Studi Ungkap Liburan 2 Bulan Sekali Bisa Bantu Kurangi Stres

Studi Ungkap Liburan 2 Bulan Sekali Bisa Bantu Kurangi Stres (Tangkapan Layar)

PILARadio.com – Liburan selama ini identik dengan perjalanan ke tempat baru, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau sekadar menjauh sejenak dari kesibukan pekerjaan. Namun, di balik aktivitas tersebut, mengambil waktu untuk beristirahat secara berkala ternyata juga berkaitan dengan proses pemulihan tubuh dan pikiran.

Bagi pekerja yang setiap hari menghadapi tuntutan pekerjaan, waktu istirahat tidak selalu cukup hanya dengan berhenti bekerja pada malam hari atau saat akhir pekan. Tekanan pekerjaan yang berlangsung terus-menerus dapat membuat tubuh dan pikiran membutuhkan waktu pemulihan yang lebih panjang.

Sebuah editorial yang diterbitkan dalam jurnal medis Cureus membahas mengenai hubungan antara frekuensi liburan, proses pemulihan, kesejahteraan, stres, dan kinerja seseorang. Editorial berjudul Maximizing Recovery: The Superiority of Frequent Vacations for Well-Being and Performance itu ditulis oleh Selvaraj Giridharan dan Bhuvana Pandiyan dan diterbitkan pada 8 Juli 2025.

Dalam editorial tersebut, penulis membahas sejumlah penelitian sebelumnya yang melihat dampak liburan terhadap kondisi fisik dan psikologis pekerja.

Salah satu gagasan yang menjadi perhatian adalah pentingnya mengambil jeda secara berkala. Berdasarkan pembahasan dalam editorial tersebut, liburan yang lebih sering dengan durasi relatif singkat dapat menjadi salah satu cara untuk membantu menjaga proses pemulihan sepanjang tahun.

Penulis bahkan menyarankan penjadwalan liburan singkat setiap dua bulan sebagai salah satu strategi untuk mencegah stres menumpuk. Namun, rekomendasi tersebut bukan berarti setiap orang secara medis diwajibkan mengambil liburan tepat setiap dua bulan.

Yang menjadi perhatian utama adalah adanya kesempatan untuk benar-benar melepaskan diri dari tuntutan pekerjaan dan memberikan waktu bagi tubuh serta pikiran untuk memulihkan diri.

Pekerjaan dengan Tekanan Tinggi Bisa Menguras Energi

Rutinitas pekerjaan yang padat membuat seseorang harus terus menggunakan tenaga fisik dan kemampuan berpikir. Dalam kondisi tertentu, tuntutan tersebut dapat berlangsung dari pagi hingga malam dan bahkan terbawa sampai ke luar jam kerja.

Perkembangan teknologi juga membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin tipis. Pesan dari atasan, email, grup kerja, atau urusan pekerjaan lainnya dapat muncul kapan saja melalui telepon seluler.

Akibatnya, seseorang yang secara fisik sudah meninggalkan kantor belum tentu benar-benar berhenti memikirkan pekerjaan.

Kondisi seperti itu menjadi salah satu hal yang dibahas dalam editorial Giridharan dan Pandiyan.

Penulis menggunakan konsep effort-recovery theory atau teori usaha-pemulihan untuk menjelaskan mengapa seseorang membutuhkan waktu istirahat setelah menghadapi tuntutan pekerjaan.

Secara sederhana, teori tersebut menjelaskan bahwa aktivitas pekerjaan membutuhkan sumber daya fisik dan psikologis. Setelah seseorang mengeluarkan energi untuk menyelesaikan pekerjaan, tubuh dan pikiran membutuhkan kesempatan untuk memulihkan sumber daya tersebut.

Jika proses pemulihan tidak berjalan dengan baik, tekanan dapat terus terakumulasi.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berhubungan dengan kelelahan, stres, penurunan energi, hingga berkurangnya kemampuan seseorang untuk bekerja secara optimal. Editorial tersebut juga mengaitkan tekanan pekerjaan yang berkelanjutan dengan risiko kelelahan kerja dan penurunan produktivitas.

Mengapa Liburan Bisa Membantu Mengurangi Stres?

