PILARadio.com – Instagram akhirnya melakukan perubahan pada salah satu elemen identitas visual yang selama ini sudah sangat dikenal penggunanya. Setelah sekitar satu dekade mempertahankan tampilan tulisan khasnya, platform media sosial milik Meta tersebut kini memperkenalkan wordmark Instagram dengan desain baru.
Perubahan ini pertama kali diperkenalkan oleh Kepala Instagram, Adam Mosseri, pada 13 Agustus 2026. Pembaruan tersebut menjadi perhatian karena tulisan Instagram yang selama ini identik dengan gaya kursif atau tulisan sambung kini mendapatkan sentuhan baru.
Instagram menyebut desain anyar tersebut dibuat agar terlihat lebih bersih dan modern. Meski mengalami perubahan, perusahaan tetap berusaha mempertahankan karakter visual yang selama ini melekat pada merek Instagram.
Namun, respons pengguna di internet justru tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan perusahaan.
Alih-alih hanya membicarakan tampilan yang lebih modern, banyak pengguna media sosial malah memperdebatkan bentuk beberapa huruf dalam logo teks baru tersebut. Sejumlah warganet bahkan mengaku membaca tulisan Instagram sebagai “Instagzam”.
Perubahan ini pun langsung menjadi bahan perbincangan di berbagai platform. Ada pengguna yang menganggap desain baru Instagram terlihat lebih segar, tetapi tidak sedikit pula yang merasa wordmark tersebut justru lebih sulit dibaca dibandingkan versi sebelumnya.
Menariknya, perubahan yang dilakukan Instagram kali ini bukanlah penggantian ikon kamera yang selama ini menjadi simbol utama aplikasi. Yang diperbarui adalah wordmark, atau bentuk tulisan nama Instagram. Ikon kamera tetap menjadi bagian dari identitas visual Instagram.
Instagram Ubah Wordmark Setelah 10 Tahun
Bagi pengguna yang sudah lama memakai Instagram, tulisan khas dengan gaya kursif tentu bukan sesuatu yang asing.
Wordmark tersebut telah menjadi bagian dari identitas Instagram selama bertahun-tahun. Gaya tulisan yang menyerupai tulisan tangan membuat nama Instagram mudah dikenali meskipun tidak disertai ikon kamera.
Menurut Adam Mosseri, bagian tulisan tersebut memang sudah cukup lama tidak mengalami perubahan.
Karena itu, Instagram menilai sudah waktunya melakukan penyegaran.
Mosseri menjelaskan bahwa wordmark yang berada di bagian atas aplikasi telah digunakan selama sekitar 10 tahun. Perubahan tersebut dilakukan untuk memberikan tampilan yang lebih modern tanpa menghilangkan karakter utama Instagram.
Bagi sebuah perusahaan teknologi dengan jutaan bahkan miliaran pengguna, perubahan kecil pada identitas visual bisa menjadi keputusan yang cukup besar.
Logo bukan hanya soal bentuk tulisan atau gambar. Bagi pengguna, logo merupakan sesuatu yang sudah melekat dengan pengalaman mereka menggunakan sebuah layanan.
Karena itu, perubahan wordmark Instagram langsung mendapatkan perhatian.
Versi lama telah digunakan dalam waktu yang panjang. Banyak pengguna sudah terbiasa melihat bentuk huruf tersebut ketika membuka aplikasi, mengunjungi situs Instagram, atau melihat materi promosi di berbagai platform.
Ketika beberapa bagian huruf diubah, perbedaan tersebut menjadi sangat mudah terlihat.
Instagram sendiri tidak mengubah identitasnya secara total. Perusahaan masih mempertahankan sejumlah karakter dari desain lama dan menggabungkannya dengan gaya yang lebih sederhana.
Hasil akhirnya adalah sebuah wordmark yang berada di antara tulisan kursif dan bentuk huruf cetak.
