PILARadio.com – Pernah merasa jam tidur anak sulit dibuat konsisten? Malam ini si kecil mungkin sudah berada di tempat tidur sejak pukul 20.00. Namun, keesokan harinya waktu tidur bisa mundur hingga pukul 22.00. Setelah itu, jadwalnya kembali lebih awal seperti biasanya.
Kondisi seperti ini cukup sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Jadwal keluarga yang berubah, perjalanan, kegiatan sekolah, anak sedang sakit, atau sekadar tidur siang yang terlalu lama bisa membuat waktu tidur ikut bergeser.
Sesekali mengalami perubahan jam tidur tentu bukan sesuatu yang perlu langsung dikhawatirkan. Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Chronobiology International pada 2025 menyoroti hal yang menarik mengenai pola tidur anak usia dini.
Penelitian berjudul “Intraindividual variability in sleep patterns and behavioral problems among preschool children: The role of bedtime and total sleep time variability” tersebut melihat hubungan antara perubahan pola tidur dengan masalah emosional dan perilaku pada anak usia 1,5 hingga 5 tahun.
Peneliti tidak hanya melihat berapa lama anak tidur setiap malam. Mereka juga memperhatikan seberapa besar perubahan waktu tidur dan total durasi tidur dari satu waktu ke waktu lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara perubahan waktu tidur dengan masalah emosional pada anak. Sementara itu, perubahan total durasi tidur berkaitan dengan masalah perilaku yang lebih terlihat dari luar.
Temuan tersebut memberikan sudut pandang lain bagi orang tua. Kebutuhan tidur anak memang penting, tetapi keteraturan pola tidur juga menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan.
Bukan Hanya Berapa Jam Anak Tidur
Ketika membicarakan tidur anak, perhatian orang tua biasanya tertuju pada satu pertanyaan sederhana: apakah anak sudah tidur cukup?
Pertanyaan tersebut memang penting. Anak membutuhkan waktu tidur yang memadai untuk mendukung pertumbuhan dan aktivitas sehari-hari.
Namun, penelitian terbaru tersebut melihat persoalan dari sisi yang berbeda.
Peneliti ingin mengetahui apakah perubahan pola tidur dari waktu ke waktu juga memiliki hubungan dengan kondisi emosional dan perilaku anak.
Misalnya, seorang anak tidur pukul 20.00 pada Senin, kemudian pukul 22.00 pada Selasa, dan kembali tidur pukul 20.00 pada Rabu. Durasi tidur anak mungkin tetap berada dalam rentang tertentu, tetapi waktu memulainya berubah cukup jauh.
Perubahan seperti itulah yang menjadi perhatian dalam penelitian.
Dalam penelitian, kondisi tersebut disebut sebagai intraindividual variability. Secara sederhana, istilah ini menggambarkan seberapa besar pola tidur seseorang berubah dari waktu ke waktu.
Jadi, peneliti tidak hanya bertanya apakah seorang anak tidur cukup lama. Mereka juga melihat apakah kebiasaan tidur anak relatif stabil atau justru sering berubah.
Penelitian Melibatkan 306 Anak
Penelitian tersebut melibatkan 306 anak dengan rentang usia 1,5 hingga 5 tahun.
Kelompok usia tersebut merupakan periode penting dalam perkembangan anak. Pada usia dini, anak mengalami berbagai perubahan dalam kemampuan berkomunikasi, mengatur emosi, berinteraksi dengan lingkungan, serta mengembangkan kebiasaan sehari-hari.
Dalam penelitian tersebut, informasi mengenai pola tidur diperoleh melalui catatan aktivitas harian yang dibuat oleh orang tua atau pengasuh.
Sementara itu, kondisi perilaku anak dinilai menggunakan Child Behavior Checklist atau CBCL untuk kelompok usia 1,5 hingga 5 tahun.
Instrumen tersebut digunakan untuk melihat berbagai persoalan emosional dan perilaku yang mungkin muncul pada anak.
Dengan menggunakan data tersebut, peneliti kemudian melihat apakah perubahan pada waktu tidur maupun total durasi tidur memiliki hubungan dengan masalah emosional dan perilaku.
Hasilnya menunjukkan adanya kaitan antara variasi pola tidur dengan beberapa jenis masalah perilaku.
Namun, penting untuk memahami bahwa penelitian tersebut tidak mengatakan setiap anak yang memiliki jadwal tidur tidak teratur pasti mengalami masalah perilaku.