Liburan memberikan kesempatan bagi seseorang untuk berhenti sementara dari rutinitas yang menuntut perhatian dan energi.

Ketika sedang berlibur, seseorang memiliki kesempatan untuk melakukan aktivitas yang berbeda dari pekerjaan sehari-hari. Misalnya berjalan-jalan, berolahraga, menikmati pemandangan alam, menghabiskan waktu bersama keluarga, menjalankan hobi, atau sekadar tidur dan beristirahat lebih cukup.

Perubahan suasana tersebut dapat membantu seseorang melepaskan diri dari pikiran mengenai pekerjaan.

Dalam editorial yang diterbitkan Cureus, penulis menjelaskan bahwa manfaat liburan tidak hanya berkaitan dengan perasaan lebih santai. Sejumlah penelitian sebelumnya juga menemukan adanya perubahan pada berbagai indikator kesejahteraan setelah seseorang menjalani liburan.

Salah satu penelitian yang dibahas adalah meta-analisis yang menggabungkan 22 penelitian mengenai dampak liburan.

Hasilnya menunjukkan adanya penurunan kelelahan setelah berlibur. Selain itu, penelitian tersebut juga menemukan peningkatan suasana hati dan kepuasan hidup.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa waktu istirahat dari pekerjaan dapat memberikan manfaat terhadap kondisi psikologis seseorang.

Dengan kata lain, liburan tidak selalu harus dipandang sebagai aktivitas untuk mencari hiburan. Waktu tersebut juga dapat menjadi bagian dari proses pemulihan setelah seseorang menjalani rutinitas pekerjaan dalam jangka waktu tertentu.

Penelitian Lain Menemukan Perubahan pada Kondisi Fisik

Manfaat liburan juga tidak hanya dibahas dari sisi psikologis.

Editorial tersebut mengutip meta-analisis yang mencakup 54 penelitian dan menemukan sejumlah perubahan fisiologis yang berkaitan dengan liburan.

Beberapa indikator yang dibahas meliputi kadar kortisol, kualitas tidur, dan variabilitas detak jantung atau heart rate variability.

Kortisol merupakan salah satu hormon yang berkaitan dengan respons tubuh terhadap stres. Sementara itu, variabilitas detak jantung dapat digunakan sebagai salah satu indikator dalam penelitian mengenai respons tubuh terhadap berbagai kondisi.

Hasil penelitian yang dikutip dalam editorial menunjukkan adanya perubahan pada sejumlah indikator tersebut setelah seseorang menjalani liburan.

Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti bahwa liburan dapat menjadi pengganti penanganan medis bagi orang yang mengalami masalah kesehatan tertentu.

Pembahasan penelitian lebih banyak berkaitan dengan proses pemulihan, kesejahteraan, dan pengalaman pekerja setelah mengambil waktu istirahat.

Karena itu, manfaat liburan sebaiknya dipahami sebagai salah satu bagian dari pola hidup dan pengelolaan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Manfaat Liburan Ternyata Tidak Selalu Bertahan Lama

Salah satu hal menarik yang dibahas dalam editorial tersebut adalah apa yang disebut sebagai fade-out effect.

Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika manfaat liburan perlahan berkurang setelah seseorang kembali menjalani rutinitas pekerjaan.

Artinya, seseorang mungkin merasa jauh lebih segar selama atau sesaat setelah liburan. Namun, efek positif tersebut belum tentu bertahan dalam waktu lama ketika kembali menghadapi tekanan pekerjaan.

Editorial tersebut mengutip penelitian terhadap 54 pekerja yang menjalani liburan dengan rata-rata durasi 23 hari.

Dalam penelitian itu, kondisi kesehatan dan kesejahteraan peserta mencapai titik terbaik sekitar hari kedelapan liburan. Setelah kembali bekerja, manfaat tersebut kemudian berkurang dan dalam waktu sekitar satu minggu kembali mendekati kondisi sebelum liburan.

Temuan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa penulis editorial mempertanyakan anggapan bahwa liburan yang sangat panjang selalu lebih baik dibandingkan liburan singkat.