Di sinilah kontroversi mulai muncul.
Mengapa Instagram Mengubah Logo Teksnya?
Perubahan identitas visual merupakan hal yang cukup umum dilakukan perusahaan teknologi.
Seiring perkembangan sebuah platform, identitas visual juga dapat mengalami penyesuaian agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Instagram sendiri telah berubah cukup jauh sejak pertama kali diluncurkan.
Dulu, platform ini lebih dikenal sebagai aplikasi berbagi foto dengan filter sederhana. Kini Instagram telah berkembang menjadi platform yang mencakup foto, video pendek, Stories, Reels, pesan langsung, hingga berbagai fitur kreator dan bisnis.
Perubahan tersebut membuat identitas Instagram juga harus mampu menyesuaikan diri.
Menurut penjelasan yang disampaikan Mosseri, desain baru wordmark Instagram ingin mempertahankan hubungan dengan identitas lama sekaligus memberikan tampilan yang lebih modern.
Instagram tidak memilih untuk menghilangkan seluruh karakter tulisan tangan.
Sebaliknya, desainer menggabungkan elemen kursif dengan bentuk huruf yang lebih sederhana.
Tujuannya adalah menghasilkan tulisan yang tetap memiliki karakter Instagram, tetapi terlihat lebih bersih.
Konsep tersebut terdengar sederhana.
Namun, penerapannya justru menimbulkan perdebatan karena tidak semua pengguna dapat langsung membaca tulisan baru tersebut dengan mudah.
Perbedaan Logo Instagram Lama dan Baru
Jika diperhatikan, perbedaan antara wordmark lama dan baru terletak pada bentuk beberapa huruf.
Wordmark lama menggunakan gaya tulisan sambung yang membuat keseluruhan kata terlihat seperti ditulis menggunakan tangan.
Gaya tersebut menjadi salah satu ciri khas Instagram.
Pada desain terbaru, Instagram mengubah sebagian besar huruf menjadi bentuk yang lebih sederhana dan mudah dikenali sebagai huruf cetak.
Namun, sejumlah bagian masih mempertahankan nuansa tulisan tangan.
Kombinasi tersebut membuat wordmark baru Instagram terlihat berbeda.
Bagi sebagian orang, perubahan itu terasa modern.
Tetapi bagi sebagian pengguna lainnya, percampuran antara huruf cetak dan kursif justru membuat kata “Instagram” terlihat tidak konsisten.
Beberapa huruf terlihat seperti berasal dari gaya tipografi berbeda.
Perbedaan paling banyak dibicarakan muncul pada bagian huruf yang menurut warganet terlihat menyerupai huruf lain.
Dari sinilah muncul istilah “Instagzam”.
Kenapa Netizen Membaca “Instagzam”?
Reaksi “Instagzam” sebenarnya muncul karena bentuk huruf pada wordmark baru dianggap membingungkan oleh sejumlah pengguna.
The Verge menjadi salah satu media yang menyoroti reaksi tersebut. Media teknologi itu menyebut desain baru Instagram membuat sejumlah orang membaca tulisan tersebut sebagai “Instagzam”.
Keluhan serupa juga muncul dari pengguna media sosial.
Beberapa warganet mengatakan bentuk huruf “r” pada wordmark baru terlihat seperti huruf “z”.
Karena itu, ketika seluruh kata dibaca, sebagian pengguna merasa tulisan tersebut tidak lagi terlihat jelas sebagai “Instagram”.
Bahkan, komentar “Instagzam” menjadi salah satu respons yang paling sering muncul dalam pembahasan mengenai perubahan tersebut.
Di forum Reddit, sejumlah pengguna juga memberikan komentar serupa. Ada yang langsung menulis “Instagzam”, sementara pengguna lainnya mengaku memiliki kesan yang sama ketika pertama kali melihat desain tersebut.
