PILARadio.com – Duduk di dalam pesawat selama belasan jam saja sudah cukup membuat tubuh terasa pegal, kaki kaku, dan ritme istirahat berubah. Namun bayangkan jika perjalanan udara dilakukan selama hampir satu hari penuh tanpa mendarat sama sekali. Hal tersebut kini bukan lagi sekadar wacana. Dunia penerbangan sedang bersiap menyambut salah satu rute paling ambisius sepanjang sejarah, yakni penerbangan nonstop Sydney-London dengan durasi sekitar 22 jam.
Maskapai nasional Australia, Qantas, menargetkan rute super panjang ini mulai beroperasi pada paruh pertama tahun 2027. Jika semua berjalan sesuai rencana, layanan tersebut akan menjadi salah satu penerbangan penumpang nonstop terpanjang di dunia dan menandai babak baru industri aviasi global.
Program ambisius itu dikenal dengan nama Project Sunrise, sebuah proyek besar yang dirancang untuk menghubungkan Australia dengan kota-kota utama dunia tanpa transit. Selain London, rute tujuan lain yang masuk rencana adalah New York.
Qantas Siapkan Era Baru Penerbangan Jarak Jauh
Selama puluhan tahun, perjalanan dari Australia menuju Eropa atau Amerika Utara hampir selalu membutuhkan transit. Penumpang biasanya harus singgah di Singapura, Dubai, Doha, Hong Kong, atau kota lain sebelum melanjutkan penerbangan.
Kini Qantas ingin mengubah pola perjalanan tersebut. Dengan Project Sunrise, maskapai tersebut menargetkan perjalanan lebih praktis, lebih singkat dari sisi total waktu tempuh, dan lebih efisien karena tanpa perpindahan pesawat.
Rute Sydney-London diperkirakan menempuh jarak sekitar 17 ribu kilometer. Perjalanan sejauh itu diprediksi membutuhkan waktu sekitar 20 hingga 22 jam tergantung arah angin, cuaca, serta kondisi operasional.
Meski terdengar ekstrem, proyek ini dinilai realistis berkat perkembangan teknologi pesawat generasi terbaru.
Airbus A350 Jadi Andalan
Untuk mewujudkan penerbangan ultra jarak jauh ini, Qantas memesan pesawat Airbus A350-1000ULR atau Ultra Long Range. Jenis pesawat ini dirancang khusus untuk rute jarak sangat panjang dengan efisiensi bahan bakar lebih baik dan kemampuan jelajah lebih jauh.
Pesawat pertama untuk Project Sunrise dijadwalkan dikirim pada akhir 2026. Setelah proses uji coba, pelatihan awak kabin, sertifikasi, dan persiapan operasional selesai, rute komersial dijadwalkan mulai berjalan pada 2027.
Airbus A350 dikenal sebagai salah satu pesawat modern paling nyaman saat ini. Kabin lebih senyap, tekanan udara lebih baik, tingkat kelembapan lebih nyaman, dan pencahayaan lebih canggih dibanding generasi lama.
Faktor-faktor tersebut penting karena penumpang akan berada di udara dalam waktu sangat lama.
Kenyamanan Jadi Prioritas Utama
Tantangan utama dari penerbangan 22 jam bukan hanya kemampuan pesawat, tetapi bagaimana menjaga kondisi fisik dan mental penumpang selama perjalanan.
Qantas menyadari hal itu. Karena itu, maskapai ini menyiapkan desain kabin khusus untuk Project Sunrise. Jumlah kursi akan lebih sedikit dibanding kapasitas normal, sehingga ruang gerak penumpang menjadi lebih lega.
Selain itu, tersedia area khusus di dalam pesawat yang memungkinkan penumpang berdiri, meregangkan tubuh, minum, atau melakukan gerakan ringan selama penerbangan.
Fitur lain yang disiapkan meliputi:
- Sistem pencahayaan kabin untuk membantu ritme tidur
- Pengaturan jadwal makan menyesuaikan zona waktu tujuan
- Kursi ergonomis untuk mengurangi kelelahan
- Kualitas udara kabin lebih baik
- Tingkat kebisingan lebih rendah
- Ruang kaki lebih nyaman pada kelas tertentu
Semua dirancang agar penumpang tetap bugar saat tiba di tujuan.
Mengapa Rute Ini Menarik?
Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa harus terbang 22 jam nonstop jika bisa transit dan beristirahat?
Jawabannya sederhana: efisiensi dan kenyamanan perjalanan total.
Transit memang memberi kesempatan turun dari pesawat, tetapi juga memiliki kekurangan, seperti:
- Waktu tunggu berjam-jam di bandara
- Risiko kehilangan bagasi
- Potensi keterlambatan lanjutan
- Harus berpindah terminal
- Kelelahan akibat proses berulang
Dengan penerbangan langsung, penumpang hanya sekali naik pesawat dan sekali turun di tujuan akhir.
