PILARadio.com – Kabar yang beredar di media sosial mengenai semburan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, yang disebut-sebut berhenti, dibantah oleh Legiman, warga setempat yang juga menjadi pemandu wisata Lumpur Lapindo. Menurutnya, meskipun narasi tersebut ramai dibagikan, kenyataannya semburan lumpur masih terjadi hingga saat ini. “Lumpur Lapindo berhenti itu sama sekali tidak benar,” ungkap Legiman dalam dikutip oleh Kompas.com. Ia menjelaskan bahwa indikasi lumpur berhenti bisa dilihat dari hilangnya asap putih pekat dan bau gas, yang hingga kini masih ada di lokasi.
Legiman menambahkan bahwa meskipun semburan lumpur berkurang, bukan berarti berhenti. Salah satu alasan berkurangnya semburan adalah pengeboran sumur baru yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas di beberapa titik. Dulu, semburan lumpur bisa mencapai 100%, namun sekarang hanya sekitar 25-30%. Meskipun demikian, masih ada tanda-tanda bahwa semburan tersebut masih aktif, seperti endapan lumpur yang pecah-pecah di sekitar tanggul akibat pengeringan lumpur yang terus terjadi.
Menurut Legiman, tinggi lumpur yang sekarang mencapai 25 meter dari dasar pengeboran juga berpengaruh pada semburan yang tidak terlihat sebesar dulu. Ketika ketinggian lumpur semakin tinggi, tekanan dari dalam sumur menjadi tidak cukup kuat untuk mencapai permukaan. Hal ini membuat semburan tidak sebesar yang terlihat pada awal-awal kejadian. Namun, tekanan lumpur masih ada meskipun semburannya berkurang.
Pakar geologi dari ITS Surabaya, Amien Widodo, juga memberikan pandangannya mengenai fenomena ini. Ia menjelaskan bahwa sumber gas di bawah lumpur Lapindo sangat besar, sehingga semburan diperkirakan masih akan aktif selama puluhan tahun ke depan. Meskipun demikian, Amien mencatat bahwa volume semburan sudah mulai berkurang dalam beberapa tahun terakhir, yang menunjukkan bahwa sumber gas mulai menipis. Namun, dia menegaskan bahwa sulit untuk memprediksi kapan tepatnya semburan tersebut akan berhenti karena titik semburannya tidak hanya berada di satu tempat, melainkan tersebar hingga ke wilayah Surabaya.
Meskipun semburan masih aktif, baik Legiman maupun Amien Widodo tidak khawatir akan adanya dampak besar, seperti meluapnya lumpur. Hal ini dikarenakan adanya tanggul yang dibangun untuk mengalirkan air lumpur ke Sungai Porong, sehingga tidak akan menyebar ke area yang lebih luas. Amien pun menyebutkan bahwa sebagian semburan lumpur yang masih terjadi tidak akan membahayakan, karena telah dibatasi oleh tanggul dan tidak akan menyebar lebih jauh.