Reaksi tersebut menunjukkan bahwa perubahan tipografi yang terlihat kecil ternyata bisa memberikan dampak besar terhadap cara sebuah nama dibaca.
Kritik Tidak Hanya Datang dari Satu Platform
Perbincangan mengenai wordmark baru Instagram tidak hanya terjadi di satu media sosial.
Pengguna Instagram sendiri memberikan berbagai komentar terhadap unggahan Adam Mosseri.
Ada yang mempertanyakan mengapa beberapa huruf dibuat dengan gaya kursif sementara huruf lainnya terlihat seperti tulisan cetak.
Ada pula yang menganggap desain baru tersebut terlalu rumit untuk sebuah nama yang sebelumnya sudah sangat mudah dikenali.
Media asal Kanada, MobileSyrup, juga menyoroti persoalan keterbacaan tersebut.
Perdebatan mengenai desain ini pada akhirnya bukan hanya tentang apakah logo baru Instagram terlihat bagus atau tidak.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah identitas baru tersebut berhasil memenuhi tujuan utama sebuah wordmark, yaitu membuat nama merek mudah dikenali dan dibaca.
Dalam hal ini, respons pengguna menjadi menarik untuk diperhatikan.
Ada yang Suka, Ada yang Tidak
Meski banyak kritik muncul, bukan berarti semua pengguna menolak desain baru Instagram.
Sebagian pengguna justru menganggap perubahan tersebut cukup menarik.
Menurut kelompok ini, Instagram tidak seharusnya terus mempertahankan desain lama hanya karena sudah dikenal selama bertahun-tahun.
Perubahan visual dianggap sebagai bagian dari perkembangan sebuah merek.
Beberapa pengguna juga menilai wordmark baru terlihat lebih modern.
Elemen tulisan tangan yang masih dipertahankan membuat Instagram tetap memiliki karakter khas, sementara bentuk huruf yang lebih sederhana memberikan kesan lebih kekinian.
Dengan kata lain, reaksi publik terhadap logo baru Instagram sebenarnya cukup beragam.
Ada yang menyukai tampilannya.
Ada yang merasa biasa saja.
Ada pula yang langsung menyebutnya “Instagzam”.
Perbedaan pendapat seperti ini bukan sesuatu yang aneh dalam dunia desain.
Perubahan logo perusahaan besar hampir selalu menimbulkan perdebatan.
Ikon Kamera Instagram Tidak Diganti
Salah satu hal yang perlu diperjelas adalah perubahan ini tidak berarti Instagram mengganti seluruh logonya.
Instagram memperbarui wordmark, bukan ikon aplikasi kamera yang selama ini menjadi simbol utama platform.
Ikon kamera Instagram tetap dipertahankan.
Dengan demikian, pengguna tidak perlu menganggap bahwa aplikasi Instagram memiliki ikon baru secara keseluruhan.
Perubahan kali ini lebih berfokus pada bagaimana nama Instagram ditampilkan dalam bentuk tulisan.
Hal tersebut penting karena wordmark sering digunakan dalam berbagai kebutuhan komunikasi merek.
Tulisan Instagram dapat ditemukan pada situs resmi, materi promosi, komunikasi perusahaan, maupun berbagai elemen branding lainnya.
Karena itulah, perubahan pada wordmark tetap memiliki arti penting meskipun ikon aplikasi tidak ikut diganti.
Instagram Ingin Tetap Mempertahankan Identitas Lama
Salah satu alasan mengapa Instagram tidak mengubah seluruh bentuk tulisan menjadi font biasa adalah keinginan mempertahankan karakter yang sudah lama dikenal.
Instagram memiliki identitas yang sangat kuat dengan gaya visual kreatif dan personal.
Gaya tulisan tangan pada wordmark lama menjadi bagian dari identitas tersebut.
Jika seluruhnya diganti dengan huruf standar, Instagram berisiko kehilangan sebagian karakter yang membuat mereknya mudah dikenali.