Hubungan yang ditemukan dalam penelitian tidak bisa langsung diartikan sebagai hubungan sebab-akibat.
Apa yang Dimaksud Masalah Internalizing?
Salah satu temuan penelitian berkaitan dengan apa yang disebut internalizing problems.
Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan persoalan emosional yang lebih banyak muncul di dalam diri anak.
Pada anak, masalah seperti ini dapat terlihat dalam berbagai bentuk, misalnya kecenderungan merasa cemas, menarik diri, atau menunjukkan respons emosional tertentu.
Dalam penelitian tersebut, semakin besar variasi waktu tidur anak, semakin tinggi kaitannya dengan masalah internalizing.
Dengan kata lain, perubahan waktu tidur dari hari ke hari menjadi salah satu aspek yang berhubungan dengan kondisi emosional anak dalam hasil penelitian tersebut.
Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa waktu ketika anak mulai tidur mungkin memiliki kaitan dengan kondisi anak, bukan hanya jumlah keseluruhan jam tidur.
Namun, orang tua tidak perlu langsung menarik kesimpulan bahwa anak yang beberapa kali tidur lebih larut akan mengalami gangguan emosional.
Penelitian tersebut melihat pola secara keseluruhan pada kelompok anak yang diteliti, bukan menentukan nasib setiap anak secara individual.
Perubahan Durasi Tidur Berkaitan dengan Masalah Eksternal
Selain waktu tidur, penelitian juga melihat perubahan total durasi tidur.
Total durasi tidur berarti berapa lama anak tidur dalam satu periode malam.
Misalnya, seorang anak tidur selama 10 jam pada satu malam, tetapi hanya tidur 7 jam pada malam berikutnya. Perbedaan tersebut merupakan variasi durasi tidur.
Dalam penelitian, variasi total durasi tidur lebih berkaitan dengan externalizing problems.
Berbeda dengan internalizing problems yang lebih banyak berkaitan dengan persoalan emosional yang muncul dari dalam diri, externalizing problems biasanya merujuk pada perilaku yang lebih mudah diamati dari luar.
Perilaku tersebut dapat berupa kesulitan mengendalikan emosi atau perilaku yang mengganggu lingkungan sekitar.
Sekali lagi, temuan ini tidak berarti kurang tidur atau durasi tidur yang berubah-ubah secara otomatis membuat anak memiliki masalah perilaku.
Peneliti menemukan adanya hubungan berdasarkan data yang dikumpulkan. Untuk mengetahui apakah perubahan tidur benar-benar menjadi penyebab, diperlukan penelitian dengan desain yang dapat menguji hubungan sebab-akibat secara lebih kuat.
Konsistensi Tidur Menjadi Hal yang Menarik
Salah satu hal yang bisa dipetik dari penelitian ini adalah pentingnya melihat pola tidur secara keseluruhan.
Orang tua mungkin selama ini fokus pada jumlah jam tidur anak. Misalnya, anak dianggap sudah mendapatkan waktu tidur yang cukup karena tidur selama beberapa jam sesuai kebutuhan usianya.
Namun, waktu tidur yang terus berubah juga layak diperhatikan.
Anak yang tidur cukup tetapi selalu berganti-ganti waktu tidur mungkin memiliki pola yang berbeda dibandingkan anak yang memiliki jadwal tidur relatif konsisten.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kedua hal itu dapat memiliki hubungan yang berbeda dengan masalah emosional dan perilaku.
Karena itu, membuat rutinitas tidur yang relatif konsisten bisa menjadi salah satu kebiasaan yang diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari.
Bukan berarti jadwal tidur harus selalu sama hingga menit terakhir. Perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari tetap merupakan hal yang wajar.
Yang menjadi perhatian adalah pola perubahan yang terjadi secara terus-menerus.
Apakah Anak Harus Tidur Tepat di Jam yang Sama?
Tidak perlu menganggap bahwa anak harus tidur tepat pada pukul yang sama setiap malam.
Kehidupan keluarga tidak selalu berjalan dengan jadwal yang identik. Ada saat ketika anak harus bepergian, mengikuti acara keluarga, sedang sakit, atau memiliki kegiatan tertentu.
Dalam kondisi tersebut, waktu tidur bisa saja berubah.
Perubahan sesekali bukan hal yang sama dengan pola tidur yang terus-menerus tidak konsisten.
