tahun, dengan karakteristik sampel yang lebih banyak merepresentasikan masyarakat perkotaan, berpendidikan lebih tinggi, dan memiliki akses internet.
Dengan hasil tersebut, Indonesia setidaknya menunjukkan satu gambaran menarik: di tengah berbagai persoalan kehidupan sehari-hari, responden Indonesia yang mengikuti survei masih memberikan penilaian yang sangat positif terhadap kehidupan cinta mereka.
Posisi kedua dalam indeks global ini tentu menjadi catatan menarik, sekaligus menunjukkan bahwa urusan cinta masyarakat Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata.
Sumber : www.cnnindonesia.com





