CIREBON, PILARadio – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon menilai stabilitas sektor jasa keuangan Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan (Ciayumajakuning) di tahun 2025 dalam kondisi stabil dengan fungsi intermediasi yang cukup baik.
Perkembangan sektor perbankan (Bank Perekonomian Rakyat/BPR)
Kinerja 18 Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di Ciayumajakuning per Desember 2025 mengalami pertumbuhan positif baik secara yoy maupun mtm yang tercermin dari beberapa indikator.
Penyaluran kredit sampai dengan Desember 2025 secara yoy mengalami peningkatan sebesar 0,35 persen menjadi Rp2,010 triliun, namun secara mtm kinerja kredit mengalami kontraksi sebesar 0,55 persen. Pertumbuhan penyaluran kredit tersebut diiringi dengan penurunan porsi kualitas kredit macet yang ditunjukkan oleh rasio NPL, secara yoy dan mtm masing-masing mengalami penurunan sebesar 1,53 persen dan 0,37 persen.
Pertumbuhan aset pada Desember 2025 secara yoy mengalami apresiasi sebesar 5,54 persen menjadi Rp2,87 triliun dan secara mtm sebesar 0,60 persen. Demikian juga penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami apresiasi yang mana terjadi peningkatan baik secara yoy maupun mtm masing-masing sebesar 4,51 persen dan 0,65 persen menjadi Rp2,28 triliun.

Dari sisi rentabilitas, per Desember 2025 rasio ROA BPR tercatat mengalami peningkatan menjadi 3,33 persen dengan rincian terjadi peningkatan sebesar 0,34 persen secara mtm dan 5,53 persen secara yoy. Peningkatan rasio ROA tersebut diikuti dengan penurunan rasio BOPO yang menunjukkan efisiensi biaya operasional BPR, terjadi penurunan BOPO secara yoy sebesar 35,56 persen menjadi 81,92 persen, meski secara mtm mengalami peningkatan sebesar 3,03 persen.
Indikator positif lainnya tercermin dari permodalan BPR yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR) masih terjaga walaupun mengalami kontraksi sebesar 11,09 persen secara yoy menjadi 20,09 persen.
Secara sektoral terdapat lima sektor ekonomi yang menjadi fokus penyaluran kredit BPR di Ciayumajakuning per Desember 2025 yaitu sektor bukan lapangan usaha lainnya sebesar 47,36 persen atau Rp941,26 miliar; sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 35,63 persen atau Rp708,22 miliar; sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan sebesar 4,44 persen atau Rp88,22 miliar; sektor bukan lapangan usaha rumah tangga sebesar Rp55,85 miliar atau 2,81 persen; serta sektor jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan, dan perorangan lainnya sebesar Rp50,72 miliar atau 2,55 persen.
Secara penyaluran kredit berdasarkan jenis penggunaan, fokus penyaluran kredit BPR didominasi oleh kredit konsumsi sebesar Rp1,01 triliun. Namun dari sisi pertumbuhan, kredit modal kerja mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 4,73 persen yoy dibanding pertumbuhan kredit konsumsi dan investasi.
Secara regional, porsi penyaluran kredit BPR di Ciayumajakuning terhadap penyaluran kredit BPR di Jawa Barat per Desember 2025 sebesar 10,53 persen, DPK yang dihimpun BPR di Ciayumajakuning sebesar 12,48 persen, dan porsi aset BPR di Ciayumajakuning sebesar 10,83 persen terhadap aset BPR di Jawa Barat.
OJK Cirebon terus mendorong dan melakukan monitoring penerapan POJK Nomor 12 Tahun 2024 tentang penerapan strategi anti-fraud bagi lembaga jasa keuangan di seluruh BPR yang berada di bawah pengawasan Kantor OJK Cirebon. Selanjutnya, OJK Cirebon juga mendorong penguatan BPR melalui konsolidasi sebagaimana POJK Nomor 7 Tahun 2024 tentang Bank Perekonomian Rakyat dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah.
Sektor perbankan (kantor cabang bank umum dan bank umum syariah)
Pada tahun 2025, indikator kinerja kantor cabang (KC) bank umum di wilayah Kantor OJK Cirebon mengalami apresiasi atau peningkatan secara yoy. Kredit yang disalurkan meningkat sebesar 1,27 persen secara yoy menjadi Rp48,15 triliun.
Sejalan dengan itu, aset dan penghimpunan DPK mengalami peningkatan sebesar 1,88 persen dan 7,26 persen menjadi Rp59,31 triliun dan Rp40,38 triliun. Rasio kredit bermasalah atau rasio Non-Performing Loan (NPL) masih terjaga sebesar 4,38 persen.
Secara nominal, fokus penyaluran kredit KC bank umum masih didominasi oleh kredit konsumsi sebesar Rp23,33 triliun. Namun dari sisi pertumbuhan, kredit investasi mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 12,38 persen yoy dibanding pertumbuhan kredit konsumsi dan modal kerja.
Kinerja bank umum syariah di wilayah Kantor OJK Cirebon pada tahun 2025 mengalami peningkatan pertumbuhan yang cukup baik. Pembiayaan yang disalurkan meningkat sebesar 72,02 persen secara yoy menjadi Rp7,44 triliun. Aset meningkat sebesar 0,49 persen yoy menjadi Rp8,42 triliun. Begitu pula DPK meningkat sebesar 22,31 persen yoy menjadi Rp5,59 triliun. Rasio pembiayaan bermasalah yang tercermin dari Non-Performing Financing (NPF) masih terjaga sebesar 2,44 persen.

Secara nominal maupun kinerja, fokus penyaluran pembiayaan KC bank umum syariah didominasi oleh pembiayaan konsumsi sebesar Rp5,82 triliun dengan peningkatan tertinggi di antara pembiayaan investasi dan modal kerja sebesar 87,55 persen yoy.
Sebagai upaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di wilayah Ciayumajakuning, melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), OJK Cirebon bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait melaksanakan berbagai program edukasi keuangan syariah kepada masyarakat.
Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai prinsip dan produk layanan keuangan syariah sekaligus mendorong pemanfaatan layanan keuangan syariah secara lebih luas sehingga dapat mendukung penguatan akses keuangan yang inklusif serta pengembangan sektor ekonomi berbasis syariah di daerah.






