Misalnya, anak tidur lebih malam karena perjalanan keluarga pada akhir pekan. Setelah kembali ke rumah, jadwal tidurnya kembali seperti biasa.
Kondisi seperti ini tentu berbeda dengan anak yang hampir setiap hari tidur pada jam yang berbeda jauh tanpa rutinitas yang jelas.
Penelitian tersebut lebih menyoroti variasi pola tidur dari waktu ke waktu.
Karena itu, orang tua tidak perlu merasa bersalah hanya karena sesekali jadwal tidur anak berubah.
Rutinitas Sebelum Tidur Bisa Membantu
Salah satu cara yang bisa dilakukan orang tua adalah membuat rutinitas sederhana sebelum waktu tidur.
Rutinitas tidak harus rumit.
Anak bisa memiliki rangkaian kegiatan yang sama setiap malam, misalnya mandi, mengenakan pakaian tidur, merapikan mainan, membaca buku, kemudian masuk ke tempat tidur.
Kebiasaan yang berulang dapat membantu anak mengenali bahwa waktu tidur sudah semakin dekat.
Yang lebih penting, rutinitas tersebut dilakukan secara konsisten sesuai kondisi keluarga.
Tidak semua anak memiliki kebiasaan yang sama. Ada anak yang mudah tidur setelah membaca buku, sementara anak lainnya mungkin membutuhkan suasana kamar yang lebih tenang.
Orang tua dapat menyesuaikan rutinitas dengan karakter dan kebutuhan anak.
Waktu Tidur Bisa Berubah karena Banyak Faktor
Pola tidur anak sebenarnya dipengaruhi oleh berbagai hal.
Usia menjadi salah satu faktor. Kebutuhan tidur anak juga berubah seiring pertumbuhan.
Selain itu, aktivitas pada siang hari dapat memengaruhi waktu tidur malam.
Anak yang tidur siang terlalu lama atau terlalu dekat dengan waktu malam mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mengantuk.
Kondisi lingkungan juga dapat berpengaruh.
Suasana kamar yang terlalu terang, suara bising, suhu ruangan yang tidak nyaman, atau penggunaan perangkat elektronik menjelang tidur dapat membuat rutinitas tidur menjadi lebih sulit.
Faktor keluarga juga tidak kalah penting.
Jika orang tua baru selesai bekerja pada malam hari, misalnya, waktu tidur anak mungkin ikut menyesuaikan.
Karena itu, pola tidur anak sebaiknya dilihat dalam konteks kehidupan sehari-hari, bukan hanya dari satu atau dua malam.
Jangan Langsung Menyimpulkan Perilaku Anak Disebabkan Tidur
Temuan penelitian ini penting, tetapi tetap harus dibaca secara hati-hati.
Hubungan antara pola tidur dan masalah perilaku bukan berarti tidur yang berubah-ubah merupakan penyebab langsung anak mengalami masalah perilaku.
Ada banyak faktor lain yang mungkin ikut berperan.
Lingkungan keluarga, kondisi psikososial, pola pengasuhan, aktivitas harian, perkembangan anak, serta berbagai faktor lain dapat memengaruhi kondisi emosional dan perilaku.
Karena penelitian tersebut bersifat observasional, peneliti tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat hanya dari data yang dikumpulkan.
Dengan kata lain, penelitian menunjukkan adanya pola hubungan, tetapi belum menjawab secara pasti apakah perubahan tidur menyebabkan masalah perilaku atau justru ada faktor lain yang memengaruhi keduanya.
Kemungkinan hubungan dua arah juga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan dalam penelitian lebih lanjut.
Anak yang mengalami persoalan emosional atau perilaku tertentu mungkin juga mengalami perubahan pola tidur.
Penelitian Lanjutan Masih Dibutuhkan
Para peneliti menyebut penelitian longitudinal dan pengukuran tidur yang lebih objektif masih diperlukan untuk memahami hubungan tersebut secara lebih mendalam.
Penelitian longitudinal memungkinkan peneliti mengikuti perkembangan anak dalam periode yang lebih panjang.
Dengan cara tersebut, perubahan pola tidur dan perkembangan perilaku dapat diamati dari waktu ke waktu.
Selain itu, penggunaan alat pengukuran tidur yang lebih objektif dapat memberikan data yang berbeda dibandingkan hanya mengandalkan catatan orang tua atau pengasuh.