Jika manfaat liburan dapat berkurang dengan cepat setelah seseorang kembali bekerja, mengambil jeda beberapa kali sepanjang tahun mungkin menjadi salah satu pendekatan yang layak dipertimbangkan.

Liburan Singkat Setiap Dua Bulan Jadi Salah Satu Saran

Berdasarkan pembahasan sejumlah penelitian tersebut, penulis editorial menyarankan agar seseorang mempertimbangkan liburan singkat setiap dua bulan.

Tujuannya bukan untuk membuat aturan bahwa setiap orang harus meninggalkan pekerjaan setiap delapan minggu.

Saran tersebut lebih berkaitan dengan upaya menyediakan waktu pemulihan secara teratur sehingga seseorang tidak harus menunggu sampai kondisi tubuh dan pikirannya benar-benar kelelahan sebelum mengambil cuti.

Dengan pola seperti itu, waktu pemulihan dapat tersebar sepanjang tahun.

Misalnya, dibandingkan hanya mengambil satu liburan panjang dalam setahun, seseorang dapat membagi waktu cutinya menjadi beberapa periode yang lebih singkat.

Cara tersebut tentunya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing, termasuk jenis pekerjaan, kebijakan perusahaan, kondisi keuangan, kebutuhan keluarga, dan waktu yang tersedia.

Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk melakukan perjalanan setiap dua bulan. Liburan juga tidak harus selalu berarti bepergian jauh atau menginap di hotel.

Jeda beberapa hari dari pekerjaan dengan aktivitas yang menyenangkan dan benar-benar memberikan kesempatan untuk beristirahat juga dapat menjadi bentuk pemulihan.

Kualitas Liburan Sama Pentingnya dengan Frekuensi

Sering mengambil liburan belum tentu memberikan manfaat maksimal apabila selama masa tersebut seseorang masih terus memikirkan pekerjaan.

Karena itu, kualitas waktu istirahat menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai pemulihan.

Dalam editorialnya, Giridharan dan Pandiyan menekankan pentingnya psychological detachment atau pelepasan secara psikologis dari pekerjaan.

Artinya, seseorang perlu benar-benar memberi jarak antara dirinya dan pekerjaan selama masa liburan.

Hal tersebut bisa dilakukan dengan mengurangi komunikasi yang berkaitan dengan pekerjaan.

Tidak membuka email kantor setiap beberapa jam, tidak terus memantau grup kerja, atau tidak menghabiskan waktu liburan untuk menyelesaikan pekerjaan dapat membantu seseorang mendapatkan jeda yang lebih utuh.

Penelitian yang dikutip dalam editorial tersebut menunjukkan bahwa kemampuan untuk melepaskan diri dari pekerjaan berkaitan dengan energi yang lebih tinggi dan tingkat kelelahan yang lebih rendah setelah liburan.

Dengan demikian, persoalannya bukan hanya seberapa sering seseorang berlibur, tetapi juga bagaimana waktu tersebut digunakan.

Tidak Harus Selalu Pergi Jauh

Banyak orang menganggap liburan harus dilakukan dengan bepergian ke luar kota atau bahkan ke luar negeri.

Padahal, kebutuhan utama dari waktu istirahat adalah memberikan kesempatan untuk keluar sementara dari tuntutan pekerjaan.

Karena itu, liburan singkat tidak harus selalu membutuhkan biaya besar.

Seseorang dapat menghabiskan beberapa hari di rumah tanpa membuka pekerjaan, mengunjungi tempat wisata di daerah sekitar, pergi ke alam terbuka, atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

Pilihan aktivitas dapat disesuaikan dengan apa yang membuat seseorang merasa lebih rileks.

Editorial tersebut menyebut beberapa aktivitas yang dapat membantu proses pemulihan, antara lain olahraga, menikmati alam, melakukan hobi, bersosialisasi, dan aktivitas budaya.

Aktivitas tersebut memberikan pilihan yang lebih luas bagi orang yang ingin menggunakan waktu liburnya untuk memulihkan energi.

Olahraga dan Aktivitas di Alam Bisa Jadi Pilihan

Tidak semua orang mendapatkan energi kembali dengan cara yang sama.

