PILARadio.com – Hari Teh Internasional yang diperingati setiap 21 Mei kembali menjadi momentum untuk melihat besarnya budaya minum Teh di Indonesia. Hingga saat ini, teh masih menjadi salah satu minuman paling digemari masyarakat Indonesia dan menempati posisi kedua setelah air putih sebagai minuman yang paling banyak dikonsumsi sehari-hari.
Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional atau SUSENAS Badan Pusat Statistik tahun 2023–2024, teh menjadi minuman favorit kedua masyarakat Indonesia setelah air putih. Data tersebut menunjukkan bahwa teh masih memiliki tempat istimewa di tengah masyarakat meski berbagai jenis minuman modern terus bermunculan.
Popularitas teh di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh rasanya yang khas, tetapi juga karena minuman ini sudah menjadi bagian dari budaya dan kebiasaan masyarakat sejak ratusan tahun lalu. Dari warung sederhana hingga restoran besar, teh hampir selalu tersedia sebagai minuman pendamping makanan sehari-hari.
Kebiasaan minum teh di Indonesia juga tidak terlepas dari sejarah panjang masuknya budaya teh ke Nusantara. Meski Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil teh terbesar, budaya minum teh secara luas justru diperkenalkan oleh bangsa Belanda saat masa kolonial.
Menurut Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, teh mulai diperkenalkan secara ekstensif melalui jalur perdagangan rempah-rempah di Maluku pada abad ke-17.
Saat itu, Belanda membawa tanaman teh ke Batavia atau Pulau Jawa melalui wilayah Pantai Sukabumi. Tanaman teh pertama kemudian dikembangkan di wilayah Jawa Barat karena kondisi alamnya dianggap sangat cocok untuk budidaya teh.
“Karena mereka mengembangkan teh secara ekstensif di Jawa Barat, maka yang lebih dulu banyak minum teh di Indonesia adalah masyarakat Jawa Barat sebelum akhirnya menyebar ke Sumatera, Jawa Tengah, dan Jawa Timur,” ujar Murdijati Gardjito.
Seiring berjalannya waktu, budaya minum teh semakin melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Minuman ini tidak hanya hadir sebagai pelepas dahaga, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi keluarga dan budaya sosial di berbagai daerah.
Di sejumlah wilayah di Indonesia, menyuguhkan teh hangat kepada tamu menjadi kebiasaan yang masih terus dipertahankan hingga sekarang. Bahkan di beberapa daerah, teh juga menjadi bagian penting dalam acara adat maupun kegiatan keluarga.
Selain mudah ditemukan, teh juga dikenal memiliki cita rasa yang cocok dengan lidah masyarakat Indonesia. Mulai dari teh manis hangat, teh tawar, hingga teh dingin menjadi pilihan favorit yang dikonsumsi setiap hari.
Riset Roy Morgan Single Source Indonesia juga menunjukkan bahwa teh merupakan salah satu kebutuhan rutin rumah tangga Indonesia. Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa teh tersedia di sekitar 95 hingga 97 persen dapur keluarga Indonesia.
Angka tersebut menunjukkan betapa kuatnya posisi teh dalam kehidupan masyarakat. Meski kini banyak minuman modern hadir di pasaran, popularitas teh tetap bertahan dan bahkan terus berkembang.
Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara penghasil teh dengan kualitas yang cukup diperhitungkan di dunia. Berbagai daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, hingga Jawa Timur memiliki perkebunan teh dengan karakter rasa yang berbeda-beda.
Keberagaman jenis teh Indonesia menjadi salah satu kekayaan kuliner yang masih terus dijaga hingga sekarang. Mulai dari teh hitam, teh hijau, teh melati, hingga teh herbal memiliki penggemarnya masing-masing.
Namun di balik segelas teh yang biasa dinikmati sehari-hari, terdapat proses panjang dan penuh ketelitian untuk menghasilkan cita rasa terbaik. Banyak orang mengira produksi teh hanya sebatas memetik daun lalu menyeduhnya dengan air panas.
Padahal, proses pengolahan teh berkualitas memerlukan perhatian terhadap berbagai faktor mulai dari kondisi alam, proses pemeliharaan tanaman, teknik pemetikan, hingga penanganan pascapanen.