Catatan orang tua tetap memiliki manfaat karena mereka mengetahui rutinitas anak sehari-hari.
Namun, laporan tersebut juga memiliki keterbatasan karena bergantung pada pengamatan dan pencatatan manusia.
Penelitian lanjutan dapat membantu menjelaskan apakah konsistensi waktu tidur memang memiliki pengaruh tertentu terhadap perkembangan emosional dan perilaku anak.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Terlepas dari hasil penelitian tersebut, orang tua dapat mulai memperhatikan pola tidur anak secara sederhana.
Tidak perlu menggunakan alat khusus.
Orang tua dapat mencatat kapan anak tidur dan kapan bangun selama beberapa hari atau minggu.
Dari catatan tersebut, orang tua bisa melihat apakah jadwal tidur anak relatif stabil atau sering berubah.
Catatan tersebut juga bisa membantu menemukan pola tertentu.
Misalnya, anak selalu sulit tidur ketika tidur siangnya terlalu lama. Atau anak cenderung tidur lebih malam ketika menggunakan perangkat elektronik menjelang waktu tidur.
Dengan mengetahui pola tersebut, orang tua dapat mencoba melakukan penyesuaian.
Tujuannya bukan membuat jadwal tidur yang sempurna, tetapi menciptakan rutinitas yang realistis dan dapat dijalankan keluarga.
Konsistensi Lebih Penting daripada Kesempurnaan
Rutinitas tidur tidak harus berjalan sempurna setiap hari.
Ada kalanya anak tidur lebih malam.
Ada pula hari ketika anak justru tertidur lebih cepat karena kelelahan setelah bermain atau beraktivitas.
Hal tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Yang dapat menjadi perhatian adalah konsistensi secara umum.
Jika anak biasanya tidur pada waktu yang relatif sama, kemudian sesekali mengalami perubahan, hal tersebut berbeda dengan pola yang terus berubah setiap malam.
Karena itu, orang tua tidak perlu terjebak pada angka atau jadwal yang terlalu kaku.
Membangun rutinitas yang bisa dijalankan secara konsisten justru dapat menjadi pendekatan yang lebih realistis.
Perhatikan Kondisi Anak Secara Keseluruhan
Tidur hanyalah salah satu bagian dari perkembangan anak.
Orang tua tetap perlu melihat kondisi anak secara keseluruhan.
Bagaimana suasana hatinya?
Bagaimana anak berinteraksi dengan orang lain?
Apakah anak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari?
Bagaimana pola makan dan aktivitas fisiknya?
Apakah anak terlihat mudah lelah pada siang hari?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap dibandingkan hanya melihat jam tidur.
Jika terdapat perubahan perilaku yang berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas anak, orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan penilaian yang sesuai.
Konsultasi juga dapat dilakukan apabila orang tua memiliki kekhawatiran mengenai pola tidur anak yang berlangsung dalam waktu lama.
Tidak Perlu Panik karena Satu Malam
Salah satu pesan penting yang dapat diambil dari penelitian tersebut adalah tidak perlu langsung khawatir ketika anak tidur lebih malam dari biasanya.
Anak bisa saja tidur terlambat karena bepergian, menghadiri acara keluarga, sedang sakit, atau mengalami perubahan rutinitas.
Satu malam tidak sama dengan pola yang berlangsung berulang kali.
Penelitian melihat variasi pola tidur dalam kelompok anak selama periode pengamatan, bukan menilai dampak dari satu malam ketika anak tidur terlambat.
Karena itu, orang tua dapat melihat pola dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Jika setelah satu malam tidur lebih larut anak kembali ke rutinitasnya, kondisi tersebut tentu berbeda dengan perubahan jadwal tidur yang terjadi hampir setiap hari.
Hubungan Tidur dan Perilaku Masih Terus Dipelajari
Hubungan antara tidur dan perilaku anak sebenarnya merupakan bidang yang masih terus dipelajari.
Tidur berkaitan dengan berbagai proses dalam tubuh dan perkembangan anak. Pada usia dini, anak juga mengalami perubahan yang sangat cepat sehingga pola tidur dan perilaku dapat berubah seiring perkembangan.
Penelitian mengenai konsistensi tidur menambah sudut pandang bahwa durasi tidur bukan satu-satunya hal yang dapat diperhatikan.