Ada orang yang merasa lebih rileks ketika berjalan-jalan di alam. Ada pula yang lebih menikmati olahraga, membaca buku, memasak, berkumpul dengan keluarga, atau melakukan kegiatan yang selama ini sulit dilakukan karena kesibukan pekerjaan.

Karena itu, tidak ada satu bentuk liburan yang cocok untuk semua orang.

Dalam pembahasan editorial Cureus, aktivitas yang bersifat memulihkan seperti olahraga, menikmati alam, dan aktivitas budaya dikaitkan dengan proses pemulihan serta peningkatan kesejahteraan.

Bahkan, aktivitas yang membuat seseorang merasa lebih kreatif juga dapat memberikan manfaat setelah kembali bekerja.

Sebaliknya, apabila waktu liburan justru dipenuhi urusan pekerjaan, kesempatan untuk benar-benar memulihkan energi menjadi lebih kecil.

Mengapa Sering Liburan Bisa Lebih Efektif?

Gagasan mengenai liburan yang lebih sering berangkat dari konsep pemulihan secara berkala.

Jika tekanan pekerjaan terus berlangsung selama berbulan-bulan tanpa jeda yang cukup, beban yang dirasakan seseorang dapat semakin menumpuk.

Mengambil waktu istirahat secara berkala memungkinkan tubuh dan pikiran mendapatkan kesempatan untuk memulihkan diri sebelum kelelahan menjadi semakin berat.

Dalam editorial tersebut, penulis menyebut bahwa pekerja yang mengambil beberapa liburan singkat dalam setahun dapat memiliki tingkat energi dan motivasi yang lebih baik dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan satu periode liburan panjang.

Namun, temuan ini tetap perlu dibaca dalam konteks penelitian yang dibahas. Editorial tersebut merupakan analisis dan rekomendasi berdasarkan penelitian sebelumnya, bukan uji klinis yang menetapkan jadwal liburan tertentu untuk semua orang.

Karena itu, angka dua bulan sebaiknya dipandang sebagai salah satu saran praktis, bukan aturan kesehatan yang wajib diikuti.

Beban Pekerjaan Setelah Liburan Juga Berpengaruh

Ada faktor lain yang tidak kalah penting, yaitu kondisi pekerjaan ketika seseorang kembali dari liburan.

Liburan mungkin memberikan waktu pemulihan, tetapi manfaatnya dapat lebih cepat berkurang apabila seseorang kembali menghadapi beban kerja yang sangat tinggi.

Editorial tersebut mencatat bahwa tuntutan pekerjaan dan kualitas pengalaman selama liburan dapat memengaruhi seberapa lama manfaat pemulihan bertahan. Pekerja yang kembali ke lingkungan kerja dengan tekanan tinggi dapat mengalami berkurangnya manfaat liburan dengan lebih cepat.

Hal ini menunjukkan bahwa persoalan stres di tempat kerja tidak dapat diselesaikan hanya dengan menyuruh pekerja mengambil cuti.

Lingkungan kerja juga memiliki peran.

Perusahaan dapat membantu dengan memberikan kesempatan cuti yang memadai, mengurangi tuntutan komunikasi di luar jam kerja, serta menciptakan budaya kerja yang tidak membuat karyawan merasa harus selalu tersedia.

Liburan Bukan Berarti Menghindari Pekerjaan

Mengambil cuti bukan berarti seseorang tidak bertanggung jawab terhadap pekerjaan.

Justru, waktu istirahat dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kemampuan seseorang agar tetap dapat menjalankan aktivitasnya dalam jangka panjang.

Tubuh membutuhkan tidur dan istirahat. Pikiran juga membutuhkan kesempatan untuk berhenti memproses berbagai tuntutan pekerjaan.

Jika seseorang terus bekerja tanpa memberikan waktu pemulihan, kelelahan dapat semakin sulit dihindari.

Karena itu, cuti seharusnya tidak selalu dianggap sebagai waktu yang terbuang.

Bagi pekerja, mengambil jeda bisa menjadi kesempatan untuk mengembalikan energi sebelum kembali menghadapi rutinitas.

Cara Membuat Liburan Singkat Lebih Berkualitas

Jika ingin mencoba pola liburan lebih sering, ada beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan.