Menurut Food and Agriculture Organization atau FAO, faktor seperti ketinggian lahan, suhu udara, curah hujan, dan kelembapan sangat memengaruhi kualitas tanaman teh serta rasa yang dihasilkan.
Tanaman teh yang tumbuh di dataran tinggi umumnya memiliki karakter rasa lebih kaya dan aroma yang lebih kuat dibanding teh yang tumbuh di dataran rendah. Hal tersebut karena pertumbuhan tanaman yang lebih lambat memungkinkan pembentukan senyawa alami lebih maksimal.
Devyana Tarigan, Head of Marketing Communications & Public Relations PT Sinar Sosro Gunung Slamat, menjelaskan bahwa proses pertumbuhan teh sangat memengaruhi kualitas rasa dan aroma.
Menurutnya, pertumbuhan tanaman teh yang lambat justru dianggap ideal karena memberi waktu lebih banyak bagi daun teh untuk membentuk senyawa alami seperti polifenol, asam amino, dan minyak esensial.
Senyawa-senyawa tersebut berperan penting dalam menciptakan aroma khas, rasa yang lebih mendalam, serta karakter seduhan teh yang lembut dan nikmat.
“Menghasilkan teh dengan cita rasa konsisten membutuhkan ketelitian manusia dalam menentukan daun teh muda yang dipetik, kapan waktu terbaik memetik, hingga bagaimana daun tersebut diperlakukan setelah dipanen,” ujar Devyana Tarigan.
Karena itu, banyak produsen teh di Indonesia masih mempertahankan teknik pemetikan manual untuk menjaga kualitas daun teh terbaik. Daun teh muda dianggap sebagai bagian paling penting karena memiliki kandungan rasa dan aroma yang lebih baik.
Setelah dipetik, daun teh juga tidak boleh terlalu lama dibiarkan sebelum diproses. Penanganan yang tepat dilakukan untuk menjaga kesegaran dan kualitas aroma agar tidak rusak.
Bagi industri teh nasional, kualitas menjadi faktor utama dalam mempertahankan kepercayaan konsumen. Hal inilah yang membuat banyak produsen teh tetap menjaga proses produksi secara detail meski teknologi modern terus berkembang.
PT Sinar Sosro Gunung Slamat misalnya, masih mempertahankan kualitas produksi teh sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia atau Indonesian heritage.
Teh tidak lagi hanya dipandang sebagai minuman biasa, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan sejarah panjang masyarakat Indonesia. Dari generasi ke generasi, tradisi minum teh tetap bertahan dan sulit tergeser oleh tren minuman lain.
Popularitas teh juga semakin berkembang seiring munculnya berbagai inovasi minuman berbahan dasar teh. Saat ini, teh tidak hanya disajikan secara tradisional, tetapi juga dikreasikan menjadi berbagai minuman modern yang diminati anak muda.
Meski begitu, teh klasik seperti teh manis hangat dan teh melati tetap menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia. Minuman ini dianggap cocok dikonsumsi kapan saja, baik saat sarapan, makan siang, maupun bersantai bersama keluarga.
Selain rasanya yang menyegarkan, teh juga dikenal memiliki berbagai manfaat kesehatan. Kandungan antioksidan dalam teh dipercaya membantu menjaga kesehatan tubuh dan meningkatkan metabolisme.
Tidak heran jika teh masih menjadi salah satu minuman yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dari perkotaan hingga pedesaan, teh tetap hadir sebagai minuman favorit lintas generasi.
Menurut Murdijati Gardjito, keberagaman jenis teh Indonesia yang tersebar di berbagai daerah menjadi bukti kuat bahwa budaya minum teh masih sangat hidup hingga sekarang.
Ia menilai teh akan terus menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena sudah menyatu dengan budaya, tradisi, dan kebiasaan sehari-hari.
Peringatan Hari Teh Internasional setiap 21 Mei pun menjadi pengingat bahwa teh bukan sekadar minuman pelepas dahaga, tetapi juga bagian dari perjalanan sejarah dan warisan budaya Indonesia yang tetap bertahan di tengah perkembangan zaman.
Dengan kekayaan jenis teh, sejarah panjang, serta tingginya tingkat konsumsi masyarakat, teh diperkirakan akan tetap menjadi salah satu minuman favorit masyarakat Indonesia dalam waktu yang lama.
Sumber : www.kumparan.com


