Karena itu, desain baru masih menyisakan elemen kursif.
Masalahnya, kombinasi antara gaya lama dan gaya baru ternyata tidak langsung diterima semua orang.
Sebagian pengguna merasa hasilnya seperti gabungan dua jenis font.
Bahkan, beberapa komentar di Reddit mempertanyakan mengapa Instagram memilih menggunakan gaya campuran tersebut.
Desain Baru Instagram Jadi Perdebatan Tipografi
Jika dilihat dari sisi desain, persoalan yang muncul sebenarnya menarik.
Sebuah wordmark harus bisa bekerja dalam berbagai ukuran.
Tulisan harus tetap mudah dibaca ketika tampil besar di materi promosi maupun ketika ukurannya sangat kecil di perangkat pengguna.
Ketika sebuah huruf terlalu bergaya, bentuknya dapat berubah menjadi ambigu.
Itulah yang tampaknya terjadi pada beberapa pengguna ketika melihat wordmark baru Instagram.
Huruf yang dimaksudkan sebagai “r” justru dibaca sebagai “z”.
Masalah seperti ini mungkin tidak terlalu terasa bagi orang yang sudah mengetahui bahwa tulisan tersebut adalah Instagram.
Namun, dari sisi desain identitas merek, keterbacaan tetap menjadi faktor penting.
Sebuah perusahaan besar tentu harus mempertimbangkan bagaimana logo tersebut diterima oleh pengguna dari berbagai latar belakang.
Instagram memiliki pengguna dari seluruh dunia.
Karena itu, desain yang mudah dikenali menjadi kebutuhan penting.
Reaksi “Instagzam” Justru Membuat Logo Semakin Viral
Ada sisi lain dari kontroversi tersebut.
Istilah “Instagzam” justru membuat perubahan logo Instagram semakin banyak dibicarakan.
Di media sosial, sesuatu yang dianggap lucu atau aneh biasanya lebih cepat menyebar.
Pengguna tidak hanya membagikan gambar logo baru, tetapi juga membuat lelucon mengenai cara membaca tulisan tersebut.
Dengan begitu, kontroversi yang awalnya merupakan kritik desain berubah menjadi bahan percakapan di internet.
Bagi Instagram, kondisi ini bisa dilihat dari dua sisi.
Di satu sisi, banyaknya kritik menunjukkan bahwa sebagian pengguna tidak puas dengan desain baru.
Di sisi lain, perubahan tersebut berhasil menarik perhatian yang sangat besar.
Logo baru Instagram akhirnya menjadi topik yang dibahas bahkan oleh pengguna yang sebelumnya mungkin tidak terlalu memperhatikan detail identitas visual.
Fenomena seperti ini bukan hal baru dalam dunia branding.
Sebuah perubahan logo dapat menjadi viral ketika publik memiliki reaksi yang kuat.
Media Teknologi Ikut Menyoroti
The Verge menjadi salah satu media yang menyoroti perubahan wordmark Instagram.
Dalam pemberitaannya, The Verge menekankan bahwa desain baru mempertahankan perpaduan antara gaya kursif dan cetak, tetapi justru memunculkan persoalan keterbacaan.
Media lain juga ikut mengangkat perubahan tersebut.
Times of India, misalnya, menyebut bahwa pembaruan wordmark Instagram menjadi perubahan pertama dalam satu dekade dan mencatat munculnya lelucon “Instagzam” di internet.
Besarnya pemberitaan tersebut memperlihatkan bahwa logo Instagram masih memiliki daya tarik kuat sebagai sebuah identitas merek.
Bahkan perubahan pada bagian tulisan saja sudah cukup untuk menjadi berita teknologi.
Instagram Belum Mengubah Semua Identitas Visualnya
Perubahan wordmark ini juga tidak berarti Instagram sedang melakukan perubahan total terhadap seluruh identitas visual.
Instagram masih mempertahankan sejumlah elemen yang sudah menjadi ciri khasnya.
