PILARadio.com – FIFA resmi menjalin kerja sama strategis dengan Board of Peace (BoP) yang dibentuk oleh Donald Trump untuk mendukung proses pemulihan Gaza, Palestina, melalui sepak bola. Kolaborasi ini menjadi langkah konkret FIFA dalam memperluas peran olahraga sebagai sarana pembangunan perdamaian dan pemulihan wilayah pascakonflik.
Peresmian kemitraan FIFA dan Board of Peace dilakukan melalui penandatanganan perjanjian kerja sama di Markas Besar Institut Perdamaian Donald J. Trump di Amerika Serikat pada Kamis (19/2) waktu setempat atau Jumat (20/2) WIB. Momentum tersebut menandai dimulainya proyek jangka panjang yang dirancang untuk membangun kembali ekosistem sepak bola di Gaza sekaligus menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.
Penandatanganan kemitraan ini dihadiri langsung Presiden FIFA, Gianni Infantino, bersama sejumlah tokoh penting lainnya, seperti Dewan Eksekutif Perdamaian Gaza Yakir Gabay, Perwakilan Tinggi Gaza Nickolay Mladenov, serta Administrasi Gaza Ali Shaath. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menunjukkan bahwa program pemulihan Gaza lewat sepak bola ini dirancang secara kolaboratif dan terintegrasi.
Dalam kerja sama ini, FIFA akan menyusun kerangka kerja jangka panjang untuk membangun infrastruktur olahraga, memperkuat program komunitas, serta membuka peluang ekonomi melalui pengembangan sepak bola di Gaza. Fokus utama dari program ini adalah membentuk ekosistem sepak bola yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga inklusif dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.
“FIFA dan Board of Peace telah menandatangani perjanjian kemitraan penting yang akan mendorong investasi sepak bola untuk tujuan membantu proses pemulihan di wilayah pascakonflik,” ujar Gianni Infantino dalam pernyataan resmi FIFA.
Infantino menegaskan bahwa FIFA ingin semakin banyak masyarakat di seluruh dunia dapat berpartisipasi dalam sepak bola dan merasakan manfaat sosial maupun ekonomi dari olahraga tersebut. Menurutnya, sepak bola bukan sekadar permainan, melainkan alat yang mampu menyatukan komunitas, membangun harapan, dan membuka peluang baru, terutama di wilayah yang terdampak konflik seperti Gaza.
Dalam dokumen rancangan yang telah disepakati, FIFA dan Board of Peace menyusun empat fase utama program pemulihan Gaza melalui sepak bola. Keempat fase tersebut akan dilaksanakan secara bertahap dengan target waktu yang jelas dan terukur.
Fase pertama adalah aktivasi komunitas yang diperkirakan berlangsung selama tiga hingga enam bulan. Pada tahap ini, FIFA menargetkan pembangunan 50 lapangan mini FIFA di berbagai wilayah Gaza. Lapangan-lapangan mini tersebut akan dilengkapi fasilitas pendukung agar dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja. Program ini bertujuan menciptakan ruang aman untuk bermain, berinteraksi, dan membangun kembali semangat kebersamaan di tengah masyarakat.
Pembangunan 50 lapangan mini FIFA di Gaza menjadi fondasi awal untuk menghidupkan kembali aktivitas olahraga di tingkat akar rumput. Dengan akses yang lebih luas terhadap fasilitas sepak bola, diharapkan generasi muda Gaza memiliki alternatif kegiatan positif yang dapat menjauhkan mereka dari dampak negatif lingkungan pascakonflik.
Fase kedua adalah pembangunan infrastruktur profesional yang dirancang berjalan selama satu tahun. Pada tahap ini, FIFA berencana membangun lima lapangan sepak bola berstandar lebih tinggi yang dapat digunakan untuk kompetisi resmi dan pembinaan atlet. Infrastruktur ini diharapkan mampu memicu lahirnya klub-klub lokal baru di Gaza serta menghidupkan kembali kompetisi domestik.
Dengan adanya lapangan profesional, ekosistem sepak bola di Gaza dapat berkembang secara berjenjang, mulai dari level komunitas hingga tingkat kompetisi. Hal ini juga membuka peluang kerja baru, baik sebagai pelatih, pengelola klub, wasit, maupun tenaga pendukung lainnya. Secara tidak langsung, program ini berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui industri olahraga.
Fase ketiga adalah pembentukan Akademi FIFA yang dirancang berlangsung selama 18 hingga 36 bulan. Akademi ini akan mengintegrasikan pendidikan formal dengan pelatihan sepak bola profesional. Konsep tersebut bertujuan menciptakan generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis di lapangan, tetapi juga bekal pendidikan yang memadai untuk masa depan mereka.
Akademi FIFA di Gaza diharapkan menjadi pusat pembinaan talenta muda sekaligus simbol kebangkitan olahraga di Palestina. Dengan pendekatan terpadu antara pendidikan dan olahraga, FIFA ingin memastikan bahwa investasi yang dilakukan benar-benar memberikan dampak jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia.
Fase keempat sekaligus yang paling ambisius adalah pembangunan stadion nasional berkapasitas 20 ribu tempat duduk. Proyek ini ditargetkan rampung dalam kurun waktu 18 hingga 36 bulan atau sekitar tiga tahun. Stadion tersebut nantinya akan menjadi pusat kegiatan sepak bola nasional di Gaza, sekaligus ikon kebangkitan dan harapan baru bagi masyarakat.
Stadion nasional ini tidak hanya berfungsi sebagai arena pertandingan, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial dan ekonomi. Event olahraga yang digelar di stadion berpotensi menarik investasi, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan aktivitas ekonomi di sekitarnya. Dengan demikian, pembangunan stadion menjadi simbol transformasi Gaza melalui olahraga.
Kerja sama antara FIFA dan Board of Peace untuk pemulihan Gaza melalui sepak bola ini dinilai sebagai pendekatan inovatif dalam membangun kembali wilayah pascakonflik. Sepak bola dipilih karena memiliki daya tarik universal dan mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang sosial maupun politik.
Melalui empat fase program aktivasi komunitas, pembangunan infrastruktur profesional, pembentukan Akademi FIFA, dan pembangunan stadion nasional FIFA berharap dapat menciptakan perubahan nyata di Gaza. Inisiatif ini sekaligus menegaskan komitmen FIFA dalam menggunakan sepak bola sebagai instrumen perdamaian, rekonstruksi, dan pembangunan berkelanjutan di Palestina.
Sumber : www.cnnindonesia.com


















