CIREBON, PILARadio – Mahasiswa dan kalangan anak muda dinilai cukup rawan tergiur penawaran pinjaman online dan judi online. Berdasarkan data, terdapat ketimpangan antara tingkat inklusi keuangan yang lebih tinggi dibandingkan literasinya. Hal ini menjadi salah satu fokus prioritas OJK Cirebon, Jawa Barat, pada Kamis pagi, dalam melakukan upaya pencegahan dan edukasi agar anak muda tidak mudah terjerat masalah keuangan dan bahaya keuangan digital.
Kalangan mahasiswa dan anak muda kerap menjadi sasaran empuk pinjaman online maupun judi online yang dikemas dalam gim digital dan bentuk lainnya. Di era digital, cukup banyak produk keuangan digital yang mudah diakses tanpa memperhatikan legalitas, asalkan dapat memberikan uang secara instan.
Karena itu, mereka sangat penting dibekali literasi agar tidak mudah terjerumus dalam masalah keuangan. Dalam melakukan pencegahan, peran Otoritas Jasa Keuangan cukup penting untuk hadir memberikan edukasi dan literasi dengan berkolaborasi bersama akademisi, pemerintah daerah, perbankan, maupun legislatif.
Selain itu, masalah ketimpangan antara inklusi keuangan yang justru lebih tinggi dibandingkan literasinya membuat edukasi dan penguatan literasi menjadi salah satu prioritas yang terus digencarkan. Tujuannya agar generasi muda lebih berhati-hati memanfaatkan platform keuangan digital dan tidak terjebak pinjaman online ilegal.
“Berdasarkan hasil survey nasional inklusi keuangan tahun 2025 indeks angkanya sekitar 60an dan inklusinya 80an. Semakin tinggi masyarakat memanfaatkan jasa keuangan maupun layanan keuangan tetapi tidak diimbangi literasi keuangan dan cukup menjadi resiko tersendiri untuk itu kita membutuhkan dukungan dari berbagai macam pihak” Ujar Kepala OJK Cirebon, Agus Muntholib.
Dalam meningkatkan literasi keuangan, OJK menyasar wilayah kerja mulai dari Cirebon hingga Kuningan. Langkah ini dilakukan agar para mahasiswa ke depan lebih bijak dan waspada terhadap bahaya kejahatan keuangan digital.


