Ikon kamera tetap digunakan.
Gradien warna khas Instagram juga masih menjadi bagian dari identitas visual platform.
Dengan demikian, pengguna tetap dapat mengenali Instagram meskipun bentuk tulisannya berubah.
Perusahaan tampaknya ingin melakukan penyegaran secara bertahap, bukan menghapus seluruh identitas lama.
Strategi tersebut cukup masuk akal mengingat Instagram merupakan merek global yang sudah sangat dikenal.
Perubahan yang terlalu ekstrem berpotensi membuat pengguna merasa asing.
Bukan Sekadar Ganti Font
Perubahan wordmark Instagram tidak bisa dilihat hanya sebagai pergantian jenis huruf.
Dalam sebuah perusahaan besar, desain logo biasanya berkaitan dengan strategi merek secara keseluruhan.
Instagram ingin mempertahankan citra sebagai platform yang kreatif, personal, dan menjadi tempat pengguna mengekspresikan diri.
Karena itu, desain tulisan harus mampu membawa karakter tersebut.
Instagram juga terus mengembangkan sistem tipografinya.
Dalam pembaruan identitas mereknya, Instagram memperkenalkan keluarga font seperti Instagram Sans, Instagram Pen, dan Instagram Mono untuk berbagai kebutuhan desain dan ekspresi visual.
Perubahan wordmark terbaru menjadi bagian dari perkembangan identitas tersebut.
Mengapa Perubahan Logo Bisa Menjadi Sensitif?
Bagi perusahaan, logo mungkin terlihat seperti elemen kecil.
Namun bagi pengguna, logo bisa memiliki nilai emosional.
Orang yang sudah menggunakan Instagram selama bertahun-tahun telah melihat logo yang sama dalam berbagai fase kehidupan mereka.
Karena itu, perubahan kecil sekalipun dapat memunculkan rasa nostalgia.
Hal tersebut terlihat dari komentar pengguna yang masih membandingkan wordmark baru dengan versi lama.
Sebagian mengatakan desain lama terasa lebih natural.
Sebagian lainnya menilai versi lama lebih mudah dibaca.
Ada pula yang tidak mempermasalahkan perubahan tersebut dan menganggap desain baru hanya membutuhkan waktu untuk terbiasa.
Reaksi seperti ini menunjukkan bahwa identitas merek tidak hanya dibentuk oleh perusahaan.
Pengguna juga ikut membangun makna sebuah logo melalui pengalaman mereka.
Apakah Instagram Akan Mempertahankan Logo Baru?
Pertanyaan berikutnya adalah apakah Instagram akan mempertahankan wordmark baru tersebut setelah mendapatkan kritik dari pengguna.
Untuk saat ini, Instagram belum memberikan indikasi bahwa mereka akan membatalkan desain tersebut.
Mosseri justru memperkenalkan desain tersebut secara terbuka dan mengajak pengguna memberikan reaksi.
Tim desain Instagram juga menunjukkan beberapa alternatif desain yang sebelumnya sempat dipertimbangkan. Beberapa pilihan tersebut disebut lebih mudah dibaca dibandingkan versi yang akhirnya diperkenalkan.
Hal ini menunjukkan bahwa proses pembuatan wordmark bukan sesuatu yang dilakukan secara sederhana.
Ada sejumlah pertimbangan desain sebelum versi final dipilih.
Namun, apakah kritik publik akan memengaruhi keputusan Instagram selanjutnya masih harus dilihat.
Pengguna Mungkin Butuh Waktu untuk Terbiasa
Salah satu kemungkinan adalah pengguna pada akhirnya terbiasa dengan tampilan baru tersebut.
Hal ini sering terjadi dalam perubahan logo.
Pada awalnya, sebuah logo baru dapat terlihat aneh karena mata pengguna sudah terbiasa dengan desain sebelumnya.