Pertama, tentukan jadwal jauh-jauh hari. Dengan begitu, waktu istirahat dapat disiapkan tanpa mengganggu pekerjaan yang sedang berjalan.

Kedua, usahakan menyelesaikan pekerjaan penting sebelum cuti. Pendelegasian tugas juga dapat dilakukan jika diperlukan.

Ketiga, kurangi komunikasi pekerjaan selama liburan. Jika memungkinkan, aktifkan pemberitahuan otomatis bahwa Anda sedang cuti dan tentukan siapa yang dapat dihubungi untuk urusan yang benar-benar mendesak.

Keempat, pilih aktivitas yang memang membuat tubuh dan pikiran lebih rileks.

Tidak perlu mengikuti tren wisata tertentu jika justru membuat liburan terasa melelahkan.

Kelima, jangan membuat jadwal terlalu padat.

Liburan yang dipenuhi perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, antrean panjang, dan berbagai kewajiban justru dapat membuat seseorang membutuhkan waktu istirahat lagi setelah pulang.

Liburan Dua Bulan Sekali Bukan Kewajiban Medis

Hal penting yang perlu digarisbawahi dari editorial tersebut adalah rekomendasi liburan setiap dua bulan bukanlah ketentuan medis.

Penulis mengusulkan jeda singkat setiap dua bulan sebagai salah satu strategi untuk membantu mencegah penumpukan stres.

Kebutuhan setiap orang tentu berbeda.

Pekerja dengan jadwal fleksibel mungkin lebih mudah mengambil cuti beberapa kali dalam setahun. Sebaliknya, pekerja dengan keterbatasan cuti atau tanggung jawab keluarga mungkin membutuhkan pola yang berbeda.

Begitu juga dengan kondisi keuangan.

Liburan tidak harus selalu mahal. Yang lebih penting adalah memberikan jarak dari pekerjaan dan memilih kegiatan yang membantu proses pemulihan.

Dengan demikian, konsep utama dari penelitian yang dibahas bukan sekadar “harus liburan setiap dua bulan”, melainkan pentingnya memiliki waktu pemulihan secara teratur.

Kesimpulan

Liburan bukan hanya soal bepergian atau mencari hiburan. Bagi seseorang yang menjalani rutinitas pekerjaan dengan tuntutan tinggi, waktu istirahat dapat menjadi bagian dari proses pemulihan fisik dan psikologis.

Editorial yang diterbitkan dalam Cureus membahas sejumlah penelitian mengenai manfaat liburan terhadap kelelahan, suasana hati, kepuasan hidup, kualitas tidur, serta sejumlah indikator fisiologis.

Penelitian yang dikutip juga menunjukkan bahwa manfaat liburan dapat mengalami fade-out effect setelah seseorang kembali bekerja. Dalam salah satu penelitian terhadap 54 pekerja, manfaat terhadap kesehatan dan kesejahteraan mencapai puncaknya sekitar hari kedelapan selama liburan rata-rata 23 hari, kemudian menurun setelah peserta kembali bekerja.

Kondisi tersebut menjadi dasar bagi penulis untuk mendorong pola pemulihan yang lebih teratur.

Salah satu rekomendasi yang diberikan adalah menjadwalkan liburan singkat setiap dua bulan. Pola tersebut diharapkan dapat memberikan kesempatan pemulihan secara berkala dan mengurangi kemungkinan tekanan pekerjaan menumpuk terlalu lama.

Namun, rekomendasi itu tidak berarti setiap orang harus berlibur tepat setiap dua bulan.

Yang tidak kalah penting adalah kualitas waktu istirahat. Selama liburan, seseorang dianjurkan benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan dan mengurangi komunikasi terkait pekerjaan.

Berolahraga, menikmati alam, menjalankan hobi, melakukan aktivitas budaya, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat dapat menjadi pilihan untuk mengisi masa liburan.

Pada akhirnya, tidak ada satu pola liburan yang berlaku untuk semua orang. Yang terpenting adalah memastikan tubuh dan pikiran memiliki kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas, mengembalikan energi, dan kembali menjalani aktivitas dengan kondisi yang lebih siap.

Sumber : www.cnnindonesia.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...
Your Favorite Channel
--:--
STREAM
Scroll to Top