PILARadio.com – J.League membuat gebrakan besar jelang musim transisi 2026 dengan menghapus hasil imbang dalam setiap pertandingan. Kebijakan ini menjadi sorotan dunia sepak bola karena seluruh laga yang berakhir seri setelah 90 menit akan langsung dilanjutkan ke adu penalti untuk menentukan pemenang.
Keputusan tersebut menjadi bagian dari rencana besar restrukturisasi kompetisi sepak bola profesional Jepang yang akan menyesuaikan kalender liga dengan musim kompetisi Eropa. Perubahan ini menjadikan musim 2026 sebagai fase transisi sebelum format baru resmi diberlakukan pada musim 2026/2027.
Tak Ada Hasil Seri di Musim Transisi 2026
Dalam regulasi khusus musim transisi, J-League menetapkan bahwa hasil imbang tidak akan diakui. Jika dua tim bermain seri hingga waktu normal 90 menit, pertandingan akan langsung dilanjutkan ke adu penalti tanpa melalui babak perpanjangan waktu.
Sistem poin yang diterapkan pun berbeda dari format tradisional. Rinciannya sebagai berikut:
- Menang dalam 90 menit: 3 poin
- Kalah dalam 90 menit: 0 poin
- Menang melalui adu penalti: 2 poin
- Kalah adu penalti: 1 poin
Dengan skema ini, setiap pertandingan akan menghasilkan pemenang dan tidak ada lagi pembagian satu poin untuk masing-masing tim seperti sebelumnya. Aturan ini hanya berlaku selama musim transisi 2026 dan tidak akan digunakan mulai musim reguler 2026/2027 dan seterusnya.
Penyesuaian Kalender, Ikuti Format Eropa
Mulai musim 2026/2027, J-League secara resmi akan mengubah jadwal kompetisi dari format lama Februari–Desember menjadi Agustus–Juni, mengikuti kalender mayoritas liga di Eropa. Langkah ini diambil untuk meningkatkan daya saing klub Jepang di level internasional serta mempermudah sinkronisasi jadwal dengan kompetisi global.
Sebagai jembatan menuju perubahan besar tersebut, operator liga meluncurkan turnamen khusus bertajuk Hyakunen Kousou League atau Liga Visi 100 Tahun. Turnamen ini berlangsung dari Februari hingga Juni 2026 dan menjadi kompetisi resmi selama masa transisi.
Format Hyakunen Kousou League
Dalam musim transisi ini, kompetisi level teratas seperti J1 League dan J2 League dibagi ke dalam dua grup besar, yakni Grup Timur dan Grup Barat. Masing-masing grup diisi oleh 10 tim dan menggunakan format round-robin ganda.
Setelah fase grup selesai, tim akan masuk ke babak play-off untuk menentukan peringkat akhir. Tim dengan posisi yang sama dari masing-masing grup akan saling berhadapan dalam sistem kandang dan tandang.
Jika agregat skor imbang setelah dua leg, maka pertandingan dapat dilanjutkan ke perpanjangan waktu atau adu penalti untuk menentukan pemenang. Dua tim teratas dari masing-masing grup akan saling bertemu untuk memperebutkan gelar juara dan runner-up, sementara peringkat berikutnya juga bertanding untuk menentukan posisi akhir klasemen.
Meski berstatus musim transisi, gelar juara tetap memiliki arti penting. Klub yang menjadi kampiun J1 pada musim ini akan mendapatkan tiket ke AFC Champions League Elite 2026/2027.
Tak Pengaruhi Promosi dan Degradasi
Menariknya, hasil akhir musim transisi 2026 tidak akan memengaruhi sistem promosi dan degradasi. Artinya, tidak ada tim yang turun kasta atau naik divisi berdasarkan hasil kompetisi ini.
Namun demikian, setiap pertandingan tetap bernilai tinggi, terutama dalam perburuan gelar dan tiket kompetisi Asia. Selain itu, 40 tim di divisi bawah seperti J2 dan J3 juga akan dikelompokkan dalam format khusus selama periode ini. Sementara itu, kompetisi piala domestik Jepang untuk sementara waktu akan dihentikan guna mendukung kelancaran transisi.
Dampak Langsung Sejak Pekan Pertama
Situasi unik langsung terlihat sejak pekan pembuka musim transisi. Pada putaran pertama J1 League, tercatat empat pertandingan berakhir imbang setelah 90 menit dan semuanya harus ditentukan melalui adu penalti.
Akibatnya, delapan tim tidak lagi berbagi satu poin seperti biasanya. Mereka meninggalkan lapangan dengan perolehan dua poin bagi pemenang adu penalti dan satu poin bagi tim yang kalah dalam drama tos-tosan tersebut.
Skema ini diprediksi akan menciptakan dinamika baru dalam persaingan klasemen. Dalam kompetisi yang dikenal sangat ketat seperti J-League, selisih satu poin saja bisa menentukan gelar juara.
Sebagai gambaran, pada musim 2025, Kashima Antlers keluar sebagai juara J1 League dengan raihan 76 poin, unggul tipis satu angka atas Kashiwa Reysol yang mengoleksi 75 poin.
Kashima mencatatkan 23 kemenangan, 7 hasil imbang, dan 8 kekalahan. Sementara Kashiwa membukukan 21 kemenangan, 12 hasil imbang, dan 5 kekalahan. Perbedaan tipis itu menunjukkan betapa krusialnya setiap poin dalam perburuan gelar.
Dengan sistem baru di musim transisi 2026, hasil imbang yang biasanya menghasilkan satu poin kini bisa berubah menjadi dua atau bahkan nol poin, tergantung hasil adu penalti. Hal ini tentu membuat perhitungan klasemen menjadi lebih kompleks dan sulit diprediksi.
Potensi Strategi Baru dan Risiko Lebih Tinggi
Penghapusan hasil seri juga berpotensi mengubah strategi permainan. Tim mungkin akan bermain lebih agresif demi menghindari adu penalti, atau sebaliknya memilih strategi defensif dan mempersiapkan algojo penalti terbaik mereka.
Pelatih harus mempertimbangkan manajemen stamina, komposisi penendang penalti, serta kesiapan mental pemain dalam situasi tekanan tinggi. Faktor psikologis diyakini akan memegang peranan penting sepanjang musim transisi ini.
Langkah berani J-League ini menunjukkan komitmen kuat untuk berinovasi sekaligus mempersiapkan transformasi besar menuju kalender baru 2026/2027. Meski hanya berlaku sementara, kebijakan tanpa hasil imbang di musim transisi 2026 dipastikan akan menjadi salah satu eksperimen paling menarik dalam sejarah sepak bola Jepang.
Dengan sistem yang berbeda dan dinamika poin yang lebih variatif, musim transisi ini berpotensi menghadirkan persaingan yang semakin sengit serta kejutan di papan klasemen hingga akhir kompetisi.
Sumber : www.bolasport.com


