Setelah beberapa minggu atau beberapa bulan, bentuk baru tersebut bisa terasa normal.
Namun, masalah keterbacaan menjadi persoalan yang berbeda.
Jika pengguna terus membaca kata Instagram sebagai “Instagzam”, kritik terhadap desain tersebut mungkin akan bertahan lebih lama.
Karena itu, respons pengguna dalam beberapa waktu ke depan akan menarik untuk diperhatikan.
Instagram dan Tantangan Memperbarui Identitas
Instagram bukan perusahaan pertama yang menghadapi reaksi keras setelah memperbarui logo.
Banyak merek besar pernah mengalami hal serupa.
Ketika sebuah logo sudah digunakan selama bertahun-tahun, perubahan sekecil apa pun dapat menimbulkan perbandingan.
Namun, perusahaan juga tidak bisa selamanya mempertahankan identitas yang sama.
Tren desain berubah.
Cara orang menggunakan teknologi berubah.
Platform juga berkembang.
Instagram sendiri saat ini jauh berbeda dibandingkan ketika pertama kali populer sebagai aplikasi berbagi foto.
Perubahan wordmark menjadi salah satu cara perusahaan menyesuaikan identitasnya dengan kondisi tersebut.
Netizen Justru Membuat Nama “Instagzam” Populer
Menariknya, kritik terhadap wordmark baru Instagram justru menghasilkan nama alternatif yang menjadi viral.
“Instagzam” muncul sebagai bentuk candaan karena sebagian pengguna melihat huruf tertentu dalam logo baru seperti “z”.
Istilah tersebut kemudian digunakan berulang kali dalam komentar dan unggahan media sosial.
Semakin banyak orang membicarakannya, semakin populer pula istilah tersebut.
Fenomena ini menjadi contoh bagaimana publik dapat memberikan makna sendiri terhadap sebuah desain.
Instagram mungkin bermaksud membuat wordmark yang lebih bersih dan modern.
Namun, pengguna memberikan interpretasi berbeda.
Mereka melihatnya sebagai “Instagzam”.
Perbedaan antara tujuan desain dan persepsi pengguna inilah yang kemudian membuat perubahan tersebut menarik perhatian.
Logo Baru Instagram Jadi Bahan Meme
Selain komentar serius, logo baru Instagram juga mulai menjadi bahan meme.
Warganet memanfaatkan kemiripan bentuk huruf untuk membuat lelucon.
Ada yang membandingkan bentuk huruf dengan tulisan lain.
Ada juga yang membuat variasi ejaan Instagram berdasarkan bagaimana mereka membaca wordmark tersebut.
Di era media sosial, reaksi semacam ini dapat menyebar dengan cepat.
Sebuah desain yang baru diperkenalkan dalam hitungan jam bisa langsung menjadi bahan pembicaraan global.
Karena itu, perubahan logo Instagram kali ini menjadi salah satu contoh bagaimana desain dan budaya internet saling berhubungan.
Apakah Logo Baru Lebih Modern?
Soal apakah logo baru Instagram benar-benar terlihat lebih modern tentu kembali kepada selera masing-masing.
Dari sudut pandang Instagram, desain tersebut dibuat lebih bersih dan modern.
Namun, modern tidak selalu berarti lebih mudah diterima.
Desain yang terlihat sederhana bagi desainer bisa saja terasa aneh bagi pengguna.
Begitu pula sebaliknya.
Karena itu, keberhasilan sebuah logo tidak hanya ditentukan oleh bagaimana logo tersebut dibuat, tetapi juga bagaimana pengguna melihat dan mengingatnya.
Dalam kasus Instagram, proses tersebut masih berjalan.
Perubahan Kecil dengan Dampak Besar
Pembaruan wordmark Instagram memperlihatkan bahwa perubahan kecil pada sebuah merek besar dapat memicu perhatian luar biasa.
Instagram tidak mengganti seluruh logonya.
Ikon kamera tetap ada.