Bagi pebisnis, wisatawan premium, atau penumpang yang membawa keluarga, konsep ini sangat menarik.
Project Sunrise Sudah Dirancang Bertahun-Tahun
Rencana ini sebenarnya bukan hal baru. Qantas telah memperkenalkan ide Project Sunrise sejak beberapa tahun lalu. Namun peluncurannya sempat tertunda karena beberapa faktor.
Beberapa kendala utama antara lain:
- Pengembangan Teknologi Pesawat
Maskapai membutuhkan pesawat yang mampu terbang sangat jauh tanpa mengorbankan kapasitas dan efisiensi.
- Pandemi Covid-19
Pandemi sempat menghantam industri penerbangan global dan membuat banyak proyek ekspansi tertunda.
- Persiapan Operasional
Penerbangan 22 jam membutuhkan pengaturan kru, rotasi pilot, logistik makanan, serta standar kesehatan yang berbeda dari rute biasa.
Kini, setelah tahap produksi pesawat dimulai, proyek tersebut kembali bergerak maju.
Tantangan Penumpang Selama 22 Jam di Udara
Meski menawarkan kepraktisan, perjalanan sepanjang ini tetap memiliki tantangan tersendiri.
Kelelahan Tubuh
Duduk terlalu lama dapat menyebabkan pegal, kaki bengkak, dan tubuh kaku.
Jet Lag
Perbedaan zona waktu Australia dan Inggris cukup besar. Penumpang bisa mengalami gangguan tidur.
Bosan dan Jenuh
Berada di ruang terbatas selama hampir satu hari tentu bisa memicu kejenuhan.
Kebutuhan Aktivitas
Penumpang perlu rutin berjalan ringan dan melakukan peregangan.
Karena itu, manajemen penerbangan ultra panjang harus jauh lebih detail dibanding rute biasa.
Tips Jika Naik Penerbangan 22 Jam
Bagi calon penumpang yang ingin mencoba rute seperti ini, beberapa hal berikut bisa membantu:
Pilih Pakaian Nyaman
Gunakan pakaian longgar dan mudah bergerak.
Banyak Minum Air
Udara kabin cenderung kering, sehingga tubuh mudah dehidrasi.
Bergerak Berkala
Berdiri atau berjalan ringan setiap beberapa jam.
Atur Tidur
Usahakan menyesuaikan waktu tidur dengan zona waktu tujuan.
Bawa Hiburan Pribadi
Buku, musik, atau film bisa membantu mengurangi kejenuhan.
Gunakan Bantal Leher
Aksesori sederhana ini sangat membantu saat tidur.
Dampak Besar bagi Industri Aviasi
Jika sukses, rute Sydney-London tanpa transit akan menjadi simbol perubahan besar dunia penerbangan.
Maskapai lain kemungkinan akan mengikuti tren serupa dengan membuka rute ultra panjang lainnya, seperti:
- Melbourne-Paris
- Sydney-Toronto
- Perth-New York
- Brisbane-London
Persaingan maskapai global bisa berubah. Penumpang juga makin dimanjakan dengan pilihan perjalanan yang lebih cepat dan praktis.
Australia Makin Terhubung ke Dunia
Bagi Australia, proyek ini sangat strategis. Letak geografis negara tersebut cukup jauh dari Eropa dan Amerika. Karena itu, konektivitas udara sangat penting.
Penerbangan langsung ke London akan memperkuat:
- Pariwisata internasional
- Hubungan bisnis
- Mobilitas pekerja global
- Akses pendidikan
- Pertukaran budaya
Sydney sebagai kota besar Australia juga akan semakin kuat posisinya sebagai pusat penerbangan global.
Apakah Ini Akan Jadi Penerbangan Terpanjang di Dunia?
Saat ini sudah ada beberapa rute ultra panjang, seperti Singapura-New York. Namun rute Sydney-London diperkirakan masuk jajaran teratas dan bahkan bisa menjadi salah satu yang terlama tergantung kondisi operasional.
Durasi resmi bisa berubah sesuai arah penerbangan dan cuaca, tetapi angka 22 jam menjadikannya kandidat kuat pemegang rekor baru.
Penutup
Rencana penerbangan nonstop Sydney-London selama 22 jam menunjukkan bahwa industri aviasi terus berkembang melampaui batas lama. Apa yang dulu terasa mustahil, kini perlahan menjadi kenyataan.
Dengan dukungan pesawat modern Airbus A350, desain kabin yang lebih nyaman, dan konsep perjalanan tanpa transit, Qantas siap membuka babak baru penerbangan jarak jauh mulai 2027.
Bagi sebagian orang, 22 jam di udara terdengar melelahkan. Namun bagi banyak penumpang lain, itu justru menjadi solusi perjalanan paling praktis menuju belahan dunia lain tanpa harus berhenti di tengah jalan.
Sumber : www.cnnindonesia.com


