Kapan anak tidur dan seberapa sering jadwal tersebut berubah juga menjadi aspek yang menarik untuk diteliti.
Namun, hasil penelitian tidak boleh digunakan untuk memberikan diagnosis terhadap seorang anak.
Setiap anak memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda.
Pentingnya Rutinitas dalam Kehidupan Anak
Rutinitas bukan hanya berkaitan dengan waktu tidur.
Anak juga terbantu dengan pola kegiatan harian yang relatif dapat diprediksi.
Waktu makan, bermain, belajar, tidur siang, hingga tidur malam dapat dibuat dalam pola yang sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Rutinitas tersebut tidak harus kaku.
Anak tetap membutuhkan ruang untuk bermain dan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi.
Namun, jadwal yang relatif konsisten dapat membantu keluarga mengetahui apa yang biasanya dilakukan pada waktu tertentu.
Dalam konteks tidur, rutinitas sebelum tidur dapat menjadi tanda bagi anak bahwa aktivitas hari itu akan segera berakhir.
Penelitian Tidak Mengatakan Semua Anak dengan Jadwal Tidak Teratur Bermasalah
Hal ini penting ditekankan agar hasil penelitian tidak disalahartikan.
Penelitian menemukan hubungan statistik antara variasi pola tidur dan masalah emosional maupun perilaku.
Temuan tersebut tidak berarti setiap anak yang tidur tidak teratur akan mengalami masalah perilaku.
Begitu pula sebaliknya, anak yang memiliki jadwal tidur teratur tidak otomatis terbebas dari persoalan emosional atau perilaku.
Perkembangan anak dipengaruhi oleh banyak faktor.
Tidur merupakan salah satu bagian dari kehidupan anak, bukan satu-satunya faktor yang menentukan kondisi emosional dan perilakunya.
Karena itu, hasil penelitian lebih tepat dipandang sebagai informasi tambahan bagi orang tua dan peneliti.
Jam Tidur Anak Layak Diperhatikan
Penelitian yang diterbitkan dalam Chronobiology International tersebut memberikan perhatian pada satu hal yang mungkin selama ini luput dari perhatian sebagian orang tua.
Ketika membicarakan tidur anak, pembahasan biasanya berkisar pada jumlah jam tidur.
Padahal, pola waktu tidur dari hari ke hari juga dapat menjadi bagian penting untuk diperhatikan.
Pada penelitian yang melibatkan 306 anak usia 1,5 hingga 5 tahun, variasi waktu tidur ditemukan berkaitan dengan masalah internalizing, sedangkan variasi total durasi tidur berkaitan dengan masalah externalizing.
Kedua variasi tersebut juga memiliki hubungan dengan masalah perilaku secara keseluruhan.
Namun, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa perubahan jam tidur secara langsung menyebabkan masalah emosional atau perilaku.
Masih diperlukan penelitian lanjutan dengan periode pengamatan lebih panjang dan metode pengukuran tidur yang lebih objektif untuk memahami hubungan tersebut.
Bagi orang tua, temuan ini bisa menjadi pengingat untuk memperhatikan rutinitas tidur anak tanpa harus menjadi terlalu cemas.
Sesekali anak tidur lebih malam merupakan hal yang wajar. Perjalanan, acara keluarga, sakit, liburan, maupun perubahan aktivitas dapat membuat jadwal tidur bergeser.
Yang lebih penting adalah melihat kebiasaan tersebut dalam jangka panjang.
Jika jadwal tidur anak cenderung berubah-ubah hampir setiap hari, orang tua dapat mencoba membangun rutinitas yang lebih konsisten dan menyesuaikannya dengan kondisi keluarga.
Pada akhirnya, tidak ada jadwal tidur yang harus sama persis untuk semua anak.
Setiap keluarga memiliki kondisi berbeda dan setiap anak juga memiliki kebutuhan yang tidak selalu sama.
Yang menjadi perhatian bukan mengejar jadwal tidur yang sempurna, melainkan membangun kebiasaan yang cukup teratur, realistis, dan dapat dipertahankan.
Dengan begitu, orang tua dapat lebih mudah mengamati perubahan pada pola tidur maupun perilaku anak dari waktu ke waktu.
Jika muncul perubahan perilaku yang menetap atau kekhawatiran mengenai tidur anak, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat menjadi langkah yang tepat untuk mendapatkan penilaian sesuai kondisi anak.
Sumber : www,kumparan.com