Yang berubah terutama adalah tulisan “Instagram”.
Namun, perubahan tersebut cukup untuk memunculkan perdebatan di internet.
Hal ini menunjukkan kuatnya hubungan pengguna dengan identitas visual sebuah platform.
Setelah sekitar satu dekade menggunakan wordmark lama, pengguna tentu membutuhkan waktu untuk membiasakan diri dengan tampilan baru.
Apakah mereka akhirnya menerima desain tersebut atau tetap menganggapnya sebagai “Instagzam” akan menjadi bagian menarik dari perjalanan rebranding Instagram.
Belum Ada Kepastian Soal Perubahan Visual Lain
Sampai saat ini, fokus utama perubahan adalah wordmark.
Belum ada kepastian bahwa Instagram akan melakukan perubahan besar-besaran terhadap ikon aplikasinya.
Karena itu, pengguna tidak perlu menganggap perubahan tulisan sebagai tanda bahwa seluruh tampilan Instagram akan berubah dalam waktu dekat.
Namun, perubahan identitas visual biasanya dilakukan secara bertahap.
Bukan tidak mungkin Instagram akan melakukan penyesuaian lain pada elemen branding di masa mendatang.
Perusahaan sendiri telah mengembangkan berbagai elemen desain baru untuk mendukung identitas Instagram.
Untuk saat ini, wordmark menjadi bagian yang paling banyak mendapat perhatian.
Menunggu Respons Instagram
Gelombang kritik terhadap logo baru Instagram tentu menjadi perhatian bagi perusahaan.
Namun, Instagram belum menunjukkan bahwa mereka akan menghentikan penggunaan desain tersebut.
Perusahaan justru tampak ingin melihat bagaimana pengguna merespons pembaruan tersebut.
Hal ini juga terlihat dari cara Adam Mosseri memperkenalkan wordmark baru secara terbuka.
Instagram tampaknya menyadari bahwa perubahan tersebut akan menimbulkan berbagai pendapat.
Dan memang, hal tersebut langsung terjadi.
Ada yang memuji.
Ada yang mengkritik.
Ada yang bingung.
Ada pula yang memilih menyebutnya “Instagzam”.
Logo Instagram Baru, Modern tetapi Bikin Netizen Salah Baca
Pada akhirnya, perubahan wordmark Instagram setelah sekitar 10 tahun menjadi salah satu pembaruan identitas visual yang paling banyak dibicarakan di internet dalam beberapa waktu terakhir.
Instagram ingin membuat identitasnya terlihat lebih bersih dan modern dengan tetap mempertahankan karakter tulisan tangan yang selama ini dikenal pengguna.
Namun, perpaduan antara huruf cetak dan kursif justru memunculkan persoalan baru.
Sebagian pengguna merasa tulisan tersebut sulit dibaca dan bahkan terlihat seperti “Instagzam”.
Reaksi tersebut kemudian menyebar melalui media sosial dan menjadi bahan candaan.
Meski begitu, perubahan ini belum tentu akan dianggap buruk selamanya.
Pengguna mungkin membutuhkan waktu untuk terbiasa.
Seiring waktu, desain baru tersebut bisa saja menjadi sama akrabnya dengan wordmark lama.
Yang jelas, Instagram telah membuka babak baru dalam identitas visualnya setelah sekitar satu dekade mempertahankan tulisan lama.
Untuk saat ini, satu hal yang pasti adalah perubahan tersebut berhasil membuat banyak orang kembali memperhatikan tulisan “Instagram”.
Ironisnya, sebagian dari mereka justru membacanya sebagai “Instagzam”.
Apakah julukan tersebut hanya akan menjadi bahan lelucon sesaat atau justru terus melekat pada desain baru Instagram, jawabannya akan terlihat setelah wordmark tersebut digunakan secara lebih luas oleh pengguna di berbagai negara.
Sumber : www.kumparan.com


