PILARadio.com – Krisis ekonomi Iran yang telah berlangsung bertahun-tahun kini mencapai titik kritis setelah nilai tukar mata uang nasional, rial Iran, anjlok ke level terendah sepanjang sejarah. Dampak dari melemahnya rial membuat harga barang kebutuhan pokok melonjak tajam dan semakin sulit dijangkau oleh masyarakat.
Kelompok pertama yang bereaksi adalah para pedagang dan pemilik toko. Pada akhir Desember, mereka menggelar aksi protes di sejumlah ruas jalan di Ibu Kota Teheran sebagai bentuk kemarahan terhadap pemerintah Iran yang dinilai gagal mengelola perekonomian nasional.
Aksi tersebut kemudian berkembang menjadi protes massal di Iran, melibatkan mahasiswa, buruh, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya. Dalam demonstrasi ini, tuntutan tidak hanya berkutat pada perbaikan ekonomi, tetapi juga menyasar perubahan sistem Republik Islam yang dipimpin Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Situasi krisis ini terjadi pada momen yang sensitif bagi para pemimpin Iran. Pada Juni lalu, posisi pemerintah semakin tertekan setelah serangan udara Israel dan Amerika Serikat menghantam fasilitas nuklir Iran, menewaskan puluhan pejabat militer dan ilmuwan. Di internal pemerintahan sendiri, muncul perbedaan pandangan terkait cara menangani gelombang protes rakyat.
Anjloknya nilai rial Iran turut memicu lonjakan harga barang impor. Padahal, Iran sangat bergantung pada impor bahan penting seperti gandum, minyak goreng, dan bahan baku obat-obatan. Kondisi ini memaksa pedagang menaikkan harga, sehingga kebutuhan pokok menjadi semakin mahal.
Masalah ekonomi Iran semakin diperparah oleh kekeringan selama lima tahun berturut-turut yang merusak produksi pangan domestik. Akibatnya, ketergantungan terhadap impor meningkat di tengah melemahnya daya beli masyarakat.
Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), inflasi Iran diperkirakan mencapai rata-rata 42 persen pada 2025, naik signifikan dibandingkan 33 persen pada 2024. Bahkan sebelum lonjakan harga terbaru, banyak warga Iran sudah mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan. Media lokal melaporkan bahwa pada 2022, sekitar setengah penduduk Iran mengonsumsi kalori harian di bawah standar minimum.
Selain tekanan ekonomi, kemarahan publik juga dipicu oleh polusi udara yang parah, kekurangan gas dan listrik, serta buruknya pengelolaan sumber daya alam. Pada Desember, pemerintah Iran mengubah sistem subsidi bahan bakar yang menyebabkan harga bensin naik, sehingga menambah beban biaya hidup rumah tangga dan pelaku usaha.
Nilai tukar rial Iran telah tertekan selama bertahun-tahun akibat sanksi Barat dan praktik korupsi sistemik yang menggerus kepercayaan publik. Sepanjang 2025, rial tercatat melemah sekitar 45 persen terhadap dolar AS. Untuk melindungi aset, banyak warga Iran mengalihkan tabungan mereka ke mata uang asing, emas, atau properti.
Ekonomi Iran juga terdampak oleh penurunan harga minyak dunia. Harga minyak Brent turun sekitar 18 persen pada 2025 menjadi kisaran 60 dolar AS per barel. Padahal, menurut IMF, pemerintah Iran membutuhkan harga minyak sekitar 165 dolar AS per barel agar anggaran negara tetap seimbang.
Masalah lain yang memperparah krisis adalah sistem kurs mata uang berlapis. Pemerintah memberikan nilai tukar khusus untuk impor barang tertentu kepada pihak-pihak tertentu, yang dinilai memicu korupsi dan menimbulkan ketidakadilan di masyarakat.
Meski memiliki cadangan minyak besar, sanksi Amerika Serikat dan sekutunya membuat Iran kesulitan menjual minyak ke pasar global. Sanksi ini telah diberlakukan sejak Revolusi Islam 1979 dan terus diperketat, terutama terkait program nuklir Iran. Akibatnya, investasi asing dan teknologi modern sulit masuk, sementara banyak perusahaan internasional memilih hengkang dari Iran.
Sumber : www.kumparan.com






















